Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Season 2, bab 74


__ADS_3

****


Ting, Ting...


Telepon dering sms terdengar di saku celana Dev, ia pun pergi sebentar berpamitan pada Mery dan Anton. Dev menatap dua pesan dari Vivian. Tanpa ragu. Dev membuka isi pesan tersebut.


"Dev, i'm sorry. Aku tidak bisa membantu Tery. Dia sudah meninggal lima belas menit yang lalu. Pelaku sudah saya curigai. Kau ke sini lah, dan bawa anak dari alm ibunya dan Mery juga. Mereka harus tau semua ini."


"Dev, aku akan pulang ke Jerman dalam minggu ini. Masih ada banyak waktu aku di sini, apakah ada bantuan lain?"


Pesan yang begitu lengkap informasi dari Vivian. Seketika Dev tidak tau harus bilang apa dengannya. Baru saja Mery tertawa lepas tetapi kabar duka telah menyapanya. Dev mau tidak mau harus mengatakannya dengan jujur pada Mery. Ia tidak bisa menyembunyikan kebenarannya.


"Mery! Ada kabar buruk untukmu," ucap Dev menatap kasihan pada Adelia dan Mery.


"Apa itu Dev? Katakanlah. Aku sudah terbiasa dengan ini, bukan?" ucap Mery tersenyum. Anton seketika langsung menatap Mery tidam terima.


"Tery... Sudah meninggal," ucap Dev menundukan kepalanya.


"Hah? Haha, kau bercanda Dev. Dapat dari mana informasi itu? Bahkan kau sendiri belum kesana. Tidak, tidak mungkin. Itu mustahil. Mbak Tery tidak akam mati dengan mudah seperti itu, bukan? Dev kau jangan seperti itu padaku! Itu bukan candaan, Dev! Itu bukan ..."


Kring ... Kring...


Dering telepon Mery berbunyi, seketika telah memotong teriakan Mery yang tidak percaya pada ucapan Dev. Mery terburu-buru berlari mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja makan. Terlihat di layar kaca ponsel Mery tertulis nama Indra memanggil.


"Halo?"


"Mery... Hiks, tery... Mer, tery sudah tiada."


Gubrak!


Tubuh Mery terbanting jatuh di lantai, telepon genggamnya terjatuh memantul jauh. Adelia melihat Mery terduduk lemas di lantai. Dev sudah menduga akan terjadi seperti ini dan sulit untuk Mery membangkitkan semangatnya kembali. Anton mencoba mendekati Dev bertanya apa yang terjadi.


"Apa yang kau bilang dengannya. Sehingga dia menangis seperti itu?" tanya Anton kesal.


"Tery meninggal!" ucap Dev singkat.


"Apa?" kaget Anton.

__ADS_1


"Tery meninggal, tuli!" ucap Dev bernada tinggi.


"Aku dengar itu. Tadi cuma kaget!" balas Anton meneriakinya kembali.


"Apa odev? Ibu meninggal? Kenapa? Kenapa itu terjadi?" ucap adelia seraya tidak percaya. Mery meraih tubuh adelia dan memeluknya dengan erat, mereka menangis teriak pilu mendengar anggota keluarganya meninggalkan mereka tanpa kabar. Mery merasa bersalah padanya. Ia tidak bisa terima Tery meninggalkan mereka begitu saja.


Dev mencoba meraih tubuh Adelia untuk menggendongnya dan memberikan pelukan hangat terhadapnya, menenangkan suasana hatinya. Anton pun meraih Mery untuk duduk di sofa dan menenangkan hatinya. Dev mencoba mengorek siapa dalang di balik semua itu Tery seharusnya sudah siuman dan sudah pulang dari rumah. Jika menunggu terlalu lama pastinya ada sesuatu yang terjadi. Maka dari itu Dev mencoba menghubungi Vivian, teman baiknya selama di luar negeri.


Vivian sudah melakukannya dengan baik, dia juga dokter ahli jantung terbaik di Jerman. IQ Vivian tidak rendah. Oleh karena itu, dev percaya padanya. Vivian sedang menyelidiki orang yang selama keluar masuk di ruang Tery selama kritis. Vivian sudah mencurigai dokter yang menanganinya.


****


Rumah sakit...


Anton dan Mery berlari terburu-buru. Mencari ruangan pasien yang meninggal atas nama kakaknya. Sang suster yang bekerja di sana menunjukkan kamar mayat di lantai tiga. Mery langsung menaiki anak tangga, ia tidak mau menunggu terlalu lama dengan lift. Anton mengikuti Mery tanpa mencegah untuk berhati-hati.


Kemudian, dev baru sampai dari rumah sakit, ia pun sama menanyakan kamar mayat berada di lantai mana. Suster itu menunjukan lantai tiga, sama dengan Mery sewaktu tanya tadi. Suster itu sampai terkejut. Tidak lama berdiri di dekat pintu luar sudah dua kali orang menanyakan kamar mayat bahkan tujuannya pun sama.


"Mery!" teriak Umi berada di sebrang kamar sekitar tiga meter. Terlihat di sana Indra terduduk meringkuk menangis pilu, abi dan Umi duduk sambil menunggu tubuh Tery di keluarkan. Umi tidak sanggup untuk masuk ke dalam. Begitu banyak mayat yang tergeletak di atas ranjang dorongnya. Mery pun memeluk Umi dengan sangat erat.


"Enggak, Nak. Kamu itu gak salah. Semua sudah tercatat dalam takdir. Mungkin inilah takdir kita harus kehilangan mbak kamu, Tery!" seru Umi sembari menahan tangis, nadanya terdengar berat.


Indra menatap Mery dengan sangat kesal, jika saja bukan karena mengejar Mery. Mungkin saja tidak akan terjadi sesuatu pada istrinya. Indra akhirnya bangkit berdiri, menatap dingin terhadap Mery. Mery hanya terdiam sembari mengisakan suara tangisnya.


"Mas ..."


"Jangan panggil namaku! Semua ini salah kamu kan? Kenapa? Kenapa kamu begitu egois, Mery! Kenapa?" Bentaknya memarahi Mery, "Adelia sekarang tidak punya ibu, dia tidak memiliki anggota keluarga lengkap. Semua ini salahmu! Andai saja kau tidak egois saat itu dan tidak melarikan diri, Tery tidak akan mengejarmu dan tidak terjadi kecelakaan padanya, dan sekarang, dia meninggal karena balas dendam terhadapmu, tau kamu!" lanjutnya menimbaskan semua amarahnya pada Mery.


Mery hanya menangis, merasa bersalah terhadap Tery dan juga Adelia. Perkataan Indra seakan menusuk hati Mery yang begitu melemah. Usaha Mery telah berhasil untuk membuat Indra benci terhadapnya. Tetapi cara seperti ini bukan maksud dari perkataannya, harus kehilangan kakak yang sangat Mery sayang lebih dari dirinya. Kepercayaan keluarganya begitu juga dengan Adelia. Jika saja Adelia mengetahui semua ini, dia juga akan membencinya, sama dengan apa yang indra katakan barusan.


"Ayah!" teriak Adelia berlari menuju sang ayahnya, indra menoleh langsung meraih tubuh mungilnya, menggendong dan menciumnya. "Ayah, ibu mana? Ibu tidak meninggalkan kita kan, ayah? Iya kan ayah ... Hiks," suara serak terdengar dari bibir Adelia yang mungil. Menangisi kepergian sang ibu tercinta dan merasa tidak percaya.


Dev menghampiri mereka yang sedang menunggu mayat di keluarkan. Entah bagaimana si pelaku yang telah membunuh Tery. Dev sudah mencoba untuk menghubungi Vivian dan ia pun akan segera datang ke kamar mayat. Lima belas menit berlalu. Vivian datang bersama kedua polisi dan membawa sesuatu bingkisan di tangan Vivian.


"Vivian apa itu?" tanya Dev.


"Ini adalah barang bukti untuk mengetahui siapa pelaku di balik semua ini. Dan saya sudah mulai mencurigainya lewat dokter yang setiap hari menangani Tery. Jika boleh tau, tunjukan di mana dokter tersebut, tuan dan nyonya," ucap Vivian datar menatap dingin terhadap semua orang. Mery hanya terdiam menatap wanita di samping Dev.

__ADS_1


"Saya akan menunjukan di man ruangannya, mari!" ajak Umi untuk mengikutinya.


Umi dan Abi mengantarkan Vivian dan kedua polisi tersebut menuju ke tempat ruangan dokter yang biasa menangani Tery. Mereka menyisakan Indra, Adelia, Mery, Dev dan Anton. Dev menatap dingin terhadap Indra, tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Dev sehingga menatapnya begitu dingin. Mery masih menangis menyalakan diri sendiri.


"Sudahlah, Mery. Untuk apa kau menangis terus. Yang sudah terjadi tidak akan kembali lagi. Biarkan Tery pergi dengan tenang," ucap Dev menyangga tangannya di bahu Mery.


"Apa yang kau katakan, semua orang menuduhku bahkan diriku pun merasa bersalah atas meninggalnya kakakku, Dev. Kau tau aku kan? Bagaimana mbak Tery begitu peduli terhadapku, melindungiku. Aku bahkan berani berkorban untuknya selama kakakku merasa senang dan bahagia. Tapi apa yang kudapat Dev? Apa? Semua masalah bahkan detik ini juga, akulah yang jadi bahan tuduhannya. Aku ingin kakakku kembali, dev. Aku ingin dia kembali!" berontak Mery dalam pelukan sang sahabat. Mery melampiaskan pada Dev, memukulinya hingga Dev tidak bisa menahan rasa kecewa dalam hati Mery. Itulah sebabnya mengapa Dev menatap dingin Indra.


"Ayah, apakah benar tante Mery yang membunuh ibu? Bukankah tante Mery selalu bersama Adelia beberapa hari ini, Ayah?" ucap adelia polos. Sehingga membuat Indra terdiam memaku tidak ingin menjawab pertanyaan Adelia.


"Adelia benci dengan tante?" ucap Mery memelas sembari mengusap air matanya. Mery mendekat ke arah Adelia yang sedang di gendong oleh Indra. Mery mencoba untuk meraih tubuh Adelia, tak di sangka Adelia justru menghindar dari Mery.


"Adelia tidak mau dengan tante lagi, tante sudah membunuh ibu! Adelia tidak suka dengan pembunuh seperti tante! Tante jahat!" teriak Adelia menangis di pelukkan Indra.


Deg! Mery seakan di sambar oleh petir di siang bolong. Wajahnya memerah padam, matanya berkaca-kaca lagi mendengar ucapan Adelia. Mery seakan merasa menjadi pembunuh sungguhan. Menjadi wanita yang telah di kutuk untuk tidak selalu bahagia. Sekali Mery merasakan kebahagiaan, maka rasa luka di hatinya semakin menggores lebih dalam lagi.


Dev menatap dingin Adelia. "Kau anak kecil, berani-beraninya mengatai tantemu seperti itu. Kau tidak ingat selama ayah kamu tidak ada di rumah, siapa yang menjaga kamu? Siapa yang menidurimu? Siapa yang memberimu makan? Dan siapa yang selalu menemanimu di kala sedang bermain atau pun merasa sedih? Kamu anak kecil tetapi tidak memilih mana yang baik dan mana yang tidak? Umur kamu sudah cukup untuk memikirkan perkataanku!" ucap Dev terpanjang selama bertemu dengan Adelia. Adelia terkejut dan merasa tidak percaya odevnya begitu membuka suara demi melindungi sang tantenya.


"Dev, sudahlah. Dia anak kecil, jangan kau bentak seperti itu. Ini di rumah sakit dev."


"Bagaimana Aku bisa diam? Mereka menutup mata kebenarannya hanya karena Tery meninggal! Dia kira kita semua tidak merasa kehilangan Tery? Bahkan kita lebih merasa kehilangan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi? Tery sudah berada jauh dengan kita. Biarkan dia pergi dengan tenang. Dan masalah kasus meninggalnya Tery. Aku tidak akan menelusurinya lagi. Orang yang ingin kita bantu tidak menghargai kita! Untuk apa kita masih memiliki hati untuk mereka. Aku akan telepon sekarang pada Vivian, untuk tidak mencari kasus meninggalnya Tery. Biarkan suaminya yang bertindak dan anaknya. Aku akan mengirim Vivian kembali ke negaranya!" Murka Dev tidak bisa di cegah. Sejak kecil ketika Dev berkata iya, maka harus iya. Berkata tidak, maka harus tidak. Mery bahkan kuwalahan mencegahnya. Apalagi masalah seperti ini. Mery bahkan hanya berdiam diri di samping dev.


"Anton lakukan sesuatu!" geram mery menatap Anton dengan dingin.


"Apa yang harus aku lakukan, semua sudah di tangani oleh Dev. Aku bahkan hanya bisa terdiam menatap dia kapan dia bertindak sejauh ini," ucap Anton tidak merasa berdosa.


Mery seketika terdiam, ucapan Anton ada benarnya. Diam-diam Dev membantu Mery untuk sang kakaknya, namun itu terlambat karena Dev memanggil sahabatnya dari luar negeri. Dev berinisiatif sejak kapan bahkan Mery tidak tahu.


Adelia dan sang ayahnya, Indra. Mereka langsung terdiam menatap suasana yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Ucapan Dev ada benarnya. Jika ia mencabut penelusuran tentang kematian ibu Adelia. Maka semua akan menjadi pertanyaan selamanya.


"Aku benci tante! Mau bagaimana pun Adelia tetap membenci tante! Tante Mery egois. Bahkan berbohong kepada adelia kalau ibu ada urusan kerjaan tapi apa? Setelah beberapa hari adelia tidak mendengar kabar ibu lagi, adelia cuma mendengar bahwa ibu telah tiada. Itu artinya tante jahat sama adelia!" berontak adelia dalam gendongan Indra. Indra hanya terdiam menenangkan Adelia yang begitu keras kepala.


"Hei anak kecil, soal seperti itu. Jangan salahkan tante kamu! Tanyakan dengan nenek tercintamu itu, minggu depan Mery akan aku bawa pulang. Kalian tidak perlu peduli lagi pada Mery. Dan kau Anton, menikahlah dengan Mery di sana. Keluarga mery akan menyetujuimu selama ada Aku!" suara ringannya menarik Mery meninggalkan tempat. Anton pun mengikutinya. Mery hanya menurut pada Dev, ia sudah menganggap Dev sebagai kakak tertua baginya. Bahkan orang tua Mery tidak bisa mengusik Dev. Apalagi namanya sudah terkenal sejak umur 15 tahun.


"Anton, aku sudah menyetujuimu menikah dengan Mery. Karena aku tau siapa diri kamu sebenarnya. Aku sudah menyelidikimu sejak awal. Maka bahagiakan Mery jangan buatnya dia menangis," nasihat Dev terhadap Anton. Mery sedikit lega ketika bersama dev, karena sejak ada dirinya Mery merasa sangat terlindungi. Anton tersenyum menatap Mery begitu juga dengan mery pelan-pelan tersenyum kecil padanya.


"Baiklah," jawab Anton singkat.

__ADS_1


__ADS_2