
#Q&A#
Dor! Hahaha... Lagi baper ya? Seneng kan bisa baca lancar tanpa menunggu update berbulan-bulan hehehe. Saya selaku author di novel ini mohon minta maaf ya karena telat update hampir sebulan.
Ya, auto sibuk mengetik cerita ini sampai tamat. Awalnya hanya untuk tiga atau empat bab saja setelah itu selesai. Tetapi karena sedang ingin mengejar target dan ada beberapa perubahan. Maka dari itu auto targetkan novel ini untuk cepat tamat. Dan untuk ending, author tidak mau memberi tahu ya. Karena saya juga masih berusaha memikirkan bagaimana caranya mery hidup bahagia.
Yaa... Aku juga berharap mery terus bahagia. Dan ada juga pembaca setia AAK berharap mery dan indra bersatu, tetapi auto membuat cerita yang akan terbelit-belit untuk mereka. Untuk ending, apakah mery dengan anton atau indra jawabannya adalah ... Dendeng, hahahaha... Kan author sudah bilang endingnya rahasia.
Tetapi apakah di antara kalian suka dengan karakter dev? Kalau author di tanya suka atau tidak, jelas sekali author sangat suka. Kenapa? Karena dev bagaikan sahabat berkepongpong. Dia selalu melekat dengan mery dan tery. Apakah dev menyukai mery? Jawabannya mungkin iya mungkin saja tidak. Apakah mery menyukai dev sebelum bertemu dengan indra dan anton? Hmmm.. Itu pertanyaan sulit bukan. Author harus membuat cerits dulu tentang masalalu mery dan dev kan ya? Baiklah...
Di sini author akan bercerita tentang novel ini dan asal mula mendapatkan idenya. Saat itu author sedang jatuh cinta dengan seseorang, tetapi dia sudah memiliki yang lain. Haishh drama sekali bukan? Tapi ini bukan kisah nyata ya... Melainkan mendapatkan inspirasi dari apa yang aku alamin.
Adakah di antara kalian bertanya di mana aku tinggal? Umur berapa aku ini? Sebenarnya itu privasi kan ya? Tapi aku akan menjelaskan tentang diriku, ya walaupun kalian tidak peduli maupun bertanya tentang diriku yang so imut ini. Aku lahir di desa, hidup di desa dan berkembanh biar di desa. Ciee elah, berkembang biak, udah kaya cacing pita aja ya...
Hahaha, dan soal umur dari dua ribu dua puluh di kurangi dua ribu itulah usiaku. Masih muda ya? Ya aku tahu itu. Maka dari itu maklumin saja penulis newbie sepertiku yang banyak typo, cerita kurang di pahami, tidak menarik, novel kremesan peyek. Yah aku tahu itu. Tapi aku senang pembaca setiaku selalu menemaniku. Menunggu update AAK. Kini ku persembahkan untuk kalian. Hadiah sebuah kesabaran..๐ค tapi maaf ya tak lama lagi akan tamat. Ada season 3 nya kan thor? Hehhe soal itu mohon maaf. Sepertinya tidak ada cukup season 2 saja ya๐.
Oh iya jika di sini ada pembaca setia MBT (my beloved twins) author mohon maaf ya. Sepertinya akan sangat sangat jarang update. Ya Allah, author terlalu jujur aku nih.๐ mau hiatus pun harus berworo-woro seperti ini. Hah๐๐ aku harap kalian mengerti ya.
Baiklah. Cukup sampai di sini. Mohon maaf jika ada salah kata. Jika ada pertanyaan lain tanyakan saja ya di komentar. Auto akan selalu menunggu kalian di setiap kolom komentar๐ terima kasih dan mohon maaf. Oh iya otor minta maaf ya kalau ada salah kata atau aplah itu. Mohon di maafkan. Dan terima kasih sudah menyempatkan membaca cerita AAK.
#selesai#
Shaa... Tsaa...
Teriakan dari kamar wilky terdengar keras, paman mendengar dari ruang belajar bergegas menaiki anak tangga untuk melihat apa yang sedang terjadi pada wilky.
"Wil?"
Yaa... Tsaa...
"Wilky?" teriak paman semakin keras di depan pintu, "Wilky apa yang sedang kamu lakukan di kamar?" teriak paman menggedor pintu.
"Tidak apa paman, wilky sedang berolah raga," sahut wilky dari kamarnya.
"Really?" tanyanya lagi.
"Sure, uncle." jawabnya mengikuti.
"Baiklah," jawabnya rendah sembari berbalik badan, "dasar bocah. Mengagetkan orang tua saja," nadanya rendah.
Paman kemudian kembali menuruni anak tangga, tetapi seketika melihat pintu kamar anton tertutup rapat. Ia pun kembali melangkah naik dan menatap lamat-lamat daun pintu tersebut. Anton sejak sore kemarin tidak keluar kamar sama sekali bahkan makan malam di meja makan pun sampai dingin. Entah anton sedang memikirkan apa, ia telah membuat resah sang paman.
Kemudian, paman mencoba untuk memberanikan diri mengetuk daun pintu tersebut dan memanggil namanya. Tidak ada jawaban dari anton, kemudian paman mencobanya lagi.
"Anton!"
"Anton, keluarlah."
__ADS_1
"Paman? Ada apa?" suara dari bilik daun pintu kamar wilky, wilky tiba-tiba menyahut sang paman.
"Di mana kakak kau?" tanya paman.
"Kalau tidak salah, dia pergi ke rumah mery katanya. Entahlah, dia sudah pergi atau belum."
Paman mengangguk tersenyum, wilky kembali masuk ke kamarnya. Paman pun akhirnya merasa lega bahwa anton ada sedikit kemajuan menghadapi masalahnya. Awalnya sangat geram sudah dua hari anton bermain game tanpa melakukan aktivitas apapun. Hari ini telah mengejutkan hati sang paman, ternyata tindakannya lebih lambat. Tetapi tidak ada lambat untuk memperbaiki semuanya. Paman dengan percaya diri memastikan bahwa anton bisa mengambil hati mery kembali, dan meyakinkannya.
****
Mery duduk bersedih di ruang tamu, pagi cerah menyambutnya tetapi wajah muram masam terlihat di kelopak matanya. Dev berdiri di daun pintu kamar tamu. Tidak tahu harus berkata apa dengan mery, setelah mereka lepas jalan-jalan bersama dion dan adiknya dan mengantarkan mereka ke panti yatim piatu. Mery mendapatkan kabar oleh umi bahwa mereka akan pergi ke rumah sakit. Ada perkembangan dari sang kakak. Umi mendengar sangat senang. Tetapi yang membuat mery sedih ialah, mery tidak di perbolehkan untuk pergi ke rumah sakit. Mery sudah menceritakannya pada dev. Tetapi tidak ada tanggapan lebih darinya.
"Woi," sapa dev.
"Ssttt.. Ssstt ..." lanjutnya, tetapi masih belum ada respon dengan mery.
"Okelah, adelia! Kita pergi yuk, ke rumah sakit. Jenguk ibu kamu." teriak dev menoleh ke arah pintu. Mery terkejut langsung berlari menuju dev. Mery sergap membungkam mulut dev dan memasukkannya ke dalam kamar. Mery takut bahwa adelia mengetahui di mana sang ibu berada. Dev juga tidak tahu bahwa rahasia itu di rahasiakan untuk adelia.
"Apaan si," ketus dev kesal.
"Kamu yang apaan! Kamu sengaja ya mau bikin adelia sedih, hah?" murka mery melotot.
"Woi, woi... Santai dong. Memang kenapa dengan adelia? Bukannya dia juga sudah tau? Dia kan anaknya." Dev berkata jujur. Dia juga belum tahu bahwa penyebab kecelakaan sang kakaknya adalah karena mengejar mery. Mery tidak bisa bercerita soal itu. Mery hanyaenceritakan sebagiannya dengan dev. Mery hanya bilang setelah kejadian itu tidak lama tery kecelakaan dan kritis di rumah sakit.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar keras di kamar tamu, di mana ada dev dan mery berbincang saling beradu mata melotot. Dev kemudian menoleh ke jendela untuk melihat siapa yang datang ke rumah. Terlihat separuh baya di depan pintu. Tubuh yang lumayan tinggi gaya rambut yang kekinian, namun wajah masih samar karena dev tidak terlalu jelas melihat lewat jendela.
"Siapa ya siapa, ini rumah siapa. Yang dapet tamu siapa. Aneh! Sana buka pintunya," kesal dev mendorong tubuh mery pelan dengan wajah masam mery pun melangkah keluar dan membuka pintu untuknya.
Ceplas... Suara pintu terbuka pelan, anton sudah menantikannya sejak tadi. Ingin bertemu dengan mery sudah menggebu di lubuk hatinya. Hijab mery setengah terlihat, mery membuka lebar-lebar pintu tersebut. Mereka saling bertatap muka satu sama lain. Mery menganga tidak percaya bisa bertemu lagi dengannya, anton tersenyum senang menatap bola mata mery yang indah mengharapkan senyum darinya.
"Anton?" ucap mery langsung terdiam.
"Mery, apa kabar? Aku ..." ucap anton terpotong.
"Aku minta maaf," ucap mery sembari menundukan kepalanya.
Kemudian, dev keluar dari kamar dan bergegas mendekat ke arah mery. Dev merangkul tangannya di bahu mery, dev tersenyum menatap anton.
"Woi, sepertinya dunia sempit," ucap dev menatap dingin.
"Lah, kamu? Kenapa ada di sini?" tanya Anton bingung, "mer, siapa dia?" lanjutnya menatap wajah sedikit kesal
"Ayo duduk dulu, jangan di luar," ucap mery mempersilahkan anton masuk. Mery pun berjalan memberikan minuman kepada anton sekaligus dev, tidak tahu akan seperti apa dalam keadaan ini. Kedatangan dev memang akan membuat anton curiga. Ataupun tetangga dekat rumahnya. Mery akan menjelaskan pelan-pelan pada anton.
Adelia bermain dekat ruang televisi, di mana dia tidak jauh dari dev dan anton. Anton melihat adelia bermain boneka barbie sembari ngomong sendirian. Anton tersenyum dan mencoba untuk mendekatinya. Dev duduk tenang, menyilangkan kakinya seolah memiliki kekuasaan. Tatapan yang begitu dingin membuat anton sangat kesal. Siapa orang ini, dari saat bertemu di bandara memang sudah mengesalkan sekali. Gerutu anton dalam hatinya.
__ADS_1
"Apakah kau yang bernama anton? Yang waktu itu mengaku bahwa kau adalah tunangannya?" tanya dev menatap dingin.
"Ternyata kau begitu jernih mengingat diriku yah, cukup hebat. Bahkan ucapanmu lebih pedas dariku. Sangat salut!" sindir anton menyeringai.
"Terima kasih penghinaannya, tapi maaf. Aku tidak butuh. Sebaiknya kau pulang dan bermain lah seperti adelia. Tidak pantas kau mendapatkan mery begitu saja," ucap dev sangat marah. Namun, ucapannya tetap santai tidak begitu mengegas.
"Siapa dirimu, menyuruhku seolah bapak dari adikku," sindirnya lagi.
"Jelas, aku ini orang yang paling penting di keluarga ini. Aku lebih tau mery di banding kau sendiri. Bahkan aku yakin kau juga belum mengenal diri sendiri, bukan?" sindir balik dev tersenyum sengit.
"Asyik sekali sepertinya mengobrol, ngobrolin apa nih?" tanya mery yang tiba-tiba menengahi sindir menyindir dev dan anton. Adelia berlari mendekat memeluk mery yang sedang berjongkok memberikan minuman kepada dev dan anton. Anton melihat dari cangkir miliknya dan milik dev, terlihat berbeda.
"Kenapa aku di beri yang berbeda dengan dia?" tunjuk anton ke arah dev, merasa kesal tidak di spesialkan.
"Anton, kau di sini pun jarang minum. Kau datang di sini tidak pernah mengatakan apa yang kamu suka. Wajar saja aku hanya memberikanmu air putih. Bukankah dulunya kau begitu?" bingung mery menatap wajah anton dengan penuh pertanyaan. "Dia dev, teman masa kecilku. Aku memberikan dia kopi khusus. Karena dia tidak suka kopi yang ada bubuknya. Maka dari itu aku harus menyediakan kopi untuknya. Dev tidak pernah meminum kopi yang lain selain kopi ini," lanjutnya sembari menunjuk kopi di atas meja.
Anton terdiam, sejenak memikirkan bahwa yang di katakan mery ada benarnya. Sejak anton mengenal mery. Jarang sekali dia memperlihatkan sisi kesukaannya. Sebab itulah mery tidak tahu apa yang anton suka maupun tidak. Kali ini dev yang menang berurusan dengan minuman. Anton tidak mau kalah, ia harus menunjukan sisi kehebatannya pada mery. Anton berinisiatif untuk mengajak mery dan adelia jalan-jalan.
"Hari ini aku datang ke sini mau meminta maaf padamu, aku sung..." ucap anton terpotong.
"Aku sudah memaafkanmu, anton. Jika bukan karena dev yang menasihatiku. Entah sampai kapan hati ini sedikit terbuka untuk kau dan menerima takdir ini," jawab mery tersenyum.
"Dia lagi," singkatnya. "Mer, bagaimana kalau kita jalan-jalan untuk menembus kesalahanku?" ajaknya tersenyum, sembari mengambil air minum di atas mejanya. Dev hanya terdiam sembari menatap adelia yang sedari tadi menguping pembicaraan orang dewasa, adelia justru membalas dengan ejekan menjulurkan lidahnya.
"Maaf anton, kemarin aku sudah pergi jalan-jalan. Hari ini kami akan di rumah seharian, bermain di rumah. Tidak ada aktivitas di luar rumah." ucap mery tersenyum, sembari menatap dev untuk berhenti menggoda adelia.
Dev melirik ke arah anton, tersenyum menyeringai dengan menatap mengejek. Anton sangat kesal ia menggenggam erat gelas yang ada di tangannya. Dev mencob memainkan trik, untuk tarik ulur ujian cinta anton terhadap mery. Dev juga harus memastikan bahwa mery akan hidup bahagia dengan orang yang tepat. Jika tidak ada maka dia yang akan maju.
"Mery bagaimana kalau kita membuat pepes jamur jerami? Bukankah kemarin kita belanja ada jamur di kulkas?" tanya dev menatap lamat-lamat ke arah mery.
"Oh, benar juga. Baiklah, ayo kita buat. Kita bertarung siapa yang paling enak buatannya. Anton kau mau ikut juga?" ajak mery tersenyum senang, semangatnya langsung bangkit kembali. Anton merasa kalah dua kali, tidak tahu harus bagaimana mengajak mery agar mengiyakannya. Untuk sekarang, anton hanya mengikuti permainan dev.
Lima belas menit kemudian, mereka membagikan beberapa daun pisang dan bahan lainnya seperti cabai, bawang merah dan bawang putih, penyedap rasa akan membangun keharuman ketika pepes jamur jerami sudah mulai matang.
Jamur jerami biasa di cari di sawah-sawah bekas panen padi. Semua jerami akan di kumpulkan dan di tumpuk seperti gunung. Jika terkena panas dan hujan setiap harinya jerami itu akan mengembun dan keluarlah jamur dari jeraminya. Tidak tahu cara prosesnya, orang dahulu suka mencari jamur tersebut untuk di masak dan di buat camilan seperti pepes maupun di masak dengan indomie.
Masa kecil dev, tery dan mery senang sekali memburu di sawah-sawah. Mencari pengalaman baru dan berpetualang. Lepas memancing mereka tidak lupa juga mencari jamur jerami tersebut. Mereka memberikan penghasilan pencariannya pada orang tua mereka. Dengan senang orang tua pun sangat bangga kepadanya memberikan pangan untuk makanan mereka.
"Bagaimana kalau kita membagi tim?" tanya mery.
"Boleh," jawab singkat dev.
"Baiklah. Dev kau satu tim dengan anton dan aku dengan adelia. Bagaimana?" usul mery telah membuat harus tetap bersabar menghadapi dev. Satu tim dengannya artinya bekerja sama. Namun, anton sama sekali tidak percaya akan bersamanya.
"Kenapa aku dengannya? Bagaimana kalau aku sama kamu saja, mer?" ucap dev tidak terima. Dan menginginkan dirinya bersama mery.
"Dev, itu konyol. Yang bisa membuat pepes jamur jerami ini hanya aku dan kamu. Anton tidak tahu apalagi adelia." Mery terpancing kesal olej dev, tidak mungkin jika adelia satu tim dengan anton. Yang ada itu tidak adil bagi mereka. Apalagi adelia hanya mau bersama mery. Anton hanya terdiam tidak banyak protes pada mery. Ia lebih baik terlihat kalem ketimbang kena marah oleh mery.
__ADS_1
"Baiklah, waktunya kita buat 15 menit ya," ucap mery tersenyum. Dev mengangguk, adelia tersenyum bersemangat. Anton hanya menatap dengan tidak percaya memberikan sedikit senyum. "Baiklah, ayo kita mulai," lanjut mery langsung memulaikan mencuci jamur jeraminya lebih dulu. Adelia hanya berteriak menyemangati tantenya.
"Tante, tante, tante... Hore, tante bakal menang odev kalah, tante menang, odev kalah ... Wlee," ejek adelia menjulurkan lidahnya. Anton tidak tahu harus memulainya dari mana. Semua sudah di sergap oleh dev.