Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Series 2, bab 50


__ADS_3

"Ba.. bagaimana bisa?" tanya Anton lirih.


Mery hanya terdiam sembari menatap lantai bawah, ia enggan untuk menyapa Indra. Entah bagaimana caranya untuk memulai menurutnya diam adalah yang terbaik.


Demi melindungi Mery, Anton seketika menyenderkan tangannya di bahu Mery. Dia pun terkejut, matanya melotot menatap Anton yang merangkul Mery.


"Kalian pacaran?" tanya Indra senyum pahit.


"Tid..," ucap Mery terpotong.


"Iya, bahkan kami akan segera menikah, kau cepat datang ya untuk menghadiri pesta pernikahan kami?" kata Anton tersenyum.


"Hmm, baiklah."


Pandangan Indra sangat kecewa dan terus menatap tangan Anton yang terletak di bahu Mery. Sikap Mery pun tidak memberontak ketika Anton mengatakan hal semacam itu.


"Tante cantik, main yuk ke rumah Adelia?" ucap Adelia tersenyum.


Mery menoleh dan menatap wajah Adelia lamat-lamat, dia terlihat cantik begitu juga memiliki bibir yang sama dengan Mery, tipis kemerahan.


"Baiklah," jawab Mery menyengir.


"Asyiikk, aku punya teman main pah," ucap Adelia sangat senang.


Indra mengganggukan kepalanya sembari memperlihatkan ekspresi tersenyum di wajahnya, Anton menatap datar ketika melihat Mery tersenyum pada anaknya Indra.


Setelah pertemuan dengan Indra yang tidak sengaja itu, Mery sedari tadi terdiam ia hanya mengambil dua botol minuman teh yang bergambar ulat hijau dan langsung keluar dari indosebal.


Anton mengikuti kemana langkah kaki Mery melangkah, ia hanya cemas jika Mery mengulang atau mengingat masa lalunya, masih ada banyak masalah yang harus ia hadapi kedepannya.


"Kau masih menyukai Indra?" kata Anton sembari menyetir mobil.


Mery menoleh dan mengangkat alisnya, ia merasa heran Anton begitu agresif terhadap masalah pribadi Mery. Ia tidak mau melimpahkan masalahnya terhadap Anton lagi kedepannya, usia Mery sudah sangat dewasa. Ia harus menghadapi apapun yang ada di depan matanya tanpa membutuhkan sandaran.


"Anton kau cemburu ya?" ucap Mery menggodanya.


"Tidak, siapa bilang!" seru Anton langsung menjawab dengan memalingkan pandangannya.


"Oke, kalau gitu kamu tidak perlu tau soal hatiku kan? Lagipula Aku sudah mendapatkan lelaki yang tepat untukku di masa depan," sindir Mery sembari memainkan jarinya.

__ADS_1


Anton terkejut, selama 6 tahun dekat dengannya ia tidak pernah melihat satu pria mana pun yang mendekatinya. Kalaupun ada, Mery selalu menolaknya dan menjadikan Anton sebagai pura-pura menjadi suami atau tunangannya untuk menghindari dari mereka.


"Siapa?" tanyanya penasaran.


Mery tersenyum, dia hanya memutarkan bola matanya sembari memberikan kode untuk Anton. Anton terdiam sembari menebak-nebak pria yang pernah mendekatinya.


"Dih Chen?" tebak Anton memulai.


Mery menggelengkan kepalanya, sembari tersenyum.


"Pii Guang?" tebaknya lagi, Pii Guang adalah dosennya yang pernah menyatakan cinta kepada Mery saat acara wisuda.


Lagi-lagi Mery menggelengkan kepalanya dan masih menyengir, ia seolah-olah ingin mengerjai Anton supaya tidak membicarakan tentang Indra lagi.


"Oke, kalau begitu Aku?"


Deg! Jantung Mery seakan berdetak begitu kencang, darahnya pun ngalir mendesir di seluruh tubuhnya. Dengan pedenya Anton mengatakan dirinya sebagai orang yang disukai oleh Mery?


"Haha, begitu pedenya kau mendaftarkan namamu. Aku katakan ya, aku tidak suka pria manapun untuk saat ini."


Mery tertawa sembari mengatakan hal yang jujur, hatinya sudah tertutup 6 tahun lalu. Bahkan untuk membuka cinta Anton pun Mery masih takut untuk merasakan jatuh cinta.


"Anton, kau ikut yuk. Bukankah kau akrab dengan Abi?" ucapnya berusaha membuka pintu mobil.


"Tidak, aku ingin tidur lagi setelah ini."


"Baiklah, kabari jika kamu sudah sampai, oke?" ucapnya tersenyum sambil mengedipkan satu mata.


Anton mengangguk lalu tersenyum tipis. Mery berjalan meninggalkan mobil Anton yang masih berhenti di pinggir jalan sedangkan Anton masih menatap Mery melangkah jauh.


Mer, kau butuh cinta! tolong bukalah hatimu untuk orang yang kau sayang, walau itu bukan Aku. Gumam Anton membatin.


***


Mery berjalan menelusuri gang kecil, begitu banyak anak kecil berlarian, penjual sari roti memakai becak gerobak dan berbagai ibu-ibu berkerumuhan di depan rumahnya.


Mery tersenyum di setiap orang menatapnya seperti halnya ia pertama kali pindah dari Jogja ke Jakarta. Orang-orang menatap sinis, ia masih mengingat wajah Mery dan menganggap yang dulunya menghancurkan pernikahan kakaknya.


"Tebal muka lagi sekarang? Sok ramah segala, pergi aja sana jangan balik lagi. Gak tau diri!" Ketus seseorang menatap Mery seperti seorang pelakor.

__ADS_1


"Tau nih, bikin sakit mata aja. Cantik-cantik tapi sikapnya jelek!" tambahan kompor.


"Biarin aja, nanti juga seminggu dua minggu dia pergi lagi ke luar negeri. Cari mangsa!" tambahan cabe setan mengganas.


Mery terkejut kaget, ucapannya seperti pernah mendengar kata-kata sadis itu di waktu yang samaan, pagi hari. Namun begitu, Mery masih melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan orang yang melihatnya sebagai racun corona.


Racun corona terkenal di berbagai luar negri khususnya Indonesia pun mengenal corona tersebut, gejalanya ialah demam dan kejang-kejang hebat.


Jika Mery mendengarkan pedasnya cabe setan dan panasnya kompor maka Mery akan merasa hatinya seperti terkena corona. Oleh sebab itu, langkah awal untuk membalas mereka yang selalu bergibah adalah senyum dengan tatapan membunuh.


Tapi beda dengan Mery, ia hanya terdiam sambil tersenyum ramah. Ia tidak mau membawa masa lalu dan mengungkitnya lagi.


Sesampai di depan rumah, Mery menaruh kopernya di samping pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum..," salam Mery sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam."


"Abi, Mery pulang...," teriak Mery di luar.


Para tetangga menatapnya terus-menerus, seolah-olah ia menantikan drama yang bakal terjadi begitu seru. Apalagi Umi tidak ada dirumah, mungkin akan menjadi kejadian yang begitu seru bagi mereka. Hampir satu RT menatap Mery yang menantikan action sadis.


Pintu terbuka, Abi terdiam menatap seluruh sekujur tubuh Mery yang masih utuh, bahkan Mery yang sekarang tambah cantik dan begitu mempesona. Mery tersenyum sembari meneteskan air matanya.


"Abi, adek pulang," ucap Mery tersedu menangis.


Para tetangga mis gosip menantikan jawaban dari Abinya. Ia hanya tercengang menatap anaknya tubuh di luar negri tanpa dirinya. Abi sangat senang sehingga tanpa berkata satu pun Abi meraih tubuh Mery dan memeluknya sembari mengucap hamdalah.


"Lho, kok endingnya gini?" ucap gosip satu.


"Klo tau gini mah mending masak, suami udah nunggu dari tadi."


"Walah gendeng, gak jadi nonton gratis ini mah," gosip ke tiga.


"Wuuhh, dasar keluarga cemera."


Ocehan berbagai ocehan justru membuat Mery tersenyum, melihat para tetangga kecewa akan hal itu. Abi merangkul Mery dengan begitu sangat bahagia, ia pun mencium kening Mery dan memeluknya lagi. Akhirnya keluargaku kumpul lagi, terima kasih Author. Ucap Abi dalam batin.

__ADS_1


__ADS_2