
Angin menghembuskan sampai ke gorden jendela kaca itu membuat Mery terkagum dengan Anton yang berusaha ingin melamarnya.
Aku sangat senang ketika ia melakukannya untukku, andai kata itu ia lakukan sebelum aku benar-benar merasa kesepian, betapa senangnya hatiku ini. Gumam Mery tersenyum.
Suasana menjadi canggung, Umi menatap mery lamat-lamat sembari melihat apakah dia terima lamaran anton kepadanya? jika mery berkata tidak, sungguh diluar dugaan Umi.
"Umi, kalau umi mengizinkan Mery untuk ..." ucapnya terpotong.
"Umi setuju jika itu anton, Mery!" katanya tersenyum.
Anton sedikit lega mendengar persetujuan dari Umi hanya saja tinggal menunggu persetujuan dari sang Abi. Walaupun Anton sudah merasa dekat dengan Abinya, tapi ia juga merasa gugup akan melamar anak tersayangnya.
Didalam ruangan tery yang melihat lamaran dari anton secara tiba-tiba pun ikut merasa lega. Dengan adanya anton menikahi sang adik, maka hubungannya dengan Indra ia akan tidak mengkhawatirkan lagi.
"Tidak ku sangka ternyata anton akan menjadi adik iparku ya?" sindir tery sembari menyenggol bahu Anton.
Mereka tertawa bersama meraih kebahagiaan untuk Mery, seketika sang dokter dan suster Ara datang mengetuk pintu ruangan mery. Ia berjalan mendekati mery dan mulai memeriksanya.
"Keadaannya semakin baik, sepertinya nona mery bisa pulang besok," kata dokter tersenyum menatap Umi.
__ADS_1
"Alhamdulillah terima kasih dokter."
Ara tidak sengaja mendengar lamaran dari anton kepada mery, saat ia ingin masuk ke ruangannya. Ara sudah mendengar semua percakapan mereka. Lamaran itu seharusnya menjadi milikku, kenapa anton melamar mery? padahal dia itu dulu sangat mencintaiku. Gumam ara kesal.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu, suster ara tolong bawakan beberapa surat yang ada dimejaku. Tolong antarkan ke Dokter melisa."
"Baik dokter," ucap ara mengiyakan.
Dokter itu langsung keluar setelah berbicara dengan ara. Anton menatapnya dengan rasa penuh bersalah, namun mery masih mengira-ngira bahwa dirinya seperti pernah berjumpa atau mengenalnya.
"Suster, sepertinya kita pernah bertemu ... tapi dimana ya?" ucap Mery mulai berpikir.
"Ya dulu kita itu kan sahabat, sekamar dan apapun selalu bersama. Mery kau melupakan aku?" ujar ara senyum paksa.
"Bisa saja sih. Tapi sepertinya aku tidak akan mengingat hal itu. Mery taukah kamu? Kedatanganmu ternyata merampas kebahagiaanku!"
Ara tersenyum sembari mengatakan ucapan pedas pada Mery. Ia hanya terbengong karna yang mery pikirkan tidak tau, maksud dari ucapannya tersebut.
"Ara, kamu jangan egois," kata anton menengahi.
__ADS_1
"Apanya yang egois, aku melakukan itu juga karena kamu, ton. Tau kamu!" bentak ara menggertakan giginya.
Ara merasa sangat kesal dan ia pun menjauh pergi keluar dari ruangan mery. Umi terkejut karena harus menyaksikan ucapan yang pedas dari lidah ara, sahabat mery.
"Anton sebaiknya kamu jelaskan yang sebenarnya. maksud dari suster itu apa? sepertinya kamu lebih mengenal dia dibanding mery?" tanya umi menepuk pundaknya
"Umi maaf, untuk sementara anton tidak bisa menjelaskan semua itu."
"Kenapa?" tanya tery menyambung.
"Aku akan menjelaskannya nanti, tapi tidak untuk sekarang. saya harap mery juga memahami situasinya," jelas anton.
"Situasi macam apa yang kau maksud? aku bahkan tidak mengerti apapun," ketus mery sedikit kesal.
Suasana semakin memanas, mery bahkan memalingkan wajahnya kepada anton karena dia sama sekali tidak ingin menjelaskan tentang masa lalunya. Jika dipikir-pikir mery bahkan sama sekali tidak tau siapa orang tua anton yang sebenarnya.
Aku ingin bersamanya, tapi dalam keadaan ini siapa juga yang ingin menikah tanpa restu dsri orang tua pihak prianya. Aku harus tau siapa latar belakang anton dulu, kemungkinan hanya satu yang harus aku korek sampai keakarnya. Yaitu suster tadi, Ara. Gumam Mery menggerutu.
Tery berharap bahwa lamaran anton dengan sang adik akan berjalan dengan lancar. Jika perlu, menikahlah mereka secepatnya. semakin cepat akan semakin bagus untuk dirinya.
__ADS_1
##
Mohon maaf jika ada pengurangan kata, bahasa dan lainnya. saya masih tanya tanya sama author aslinya.. ternyata nulis novel tak segampang membaca buku, aduh berat. kapoklah saya yang dulunya ngledekin dia buat beginian. malah kena batu begini.