Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 20


__ADS_3

Lanjut, episode18


***


Suara yang sangat samar-samar tetapi sepertinya Aku pernah mendengarkannya. Tanpa ragu sedikitpun Aku langsung menengok ke belakang dan menatap wajahnya.


"Kamu sudah sembuh yah?" Katanya sembari berjalan mendekatiku.


Tiba-tiba kepalaku terasa sakit, sakit sekali sampai pandangan terasa kabur dan tubuh orang tersebut pun seperti ada bayangan dirinya dan berlari menuju ke arahku.


Tiba-tiba Aku terjatuh dan tidak bisa menatap jelas. Entah apa yang Aku rasakan ini adalah suatu kejadian untuk mengingatnya kembali. Tetapi jika terus begini akankah Aku bisa mengingatnya kembali.


Saraf-saraf mataku seperti menegang dan menarik ke belakang, kepalaku terasa sakit seperti tertimpa batu yang besar.


Syukurlah, telingaku masih berfungsi. Aku masih mendengar suaranya dan ia pun berteriak meminta bantuan kepada orang sekitar.


Sungguh Aku sangat merepotkan bagi mereka, andai saja orang tuaku datang menjengukku kembali dan membawaku di pelukkannya. Tapi entah mengapa, mereka sama sekali tidak datang menjengukku bahkan menungguku sampai sadar.


***


Keesokkan harinya, pagi buta menyambut udara yang sangat sejuk di luar. Udara itu masuk di atas sela-sela jendela. Aku masih terbaring lemas di atas ranjang yang cukup nyaman dan empuk ini membuatku sangat menikmatinya.


Dengkuran suara dari Willy sangat unik, pagi seperti ini bahkan di temani oleh suaranya yang khas. Mungkin dia masih lelah, aku tidak berani untuk mengganggunya.


Akhirnya Aku bangkit dari kasur yang super nyaman itu, dan berjalan pelan menuju ke kasur Putri. Terlihat sekali wajah lucunya itu membuatku ingin mencubitnya. Tidurnya seperti bayi berumuran 1 tahun.


Alhamdulillah, kepalaku sudah mendingan. Bahkan terasa ringan. Aku menatap Lela, ia masih tertidur pulas dengan bacaan bukunya yang masih di genggam.


Aku penasaran dengan buku itu, sepertinya buku tersebut sangat pribadi untuknya. Lela anaknya sangat pendiam di banding dengan Putri dan Willy.


Wajah tanpa ekspresinya selalu membuatku penasaran. Sebagian memory ku tentangnya hilang, aku melupakan tentang dirinya yang dulu.


Aku hanya mengenalnya sedikit dari Willy dan Putri. Terkadang Aku memimpikan seseorang yang selalu denganku, tapi wajahnya sangat buram. Aku tidak bisa melihat wajahnya.


***


Adzan dzuhur mulai berkumandang, aku dan teman sekamar bergegas menuju ke masjid sembari mengobrol.


"Mer, kamu masih ingat nggak hafalan surat Al-baqarah?" Kata Willy.

__ADS_1


"Hah? Hafalan, emang kapan yah?" Ujarku bingung dan mencoba untuk mengingat-ingat.


"Kamu ini, udah tau dia sakit amnesia. Ya mana inget, apalagi hafalan yang bener-bener harus di ingat" Kesal Putri sembari memukul lengan Willy.


"Hehe, kali aja dia inget. Kan dia juga sudah hafal semua kan?" Kata Willy menyahut Putri dan menatap ku.


Putri menghela nafas saking keselnya dengan Willy dan hanya terdiam sambil memasang wajah cemberutnya. Aku pun begitu, bukan cemberut tapi kesal karena ingatanku belum kembali normal.


Sesampai di Masjid seperti biasanya, saf Ustad dan Ustadzah sudah menunggu di depan pintu masjid. Ia selalu menyambut kedatangan santri sambil mengabsen santri yang masuk untuk sholat berjamaah.


"Loh, sebentar. Kok Mery sholat juga? Bukannya kamu masih sakit yah" Ujar Ustadzah menghentikanku masuk ke depan pintu masjid.


"Engga papa Umi, mery sudah baikkan kok. Udah nggak sakit lagi." Ujarku tersenyum.


"Syukur alhamdulillah. Semoga cepat sembuh ya Mer!" Katanya tersenyum balik padaku.


Aku mengangguk lalu mencium tangannya dan mulai masuk ke saf bagian akhwat. Aku duduk di sebelah Yana, teman Willy. Seingatku Aku pernah ngobrol mengenai bola. Tapi sebagian Aku melupakannya.


Yana tersenyum padaku dan berbisik ke Willy yang tepat di sebelah Yana juga. Barisanku sangat dekat juga dengan Putri, sedangkan Lela selalu membelakangi kami.


Willy mengangguk dan berbisik padaku dengan sangat pelan, ia bergeseran dengan Yana dan bertukar posisi tempat mereka.


Aku mengangguk.


"Dia adalah orang yang menyelamatkan kamu dari bahaya kemarin. Ingat enggak? Namanya Indra, cowo yang terkenal di Pondok Darussalam lho." Bisiknya lagi.


Aku terdiam, menatap gorden tepat di depan mataku sembari mengingat kejadian kemarin. Namun, sama sekali Aku tidak bisa mengingatnya. Yang ada hanyalah sakit kepalaku akan kambuh lagi dan lagi.


Tiba-tiba Putri memukul lengan Willy lagi sambil membisik peringatan dengannya. Willy tidak boleh membicarakan hal-hal aneh denganku, katanya.


Aku sekilas melirik Putri dan benar saja, wajahnya sudah terlihat sangat kesal. Mungkin tujuan Putri baik, tapi Aku juga membutuhkan ingatan itu.


Dengan bisikkan Willy barusan, aku pun merasakan hal yang menjanggal. Hatiku serasa sakit dan degupan jantung ini lebih cepat dari biasanya.


Ada apa ini, apakah Aku mengenalnya lebih dari mereka. Atau hanya firasatku saja? Pikirku melintas seketika.


Iqamah mulai berkumandang, sebentar lagi sholat akan di mulai. Aku kembali fokus untuk sholat dan kembali bersholawat nabi seperti teman lainnya.


***

__ADS_1


Kegiatan hari ini sangat melelahkan. Bahkan otakku sampai tersendat untuk memikirkan soal-soal yang sulit. Aku seperti orang bodoh dan tidak tahu apa-apa yang Ustadzah ajarkan di kelas. Sangat membingungkan.


Lebih parahnya lagi, ustadzah mencoba untuk menunjuk jarinya ke arahku dan menyuruhku menjelaskan soal di depan. Sedangkan Aku hanya mengangguk sembari ketakutan.


Bulu romaku serasa berdiri, merinding Karena takut salah menjelaskan yang ku buat-buat. Dan benar saja, yang ku takutkan pun terjadi.


Aku menjelaskan soal di depan kelas dan menatap wajah para santri wati dengan penuh harap Aku bisa melakukkannya.


Bahkan wajah Willy dan Putri berbinar-binar menatapku menunggu jawabannya.


"Ahh, aku malu mengingat semua itu. Kenapa Aku seperti ini?" Kataku sembari mengepalkan tangan dan berusaha untuk tidak mengingat kejadian tadi di kelas.


Amnesiaku benar-benar membuatku terlihat bodoh di depan semua orang. Sangat memalukan. Tetapi itu juga sebuah takdir yang tidak bisa untuk di ubah, kemungkinan Allah merencanakan sesuatu yang indah untukku.


Rencana Allah tidak ada yang tahu, bahkan malaikat sekalipun. Terkadang takdir hanya memberikan kesempatan untuk mengenalnya, bukan untuk memilikinya.


Marah pun tidak ada gunanya untuk menyesali apa yang telah terjadi. Karena takdir ini tidak bisa di ubah. Kecuali takdir kemiskinan.


Allah menciptakan manusia bukan hanya untuk menciptakannya saja, tapi Allah ingin tahu seberapa kuat Aku di dunia yang penuh dengan haluan.


Tidak ada kata seandainya, tidak ada kata menunggu indah pada waktunya selain mencoba untuk berusaha dan bersabar. Maka waktu yang di tunggu, cepat atau lambat akan datang juga.


Dan Aku sudah di takdirkan untuk amnesia dengan hal-hal yang akan menjadi melegenda. Tapi Allah tidak mengharapkan Aku untuk menyerah mencoba mengingat.


Allah menunggu usahaku, kesabaran dan keikhlasan yang Aku miliki. Mungkin takdir yang telah menuliskannya untuk membuatku tak sejalan dengan segala cara dan berjuta alasan kata "Kenapa?".


Aku akan mencoba memperbaiki semua yang telah ku lakukan dulu, tidak seharusnya Aku untuk mengeluh hari ini.


Tiba saja semangatku bangkit lagi dan mulai hari ini Aku, Mery. Anak dari Jogja akan bersemangat lebih baik lagi.


#*Adegan dialog kecil.


"Yah semangat Mer, semangat!" Teriak Willy menepuk pundak Putri sangat keras.


"Yah Mer, semangat." Teriak Putri menyentil kening Willy.


"Sakit woi!" Ujar Willy mengerutkan alis.


"Bodo amat!" Kata Putri melirik sekilas.

__ADS_1


"Terima kasih sudah membaca dialog tanpa sponsor dari author Fee. Jangan lupa untuk like dan komentar. Bentuk loplop jangan lupa klik sekali kalau sudah berwarna merah. Itu tandanya cinta." Kata Lela mengakhiri dialog*.


__ADS_2