Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Series 2, bab 58


__ADS_3

Suasana mulai sedikit gelap, angin berhembus menggoyangkan daun daun di sekitar depan rumah. Mery terduduk kursi depan rumah sambil menikmati cahaya senja disore hari.


Ia memikirkan kampung halamannya di Jogja. Sudah tidak terasa ternyata waktu telah cepat berlalu, mery sangat merindukan mbok sirah yang ada dikampungnya. Suaranya, perhatiannya, nasihatnya membuat ingin bertemu untuk melepaskan kerinduannya. Seketika ingatan terlintas diotaknya, mery ingin mengunjungi tanah kelahirannya di Jogja.


"Hah~" desahnya menghela nafas panjang. "Aku rindu sekali," ujar mery menggerutu.


"Rindu siapa?" tanya Umi langsung duduk disamping mery.


"Eh ... Umi? Anu ... Mery kangen si mbok," katanya menatap wajah uminya dengan penuh kerinduan.


"Oh iya yah, sudah lama juga kita tidak kabar-kabaran sama si mbok ya?" kata Umi mulai ingat.


"Iya Umi, kapan ya kita balik lagi ke Jogja. Rasanya tempat itulah yang paling nyaman Mi."


"Em, gimana ya? Habis Abi ternyata malah beli rumah ini. Jadi rumah kita yang di Jogja jarang sekali kita kunjungi. Malah~ udah tahunan ternyata."


"Ayolah Mi, kita pulang yuk?" ajak Mery.


"Ya kalau Umi sih mau, tapi ... gimana dengan abi ya?" jawab umi bingung sambil memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengunjungi rumahnya.


Mery meluruskan kedua kakinya ia menyenderkan bahunya disofa. Mery juga memikirkan hal yang sama agar bisa berbicara dengan sang abi untuk mendapatkan izin mengunjungi ke Jogja.


Abi keluar dari dalam rumah sambil menggandeng adelia mengajaknya bermain boneka diteras. Umi menatapnya dengan senyuman, seketika melihat adelia yang sedang tertawa riang. Umi menemukan jawabannya agar bisa mendapatkan izin dari sang suami.


"Bi ..." kata Umi bangun dari sofa dan pindah duduk dilantai disamping sang suami.


"Apa Mi?" tanya Abi tidak membalas tatapannya, ia sibuk bermain dengan cucunya.


"Kita kan sudah bertahun-tahun tuh disini dan kita juga sudah punya cucu. Bisa gak kita liburan ke Jogja seminggu~ aja Bi, bisa?" rayu Umi penuh harap.


"Benar juga. Tapi kerjaan abi masih belum selesai Mi?"

__ADS_1


"Gitu ya~" nadanya kecewa.


"Kakek ... nenek kenapa? kok wajahnya kusut gitu?"


"Kan nenek sudah tua, jadi wajar aja wajahnya kusut. kalau Adelia kan masih kecil. kulitnya masih lembut. Jadi gak bakal kusut," jawab Umi tersenyum sembari meraih tubuh dan memeluknya.


Mery menatap kedua orang tuanya yang sedang bermain dengan cucu pertama mereka. Ia memikirkan jika Mery sudah menikah dan memiliki anak mungkin saja usianya tidak jauh dari adelia. Mereka akan bermain bersama bercanda, saling berebutan. Seru kali ya kalau bertambah satu lagi ... Gumam Mery tanpa ia sadari tersenyum dalam lamunannya.


Seketika Indra datang membawa motornya. Tery mendengar suara motor sang suami langsung berlari keluar menyambutnya dengan penuh penantian yang selama ini menunggu dirinya pulang.


Senyuman indra itu sangat dinantikan oleh tery ketika pertama kali ia lihat adalah dirinya, namun tidak dengan bayangannya. Indra langsung menggendong sang buah hatinya dan memberikan buku tulis berwarna.


"Ayah, kok ayah pulangnya lama sih?" kata Adelia merengut digendongan sang ayah.


"Iya ayah sibuk, ini ayah udah pulang ..." jawab Indra tersenyum.


Tepat berdiri disampingnya Indra acuh tak acuh terhadap sang istri. Pandangannya hanya sesekali ia menatapnya, Tery tidak memperdulikan kecuekan sang suami. Inti dalam rumah tangga mereka ialah tetap bersama walaupun didasari cinta sepihak.


***


Terbaring dikasur memikirkan hal yang selanjutnya ialah melamar Mery, Anton masih saja sibuk dengan memilih gedung yang akan disewakan. Semuanya bagus, tapi aku bingung apa Mery akan suka gak ya? Gumam Anton. Lupakan, aku akan melakukannya sendiri. Mery tinggal menerima beresnya saja. Lagian dia juga baru keluar dari rumah sakit, pasti butuh istirahat total. Lanjutnya sambil mencari tempat gedung yang bagus di google.


"Kak! Ada tamu yang mencarimu," ujar Willy langsung masuk dikamar Anton.


"Hah? Siapa!"


"Intinya cepat keluar dulu ayo ..." ajak Willy menarik tangan Anton supaya keluar dan melihat siapa yang datang disore hari.


Anton pun ditarik olehnya menuruni anak tangga, terlihat wanita memakai hijab modern memakai celana jeans baju yang sedikit melonggar berwarna putih. Wanita itu berdiri didepan pintu membelakanginya.


Dengan pakaian seadaanya ditubuh Anton kaos polos berwarna hitam pendek dan kolor berbahan tipis. Anton merasa malu jika itu adalah Mery, akhirnya ia memilih untuk naik ke atas dan mengambil celana panjang supaya terlihat sopan didepan wanita.

__ADS_1


Mery pernah bilang sekali pada Anton saat di Korea bahwa ia tidak menyukai pria memakai kolor ketika dihadapan wanita yang bukan mahramnya, mengingat hal itu Anton langsung lari terbirit menaiki anak tangga hanya karena mengambil celana panjang saja.


"Lho kak! Kok naik lagi?" tanya Willy heran. Padahal kan itu bukan Mery, ck ... Ah elah dasar bucin. Gumam Willy menatap bingung.


Setelah mengambil celana yang panjang Anton berdandan sedikit rambutnya supaya tidak terlihat kucel. Ketika ia menuruni anak tangga, Anton terkejut bahwa suara wanita itu ketika mengobrol dengan Willy berbeda. Suaranya bukan Mery, Anton langsung melihat siapa wanita itu yang sebenarnya, ketika Anton mengintip dari atas. Ia terkejut sejadi-jadinya. Kenapa Ara datang kesini? Aduh, merepotkan saja sih dia. Gumam Anton kesal.


"Anton?" tanya Ara menatap keatas.


"Maaf aku sibuk Ra, bisa gak kamu pulang aja. Lagian udah sore, gak baik cewe pulang maghrib-maghrib."


"Kak, kok kamu gitu sih? Ara kan mantan kamu, dia main kesini karena sudah lama kalian gak ketemu wajar aja kan kalau dia ..." Katanya terpotong.


"Diem kamu dek, kakak udah ketemu dia dirumah sakit. Kamu mana tau!" bentaknya sedikit berhati - hati.


Ara hanya terdiam mendengarkan suaranya, mendengarkan apa yang tidak pernah ia dengar dari mulut manisnya. Ekspresinya benar-benar tidak peduli dengan kedatangan Ara untuknya. Padahal dulu ketika kita tidak bertemu sehari saja kamu mencarimu hingga cemas. Tapi sekarang, aku main kerumahmu saja kamu usir ya. Gumam Ara sedikit kecewa.


"Anton aku hanya ingin ..."


"Kehadiranmu akan merusak hubunganku dengan Mery, aku sebentar lagi akan bertunangan dengannya. Kumohon, jangan ganggu aku. Bukankah dulu kau sudah memiliki tunangan? Mungkin ... Sekarang kau sudah punya anak ya?" sindir Anton mengejeknya.


Ara terdiam sembari menggigit bibirnya dengan rasa kesal karena kemarahannya ia tahan saat awal Anton mengusirnya dengan memarahi Wilky. Ia menggenggam erat tangan Wilky sehingga Wilky merasakan sedikit terkejut. Anton terdiam seketika melihat tangan Ara yang menggenggam tangan Wilky, terlihat bahwa Wilky menahan kesakitan karena Ara.


"Wil, kau naik sekarang!" suruh Anton dengan nada pelan.


Wilky mengangguk dan melirik kearah Ara, ia langsung melepaskan tangan Wilky dengan rasa terpaksa. Anton tersenyum menyeringai dan menuruni anak tangga.


"Anak kamu usianya sudah berapa, hehe ..." ejeknya mendekati Ara. "Sudah 6 tahun atau 7 tahun? Atau ..." Lanjutnya terpotong.


"Cukup Anton! Aku sudah lama tidak bersamanya, karena dia ... Dia meninggal karena kecelakaan," jawab Ara kesal, ia tidak bisa lagi membendung kemarahannya dan air matanya.


Anton terkejut, ia sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ara. Tapi dia juga tidak mungkin membohonginya hanya karena Anton. Anton merasa bersalah dengan Ara karena telah menyinggungnya karena dulu ia pernah disakiti karena pilihan dari orang tuanya sedangkan Ara meninggalkannya tanpa meninggalkan sepatah kata. Itulah yang membuat Anton merasa tidak dihargai sebagai seorang lelaki.

__ADS_1


__ADS_2