Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 38


__ADS_3

#Di dalam mobil.


Yang sedari tadi ku sebut "Dia" itu adalah Anton. Dengan persetujuan Abi, dia langsung menarikku keluar dan menaiki mobil pribadinya. Umurnya tidak jauh beda denganku tapi dia sudah jago membawa mobil.


Aku pikir Anton orang yang sulit untuk bergaul dengan wanita karena kata Sesil bahwa Anton jarang berhubungan dengan perempuan. Lalu Aku ini apa?


"Ehem!" Suaraku mengode dengan berdehem.


Anton masih serius menyetir mobilnya, bahkan pandangannya pun sedikit menatapku pun tidak. Aku mencoba lagi untuk berdehem kedua kalinya untuk membuka pembicaraan.


"Ehem, ehem!"


Anton masih tetap fokus dengan pandangannya ke depan. Sikapnya sudah mulai berubah lagi, dia mencuekiku dan mendiamku selagi bukan dia yang belum memulai pembicaraan.


"Kamu denger nggak sih?" Kataku mulai kesal, sedikit menggelembungkan pipiku.


Anton mulai melirik dan tersenyum sekilas. Aku terdiam saat dia tersenyum karena senyuman dia itu sepertinya sangat mahal. Walaupun senyum pun bisa hitungan detik saja. Pelit bukan? senyum kan ibadah.


Sepanjang perjalanan Aku hanya menatap jendela kaca mobil. Menatap rumah, gedung, begitu juga dengan ruko dan pedagang kecil yang melintas saat mobil Anton melaju cepat.


Kecepatan mobilnya tidak begitu buruk, jadi Aku merasa sedikit nyaman ketika dia menyetirnya.


"Mau makan?" Tanya Anton dengan pandangan fokus ke depan.


"Tidak," kataku pelan.

__ADS_1


"Minum?"


"Tidak!" seruku menggeleng kepala.


"Lalu kamu mau apa?" Tanya Anton menatapku.


"Mau ke pantai, laut, sungai, ke air intinya." Kataku mengoceh sembari menghitung dengan jari.


Duk! Anton tiba-tiba mengerem dengan mendadak, sehingga kepalaku terbentur kaca mobil. Kepalaku langsung sakit dan merasa pusing begitu juga mual.


Aku mengelus-elus keningku di bagian yang terbentur, dia malah terdiam bukannya meminta maaf atau tindakan apa kek, supaya Aku tidak kesal. Sikapnya malah diam membisu sambil menatapku. Orang bukan sih?


"Dasar, kalau mau berhenti bilang dong. Nih, jidatku kebentur tau!" Kataku mengoceh lagi sambil memarahinya.


Anton justru mengangkat Alis kanannya dan menatapku heran. Aku menjadi salah tingkah di buatnya, untung saja gayanya kini tidak seperti preman pasar. Tapi lebih menyimpulkan seperti Ustad kesasar.


"Hah?"


Aku sedikit bingung dengan ucapannya. Apa dia salah menyimpulkan maksud perkataanku tadikah? Bodoh sekali dia, mungkin Anton kira Aku mau bunuh diri di depannya kah?


"Aku mau ke pantai untuk senang-senang. Bukan mati, bodoh!" Kataku dengan menjitak jidatnya yang bodoh itu.


Anton terkejut dan bengong seketika. Wajahnya sangat datar seperti tempok di rumahku. Aku pun merasa ingin tertawa melihat wajahnya itu.


"Oh, aku kira kau mau bunuh diri karena putus cinta" Ujarnya mulai menyalakan mobil.

__ADS_1


"Mana ada, aku ini kuat." Kataku sedikit berbohong.


"Oke, aku bawa kau ke suatu tempat. Aku yakin kamu pasti akan suka dengan tempat itu" Ucap Anton meyakinkanku.


Aku hanya mengangguk sembari melihat-lihat di sekeliling mobilnya. Sambil mencari-cari obrolan dengannya Aku harus bertanya sesuatu tentang diri Anton yang sesungguhnya.


Aku pernah mendengar soal dirinya dari Ustadzah, aku ingin memastikan bahwa benarkah Anton adalah calon pewaris kerajaan Inggris nantinya?


"Anton Aku boleh tanya sesuatu tidak?" Kataku lirih sedikit ragu.


Anton melirikku dan mengangguk dengan sangat semangat. Akhirnya Aku punya kesempatan bagus untuk mengetahui soal dirinya.


"Apa benar kamu ini calon pewaris kerajaan di Inggris? Terus bagaimana kamu ada di Indonesia?" Kataku menyelidik.


Anton mulai ingin menjawab. Namun seketika bibirnya digigit olehnya, matanya melirik kanan-kiri seperti orang kebingungan. Rasanya sedikit canggung dan Aku merasa bahwa pertanyaanku spam baginya.


"Ahh, sudah sampai" Ucap Anton mengalihkan pembicaraan.


Aku langsung berpaling dan menatap ke depan. Benar saja, Anton membawaku ke suatu tempat yang sangat indah.


Air laut berwarna biru terlihat di atas tebing yang tinggi, ternyata tempatnya tidak jauh saat Anton berhenti mendadak itu.


Anton keluar dari mobil, akupun mengikutinya dari belakang setelah Aku ikut keluar bersamaan. Udaranya sangat segar, pemandangannya sangat indah.


Aku sedikit merasa nyaman dan tenang, kenanganku bersama Indra pun serasa terbawa oleh tembusan angin yang melintas di tubuhku, anginnya serasa menembus dan pikiranku spontan rileks dibuatnya.

__ADS_1


Anton memang bisa apa yang Aku butuhkan. Tempat seperti ini sangat menenangkan bagiku setelah waktu yang lalu terbuang seketika.


Aku langsung merentangkan kedua tanganku dan berusaha menahan nafas dalam 20 detik. Aku ingin berteriak di atas tebing ini untuk membuang semua emosi dan kekecewaanku terhadap cinta.


__ADS_2