
"Kau bohong padaku!" Ara berteriak.
"Kau tidak percaya....atau kau takut untuk mempercayainya" Sherpa berucap sambil menyeringai.
"Tidak mungkin, kau hanya membohongiku!"
"Itu terserah padamu. Tapi yang aku katakan padamu benar. Jika tidak, dia pasti akan memberitahumu siapa dirimu. Tapi nyatanya tidak...karena dia ingin memanfaatkan dirimu. Dia tidak mencintaimu. Dia membohongimu" Kembali Sherpa menegaskan ucapannya.
"Jangan dengarkan dia!"
Sherpa menyeringai mendengar suara itu.
"Luis..." Bisik Ara. Dia tidak heran jika Luis bisa menemukan dirinya.
"Salam, Yang Mulia Putra Mahkota" Sapa Sherpa setengah mengejek.
" Jadi kau yang bernama Sherpa. Makhluk terkutuk dari dunia atas yang selalu mengganggu milikku"
"Kau lihat betapa arogannya dia? Itulah dia yang sebenarnya" Bisik Sherpa.
"Menjauh darinya Sherpa!"
"Sayangnya, dia terlalu menarik untuk dijauhi" Sherpa menjawab melalui pikirannya.
"Kau menantangku Sherpa!" Teriak Luis.
Luis merangsek maju, menyerang Sherpa yang sigap menghindar. Melompat mundur.
"Kau benar-benar membuatku marah!" Luis meluapkan amarahnya. Sisi lain dari pria itu keluar. Membuat Ara menutup mulutnya. Baru kali ini dia melihat kemarahan Luis.
"Kenapa kau begitu marah? Aku tidak melakukan apapun pada kekasihmu"
"Aku bukan kekasihnya" Sangkal Ara.
"Ara...ayo pergi dari sini" Luis memejamkan matanya. Menurunkan amarahnya agar Ara tidak ketakutan melihat dirinya saat marah.
Sherpa tersenyum puas melihat perdebatan Ara dan Luis. Sebuah pertunjukkan yang menarik. Tapi ini baru awal. Sherpa ingin keduanya berpisah.
"Aku hanya mengatakan apa yang harus dia ketahui" Sherpa kembali memprovokasi.
"Diam kau makhluk terkutuk!" Raung Luis.
"Ara, percaya padaku. Aku tidak mungkin melakukan hal buruk padamu"
"Tapi kau tidak jujur padaku. Kau bohong padaku! Dan aku benci itu" Teriak Ara.
Dua orang itu saling menatap tajam. Dengan Sherpa yang menonton sambil melipat tangannya.
"Baik jika kau tidak percaya padaku. Semua terserah padamu" Luis berbalik. Merasa sia-sia untuk membujuk Ara yang sedang marah. Meski sebenarnya Luis lebih kecewa karena Ara lebih percaya pada perkataan Sherpa. Yang jelas-jelas baru Ara kenal.
Melihat Luis meninggalkannya. Ara semakin marah. Yang dia duga berarti benar. Luis benar-benar egois.
"Kau pergi and she will be mine"
__ADS_1
Satu bisikan sampai ke telinga Luis. Membuat pria itu berbalik. Dan langsung terkejut melihat gerakan cepat Sherpa yang melayang ke arah Ara.
"Tidak! Dia memang menargetkan Ara"
Sherpa menghilang seketika. Diikuti Luis yang muncul di depan Ara. Menyambut tubuh gadis itu yang hampir ambruk ke tanah.
"Ara...Ara..." Luis menyentuh leher Ara. Dan menggeram marah. Dalam satu kedipan mata. Keduanya sudah muncul di kamar Luis. Dengan Hans yang muncul dari pintu diikuti oleh yang lain.
Ketika Luis menghilang. Pria itu mengirim pesan kepada semua untuk datang ke kamarnya.
"Ada apa?" Aiden bertanya. Ketika melihat Ara dalam gendongan Luis.
"Ular brengsek itu menggigitnya" Jawab Luis cepat. Sambil merebahkan tubuh Ara di ranjangnya. Hans dengan cepat memeriksanya.
"Ini gawat! Dia mengambil darah Ara sekaligus menyuntikkan bisanya" Hans berucap panik. Terlebih setelah itu terlihat warna hitam mulai bergerak, mengikuti aliran darah Ara.
"Dia gila!" Lucas mengumpat.
"Racunnya cepat sekali menyebar" Gumam Yoon.
Sejurus kemudian tubuh Ara menegang. Lalu mulai bergerak liar. Seolah rasa sakit tengah mendera tubuhnya. Mencabik-cabik setiap inci tubuhnya. Seiring warna hitam itu mulai menyebar dengan cepat. Dimulai dari leher dimana taring Sherpa tadi tertancap disana.
"Bagaimana cara untuk menyelamatkannya?" Yoon terlihat panik untuk pertama kalinya.
"Hanya ada satu cara. Menghisap balik racun Sherpa" Hans menatap tajam Luis.
Semua orang saling pandang. Dan suara Ara yang mulai menggeram. Serta mengatupkan giginya. Membuat perhatian mereka kembali terpusat pada Ara.
"Kau harus bisa berhenti. Kau akan menemukan keinginan untuk berhenti" Aiden meyakinkan Luis.
"Luis cepatlah. Dia sekarat!" Lucas berteriak.
Luis seketika melompat ke atas ranjangnya. Menangkup wajah Ara yang sudah seputih kapas. Dengan nafas mulai tersengal.
"Luis..." Kali ini suara Yoon yang terdengar.
"Maaf jika ini menyakitimu"
"Aaargghhh" Tubuh Ara melenting. Ketika taring Luis menembus kulit lehernya. Di tempat yang sama, di mana taring Sherpa menikam sebelumnya. Mata Ara membulat seketika. Ketika satu hisapan menyakitkan dia rasakan di lehernya.
"Hah...hah...hah..." Nafas Ara memburu. Saat Luis terus menghisap racun Sherpa yang hampir merenggut jantung Ara. Tubuh gadis itu bergerak liar. Membuat Lucas dan Yoon sigap menahan kaki Ara. Juga Aiden serta Hans menghandle tangan Ara.
"Kita hampir sampai Luis" Hans berucap sambil memeriksa nadi Ara. Setelah beberapa waktu berlalu. Bisa Sherpa terlihat sudah terhisap habis oleh Luis. Seiring warna hitam yang mulai memudar di sekujur tubuh Ara.
Tiga pria lainnya mulai mengendurkan cekalan mereka pada tangan dan kaki Ara.
"Lepaskan pada hitungan ke tiga" Hans kembali berkata.
"Satu.....dua....tiga.... Luis lepaskan!" Hans berteriak.
Namun Luis tidak juga menarik taringnya. Saat bukan lagi bisa Sherpa yang mengalir di tenggorokan Luis. Melainkan darah manis milik Ara. Sungguh, darah terlezat yang pernah Luis rasa.
"Luis berhenti!" Aiden berteriak.
__ADS_1
Namun pria itu masih berada di ceruk leher Ara. Kembali Ara membulatkan matanya. Saat rasa sakit kembali menyerang tubuhnya.
"Luis hentikan. Kau bisa menghentikannya. Temukan keinginan untuk berhenti, Luis!" Lucas berganti meneriaki Luis.
"Luis berhenti sekarang! Atau kau akan mengubah dia jadi seperti kita!" Satu pikiran dari Yoon masuk ke pikiran Luis.
"Mengubah Ara menjadi bagian dari kita Tidak! Aku tidak akan melakukannya!" Luis seketika menarik taringnya dari leher Ara. Melemparkan tubuhnya untuk berbaring tepat di samping Ara.
Luis sempat menatap wajah pucat Ara yang sudah terlelap kembali.
"Maafkan aku" Lirih Luis. Menyentuh lembut wajah Ara. Lalu turun ke leher gadis itu. Di mana bekas taring miliknya masih terlihat nyata di sana.
"Kau milikku...selamanya milikku" Lirih Luis. Hingga akhirnya pria itu mulai memejamkan matanya. Menyusul Ara yang sudah terlelap lebih dulu.
***
Sherpa tersenyum penuh kemenangan. Apa yang dia rencanakan berhasil. Dia tahu, Luis akan menghisap habis racun miliknya dari tubuh Ara. Membuat racunnya berpindah ke tubuh Luis.
"Kau pikir tubuhmu bisa menawarkan racunku? Kau salah Luis. Racun milikku hanya bisa ditawarkan oleh penawar milikku. Dan penawar ini yang akan membawanya datang padaku" Sherpa tertawa puas.
"Sebentar lagi racunnya akan bereaksi. Reaksinya tidak akan secepat pada Ara. Tapi itu akan cukup untuk melemahkanmu. Bahkan mungkin membunuhmu" Sherpa menyeringai.
"Kau senang sekali sepertinya" Satu suara membuat tawa dan seringai Sherpa lenyap seketika.
"Tentu saja aku senang. Dia sebentar lagi akan jadi milikku" Jawab Sherpa.
"Milikmu? Kau berpikir untuk memilikinya?"
"Aku berubah pikiran. Dia ternyata sangat cantik. Cocok sekali untuk dijadikan ratu di duniaku"
Krum jelas menggeram kesal. Bukan seperti ini rencana awal mereka. Mereka hanya ingin darah dari Ara. Kenapa si ular purba ini jadi berubah pikiran.
"Apa kau terpesona padanya?" Tanya Krum kesal.
"Kaupun akan jatuh padanya jika sudah bertemu dengannya. Aku jadi tidak heran jika adikmu begitu tergila-gila pada gadis itu"
"Kau melanggar kesepakatan kita Sherpa!" Protes Krum.
"Aku rasa tidak. Kau akan tetap mendapatkan darahnya setelah dia jadi milikku" Tegas Sherpa.
Meski tidak puas dengan rencana Sherpa. Tapi untuk sementara Krum hanya bisa menahan diri. Sampai dia mendapatkan darah Ara. Sebab jika dia menyerang Krum sekarang. Bisa dipastikan jika dia yang akan kalah. Karena Krum bisa melihat jika Sherpa sudah mendapatkan darah Ara meski hanya setetes.
Terbukti dari Sherpa yang bisa berubah menjadi manusia sempurna. Yang berarti kutukan itu sudah terlepas dari diri Sherpa.
"Lalu apa rencanamu?"
"Kau lihat saja. Sebentar lagi rencanaku akan dimulai" Sherpa menjawab sambil menatap sebuah botol di tangannya.
***
Sherpa dalam imaginasiku...
__ADS_1