
#Malam
Masih seperti tadi siang, berbaring di atas ranjang sembari mendengarkan percakapan di luar ruang walaupun terdengar samar-samar. Mau gimana lagi? Selain mendengar tidak ada aktivitas yang harus ku lakukan.
Tubuhku sedikit demi sedikit mulai bisa di pergerakkan, bibir sudah mulai bisa ku buka. Pelan-pelan mataku akan ku usahakan untuk membuka. Tapi tetap saja, percuma yang ada.
Syukur alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untukku memiliki kesempurnaan. Walaupun ingatan terenggut setengahnya.
"Gimana? Sudah mendingan kan" Suara seseorang sedikit agak jauh.
"Iya Pah, kapan pulangnya. Aku udah enggak kuat lagi. Aku pengen pulang main sama temenku di sekolah" Ujar anak yang terdengar sekitar umur 10 tahun.
Kasihan, anak sekecil itupun sudah sakit-sakitan. Aku hanya bisa mendengarkan percakapan mereka. Suara anak itu terdengar lemas, lemas sekali sampai sang Ayahnya pun terdengar putus asa dari getaran bibirnya.
Apakah separah itu anaknya? Aku jadi penasaran siapa orang yang di sampingku ini. Aku ingin melambaikan dengan tangan kananku. Bodohnya Aku, sampai lupa bahwa Aku hampir lumpuh di buatnya dan tidak bisa bergerak.
Aku berusaha memberontak lewat tangan kananku untuk meraih benda di sekitar. Sangat sulit memang, tapi jika Aku hanya terdiam sambil menunggu membaik. Itu akan lama.
"Hei, dia bergerak tangannya!" Seru seseorang terdengar di telingaku.
"Wah! Dia sepertinya sudah mau sembuh yah?" Suaranya lagi.
"Ayo cepat, panggilkan dokter!"
"Keluarganya dimana? kok engga ada sih?"
Semua orang meributkan Aku yang sedang berusaha menggerakan tangan. Ternyata ramai di sekitarku, tapi dimana Abi dan Umi berada?
Gubrak!
Dorongan pintu sangat keras, bahkan Aku yang di anggap seperti orang koma pun bisa merasakan getaran pintu yang terdorong kuat itu.
"Mery! Bangun woi, bangun! Lho enggak mau apa liat gue, hah!" Teriaknya sambil mengayunkan tubuhku dengan sangat kuat.
"Bodoh luh, kalo sampe Kakak Lho nikah sama Indra!" Teriaknya Lagi dengan menyebutkan nama Kak Tery.
__ADS_1
Sebenarnya sudah berapa lama Aku di rumah sakit? Tubuhku rasanya seperti mau remuk. Aku harus berusaha lagi untuk bangun. Tapi kenapa mataku susah untuk kubuka. Ya Allah!
"Ayo bangun!"
Kini suaranya terdengar lirih, dia masih berusaha menggoyangkan tubuhku untuk bangun. Aku juga mendengar suaranya yang mulai putus asa. Siapa sih dia sebenarnya?
Bingung, sangat bingung. Keluarga dimana? Masa Aku di rumah sakit sendiri. Hanya orang lainlah yang selalu menatapku, mungkin, dengan rasa menyedihkan. Bahkan Kak Tery pun tidak menjengukku.
"Mer, ayo bangun. Ini gua. Ini Aku nih, aku!" Teriaknya terdengar sambil memukul dadanya.
Bodoh! Dia ini siapa sih. Kalau pun dia itu orang dekatku. Pasti menyebutkan Aku dan sekian. Lah, ini kok cuma Aku, aku, aku. Anak kecil pun enggak bakal kenal kalau dia cuma nyebut "Aku" saja kan.
"Ayolah, kalau kau bangun. Aku bakal ajak kamu ke warteg favoritku, mer. Aku serius!" Ujarnya sambil menyakinkan Aku dengan membujukku ke tempat favoritnya?
Andai saja Aku bisa bicara, bakal ku gas-full nih orang. Nyebelin banget, sedari tadi suruh Aku bangun dengan membujuk ke warteg pula.
"Mer, ayo bangun. Eh, jangan bangun deh! Kamu tidur aja terus kaya gini. Biar Aku bisa menemani kamu terus, yah!" Katanya membuatku berkidik geli.
Kenal juga enggak, temen bukan, sahabat apalagi. Tapi kenapa suara dia cowo yah, tak lain juga Aku malah mikir bahwa dia itu Anton.
Tapi mana mungkin dia. Dia kan sibuk pastinya, kan calon penerus kerajaan. Tapi bener enggak yah ucapan Ustadzah waktu itu.
2 Hari kemudian,
Saat lampu yang masih redup, aku pelan-pelan mendengarkan lantunan Qur'an di radio FM. Suaranya sangat merdu sehingga membangkitkan Aku untuk bangun dan beriringan dengan suaranya.
Aku bisa melihat langit-langit dinding berwarna putih. Walaupun sedikit gelap tapi terlihat remang-remang juga.
Apakah Aku sudah bisa melihat? Aku bisa melihat! Aku sudah berapa hari di rumah sakit. Apakah sudah 2 hari? Aku tidak sabar menatap birunya langit itu.
"Umi,," Kataku mulai bisa berbicara lagi.
"Aahh! Aku bisa bicara!" Lanjutku diiringi jerit dengan sangat gembira.
Sontak lampu yang remang tiba saja terang seketika, aku berada di ruangan yang sama ternyata. Di sekelilingku terhadang oleh gorden berwarna biru kehijauan.
__ADS_1
Kamar satu untuk 2 orang, dan di sampingku yang sedang terbaring sakit adalah anak kecil. Saat ku tarik gorden tersebut. Dia menatapku dengan tatapan kosong sembari tangannya meraih ceplikan lampu.
"Kau siapa?" Tanyaku dengan lirih.
"Kamu yang koma itu yah. Kok tiba-tiba bangun langsung teriak sih!" Jawabnya memalingkan pertanyaanku.
"Eh, aku engga koma kok. Cuma pengen tidur aja. Oh iya Aku dengar kau sakit parah. Kamu sakit apa?" Tanyaku berseru menyelidik.
Aku duduk di hadapannya dan masih di atas ranjang ku. Rasanya tidak ingin rebahan lagi. Tulangku hampir saja lumpuh beneran kalau Aku terlalu bermalasan di atas ranjang.
Dia hanya mengangguk sambil mulutnya berbentuk bulat. Ia terlihat sangat pucat, sepertinya sakitnya memang cukup parah.
"Kakak cantik." Katanya mulai tersenyum.
"Eh, masa sih?" Kataku mulai malu-malu.
Anak kecil saja bisa bermulut manis seperti dia, sangat lucu. Tapi kasihan di usianya yang masih ABG, dia mengalami seperti ini, sakit apa yang buat dia sampai matanya seperti panda. Kedua orang tuanya masih tertidur di sofa. Mereka juga sepertinya kelelahan.
"Kamu sakit apa? Nama kamu siapa?" Tanyaku detail banget-an.
"Aku Sesil kak, aku.." Katanya turun bersemangat.
"Enggak papa, sesil anak yang kuat kok. Nanti Kakak ceritain dongeng deh" Kataku mulai menyemangatinya.
"Serius kak! Aku mau" Teriaknya semangat sembari bertepuk tangan.
"Uuussstt! Nanti Ayah Ibu kamu bangun" Kataku berbisik.
Dia bersemangat lagi seperti saat mengutarakan namanya. Aku mulai bercerita tentang Putri Malu. Begitu juga menjelaskan tentang Si Buruk Rupa. Dia sangat menyukai cerita yang Aku ceritakan padanya. Sampai akhirnya ia tertidur pulas dan sangat tenang.
Aku melihat jam dinding di hadapanku, di atas pintu, sudah menunjukkan pukul 5, pagi. Sepertinya Umi dan Abi tidak menungguku. Aku sudah lama tidak mendengar mereka setelah awal Aku masuk rumah sakit.
Ini sudah hari apa? Aku bahkan tidak bisa menebak hari tanggalnya. Aku takut pas hari masuk ke Pondok lagi terlewatkan, karena Aku juga hanya satu minggu di rumah.
Kak Tery bagaimana keadaan dia, bahkan Kak Tery tidak menjengukku. Aku akan bertanya jika Abi dan Umi sudah menjemputku pulang.
__ADS_1
Aku tidak mau berpikir buruk hanya karena mereka menungguku sadar. Tidak mungkin pula mereka menghiraukan putrinya yang sedang sakit.
Aku sembuh! Aku akan pulang tidak lama lagi. Aku akan menjelaskan semuanya dengan Kak Tery. Walaupun dia sudah menamparku dan membuat kekecewaan di antara kita. Aku tidak mau menjadi wanita pembenci.