
Kecelakaan telah terjadi di hari di mana Mery merasa bahagia. Tetapi takdir selalu mempermainkannya, Mery mengalami depresi yang begitu besar.
Melihat sang kakak tersayangnya tergeletak di jalan, lemas tidak berdaya. Hanya mulutnya saja yang menganga menahan rasa sakitnya.
Sehari setelah kejadian itu, tery dibawa ke rumah sakit dekat dari tempat kejadian. Namun, indra menyuruh Mery untuk tidak ikut ke rumah sakit. Alasannya Mery telah mencelakakan kakaknya sendiri.
Indra merasa kecewa terhadap Mery karena keegoisan yang ada didirinya selalu melarikan diri dari permasalahan yang menimpa padanya.
Sudah satu hari Mery hanya terdiam diri bersama Adelia di rumah. Mery lebih banyak diam dari sebelumnya, adelia yang tidak mengetahui ibunya di rumah sakit karena kecelakaan selalu mempertanyakan pertanyaan yang sama.
"Di mana Ibu, tante mery?" itulah yang selalu keluar dari mulut mungilnya. Namun, apa reaksi Mery akan menjawab pertanyaan itu? Mery bahkan bingung untuk menjawab pertanyaan yang mudah itu seperti pertanyaan yang begitu sulit ia jawab.
__ADS_1
Adelia hanya bermain mainannya, menemani Mery duduk terdiam terus tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan untuk makan saja Adelia yang membujuknya.
Adelia juga kebingungan kenapa nenek dan kakeknya tidak pulang ke rumah bahkan sang ayahnya pun sama. Tidak ada kabar dari mereka membuat Mery terus memikirkannya. Setiap Adelia jauh dari Mery, ia akan menangis mengeluarkan air matanya karena Mery juga tidak ingin melihat Adelia sedih.
"Tante, sudah siang. Ayo makan. Takutnya cacing di perut tante nanti gigit lho. Kata Ibu kalau gak makan cacing itu gigit perut kita sampai perut kita sakit tante," ucap Adeli berusaha membujuk Mery untuk makan.
Mery hanya menoleh sekilas lalu menatap daun pintu yang terbuka lebar di depan rumah berharap salah satu dari mereka pulang membawa kabar tentang sang kakaknya.
Tiga hari menghabiskan waktu Ara bersama Anton adalah impian sejak bertemu dengannya. Ara dirawat baik di rumah sakit. Anton selalu menjaganya, bagaimana dia bisa keluar dari genggaman Ara yang selalu bersandiwara kesakitan.
Tiga hari pula Anton tidak mengabari Mery sesekalipun. Anton mencemaskan keadaan Mery. Karena dia juga melupakan ponselnya yang tertingga di rumah.
__ADS_1
"Kamu sudah sembuh, jadi aku pamit pulang Ra. Masih ada masalah yang harus aku lakukan." Anton berusaha meminta izin pada Ara untuk kembali pulang.
Anton juga harus menyelesaikan masalahnya dengan Mery. Mengingkari janji padanya pasti akan membuatnya kecewa. Bahkan Anton harus mencari alasan yang tepat untuk menghindari kesalahpahaman pada Mery. Apalagi sudah tiga hari Anton tidak pulang ke rumah dan memberi kabar pada sang adik.
"Anton, aku mohon kamu jangan pulang duu ya? Aku masih butuh kamu. Aku baru saja pulih dari sakitku masa iya kamu sudah ninggalin aku lagi?" Ara berusaha menahan Anton supaya tidak datang ke rumah Mery. Karena Ara juga tahu Anton akan melamarnya pas di hari itu.
"Iya sudah, aku keluar dulu mau mencari makanan ya?" Anton berbalik arah langsung keluar dari ruangan Ara.
Ara tersenyum mengangguk, mengiyakan Anton pergi. Ketika Anton keluar dari kamar UGD. Anton berjalan menuju keluar pintu mencari makanan di sekitar rumah sakit, tetapi sesaat Anton seperti melihat Indra di dekat kamar ICU.
Anton mwndekatkan diri melihat apakah benar itu Indra atau bukan. Namun, benar saja. Indra sedang duduk melamun menatap daun pintu kamar ICU disamping Indra ada Umi dan juga Abi. Mereka terlihat sangat mencemaskan dan wajah yang begitu pucat menatap arah yang sama.
__ADS_1