Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Series 2, bab 47


__ADS_3

Sesampai di gang depan rumah, Mery berusaha turun dari mobil dengan perasaan yang sangat gembira. Ia tidak sabar ketika sudah di depan.


"Anton, ayo cepat!" teriak Mery berdiri di samping mobil.


Anton pun tersenyum dan keluar dari mobilnya. Waktu semakin larut malam Anton pun harus cepat mengantarkan Mery bertemu dengan kedua orang tuanya.


Di seberang jalanan, ada seorang kakek-kakek yang sedang berdiri dan menatap Mery terus-menerus. Anton menatap tajam terhadapnya, tiba-tiba seorang kakek itu datang menghampiri mereka.


"Nak, kalian pasangan yang serasi ya?" ujar kakek tua itu menatap Mery dan Anton lamat-lamat.


"Ah, emm.. Kakek, dia buk..," ujar Mery terpotong.


"Iya kami pasangan suami-istri. Kakek kenapa malam-malam keluyuran? Nanti masuk angin kena encoknya bagaimana?" kata Anton sambil memegang tangan Mery.


Mery terkejut mendengarkan hal itu, ia bertanya-tanya dalam hati mengapa Anton melakukan itu. Padahal kakek tersebut hanya bertanya namun jawaban Anton menikung yang pastinya akan menjadi fitnah.


Lalu Mery mencubit bagian pinggang Anton dengan tangan bersembunyi di belakangnya. Seketika Anton menjerit kaget dibuatnya.


"Siapa namamu Nak?" ujar kakek tersebut tersenyum.


"Namanya Tuti Kek, kakek sebenarnya mau kemana? Biar saya antar ya?" ujar Anton langsung menarik kakek tua itu dengan perlahan.

__ADS_1


Kok Tuti sih... Mery menahan tangan kakek tersebut dan menatap tajam pada Anton. Seketika kakek tua itu pun tersenyum menyeringai kepada Anton.


"Anton kamu keterlaluan," ujar Mery mengerutkan alisnya, "Dia itu sudah sesepuh, kau harus menghormatinya seperti kamu menghormati orang tua kamu."


Tiba-tiba Anton mulai merasa kesal dengan Mery dan menatapnya begitu dingin. Mendengar apa yang dikatakan Mery benar-benar membuat dirinya mengingat kedua orang tuanya tersebut.


Mery tercengang kebingungan melihat ekspresi Anton begitu berubah ketika dirinya mengatakan soal orang tuanya. Mery pun mendekat pada Anton berusaha untuk meminta maaf kepadanya.


"Anton, maaf?" kata Mery lirih dengan nada lembut.


Anton menatap kembali Mery dan melirik ke kakek tersebut. Namun, ekspresi kakek tua itu datar. Seolah-olah Anton tidak bisa memprediksi dirinya. Ia mulai curiga terhadap kakek tua itu.


Nasib baik? Apa maksud dari kakek tua itu... Gumam Anton lirih sehingga terdengar di telinga Mery. Mery hanya menatap Anton lamat-lamat dengan merasa bersalah kepadanya.


Platak!


Tiba-tiba Anton menyentil kening Mery sehingga Mery merasa sedikit sakit dan berteriak kaget kepadanya. Tetapi pandangan Anton masih menatap kakek tua itu pergi.


"Anton, kau ini jahat sekali."


"Diam, kau menatapku sehingga membuatku merasa canggung. Jadi jangan menatapku begitu, takutnya kau akan jatuh cinta padaku nantinya," kata Anton dengan angkuhnya.

__ADS_1


Mery akhirnya memalingkan pandangannya, wajahnya berubah seperti udang rebus, pipinya merona kemerahan. Ucapan Anton membuat Mery takut akan hal itu bakal terjadi pada dirinya.


"Sudahlah, Aku akan jalan duluan," ucap Anton berjalan sembari menarik koper milik Mery.


"Hei.. Tunggu Aku!" teriak Mery berjalan menyusul Anton.


Sesampai di depan rumah, mata Mery sedikit berkaca-kaca menatap dari ujung atap rumah sampai ke tanah yang dia injak. Rumahnya masih sama tidak ada perubahan yang diubah, cat dinding pun masih sama.


Mery melangkah maju lebih kedepan teras rumahnya. Anton yang melihat Mery begitu merindukan rumahnya sangat merasa sedih.


"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya aku sampai di rumah juga."


Mery berjalan melangkah satu kali lagi, ia sudah di depan pintu rumahnya. Tangan Mery gemeteran dan merasa dingin. Anton hanya melihat Mery yang begitu gugup, ia tidak mau mengganggu suasana hati Mery. Tetapi dengan melihatnya seperti itu Anton berpikir semakin lama dia di depan pintu, maka semakin lama pula Anton kembali ke rumahnya.


"Mau sampai kapan kau berdiri di depan pintu?" ketus Anton.


Mery menoleh ke belakang, pipinya dipenuhi oleh air mata, wajahnya benar-benar terlihat kusam. Anton pun terkejut, ia tercengang menatap wajah Mery. Sontak Anton berjalan mendekatinya tiba-tiba langsung meraih tangan Mery dan mendorongnya dipelukkan Anton.


Mery sedikit merasa nyaman dan membalas pelukan Anton di dada yang bidang tersebut. Anton pun kaget, Mery merespon dari pelukkannya. Anton hanya ingin membuatnya tenang, mungkin karena terlalu lama selama di Korea Mery sangat merindukan kedua orang tuanya.


Setelah didepan rumah ia merasa terlalu bahagia sampai air mata pun ia keluarkan untuk membuktikan betapa rindunya Mery terhadap mereka.

__ADS_1


__ADS_2