
"Hans" Luis langsung memanggil Hans. Begitu Luis dan Ara bisa keluar dari labirin itu. Ternyata setelah serangan pedang dan tombak itu. Keduanya bisa menemukan jalan keluarnya.
Hans langsung muncul tapi melalui pintu. Luis terpaksa sejenak membuat Ara lupa bagaimana mereka bisa tiba-tiba berada di kamar Luis.
"Dia...." Hans sejenak terhenyak, melihat Ara yang terbaring di kasur besar Luis.
"Periksa dulu lukanya. Lain nanti." Potong Luis cepat.
Hans segera memeriksa lengan Ara.
"Ini harus dijahit, atau kau mau...."
"Gunakan cara manusia," titah Luis. Hans mulai bergerak, memberi bius lokal di lengan Ara, lalu mulai menjahit luka Ara. Setelah membersihkan lukanya terlebih dahulu.
"Kalian habis dari mana?" Hans tengah merapikan alat-alat dokternya.
"Coba tebak."
"Jangan bermain teka teki denganku. Kau tahu aku tidak suka. Yang jelas kalian tidak habis kencan kan?"
"Kencan tambah berpetualang sedikit."
"Kalau kencan hasilnya bukan luka. Tapi mesra."
"Kepo sekali sih kamu. Kau percaya jika aku dan dia masuk ke labirin sihir?"
"Serius?"
"Tidak tahu kenapa, setelah kami berciuman....uupsss." Luis menutup mulutnya merasa keceplosan.
"Wahh, kau cukup cepat juga bergerak."
"Dia kan memang milikku dari dulu." Gumam Luis.
"Kau dari mana Luis?" Aiden tiba-tiba muncul. Ketika keduanya sudah duduk di ruang tengah mereka.
"Main-main ke labirin sihir." Celetuk Hans.
"Ha? Pantas saja aku tidak bisa menemukanmu dimana-mana," seloroh Aiden.
"Bagaimana bisa kau masuk kesana?" Tambah Aiden.
"Mereka tertarik masuk ke dalamnya setelah mereka berciuman," Hans menyahut santai.
"Waahhh. Kalian mulai dekat," Aiden menatap Luis yang tampak acuh.
"Dari dulu kami dekat," gumam Luis.
"Tapi pertanyaannya bagaimana bisa kalian masuk ke sana," Hans penasaran.
"Mungkin ketika aura mereka menyatu. Mereka tanpa sengaja membuka pintu ke labirin itu," Aiden coba menjawab.
"Bisa saja. Karena terus terang Ara punya aura yang tidak biasa. Dia bisa menarik banyak hal untuk mendekat kepadanya. Sejak pertama aku melihatnya. Dia berbeda. Ada hal besar dalam dirinya yang sedang disembunyikan," Hans menambahkan.
Semua kembali terdiam.
"Berapa lama dia akan tidur?" Tanya Luis.
__ADS_1
"Dia ada di sini? Kau membawanya ke sini?" Aiden terkejut.
Kamar Luis adalah satu-satunya ruangan di rumah itu yang tidak bisa ditembus oleh siapapun. Baik melalui pintu maupun pikiran.
"Dia terluka."
"Parah?"
"Tidak. Hanya terserempet pedang di ronde terakhir."
Tanpa mereka sadari. Ara terbangun di kamar Luis. Dia jelas terkejut. Melihat dimana dia bangun.
"Ini kamar siapa?" Gumamnya, perlahan menyentuh lengannya. Sudah diperban. Berarti mereka sudah keluar dari labirin. Gadis itu lalu turun dari kasur besar, dia merasakan aroma yang familiar di kamar itu.
"Masak ini kamar Luis?" Gumannya. Lalu mencoba keluar dari sana. Terdengar samar-samar suara dari luar tapi cukup jelas di telinga Ara. Kamar Luis tepat menghadap tangga ke ruang tengah.
"Apa dia sudah tahu soal dirimu?" Hans bertanya.
"Belum," Luis menjawab sambil meminum minumannya.
"Apa kau takut untuk memberitahunya?" Sambung Aiden.
"Dia yang dulu tidak takut padaku. Tapi tidak tahu kalau sekarang."
"Kau dulu belum seperti sekarang. Sekarang kau benar-benar bagian dari kami. Makhluk abadi dengan julukan penghisap darah. Vampir."
Ara langsung menutup mulutnya tidak percaya. Gadis itu memundurkan langkahnya, takut berada di sana.
"Luis...tidak mereka adalah vampir. Yang dikatakan Tera benar. Kalau Luis adalah penghisap darah," Ara lalu menatap berkeliling. Ketakutan jelas menguasai hatinya.
"Hiiiiii!!!"
Ara bergidik ngeri. Menyibak tirai tebal di kamar itu. Lalu membuka pintunya. Keluar menuju balkon. Dilihatnya dia berada di lantai dua.
"Aku tidak akan mati kalau hanya terjun dari sini!" Pikir Ara, lalu tanpa berpikir panjang lagi. Dia melompat turun.
"Aaarrgghhh!"
Luis tersentak. Dia sadar Ara sudah bangun....dan....
"Sial! Dia dengar apa yang kita bicarakan." Luis berucap lalu keluar dari ruang tengah itu.
"Kau mau kemana ha?" Teriak Luis. Dari teras samping. Diikuti oleh Aiden dan Hans, juga Yoon yang tiba-tiba saja muncul. Melihat Ara mencoba berlari menjauh. Dengan langkah kaki pincang.
Ara jelas semakin ketakutan mendengar suara Luis. Tidak menghiraukan teriakan Luis. Ara terus berlari menjauh. Menuju pintu gerbang. Luis terlihat kesal. Lalu menghilang dalam satu kedipan mata.
"Luis nanti dia tahu!" Teriak Aiden.
"Dia memang sudah tahu. Karena itu dia lari," Hans menyahut, sambil menyandarkan tubuhnya di pilar besar teras itu, seolah menikmati sebuah tontonan.
"Mereka akan bertengkar," Yoon ikut menimpali.
"Bukan bertengkar. Luis sekarang mempunyai dominasi pada siapapun atau apapun," Aiden menambahkan.
"Kau mau kemana?" Tanya Luis tiba-tiba muncul di depan Ara, yang langsung terperanjat melihat Luis.
"Kau bisa...."
__ADS_1
"Menghilang." Jawab Luis cepat sambil menyeringai. Sepertinya Luis sudah tidak bisa menyembunyikan siapa dirinya. Jadi dia tidak punya pilihan selain menegaskan apa yang sudah Ara dengar.
Ara memundurkan langkahnya. Menatap ke belakang. Di mana Aiden dan Yoon serta seorang pria menatapnya tajam.
"Mati aku hari ini. Mereka akan menjadikanku makanan mereka."
"Mati saja yang ada di kepalamu," galak Luis. Sedang tiga pria di belakang Ara malah terbahak.
"Bagaimana kau tahu yang aku pikirkan. Jangan-jangan...."
"Aku juga bisa membaca pikiran." Lagi Luis menegaskan kelebihannya.
Ara memundurkan langkahnya tiba-tiba, hingga dirinya terjatuh. Luis dengan cepat berjongkok di depan Ara. Tapi Ara memundurkan tubuhnya, ketakutan.
"Luis bawa dia kemari. Dia keseleo!" Teriak Hans.
Ara langsung menatap horor pada Luis.
"Tidak mau! Jangan mendekat!" Ara terus menghindar. Hingga Luis dengan paksa menggendong Ara yang reflek berontak. Menggerakkan kakinya liar. Tidak peduli dengan ngilu di pergelangan kakinya.
"Turunkan aku. Aku tidak mau jadi makanan kalian!" Ara berteriak histeris dengan tangannya memukuli dada Luis.
"Diamlah...memang kenapa kami mau memakanmu?" Luis bertanya memastikan.
"Kalian vampir....tolong....tolong aku!!"
"Tidak akan ada yang mendengarmu. Diam! Atau aku akan benar-benar menggigitmu!" Desis Luis penuh ancaman.
Dan hal itu sukses membuat Ara kicep seketika. Mereka masuk ke ruang di mana tiga orang lain sudah duduk manis di sana.
"Kalian mau apa?" Tanya Ara dengan wajah pucat. Begitu Luis mendudukkan paksa dirinya di sebuah sofa single.
"Memakanmu, kalau kau berisik terus!" Lagi Luis berucap dingin. Ara langsung merapatkan dirinya di sudut sofa. Memeluk kedua lututnya.
"Tidakkah dia begitu imut jika begitu," seloroh Yoon.
"Ya, kau lebih menyukai dia yang berisik kan. Daripada jadi kulkas berjalan," Ledek Aiden, yang mana langsung membuat Yoon mendengus kesal.
"Berikan kakimu," pinta Hans.
"Tidak mau!"
"Dia masih berani menjawab. Padahal takut setengah mati."
"Kau mau apa?"
"Aku dokter. Jadi aku akan memeriksa kakimu." Hans mulai berjongkok di depan Ara.
"Dokter...." Ara melongo dibuatnya.
"Kenapa? Tidak percaya ada vampir yang jadi dokter" Pertanyaan Hans tepat mengenai sasarannya.
"Kami juga perlu bekerja untuk bertahan hidup," sambung Aiden, sambil meminum cairan berwarna merah dari gelasnya, sengaja ingin mengintimidasi Ara.
Melihat Aiden, perut Ara langsung mual dibuatnya. Gadis itu langsung menutup mulutnya. Ara pikir kenapa kehidupannya jadi penuh kejutan begini. Bangun dari koma. Bertemu makhluk maut, bernama Tera. Masuk labirin sihir. Dan sekarang dia berada di tengah sekumpulan vampir, yang bisa memangsanya kapan saja.
***
__ADS_1