Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 24


__ADS_3

Perjalanan yang cukup panjang membuatku kelelahan. Seharusnya Aku duluan yang sampai di rumah, tapi hanya karena si Anton biangnya Aku jadi telat datang sampai kerumah.


Tidak lama kemudian, sejauh mata memandang Abi dan Kak tery sudah ada di depan gang masuk rumah. Mereka ternyata menyambutku di luar. Aku langsung senang dan semangatku bangkit lagi.


Walaupun di rumah hanya seminggu, aku tetap bersyukur karena bisa bersama dengan keluarga sederhanaku.


"Mery, di depan ada Abi dan Kakak kamu. Jangan lupa senin minggu depan sudah sampai ke Pondok tepat waktu yah!" Seru Ustadzah tersenyum padaku. Aku hanya mengangguk sembari membuka pintu.


Aku bergegas berlari sembari membawa tas ranselku, barang lainnya akan di bawakan oleh Pak Tono. Dengan rasa senang dan bahagia ini bisa bertemu mereka. Aku langsung memanggilnya dengan sangat keras.


"Abi!" Seruku di pinggir jalan.


Abi menoleh, ia tersenyum padaku dan berjalan ke arahku. Tidak di sangka akhirnya Aku bisa bersama lagi dengan keluargaku. Namun, di samping Kak Tery siapa dia?


"Ma Syaa Allah, dek. Maaf yo Abi ora iso teko Jemput koe" Kata Abi memecahkan pandanganku ke pria tersebut.


"Eh, enggak apa-apa Bi. Eh!" Jawabku dengan Bahasa Indonesia.


Abi tersenyum padaku dan menertawaiku, ia mengejek bahwa Aku sudah menjadi anak Kota sekarang. Katanya. Kak Tery pun datang bersampingan dengan pria itu.


"Adek, koe wis teko yo?" Tanya Kak Tery tersenyum padaku, pria itu sedari tadi menatapku terus. Aku merasa mengenalnya, tetapi dimana?


"Dek!" Lanjut Kak Tery memanggilku, lagi.


Aku terbengong sambil menatapnya, dia pun terus menatapku dengan wajah senang. Entah dia itu siapa, tapi hatiku merasa sakit. Bahkan melihat Kak Tery ada di sampingnya Aku merasakan kekesalan yang sangat rumit di jelaskan. Ada apa ini?


Tiba saja Abi merangkul pundakku dan langsung membuyarkan tatapanku padanya. Astaghfirullah! Sampai kaget di buatnya.


Kak Tery terlihat bingung, dan memasang


wajah cemburu kepada pria itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa Mbak?" Tanyaku sedikit menyengir ke Kak Tery.


"Enggak papa. Yuk ke rumah, umi udah masakkin makanan kesukaan kamu tuh" Jawab Kak Tery menarikku dan berjalan di sampingnya. Bahkan pria itu dicuekin oleh Kak Tery.


Tapi Abi menemaninya, dan mengobrol bersama selama berjalan ke arah rumah. Sudah 4 bulan tidak ke sini rasanya seperti pertama kali Aku datang ke Jakarta.


Suasananya masih tetap sama, tidak ada perubahan. Sesampai di depan pintu rumah,


aku langsung mengucap salam dan memanggil Umi.


Hanya hitungan jari, umi langsung membuka pintunya sembari menjawab salamku. Umi langsung tersenyum dan merentangkan kedua tangannya yang artinya menyambutku dengan sangat terbuka.


Yah! Pelukkan Umi sangat menenangkan dan menghangatkan. Kenyamanan yang Umi buat untukku adalah pelukkan darinya. Lalu Umi mengecup keningku dan mengusap-usap punggungku dengan tenang.


"Waduh, berasa liat sinetron Indonesia nih." Ejek Abi yang sedari tadi membawakan koperku.


Aku dan Umi tertawa bersama, melihat Abi yang kesulitan dengan membawakan kedua koperku. Ia hanya mengikuti kami dan tersenyum sembari menyengir. Abi memang kadang suka Humor ternyata.


Kak Tery masih terdiam di depan pintu sambil menatap pria itu. Tapi aneh sekali, pria itu justru menatapku dan terlihat ingin mengucapkan kata denganku.


Umi menyuruhku untuk langsung masuk ke dalam kamar, aku hanya mengiyakan dan langsung berjalan menuju kamar.


Dan benar saja. Kamar ini di hiasi berbagai foto Kak Tery bersama pria tadi, tapi wajah pria itu sama sekali tidak ada kebahagiaan di reaksinya.


Aku juga melihat fotoku bersama Kak Tery, di pajang begitu besar di atas ranjang. Sangat indah nan bagus. Sedari tadi Aku menyengir dan terus menyengir menatap foto lamaku bersama Kak Tery.


Memang, dia suka sekali mengoleksi foto masa lalu. Apalagi dengan kehidupannya yang sekarang. Kak Tery pasti tidak mau melewatkan satu hari pun.


***


Waktu sudah menunjukkan larut malam. Tapi Kak Tery sama sekali belum masuk ke kamar. Padahal Aku menunggu cerita berbagai cerita darinya. Soal pertama kali mereka bertemu dan sampai memberanikan diri memerkenalkan pria itu.

__ADS_1


Namun, kata tungguku masih belum berlaku untuk Kak Tery yah. Aku pun keluar dari kamar dan membuka pintu dengan pelan.


Ternyata Kak Tery masih ada di ruang tamu bersama dengan Umi dan Abi. Mereka sepertinya membicarakan soal tadi. Aku sedikit membuka pintu dan menguping pembicaraan mereka di ruang tamu.


"Iyo wes lah Mbak, mungkin Indra kui cuma seneng nyambut Adek. Koe ojo salah paham maring Adekmu." Kata Abi menasehati Kak Tery.


Kak Tery mengapa menangis tersedu-sedu seperti itu? Ada apa denganku? Kenapa mereka membicarakanku dari belakang? Siapa itu Indra, sepertinya Aku mengenal nama ini.


Ahh! Aku ingat. Besok adalah ulang tahunku. Apakah mereka merencanakan ulang tahunku yang ke 21 tahun? Aku sungguh penasaran dengan rencana mereka, supaya Aku tidak terkena Prank dari mereka.


Aku masih berusaha untuk mendengarkan pembicaraan mereka di ruang tamu. Mungkinkah Kak Tery menangis karena Aku sudah beranjak dewasa?


Pikiranku sangat aneh sekali. Mengapa Aku begitu banyak tanya soal yang aneh ini. Lebih baik Aku tetap mendengarkan mereka. Rencana mereka akan Aku gagalkan. Yah Aku gagalkan. Gumamku sangat bersemangat.


"Mbak, adek kan masih cilek. Ora mungkin toh seneng kae. Wis mending koe istirahat. Sesuk koe kuliah kan?" Ujar Umi sembari memegang pundak Kak Tery.


Lalu Kak Tery mengangguk, ia pun bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke kamarku.


Ah! Sayang sekali Aku tidak mendengarkan detail rencana mereka untukku, biasanya Abi dan Umi merencanakan ulang tahunku di tengah malam. Mungkinkah mereka bubar karena sudah merancang itu semua?


Terlalu berpikir panjang, kak Tery sudah dekat. Aku bergegas berlari menuju ranjang dan Aku akan pura-pura tidur pulas sekarang.


Tiba saja Kak Tery langsung membantingkan tubuhny di atas kasur, bahkan tubuhku merasakan gelombangnya. Memang Kak Tery seerti gajah yah?


Aku masih berpura-pura tidur, masih mengharapkan bahwa Kak Tery akan mematikkan lampu dan Abi datang bersama Umi membawa kue yang tertulis "Happy B'day yang ke 21 tahun" Uunch, momen yang sangat di tunggu-tunggu olehku.


Ya Allah, aku hanya bisa berharap keluargaku selalu menyayangi Aku, seperti mereka mencintaiku, semoga saja di antara kami tidak ada penghianatan atau yang tertutupi. Doaku untuk Abi, Umi dan Kak Tery.


"Semoga saja. Dek, Mba tidak mengharapkan lebih. Mbak hanya ingin dengannya, dia adalah cinta pertama Mbak. Mbak sayang Mas Indra dek. Semoga kamu tidak mencintai Mas Indra yah! Sepertinya Mas Indra menyukaimu, tapi Mbak enggak akan menyerah untuk mengejar cintanya. Selamat malam dek. Mbak sayang Adek" Kata Kak Tery sembari memelukku dari belakang.


Deg!

__ADS_1


Tiba saja Aku ingin menangis, apa maksud dari Kak Tery! Siapa yang menyukaiku? Hatiku tiba saja merasakan sakit, sakit sekali. Bagaikan ribuan jarum menusuk-nusuk di hati ini.


Tanpa ku sadari Aku menangis dan meneteskan air mata ini kesekian kalinya dalam pelukan hangat dari Kak Tery. Aku mencoba untuk menggigit bibirku supaya tidak bersuara ketika menangis dengan hati yang terluka.


__ADS_2