
Setelah Aku meninggalkan ruang tamu dari pertemuan itu. Aku langsung bergegas melarikan diri darinya. Hatiku kacau, rasanya sakit sekali di dadaku. Tenggorokan pun terasa sakit untuk menelan, seperti ada batu besar yang nyangkut.
Aku tidak menyangka yang mereka akan katakan hanyalah pernikahan. Mereka sama sekali tidak memahami Aku yang benar-benar merasa terpukul soal itu.
Aku berlari sembari menangis sejadi-jadinya. Untungnya dekat ruang tamu ada taman bunga kecil, di sana ada kursi untuk duduk bersantai.
Aku pun tanpa berpikir panjang langsung berlari duduk di sana. Aku menghilangkan semua rasa sedihku, tangisku yang memilukan.
Bahkan Aku berpikir mengapa Aku menyukainya hanya dengan sekali memandangnya, dan selalu memikirkannya. Aku menyesal sewaktu itu mau ikut dengan Abi dan pertemuan yang sama sekali tidak Aku inginkan.
Pada akhirnya Akulah yang benar-benar merasa sakit dan kacau. Aku akan melihat senyuman bahagia dari mereka tapi jeritan tangis dari hatiku.
Padahal Aku sudah berusaha untuk mengikhlaskannya bersama dengan Kakak, sudah mau melupakannya. Tapi pada hari ini juga Aku berada di tengah-tengah kegalauan yang sama sekali tidak Aku inginkan.
Akan ada hari dimana Aku menatap mereka beserta tamu yang mereka undang, kebahagiaan di antara mereka saling melengkapi. Namun, disitulah Aku akan bersandiwara sepanjang hari untuk melihat mereka bahagia.
Dan akan ada dimana hari itu akan datang, keluarga kami bertambah juga. Kedatangannya akan menghadirkan keramaian di keluargaku. Di saat itulah Aku akan bersandiwara lagi kah?
"Cukup! Aku ingin mengakhiri rasa ini, aku tidak mau terlihat lemah hanya karena menyukai orang yang sama. Aku akan merelakan demi kebahagiaan orang lain, apalagi orang itu adalah saudara kandungku." Ucapku langsung keluar begitu saja.
"Lalu bagaimana kebahagiaan untukmu?" Tiba-tiba suara seseorang paruh baya menyahut omonganku.
Aku langsung berbalik badan sembari bangkit dari kursi, tatapanku langsung tertuju dengan wajahnya. Wajah itu begitu dekat, sangat dekat. Sehingga Aku bisa melihat tatapan matanya yang penuh dengan kesedihan sama seperti Aku.
"Ka.. Kamu sejak kapan ada di sini?" Tanyaku sedikit gagap di hadapannya.
"Mungkin sudah lama, atau baru saja." Ucap Indra membingungkan.
"Pergilah, bukankah kamu sudah tidak di sini lagi. Mengapa kau masih di sini" Ujarku mulai beranjak pergi.
"Eh! tunggu. Aku.." Teriaknya menghadangku supaya tidak pergi darinya.
__ADS_1
Aku takut jika ada salah paham di antara Aku dengannya lagi, seperti Dela yang menuduhku tanpa bukti yang jelas. Jika benar ia keluarkan karena Aku, itu adalah ketidaksengajaan.
Indra masih di hadapanku sembari menatapku begitu lama. Aku merasa canggung di tatapnya.
"Apa!" Tanyaku.
"Apa yang kamu maksud dari perkataan tadi, coba ulangi sekali lagi." Kata Indra sembari merentangkan tangannya karna menahanku untuk pergi.
"Apa?" Kataku mengulang.
"Bukan itu, tapi sebelumnya" Ujar Indra menyelidik.
Heran, padahal yang barusan Aku katakan adalah "Apa" mengapa dia bilang bukan itu. Jadi kata mana yang Aku keluarkan selain "Apa" dan "Pergilah".
Aku harus pergi darinya jika tidak, kak Tery akan mencari Mas Indra dan mengajaknya pulang. Tapi kalau Kak Tery melihatku bersamanya bagaimana Aku menjelaskannya.
"Sudah pergilah sana! Aku mau kembali ke kamarku. Mengapa kau mengejar dan mencariku kesini?" Ucapku mengeras.
Indra pun langsung kaget karena nada ku, dia hanya terdiam dan masih menatapku. Aku tidak peduli lagi dengannya, akhirnya Aku berniat untuk melepaskan diri darinya dan berlari sekencang yang Aku bisa.
#AsramaSantriWati
Hari menjelang Sore, sudah waktunya untuk sholat Ashar. Aku bergegas mengambil mukena dan sajadah di dalam lemari. Lemari itu besar, tetapi di dalamnya terdapat bajuku Lela, Ara, Putri dan Willy.
Tapi sekarang Baju Ara tidaklah yang tersisa di lemari ini. Sepi juga tidak ada dirinya. Biasanya di jam sore seperti ini kami berkumpul di depan Asrama sembari menghafalkan surat-surat pendek dan bercanda bersama.
Willy sedang ada tugas yang harus ia kerjakan di kelas, putri sibuk dengan hafalannya di luar kamar. Hanya Aku dan Lela disini sekarang. Aku bisa mengambil kesempatan untuk mengetahui tentangnya.
Aku menghampiri Lela yang sedang membaca buku sembari tiduran. Begitu asyik sendiri ia membacanya tanpa ada suara yang terucap, bahkan kamar ini terasa tidak ada penghuninya. Padahal ada Aku dan dia.
"La, main yuk!" Ajakku berseru sambil membanting tubuhku di atas kasur.
__ADS_1
"Main apa Mer? Bentar lagi mau Ashar lho." Katanya melirik sebentar lalu membaca kembali.
Aku hampir lupa, akhirnya Aku bangkit dari kasur dan meraih mukena yang sudah ku persiapkan, aku pergi ke tempat wudhu.
Sebelum itu, aku masih sempat berpikir untuk mengajak Lela ngobrol sebentar denganku. Tapi kayanya ia begitu masih sibuk dengan bukunya.
Aku meraih pintu dan membukanya, sembari memakai sendal dan langsung pergi begitu saja tanpa mengajak Lela. Aku tahu, ia begitu sibuk. Makanya tidak berani Aku mengganggu waktunya.
Baru beberapa langkah. Di sana. Depan gerbang Pondok Darussalam, aku melihat Abi menaiki mobil itu bersama Kak Tery. Om jaya menaiki mobilnya sediri. Tetapi ada saja yang membuatku menjanggal.
Mengapa Indra tidak ikut dengan mereka?
Aku langsung berlari dan mulai mengejar Abi dan Kak Tery. Aku ingin ikut bersamanya. Yah! Aku mau pulang, berjumpa dengan Umi. Aku tidak mau di Pondok jika ada Indra disini.
"Abi! Kak Tery! Tunggu" Teriakku di samping gerbang, meronta-ronta ingin keluar.
Aku berusaha untuk berteriak supaya mereka mendengar teriakanku. Tapi mobil yang ku panggil semakin menjauh, aku menangis sejadinya.
Tiba-tiba Willy berlari kencang meraihku dari ruang belajar. Mungkin dia mendengar teriakkanku. Semua santri melihatku seperti orng gila yang ketakutan.
Pikiranku kacau, mengapa Aku begitu bodoh, bahkn sangat bodoh. Aku ingin pulang! Aku ingin pulang! Jeritku di dalam hati menangis dengan tersedu-sedu.
Lalu Ustadzah langsung menghampiriku dan menatap Willy yang sedang menenangkan Aku. Aku menyesali tingkahku tadi yang menolak untuk pulang, sejujurnya Aku ingin sekali pulang dengan mereka.
Tapi hatiku bimbang, terlalu egois untuk membuat kesimpulan. Pada akhirnya Indra masih ada di Pondok dan masih tetap di sini. Siapa yang berani membuat rumor tentang ia di keluarkan, siapa?
Aku sampai terjerat oleh pikiranku sendiri. Aku masih di sini dengan berbagai pertanyaan yang membingungkan.
Tentang Ara yang tidak tau apa sebabnya ia pulang kerumahnya. Tentang Lela yang tidak mau menjelaskan tentang dirinya, yang selalu membuatku bingung karenanya dan tentang perjodohan Kakak ku yang membuatku merasa kecewa dengan diriku sendiri.
Aku sampai bingung, aku ada di titik terlemah, terombang ambing di lautan ribuan pertanyaan.
__ADS_1
Aku merasa bahwa Allah sedang mengujiku dengan hal yang masih di pertanyakan, dan Aku akan berusaha untuk mencari tahu jawabannya.
Untuk saat ini, aku harus bangkit dari rasa yang selalu membuatku curiga kepada orang lain terutama soal pernikahan.