Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Season 2, bab 64


__ADS_3

Indra tiba-tiba langsung melepaskan cengkramannya dan menatap kosong wajah Anton. Indra mengingat kejadian di mana Indra menyaksikan sendiri kecelakaan Tery berlumur darah merahnya sedangkan Mery hanya melarikan diri dengan rasa egoisnya. Mengingat hal itu Indra benar-benar tidak tahu harus membencinya atau tidak. Yang terpenting baginya ialah harapannya Tery cepat sadar.


Anton segera meninggalkan rumah sakit, ia berlari terburu-buru dengan sangat cepat. Ketika sampai di parkiran mobil, anton mencari kunci mobilnya di setiap saku kantong celananya. Namun sayang, kunci mobil tertinggal di ruang kamarnya Ara. Anton tidak bisa kembali lagi ke sana yang ada akan terjadi sesuatu yang tidak Anton inginkan, yaitu tertahan olehnya.


"Untuk saat ini aku tidak mau menemuinya. Lebih baik aku mencari taxi saja. Taxi!" teriak Anton memanggil salah satu taxi yang kebetulan lewat disamping jalan depan rumah sakit. "Pak, ke jalan Cendawa dua ya," lanjutnya.


"Baik, Pak." Jawab Sopir tersenyum memulai menginjak gasnya.


Setelah sampai di gang dekat rumah Mery, anton langsung berlari terbirit-birit sehingga peluhnya berjatuhan. Anton tidak peduli Mery akan menolak kedatangannya atau menerimanya. Yang ia harapkan adalah Anton memastikan bahwa Mery baik-baik saja dan dia bisa menjelaskan yang sebenarnya.


Depan rumah Mery terlihat sepi, pintu tertutup rapat begitu juga dengan jendela. Terasa hening ketika Anton mendekatkan kakinya menuju lantai rumah Mery. Perlahan Anton mengatur napasnya dengan santai.


Anton mencoba untuk rileks pikirannya agar semuanya berjalan dengan lancar walau endingnya masih blur baginya. Anton memulai mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.


Tok.. Tok... Tok...


"Assalamualaikum," salam Anton dengan nada lembut.


Mery mendengar salam seseorang dari kamar. Ia pun langsung menghapus air matanya yang selalu membasahi pipi. Melihat Adelia yang tertidur lelap di atas ranjang, mery berusaha untuk tersenyum. Mery bergegas turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.


"Waalaikumsalam ..." Salam Mery berhenti seketika.


Wajahnya langsung berubah drastis, menatap sang calon suami ada di hadapannya. Tangan Mery seketika kaku untuk menyambut kedatangannya namun hatinya begitu bergejolak kegirangan.


Mery bingung untuk melepas semua rasanya antara sedih ataupun senang. Mery tersenyum pahit di hadapan Anton.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Mery sedikit ketus.

__ADS_1


Dengan senangnya Anton menjawab santai, "aku datang ke sini untuk melihat kamu. Aku minta maaf!" ujar Anton menundukkan sedikit kepalanya.


"Telat, aku tidak mau bertemu denganmu lagi."


Mery langsung menutup pintunya dengan sangat kuat, tetapi Anton mencoba untuk menahannya. "Mer, tolong jangan seperti ini denganku. Aku akan menjelaskan semuanya, semuanya Mery!" teriak Anton menahan pintu.


"Aku tidak mau mendengar penjelasanmu. Pergilah!" suara Mery dengan nada beratnya. Mery menangis sembari menahan pintu yang selalu Anton dorong demi usahanya membuka pintu.


"Tolong Mer, aku di jebak dengan Ara. Dia sakit setelah main di rumahku. Aku akan menjelaskan semua dengan kamu!"


Seketika Mery langsung terdiam, tidak lagi menahan pintunya. Anton pun membuka pintu dengan perlahan seiring berjalannya. Anton menatap wajah Mery sudah penuh dengan air matanya. Anton tidak tahan melihat Mery seperti itu, dia tidak Bisa membiarkan pembatalan pertunangannya yang telah tertunda.


"Anton jelaskan padaku, sebenarnya siapa Ara itu? Apakah aku mengenalnya?" nada beratnya menahan tangis, mery berusaha untuk mendengarkan penjelasan Anton.


"Kita masuk dulu. Tidak enak jika di dengar orang lain," ujar Anton menuntun mery dan duduk di ruang tamu.


Mery menggeleng ...


"Adelia ada di sini?" lanjut Anton bertanya.


Mery mengangguk, mengusap air matanya. Anton pun mendekatkan tangannya, berusaha untuk mengusapkan air mata Mery tetapi baru saja mendekatkan tangannya Mery langsung menempis keras tangan Anton. Anton hanya terdiam menatap bekas tangan tempisan darinya.


"Anton, katakanlah. Waktuku tidak banyak!" pungkas Mery.


"Mer, ada banyak yang belum kamu tahu tentangku. Aku memang tidak pernah cerita karena menurutku itu tidaklah penting." Jelas Anton menggenggam tangan.


"Tidak penting katamu? Segitunya kah kamu anggap aku masalahmu tidak penting? Anton, aku ini tunangan kamu. Aku berhak mengetahui semuanya. Aku tidak peduli kamu ada hubungan masa lalu dengan si Ara itu. Tapi aku peduli hubunganmu dengan orang tuamu!" Geram Mery menatap Anton dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


"Iya Aku tahu, aku salah. Seharusnya aku cerita denganmu tapi ..." ucap Anton terpotong. "Apakah kamu akan marah denganku di waktu hari pertunangan kita. Aku tidak datang?" sambung Anton sedikit cemas.


"Tidak!" jawab Mery dengan ketus.


"Benarkah? Aku berharap kita bisa tunangan hari ini. Aku janji akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan mengecewakan kamu kedua kalinya." Anton sontak langsung tersenyum senang mendengar jawaban Mery yang begitu tanpa memikir dua kali.


"Anton, kamu tau apa itu janji pernikahan? Apakah kamu tahu setelah menikah akan banyak sekali masalah? Apakah kamu tahu jika pasangan kita tidak jujur pada kita? Dan apakah kamu tahu arti dari kata 'Tidak' dariku tadi?" Mery menatap lamat-lamat dengan bola mata yang berkaca-kaca. Sedangkan Anton hanya menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


"Aku hanya tau, bahwa kita akan menikah dengan bahagia," jawab Anton menatap kosong ke arah Mery.


Mery seketika tersenyum pahit, seolah tidak percaya orang yang akan ia nikahi hanya mengetahui kebahagiaannya saja. Anton tidak memikirkan ujian-ujian setelah menikah, cobaan, dan tentang kejujuran seorang pasangan.


Mery memikirkan tentangnya, jika saja belum menikah Anton masih tidak jujur. Lalu bagaimana setelah dia menikah dengannya? Pertanyaan yang sulit untuk di mengerti untuk Mery sangat membuatnya berpikir dua kali untuk menikah. Apakah perlu di batalkan? Mery bahkan bingung apa yang harus dia jelaskan padanya.


"Anton, aku pernah dengar cerita dari berbagai orang yang selalu curhat isi hatinya tentang rumah tangganya. Mereka tidak selalu bahagia. Mereka tidak selalu sedih. Tetapi perselisihan diantara mereka lebih seringnya ialah kejujuran antar pasangan kita," jelas Mery menatap Anton.


"Itu mereka, bukan kita Mer. Kenapa kamu begitu peduli dengan kisah-kisah mereka," jawab Anton dengan tegas. Anton sedikit panik akan hal tentang cerita itu. Dia paham apa yang Mery maksud. Namun, itu sangat berat untuknya menceritakan tentang keluarganya.


"Anton! Aku hanya berharap kamu jujur padaku sebelum kita menikah. Apakah begitu sulit untuk kamu menjelaskannya padaku."


"Bukan itu yang kumaksud, percayalah padaku. Kali ini aku tidak akan mengecewakanmu." Anton mengotot.


"Kali ini? Kamu bilang kali ini? Hah! Sebenarnya sudah berapa kali kamu berbohong padaku?" Mery mulai menangis, ia tidak sanggup untuk mencoba Anton jujur padanya. Namun hasil yang sia-sia Mery dapatkan.


Mery langsung bangkit dari sofa dan mengusir Anton dengan rasa kecewa. Sebelum Anton datang membawa kejujuran Mery tidak akan menemuinya. Anton hanya pasrah ketika Mery mengusirnya.


Ia pun hanya terdiam diri di depan rumahnya, akhirnya Anton memilih untuk kembali ke rumah dan mencari tahu mengapa Mery mengetahui semuanya. Selain sang adik tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali orang yang bekerja di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2