
"Hei, kenapa kau diam berdiri di sana. Bantu aku cuci jamur jeraminya," teriak dev kesal. Anton langsung bergegas mengambil jamur jeraminya dan mencuci. Anton tidak tahu cara memasak apalagi mencuci jamur jeraminya. Tidak peduli bagaimana tanggapan dev, anton hanya mencuci dan meremas jamur tersebut.
"Nah, apalagi?" sodor anton, jamur itu terlihat hancur. Dev menatap kesal.
"Kau mencucinya pake mesin cuci ya? Kenapa sampe ancur begini si?" teriak dev sangat kesal dsn jengkel kepada anton. "Sudahlah lupakan. Ambil panci dan panaskan air, jangan penuh! Karena itu untuk mengukus pepesnya nanti," nada dev kesal. Anton hanya melakukan apa yang dia suruh. Lagi-lagi anton tidak tahu apa itu panci.
Tidak peduli tanggapannya lagi pada dev, anton justru mengambil teflon dan mengisi air di keran secukupnya. Anton langsung menyalakan gas dan memasak air tersebut. Mery hanya tertawa melihat keributan mereka terlihat wajah anton sangat tidak peduli dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Dev sangat kesal satu tim dengan anton tidak ada gunanya. Bukannya membantu justru menyusahkan.
"Tante hebat, yey... Ayo tante," Teriak adelia semakin menjadi. Dev menatap mery yang semangatnya lebih dari dirinya, dev tersenyum melihat mery kembali tidak memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dia lihat.
Namun apa daya, ketika pepesannya sudah siap untuk di rebus. Dev sangat terkejut. Yang di lihat bukanlah panci, melainkan telfon. Ainya pun hampir surut karena dengan api yang besar sehingga air cepat mendidihnya.
"Ya ampun!" teriak dev jengkel, langsung menatap anton yang duduk memperhatikan mery memasukan pepesnya ke dalam panci. "Woi, landak! Apa yang kau lakukan. Aku minta masak air! Bukan masak indomie. Kau ini bagaimana? Panci saja tidak tahukah. Kau ... Ssstt ahhh! Menyusahkan," kesal dev sangat membuatnya setres. Ia harus mengatur ulang rebusan air. Dev mengambil panci di lemari dan sarang untuk mengukusnya. Dev sangat jengkel dengan kelakuan anton yang begitu membuatnya emosi tinggi.
"Hahaha, ayo dev. Semangat!" ucap mery tertawa renyah.
"Bagaimana ini, masa aku kalah sama mery? Malu dong sama otot!" gerutu dev mencari-cari panci di lemari atas.
Anton menatap terus mery yang sedang asyik bercanda dengan adelia sembari menunggu pepesnya matang. Anton senang melihat mery senang, ternyata dia berfungsi juga buat meryku tertawa sebahagia ini. Kalau gitu ku manfaatkan saja si dev itu. Gumam anton dalam hatinya.
"Hoi, ayo sini bantu aku masukin pepesnya. Jangan diam diri di sana kaya pajangan!" teriak dev sibuk dengan pepes jamurnya. Anton mendekat dan berusaha membantu dev tanpa banyak bicara. Anton dengan tenangnya memasukkan pepes ke dalam panci. Satu lagi kesalahan anton yang dibuat olehnya, sarang untuk mengukus pepes tersebut belum di pasang. Anton hanya memasukkan pepes tersebut kedalam air yang sedikit mendidih. Kemudian anton menutupnya kembali.
"Bagaimana? Sudah!" tanya dev mendekati anton berdiri tepat di depan kompor. "Lho, loh... Kok gini?" lanjutnya melotot kesal melihat pepes jamurnya terendam air mendidih.
"Apa lagi sih? Heran deh, aku tuh salah mulu di mata kamu," kesal anton mulai terlihat.
"Lu gak liat itu apa?" tunjuk dev ke arah panci.
"Panci kan? Bukan teflon! Kan lu sendiri yang bilang!" ketus anton melangkah pergi.
"Bukan pancinya! Lihat tuh, lihat ... Pepes yang baru saja susah payah aku buat, kamu rendam air segitu? Mana enak, murojah! Rasanya ambyar!" murka dev kepada anton kali ini tidak cukup untuk bersabar. Dev sangat kesal lagi tingkah laku anton yang sama sekali membuatnya selalu marah. Sayangnya ada mery, jika tidak mungkin dev sudah menghabisinya menjadi pepes berikutnya.
"Anton, dev... Aku sudah selesai. Bagaimana dengan pepes rendaman kalian? Oups... Maaf keceplosan, hehehe." Mery tertawa kecil sembari memamerkan pepes buatannya sudah jadi.
"Kalian gak mikir ya? Kok pepes di kukus sih? Bukannya di bakar ya?" Ucap anton seketika memikirkan hal yang sama dengan pembaca, bahkan mereka mungkin ada yang tidak ngeh.
"Iya mau bagaimana lagi. Dulu dev memiliki sakit yang sangat parah jadi makanannya selalu harus rebusan dan kukusan. Jadi sampai saat ini masih sama di tetapkan, ya kan dev?" sahut mery tersenyum menatap dev yang masih cemberut dengan pepesnya yang entah rasanya seperti apa.
__ADS_1
Adelia senang bisa mencoba makanan lagi, tapi adelia mengejek anton dan dev dengan makanan buatannya telah di banjiri oleh air. Saat daun pisang itu layu dan tercium aroma pepes tersebut sangat menggiurkan milik mery. Sedangkan pepes buatan dev terlihat masih menghijau daunnya dan aromanya tercium samar-samar.
"Kok aku jadi mules liat pepes kau, dev." Ejek anton melirik pepes buatan dev terlihat tidak menarik. Dev melotot kesal kepada anton, kalau saja bukan karenanya. Mungkin makanan dev lebih enak dibanding mery.
"Kalian bersengkongkol ya?" tanya dev menatap mery, adelia dan anton secara bergantian. Anton tercengang tidak tahu apa yang di maksud darinya, mery tidak peduli ocehan dev, adelia tersenyum menyeringai menatap terus pepes buatan dev.
"Baiklah, siapa yang akan mencoba duluan punya dev?" ucap mery tersenyum sembari menepuk tangan sekali. Di antara anton dan adelia seketika saling bertatap muka. Wajah mereka saling mengodekan bahwa makanan buatan dev sudah pasti tidak enak. Bahkan dev bilsng sendiri pepes buatannya itu ambyar. "Kalian tidak mau?" ucap mery sambung kembali saat menatap wajah anton dan adelia tidak memungkinkan. "Baiklah, biar aku dulu saja. Dev, berikan pepes punyamu satu, sini!" tunjuk mery tersenyum menatap pepes buatam dev. Dari tadi dev hanya terdiam merasa kesal dengan pepes buatannya yang gagal.
"Sebaiknya kamu jangan makan!" ketus dev merasa kecewa.
"Dev~ jangan begitu. Aku yakin buatanmu sebenarnya lebih enak dari punyaku. Aku kan belajar dari kamu. Ayolah... Jangan sedih gitu, aku makan ya?" Mery memulai membuka daun pisang yang membungkus jamur itu sebagai penyedap wanginya sekaligus wadah untuk jamur jerami.
Terlihat sangat jelas, jamur buatan dev setengah matang. Warnanya masih putih. Bahkan bumbu pepes tersebut entah kemana, tidak terlihat jamur itu di lumuri oleh bahan yang sudah dev sediakan sejak awal. Mery tersenyum, tidak banyak komentat melihat buatan dev. Mery tidak mau mengecewakan sahabatnya itu.
"Aku coba ya," ucap mery mulai menyendokkan jamur dan berusaha memasukkannya ke mulut. Adelia menatap mery dengan rasa penasaran bagaimana tanggapan mery pada dev. "Emm... Enak kok, cuma kurang mateng sedikit."
Dev langsung menoleh menatap wajah mery yang terus mengunyah jamur buatannya. Dev tersenyum dengan percaya diri ia mencoba pepes buatannya. Anton pun merasa curiga, bagaimana mungkin rasanya begitu enak? Gumam anton dalam hatinya.
"Wow, amazing ... Hahaha! Rasanya tidak begitu buruk di banding wajah anton ternyata." Sindir dev tertawa renyah.
Mery langsung tersenyum saling menertawakan satu sama lain, adelia diam diam membuka pepes milik mery dan saat ia mencobannya adelia terkejut bukan main.
"Wah! Asin... Hoek," teriak adelia berlari menuju ke kamar mandi. Mery tersenyum dan tertawa kecil melihat adelia terbirit-birit mencicipi jamur buatannya.
"Hah asin?" lirih dev mendekati jamur buatan mery, ia mencoba dan mencicipi milik mery. Dan benar saja, dev langsung kelabakan mencoba pepes milik mery. Mery tertawa terbahak-bahak mengerjai dev dan yang lainnya. Hanya saja anton langsung kabur dari tempat, ia takut dev memaksanya untuk mencoba buatan milik mery.
****
Di tengah kebahagiaan mery, tery masih tetap seperti hari biasanya. Ara masih menunggu perkembangan kematian tery. Tidak tahu ara harus berbuat apa lagi, bahkan racun yang ia dapat hanya membuatnya perlahan menyakiti tery. Ara sangat geram melihat tery masih kuat menahan rasa sakitnya.
Dokter yang bekerja sama untuknya tidak mau menjalankan tugasnya memberikan racun yang sudah di siapkan oleh ara. Ara tidak peduli lagi saat ini, ia tidak mau menunda terlalu lama kematian tery.
"Aku akan memberikan racun ini lebih dari dosisnya, kali saja ketika tery merasakan dahsyatnya racun ini maka ia akan kejang hebat dan mati dalam hitungan detik, hahaha." gumam ara tertawa kecil menatap tery masih di atas ranjangnya yang terlihat begitu lemah.
"Aku tidak tahu, ada macam orang seperti kau. Kau lebih kejam dibanding penjahat di luar sana. Kau memberikan harapan kepada keluarganya. Tapi diam-diam kau meracuninya. Kamu tidak berperikemanusiaan!" tegas dokter itu kesal. Ia kemudian pergi meninggalkan Ara sendiri di dalam ruangan.
"Dasar pak tua, kau tidak tahu perjuangan cinta, bukan? Lebih baik aku kerjakan sendiri dari pada aku mengandalkan kau yang sama sekali tidak guna."
__ADS_1
Kemudian, ara mengambil bingkisan plastik di dalamnya ada sebuah botol kecil berwarna coklat. Tutupnya sangat rapat namun tidak tahu merek dan macam obat apa. Ara kemudian membuka tutup bodoh itu dan mengambil air di dalamnya menggunakan suntikan. Sekiranya ara mengambil 5ml air itu dan menyuntikannya di bagian tangan kanan. Ara tersenyum menyeringai menunggu reaksi dari obat tersebut.
****
Wanita berambut panjang berusaha mengikat rambutnya, dan membentuk gulungan dengan rapi. Ia memakai masker berwarna biru, memakai baju kedokteran di ruang ganti. Wanita itu menyamar menjadi seorang dokter sungguhan. Ia berjalan dengan santai seraya tidak akan terjadi apa-apa dengannya. Ia berjalan menuju ruang ICU yang tepat di tempati oleh Tery dan Ara.
Semua keluarga Mery terkejut melihat penampilannya. "Mohon untuk tidak mencurigai saya. Saya dokter ahli jantung di undang oleh dokter Devano Bebeto secara langsung untuk mengatasi pasien bernama Tery," ucap wanita itu dengan lembut.
Semua orang yang ada di depan pintu ruang ICU saling bertatapan, mereka tidak percaya dengan wanita itu. Akhirnya tanpa Indra bertanya wanita itu memberikan surat izin pada Umi dan Abi. Mereka tersenyum, kemudian memberikan izin pada wanita itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Abi menatapnya.
"Saya Vivian, dari Jerman." Pengakuan wanita itu seraya membuat Abi dan Umi cukup lega. Akhirnya Abi mempersilahkan masuk secara khusus. Indra tidak tahu mengapa Abi dan Umi melihat wanita itu langsung percaya saja padanya.
Brakk.
"Tolong, cepat! Panggilkan dokter!" teriak Ara memasang wajah cemas dan penuh dengan air peluh di wajahnya. Wanita itu belum sempat masuk ke dalam ruangan Tery namun sudah di sambut oleh kecemasan yang tak terduga. Wanita itu langsung menerobos masuk dan menemui Tery. Terlihat wajah Tery kian memucat dan suhu tubuhnya sangat dingin.
Ara berpikir wanita yang secara terang-terangan masuk ke dalam dan memeriksa Tery dengan pribadi. Ara mencoba untuk mengusik wanita itu keluar dengan paksa. Namun Abi melihat semuanya, abi secara pribadi memarahi Ara bahkan hampir menamparnya untuk keluar. Suasana semakin tegang, melihat Tery kesakitan kejang-kejang. Wajah yang sangat pucat dan mata terbelalak melotot menatap langit-langit dinding.
"Tolong, bantu saya untuk melepaskan semua alat medis di tubuhnya!" pintah wanita itu pada Indra yang juga merasa takut akan terjadi pada sang istri. Namun, demi kebaikannya ia hanya bisa mengandalkan wanita itu di sampingnya.
"Kenapa Tery masih kejang-kejang?" cemas Umi terlihat panik.
"Ini di sebabkan oleh obat racun, dia tidak kritis melainkan sudah sadar. Tetapi karena terbawa oleh pengaruh obat maka dia hanya bisa merasakan kesakitan perlahan dan akhirnya ia pingsan kembali dan terus seperti itu. Reaksi dari tubuhnya ini tidak stabil kemungkinan orang yang memberikan racun ini lebih dari dosis," jelas wanita itu masih sibuk dengan tangannya yang masih berusaha menolong Tery.
"Ya Allah, tery anakku!" Teriak Umi langsung meraih tubuh Tery.
Napas Tery semakin memburuk, mulutnya menganga kesakitan, tangannya terangkat seakan meminta tolong pada orang sekitar. Indra tidak bisa berharap lagi padanya. Ia terjatuh tersungkur melihat sang istri begitu menderita. Umi menangis memeluk Tery dengan sangat erat sembari melantunkan syahadat dua kalimat untuk Tery. Abi menangis di samping Umi hanya bisa memanggil namanya.
Tery memberikan kode menunjuk sebuah tempat sampah yang ada di bawah meja alat medis. Wanita itu mencoba untuk memahaminya, dan mendekatkan diri untuk membuka tempat sampah tersebut. Tetapi Tery seketika berhenti menunjuk, tangannya terjatuh sampai membentur ranjang besi.
"Terrryyy! Bangun, Nak. Bangun! Terryyy!" teriak Umi semakin histeris. Indra menangis langsung bangkit dari duduknya dan mencium kening Tery untuk terakhirnya, indra menangis terisak-isak. Ruangan itu di penuhi oleh tangisan yang mengilukan. Mereka tidak bisa membantu Tery, akhirnya nama Tery dan kenangan bersamanya tertinggal begitu saja. Jiwanya sudah di panggil oleh Maha Sang Pencipta. Umi menangis tidak ikhlas dengan kepergian Tery. Abi terus berusaha menenangkan sang istri tetapi sendirinya masih menangis memanggil nama sang anak sulungnya. Tery telah tiada, tidak bisa bersama dengan anak dan suaminya, tidak bisa memeluk bahkan mendengar aduan dari sang adik. Tidak bisa mengucapkan kata terakhir untuk anak tercintanya. Semua berlalu begitu saja.
"Ini semua gara-gara Ara! Ara, aku benci padamu!" teriak Indra memenuhi ruangan ICU.
"Saya turut berduka cita, maaf saya tidak bisa membantu lebih dalam lagi. Saya terlambat!" ucap wanita itu membungkuk menghormati keluarga Mery yang sedang berduka.
__ADS_1