
"Kalian lihat Luis?" Tanya Aiden.
"Tidak," Yoon menjawab.
"Ini aneh. Aku memang pulang lebih dulu. Jadi tidak tahu dia sudah pulang atau belum."
"Dia mungkin kencan dengan Ara. Mereka kan pergi bersama."
"Mungkin juga " Aiden menjawab ragu. Sebab sejak tadi dia tidak bisa merasakan aura Luis dimanapun. Pria itu ikut duduk di hadapan Yoon.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa merasakan aura Luis dimanapun." Gumam Aiden.
Yoon terdiam, dia mulai mencari keberadaan aura Luis. Namun seperti yang Aiden katakan tadi. Tidak ada aura Luis dimanapun.
"Aneh," Yoon ikut berucap lirih.
"Kau tidak bisa menemukannya?"
"Biasanya seperti ini hanya terjadi ketika dia pergi menemui kantor pusat. Tapi biasanya itu tidak lama. Dia mana betah lama-lama di sana. Tapi ini sudah hampir dua jam. Aura Ara juga tidak ada di mana-mana. Tidak mungkin kan jika mereka...."
"Luis bukan orang seperti itu." Yoon tahu ke mana arah pembicaraan Aiden.
"Aku tahu, tapi Luis sudah lama menantikan hari ini. Saat bertemu kekasihnya. Siapa tahu dia lepas kendali."
"Tapi merekapun dulu tidak pernah melakukannya."
"Darimana kau tahu?"
"Hanya menduga."
"Manalah tahu mereka terbawa suasana. Atau kebablasan. Kau tahu kan, orang jatuh cinta, tidak punya logika."
"Luis, vampirlah."
"Vampir jatuh cinta kalau begitu." Ralat Aiden.
Sementara yang dibicarakan, masih berusaha membersihkan diri dari sisa-sia akar tumbuhan yang membelit raga kekar Luis. Dibantu Ara mestinya.
"Kakimu...." Ara teringat luka di kaki Luis. Pelan memeriksanya. Tapi Luis dengan cepat menarik kakinya. Tidak membiarkan Ara untuk melihatnya.
Namun Ara terlanjur melihat luka itu sudah sembuh tanpa meninggalkan bekas apapun. Gadis itu mundur karena sakit terkejutnya. Dia jelas melihat Luis terluka di kakinya. Namun barusan dia melihat kalau kaki Luis mulus tanpa luka sedikitpun.
"Siapa kau sebenarnya?" Gumam Ara curiga.
Luis jelas dilema. Ingin jujur tapi takut dengan konsekuensinya.
__ADS_1
"Ara...."
"Katakan? Siapa kau sebenarnya?"
"Aku ya Luis, siapa lagi."
"Maksudku kau ini apa? Kau bukan manusia kan?"
"Tentu saja aku manusia. Aku punya kemampuan untuk menyembuhkan diri dengan cepat."
Ara memicingkan matanya. Mencari kebenaran.
"Bohong!"
"Lalu kau pikir aku apa? Vampir? Kalau aku vampir, sudah habis kau dari kemarin-kemarin."
Luis berpura-pura marah. Berjalan meninggalkan Ara yang termenung dengan ucapannya sendiri. Pada akhirnya, Ara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mengusir segala prasangka buruknya pada Luis.
"Luis....Luis ....tunggu aku." Ara berteriak, berada ditempat seperti ini sendirian. Ara jelas ketakutan. Sejenak berlari menyusul Luis. Tapi beberapa waktu berlalu, Ara tak juga menemukan Luis.
Ketakutan Ara semakin naik levelnya. Apa lagi, dia merasa kalau seluruh dinding labirin itu memiliki mata dan sedang memperhatikannya. Mengawasi setiap langkahnya.
"Aduuhhh, kenapa jadi horor begini sih." Gerutu Ara sambil terus berjalan menyusuri lorong labirin. Yang dia sendiri tidak tahu akan membawanya ke mana.
Ara menghentikan langkahnya ketika melihat lorong di depannya kosong. Tidak ada warna hijau yang mewarnai dinding itu. Dindingnya polos berwarna hitam. Dengan cahaya remang-remang.
Meski takut. Dia mencoba melangkahkan kakinya. Menginjak lantai berwarna hitam itu. Satu langkah dan tidak terjadi apa-apa. Satu langkah lagi, terdengar bunyi angin bertiup. Satu langkah lagi dan "whushh". Puluhan tombak dan pedang menyerang dari sisi kiri dan kanannya, membuat gadis itu melompat mundur.
Nafasnya tersengal. Dengan peluh bercucuran. Ara pikir, apalagi sekarang. Sejenak berpikir, kenapa tiap kali bersama Luis. Ada saja hal aneh di luar nalar yang terjadi padanya.
Gadis itu menatap ke depan. Dia harus menghindari serangan pedang dan tombak itu agar bisa sampai ke ujung sana. Tapi bagaimana? Lama berpikir, hingga dia menemukan ide. Lalu mencoba melalui lorong itu lagi. Tepat di langkah ketiga. Ara bersiap. Dan lagi, pedang dan tombak itu langsung bermunculan. Di sisi kanan dan kiri. Menyerang siapapun yang lewat di lorong itu. Ara kembali melompat mundur. Lalu tersenyum.
Dia mulai paham. Tinggi serangan pedang dan tombak itu sama. Jadi hanya ada dua cara untuk melewatinya. Terbang di atas senjata-senjata itu. Atau merangkak dibawahnya.
Terbang dia jelas tidak melakukannya. Merangkak....dia takut dirinya tidak cukup cepat untuk melakukannya. Tapi kalau tidak dicoba, bagaimana dia bisa keluar dari sana. Akhirnya setelah meyakinkan diri. Ara bersiap. Tidak mungkin dia mengandalkan Luis atau menunggu Luis datang. Tidak, dia harus bisa melakukannya sendiri.
Dia sudah pernah mati. Apa salahnya jika harus terluka. Atau....mati lagi. Ara menepuk kepalanya sendiri. Menghilangkan pikiran soal mati di benaknya. Melepas jas Luis. Lalu mulai bersiap. Karena tombak dan pedang itu, tidak muncul bersamaan. Akan ada jeda diantara kemunculan senjata-senjata itu. Jadi dia bisa memanfaatkan saat itu.
"Oke. Mari kita lakukan. Now or never. Sekarang atau tidak sama sekali!" Tekad Ara.
Satu, dua, tiga. Gadis itu menghitung. Lalu mulai melangkahkan kakinya. Pada langkah ketiga. Ara langsung menggulingkan tubuhnya ke depan. Tubuhnya meluncur diatas lantai licin itu. Dengan tombak dan pedang yang melayang di atasnya. Begitu tubuhnya berhenti meluncur. Ara membalikkan tubuhnya dengan cepat. Lalu merangkak secepat yang dia bisa.
Selama dia terus bergerak. Dia tahu, senjata itu tidak akan berhenti menyerang. Nafas Ara mulai tersengal.
"Sedikit lagi." Batin Ara. Tubuhnya terasa perih. Ada beberapa lecet di telapak tangan dan tangan bagian bawahnya. Dia bukan merangkak seperti bayi. Tapi bergerak dengan tubuh menempel di lantai. Sampai akhirnya, di sampai di ujung lorong polos itu.
Masih kurang dua langkah lagi. Ara pikir, senjata itu sudah tidak akan menyerangnya lagi. Hingga dia memutuskan untuk berdiri. Tapi rupanya dia salah. Begitu dia berdiri, satu pedang keluar dari sisi kirinya. Tak ayal, Aya terkejut. Berputar menghindari pedang itu. Namun...."aargghhhh"... Ara meringis ketika pedang itu menyerempet lengan kirinya.
__ADS_1
Darah seketika mengalir dari luka itu. Perih Ara rasakan. Namun bukan itu yang membuatnya khawatir. Sebab di depannya lorong yang sama sudah menunggunya.
Gadis itu jatuh terduduk. Kenapa rasanya sakit sekali. Melirik ke arah lengannya. Dimana lengan blusnya sudah berubah merah. Satu lagi, apa dia masih bisa melaluinya. Ara sejenak menarik nafasnya. Menenangkan diri. Dia harus berpikir bagaimana dia harus keluar dari sana. Lukanya perlu diobati. Itupun kalau diujung sana adalah jalan keluarnya. Kalau tidak.
"Mati aku." Bisik Ara.
"Siapa bilang kau akan mati?" Tanya Luis.
"Luis...." Senyum Ara mengembang. Melihat Luis berdiri di lorong sebelum lorong pedang itu. Belum pernah dia sebahagia ini saat bertemu Luis.
"Tunggu aku di sana." Ucap Luis.
"Luis, lorong didepanmu..."
"Aku tahu. Tunggu dan lihat saja." Luis menjawab tenang. Pria itu mulai melangkah. Ketika pedang itu mulai bermunculan. Luis sigap menangkap satu. Dan menggunakan pedang itu, Luis menyingkirkan semua pedang dan tombak yang menyerangnya. Sedikit berputar dan menghindar.
"Wow." Ara bergumam kagum, melihat permainan pedang Luis.
"Kau bisa main anggar?"
"Bisa." Luis menyahut enteng.
"Anggar pakai pedang betulan," batin pria itu.
Luis berjongkok di depan Ara, setelah sampai di ujung lorong, memeriksa luka gadis itu. Bau darah Aralah yang menuntun Luis pada keberadaan gadis itu. Sebelumnya, dia jelas panik ketika terpisah dari Ara. Namun begitu mencium aroma darah Ara. Dia tahu kemana harus pergi.
"Biar kulihat," Pinta Luis, meraih lengan Ara.
"Tidak apa-apa. Hanya luka kecil...aaduuuhhh...sakit. Jangan ditekan," Ara mengeluh.
"Kecil apanya? Ini robek. Paling tidak tiga sampai lima senti. Harus dijahit. Lihat darahnya," Ujar Luis menunjuk lengan mulus Ara yang sudah berubah merah.
"Tapi...."
"Ayo pergi," ajak Luis.
"Tapi lorong itu..." Ara berucap ragu.
"Jangan khawatir. Aku sangat ahli bermain "anggar" Luis meyakinkan Ara untuk mengikutinya.
Pada akhirnya, Ara berdiri lalu berdiri di samping Luis.
"Percayalah padaku. Aku akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka," Luis berucap sambil membawa Ara dalam pelukannya.
Seketika Ara merasa nyaman dalam pelukan Luis. Meski rasanya agak dingin.
****
__ADS_1