Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 34


__ADS_3

Andaikan detik ini Akulah si pengantin wanitanya, hatiku takkan terluka separah ini. Mengapa kisah percintaanku seperti drama yang penuh imajinasi. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang ku cintai menikah dengan saudari kandungku sendiri.


Aku masih memeluknya, harapanku detik ini juga berhenti dan waktu bersamaku bisa lebih berlama lagi. Semua orang sudah melihat, mereka membicarakan tentang keluargaku.


Bahkan ada juga yang mencaci maki tentang keharmonisan keluargaku, mereka mengatai Abi dan Umi dengan sangat buruk. Aku hanya mendengarkan cacian berbagai cacian dari mereka.


"Mery, masih ingatkah kau saat pertama kali bertemu?" Ucapnya membisik di telingaku.


Aku mengangguk dan masih mengingat sangat jelas, apalagi amnesiaku sekarang sudah sembuh. Tapi kesembuhan ini justru secara tidak langsung menyakitiku perlahan.


Tiba-tiba Indra membalas pelukkanku dengan sangat erat sampai Aku tidak bisa menarik nafas. Selepas emosi yang telah meredup, aku menyadari. Bahwa pria yang ku peluk ini adalah suami dari Kakakku.


"Maaf!"


Ucapku sambil mendorong tubuh Indra dengan sangat kuat, sehingga pelukkan yang hangat itu terlepas. Kepala Indra terbentur pagar besi yang sudah berkarat itu langsung menusuk bagian telinga kirinya.


"Aarrghhtt! Ssstt.." Sontak Indra berteriak kesakitan.


"Indra!"


Aku terkejut, langsung meraih kepalanya dan ku taruh di bagian pahaku. Darahnya bercucuran mengalir sangat banyak, apa yang sudah ku lakukan padanya?


"Dasar adik biadap! Adik kurang ajar! Kau apakan suamiku?"


Teriak Kak Tery berontak meronta-ronta saat Anton berusaha menahannya. Semua riasan pengantin terutama pada bunga melati dan mahkotanya berjatuhan kemana-mana.


Tubuhku gemetar hebat, aku memegang bagian yang terluka dan itu sangat cukup parah. Saat Aku mendorong tubuhnya, memang sangat kuat agar Indra lepas dari pelukkan itu. Tapi Aku tidak bermaksud untuk menyakitinya.


"Cepat! Panggil ambulans, panggil!"


Teriak Om Jaya langsung begitu panik, sang istrinya pun hanya menangis melihat anaknya yang sudah Aku celakai.


Petaka apakah ini? Kutukan apa yang sudah ku perbuat, aku mencelakai orang yang ku cintai, yang Aku sayangi.

__ADS_1


Seketika Indra masih menyadarkan diri, dia berusaha menahan rasa sakit mau di dalam ataupun diluar. Aku merasakan sakit yang ia derita. Genggaman tangannya yang sangat kuat, menggenggam tanganku.


"A.. Aku mencintaimu Mery, sangat mencintaimu. Maafkan Aku!"


Kata yang di keluarkan Indra sangat berat saat ku dengar, tapi itu membuatku sangat sakit, aku juga mencintainya. Tapi ujian yang ku hadapi sungguh sangatlah besar. Aku bahkan merasa bahwa Aku tidak mampu untuk melaluinya.


Indra bahkan masih berusaha tersenyum untukku, aku hanya menangis terisak-isak menatap matanya yang sudah menunjukkan bahwa dirinya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya.


Tiba-tiba Abi berlari memanggil-manggil namaku. Aku menoleh dan mendongak ke atas, abi sangat amat merasa kecewa atas apa yang ku lakukan sudah membuatnya malu.


Tidak hanya malu, bahkan pernikahan Kak Tery hancur karena kedatanganku. Niatku hanya ingin berusaha tegar saat melihat Indra bersama Kak Tery tersenyum bahagia, bukan ending yang berakhir derita.


"Mery, ikut Abi. Ayo Mery!" Geram Abi menatapku melotot.


Seketika Aku perlahan melepaskan dan menyerahkan Indra kepada orang lain untuk di bawa ke rumah sakit. Aku berjalan dengan tubuh yang sangat lemas, terhuyung-huyung.


Aku berjalan dan masih menoleh ke arah Indra, begitupun tegarnya Indra masih menatapku dan terus berusaha tersenyum untukku. Hatiku seketika terasa sakit menyerkit.


Senyuman Indra dengan bibir yang gemetar, wajah penuh dengan darah. Hari yang bahagia kini telah ku ubah menjadi hari paling penuh duka, semua orang telah terluka karena Aku.


Sekarang Aku pun tahu bahwa isi hati Indra untukku. Aku sedikit bahagia, karena Aku mengetahui perasaan Indra terhadapku.


Aku melihat Indra yang sedang di bantu oleh tamu di sekitar dan Om Jaya juga berusaha menghubungi ambulans, mereka terlihat cemas begitu juga khawatir dengan kondisi Indra.


Aku justru melangkah jauh darinya, aku mengikuti kemana Abi melangkah. Bahkan Aku tidak tahu setelah ini, ada masalah apa lagi yang akan datang terhadap diriku.


***


#Ruang tamu


"Abi, tolong maafin Mery" Kataku memohon dan menunduk kepadanya.


Abi luluh seketika terhadapku, ia mengelus pundakku dan meraih tubuhku di pelukkannya. Yah! Akhirnya Aku terjatuh dan terbenam di pelukkan Abi lagi setelah sekian tahun lamanya.

__ADS_1


"Abi yang seharusnya minta maaf sama kamu Dek!" Ujarnya memelukku dengan sangat erat.


Abi merasa terpukul, ia terlihat sangat bersalah. Aku tidak mengerti dengan semua ini, sebenarnya masalah apakah yang membuat Aku dan keluargaku terasa asing.


Tiba-tiba Umi datang menuju ruang tamu dan menangis terisak-isak. Wajah cantik yang sudah di rias dengan make up, kini pudar karena deraian air mata yang disekanya.


"Mery! Hiks.."


Jerit Umi tiba-tiba merebut tubuhku di pelukkan Abi, umi pun memelukku dengan sangat-sangat erat di banding pelukkan Abi tadi.


Aku terdiam, bibirku sudah bergemetar sangat hebat, luka di bagian kepalaku pun masih terasa nyut-nyutan. Walaupun begitu, aku tidak memperdulikan luka ini.


Lukaku sudah terlalu dalam, sangat dalam. Hatiku seperti di panah dengan ribuan anak panah yang menusukku berkali-kali. Setegar apapun Aku, pasti akan merasa putus asa setelahnya.


"Maafin Umi yo Nduk, maafin Umi."


Ucap Umi berkali-kali memohon kepadaku sembari menciumi keningku berkali-kali. Yang ku lakukan hanyalah mengangguk dan terus mengangguk di pundak Umi yang penuh beban ini.


"Mery! Dasar adik durhaka. Kau apakan suamiku, hah? Kau apakan suamiku." Teriak Kak Tery seketika terlihat menggila.


Aku takut, takut, sangat takut. Tubuhku menggigil mendengar teriakan dan nada tinggi Kak Tery yang tiba-tiba saja masuk tanpa mengucap salam.


Nafasnya sangat ngos-ngosan. Wajahnya terlihat hancur karena di basahi oleh air mata sehingga make-up pun luntur seketika.


Pertama kali Aku menatap wajahnya terlihat sangat kasar, sebenarnya setan apa yang sudah merasuki di dalam tubuhnya.


Kak Tery yang ku kenal tidak seperti ini. Dia sangat anggun, sangat baik, sangat peduli terhadap adiknya dan sangat sangat perhatian denganku.


Tapi setelah Aku pulang dari Pondok Darussalam semuanya berubah, Umi dan Abi pun sama. Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi setelah Aku kehilangan ingatanku.


"Mbak, adek minta maaf yo!" Kataku memohon dan berusaha meraih tangan Kak Tery.


Aku menginginkan pelukkan hangat darinya, biasanya Kak Tery sangat lembut terhadapku, dia sangat berlapang dada saat Aku membutuhkan pelukkan darinya.

__ADS_1


Tapi yang sekarang, justru Kak Tery menempis tanganku dan mendorongku sangat kuat, sehingga Aku terjatuh ke lantai. Aku turut bersedih hati dan batin. Kakakku yang dulu sudah hilang.


__ADS_2