Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 35


__ADS_3

Aku tertusuk dengan ucapan Kak Tery yang mengatakan bahwa Aku adalah adik yang biadab. Mungkin benar, aku adalah adik yang biadab terhadap Kakakku sendiri.


Mencintai suaminya dengan blak-blakkan di hadapannya begitu juga semua tamu undangan saat acara pernikahannya.


Aku memang tidak pantas untuk di bilang adik yang tersayang, bahkan sekali Kak Tery mengucapkannya dengan kata mengancam pun Aku tidak pantas.


Aku merasa bahwa diriku seperti anak yang terbuang dengan keikhlasan dari mereka. Umi sontak kaget dengan perkataan Kak Tery yang semakin mengada-ngada.


"Umi, aku tidak mau lagi dia ada di sini. Aku tidak mau lagi dia ada di sekitar sini!" Teriak Kak Tery mengancam Umi.


Aku terkejut di iringi suara sendak dari tangisanku, suaraku yang semakin hilang. Aku hanya bisa menggigit bibir dengan raut wajah ketakutan.


"Umi, ampun Umi. Ampun! Adek salah Umi"


Ucapku langsung merangkak mengarah ke Umi, aku memeluk kakinya sembari memohon-mohon untuk tidak memisahkan Aku lagi dengan mereka.


Abi hanya menangisi keadaan dan kekacauan anaknya yang semakin mendrama. Bukan, bukan drama lagi. Ini memang benar, dan malam ini penuh dengan tangisan yang mengilukan.


"Abi, mery mohon Bi. Jangan bawa Mery ke Pondok lagi. Mery mau dekat dengan Abi." Teriakku masih memohon dan menoleh ke arah Abi yang sedang duduk di atas sofa sambil menangis.


Kak Tery masih menangis tersedu-sedu, ia masih berdiri menghadap ke arahku sambil menudingkan jari telunjuknya.


"Katakan Umi, katakan sejujurnya. Salah Mery ada di mana. Mery akan memperbaiki semuanya, mery sudah dewasa, mery sudah dewasa Umi. Hiks.. Hiks.." Kataku berteriak sambil menggenggam erat kaki yang terus saja kupeluk.


Dubrakk!


Tiba-tiba Anton dan sekawanannya mendobrak pintu yang tidak seharusnya dia tendang dengan kaki mahalnya. Mereka menatapku dengan sangat tajam.


"Anton?" Kataku lirih menoleh ke arahnya.


Anton seketika terdiam, sedangkan sekawanannya langsung berjalan menuju Kak Tery. Mereka membawa alat medis yang sama sekali Aku tidak mengerti.


Sekawanan Anton mulai beriringan di samping Kak Tery, dan langsung menahan Kak Tery supaya tidak berlari ataupun kabur dari mereka.


Begitu juga dengan Anton. Dia langsung mengambil kotak medis yang ia bawa dan mengambil suntik jarum sangat tajam. Biasanya suntikan itu di pakai oleh Dokter.

__ADS_1


"Lepaskan, lepaskan Aku. Lepaskan!" Teriak Kak Tery meronta-ronta.


"Hei, kalian apakan anakku. Lepaskan dia!" Jerit Umi histeris bimbang.


"Anton, kau ini bodoh yah. Dia kakakku! Kau mau apakan dia?" Kataku dengan nada tinggi.


"Diam! Kalian semua yang bodoh. Orang gila saja kalian pelihara seperti ini"


Anton mulai melotot dan berteriak dengan nada keras. Aku, Umi dan Abi hanya terdiam melihat apa yang sedang Anton lakukan terhadap Kak Tery yang terus menerus menjerit, bahkan Kak Tery sampai berontak terhadap sekawanan Anton.


"Arrghht! Mmm.." Jerit Kak Tery dengan nada tinggi lalu menurun seketika.


Saat Anton mencoba untuk menyuntikkannya ke lengan Kak Tery. Tubuhnya tiba-tiba saja langsung lemas, mata mulai sayup dan seketika pingsan langsung dibuatnya.


Abi langsung terkalang lidah terdiam, saat menatap Kak Tery mulai sedikit tenang. Pingsannya seperti ayam tertidur, walaupun mata masih sayup. Begitu juga dengan Umi langsung merentan hati.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Abi seketika.


"Aku hanya memberinya obat tidur. Eh, kurang lebih obat bius, sepertinya" Ujar Anton sedikit meremehkan.


"Kenapa kau lakukan itu?" Tanyaku geram.


"Kau! Ssttt.." Kataku geram. Namun, umi seketika menahanku untuk memarahinya.


Umi pun menyeka pipinya yang basah itu, suasana sedikit canggung tetapi sangat tenang. Kami saling bertatap-tatapan sekilas menoleh ke arah Kak Tery yang sedang di tidurkan di atas Sofa yang panjang.


"Mery?" Ucap Umi lirih dengan sedikit terdengar patah-patah.


"Biarkan Abi yang menjelaskan semua ini Umi." Sahut Abi menekan terpaksa.


Anton masih duduk bersantai sembari memakai headset. Sedangkan Umi menunduk menahan tangis air matanya, abi membantuku bangun dan menyuruhku duduk di samping Umi.


Suasana mulai canggung, aku hanya menatap wajah Umi yang kian terlihat sangat sedih.


Aku bingung bercampur pertanyaan yang sudah menumpuk di pikiranku.

__ADS_1


Hening, bagaikan malam yang sunyi tiada berbintang tanpa sinar bulan purnama. Aku terdiam, seketika Abi pun ikut terdiam. Hanya mendengar gesekkan kaki yang menyentuh lantai, orang itu melainkan adalah Anton yang sedang mendengarkan musiknya.


"Tery mengancam Abi saat kamu berada di Pondok saat itu, abi bingung karena dia mengancam dengan cara nyawanya." Kata Abi memecahkan keheningan.


"Apa maksud Abi?" Tanyaku langsung memotong penjelasannya.


"Saat kamu berada di Pondok, sebelumnya Mbakmu sangat senang karena bisa bertemu dengan orang yang dia cintai. Yaitu Indra dan kamu. Namun, saat tatapan Indra selalu menuju ke arah kamu. Tery menyadarinya, bahwa Indra hanya menyukaimu." Jelasnya.


"Iya, setelah itu. Abi bingung. Ketika Mbak Tery marah-marah di luar. Abi hanya bisa terdiam." Seketika Umi menyambung pembicaraannya.


"Setelah kami pulang dari pondok. Mbak Tery langsung pergi di tengah perjalanan dan katanya ingin memantau keadaan di Pondok sebelum Indra dipulangkan. Tetapi yang Mbakmu dapatkan adalah suatu kejadian yang memilukan baginya. Bahwa kamu dan Indra saling mencintai satu sama lain." Lanjut Abi mulai berkaca-kaca matanya.


"Saat Mbakmu pulang, dia selalu marah-marah dan melampiaskan kekesalannya pada Umimu. Abi tidak bisa membentaknya, abi terlalu kaku menghadapi sikap Mbak Tery. Bahkan setiap Indra datang ke rumah, yang di tanyakan adalah namamu, bukan Mbakmu." Lanjutan dari Umi diiringi dengan suara tangisan.


Baik, aku tau. Kak Tery tentu akan marah bahkan bisa setres karena ini. Aku memahami keadaan mentalnya. Lalu bagaimana Aku saat di rumah sakit? Mengapa Umi dan Abi tidak datang menjengukku selama empat hari? Pikirku mulai cemas dengan jawaban Abi nantinya.


Aku terpaku kaku, bahkan Umi pun sudah gemetar hebat di bagian tangan dan bibirnya. Aku tidak bisa melihat orang tuaku tertekan karena kelakuanku yang tidak bisa di jelaskan ini. Ini semua salahku!


"Jika orang tua semacam kalian tidak bisa menjelaskan itu kepada si culun. Maka Aku yang akan menjelaskannya." Ucap Anton seketika membuatku terkejut, membuyarkan semua pertanyaanku.


"Sebenarnya, obat yang selama ini kau asumsi itu adalah obat tidur dan obat bius. Sehingga kau tidak bisa bangun bahkan tubuhmu terasa lemas." Jelas Anton sedikit menyeringai dan melirik sekilas ke arah Umi.


"Orang tuamu lah yang melakukan semua itu, demi dia yang gila cinta. Haha, dasar wanita yang merepotkan" Ucap Anton seketika menunjuk Kak Tery dan menertawai Kak Tery dengan tatapan jijik.


Plak!


Tanganku mendadak mengayun angkat dan menampar pipi kanan Anton dengan sangat keras. Aku tidak terima jika Kakakku di tuduh untuk melakukan kejahatan terhadap adiknya sendiri. Aku percaya Kak Tery dan orang tuaku, di banding dengan Anton yang baru saja Aku kenali.


Aku kecewa terhadap Anton, dia meremehkan dan melecehkan nama baik orang tuaku. Dia menghina dan bahkan memfitnah orang tuaku untuk meracuniku dengan obat bius di saat Aku sakit. Hal itu sangat konyol yang pernah Aku dengar dari bibir tipisnya.


"Jangan sekali-kali kau memfitnah orang tuaku, mengerti?" Ucapku menahan marah sembari mengancam.


Anton seketika melotot kaget setelah Aku menamparnya, hatiku tiba-tiba terasa sakit. Seperti ada yang menusuk bertubi-tubi. Kepercayaanku yang hampir memuncuk di diri Anton. Kini justru menurun drastis saat Anton menuduh Kak Tery dan orang tuaku berusaha untuk menyakitiku.


NB :

__ADS_1


Hallo! Terima kasih bagi kalian yang sudah mengikuti Antara Aku & Kakak. Tapi Author sedikit meminta bantuan dari kalian, untuk selalu meninggalkan like dan komentarnya.


Bagi yang belum favoritkan, fav yah😂 (maksa thor?) Enggak sih, cuma bantuan dari kalian sangat membantu dalam acara ikutan contest ini😭 Terima kasih pembaca setiaku😍😘


__ADS_2