Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Teman Terbaik


__ADS_3

"Maafkan aku, Bi. Aku tidak bisa menjaga putrimu sesuai permintaanmu" Sherpa menatap sendu pada bulan yang melayang di hadapannya.


"Kau melamun?" Zhang sudah berdiri di samping Sherpa.


"Aku masih merasa bersalah pada Bibi"


"Dia baik-baik saja bersama ayahnya"


"Aku tidak yakin. Apalagi pria plin plan itu tidak pernah memihak bibi sejak dulu. Membuat bibiku harus berkorban nyawa. Ingin rasanya aku hancurkan dunia bawah" Sherpa menggeram marah.


Zhang hanya terdiam, mendengar kekesalan hati Sherpa. Zhang tidak tahu harus bagaimana lagi menenangkan hati Sherpa.


"Apa semua sudah siap?" Lagi Sherpa bertanya.


"Semua berjalan sesuai keinginanmu. Hanya saja...apa kau yakin dengan ini semua. Maksudku dia, kau menyakitinya Sherpa. Jika begini, kau sama saja dengan pria plin plan itu"


"Tentu saja aku berbeda. Aku hanya punya dia seorang. Tidak memiliki yang lain"


"Tapi...


Bantahan Zhang terhenti ketika Sherpa mengangkat tangannya. Tidak ingin mendengar apapun lagi dari Zhang.


"Aku tahu yang ku lakukan. Siapkan saja semua. Dan tambah pengawalan di hari pernikahanku. Aku pikir akan ada tamu tak diundang hari itu"


"Dia akan datang?"


Sherpa tidak menjawab. Hanya tersenyum samar.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sherpa pada Ming.


"Hanya makan sedikit. Tidak mau apa-apa"


Ming berlalu dengan wajah sendu. Dia tahu wanita yang dibawa Sherpa sangat terpaksa berada di sini. Berulang kali, Ara meminta pada Ming agar di biarkan lari dari sana. Tapi apa yang bisa Ming lakukan.


Sementara Sherpa, saat ini tengah menatap Ara yang tidur meringkuk di sofa di kamarnya.


"Jangan coba menentangku, Ara. Atau aku akan melakukan hal yang paling tidak kau inginkan dalam hidupmu" Bisik Sherpa. Perlahan meraih tubuh Ara. Menggendongnya. Memindahkan ke kasur besar miliknya.


"Jangan menangis" Sherpa berucap sambil memasukkan tubuh Ara dalam pelukannya. Menyusul gadis itu ke alam mimpi.


Dua hari menjelang pernikahan,


"Aku tidak mau menikah dengannya"


Gumam Ara pelan. Terus berlari keluar dari kamar Sherpa. Melewati beberapa penjaga yang tidak mampu menghentikannya.


Ara secara tidak sengaja mendengar pembicaraan Ming dan pelayan lainnya. Soal pernikahan yang akan digelar dua hari lagi.


"Luis....Luis....aarrgghhh" Ara meringis sambil terus berlari. Tidak peduli pada luka di kaki dan tangannya. Kenyataannya, meski istana Sherpa terlihat kecil. Namun ternyata luas juga. Bahkan ada hutan kecil di dalamnya.


"Aku harus lari. Aku harus keluar dari sini" Ara terus berlari panik. Dia tahu ini akan sulit. Tapi setidaknya dia harus mencoba bukan. Ara terus berlari tanpa henti.


"Mau lari ke mana kau?" Sebuah suara terdengar di pikiran Ara.

__ADS_1


Membuat Ara bertambah takut. Tidak, dia tidak mau kembali ke istana itu. Gadis itu tidak peduli pada cekikan yang semakin kuat di lehernya. Dia mengangkat tinggi gaun tidur yang dia pakai agar tidak menyulitkan larinya. Hingga kemudian langkahnya benar-benar berhenti. Ketika dia berdiri di ujung istana milik Sherpa. Sebuah jurang tanpa dasar terpampang di depan mata.


"Istana ini melayang" Gumam Ara.


"Kau benar" Satu suara membuat Ara berbalik. Dilihatnya Sherpa melayang di hadapannya. Wajah pria itu menunjukkan ekspresi tidak terbaca oleh Ara. Saking marahnya mungkin pada Ara.


"Kau berani lari dariku?" Geram Sherpa. Kali ini wajahnya benar-benar menunjukkan kemarahan.


"Aku tidak mau menikah denganmu!" Pekik Ara. Sejurus kemudian, gadis itu sudah jatuh terduduk. Memegangi lehernya.


"Kau seharusnya tahu begitu melakukan pertukaran denganku. Menjadi milikku berarti menikah denganku"


"Aku tidak mau!"


"Kau benar-benar keras kepala, Ara!" Sherpa melayang ke arah Ara. Membuat gadis itu memundurkan dirinya. Tepat berada di tepi jurang. Tubuh Ara hampir terhempas ke dalam jurang tak berdasar, jika saja Sherpa tidak menahan pinggang Ara.


"Biarkan aku mati!" Desis Ara tepat di depan wajah Sherpa yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


"Jangan mimpi!"


"Kau jahat" Lirih Ara.


"Kau benar-benar membuat kesabaranku habis, Ara. Jadi jangan salahkan aku, jika aku melakukan ini padamu" Sahut Sherpa cepat.


Pelan pria itu mengangkat tangan kirinya.


"Kau akan melupakan dia selamanya"


"Tidak! Apa yang kau lakukan?" Teriak Ara panik saat cahaya putih keluar dari telapak tangan Sherpa, bersamaan dengan pria itu merapalkan sebuah mantra dalam bahasa yang tidak Ara pahami.


"Tidak!" Ara berontak ketika Sherpa menempelkan telunjuknya ke keningnya. Persis seperti ketika Luis membuka segel ingatan milik Ara. Pelan cahaya putih itu terserap ke kepala Ara.


"Kau milikku sekarang" Bisik Sherpa lembut seiring tubuh Ara yang melemas dalam pelukannya.


"Arrrghhhh" Luis menekan dadanya. Ketika sebuah rasa sakit menghunjam dadanya. Seolah jantungnya tengah ditikam dengan sebuah belati.


"Ada apa?" Tanya Yoon.


"Entahlah. Hanya saja aku merasa sesuatu yang buruk telah terjadi" Gumam Luis.


"Soal Ara?"


"Mungkin. Ngomong-ngomong aku merasa kalau aku tidak bisa merasakan pikiran Ara. Apa dia melakukan sesuatu pada Ara"


Yoon menatap pada Luis. Mencoba mencari tahu. Tapi nihil, Yoon juga tidak menemukan apa-apa.


"Aku pikir hampir gila menunggu lusa tiba. Jika saja ramuan yang Hans berikan langsung bekerja. Aku akan menerobos dunia atas sekarang juga"


"Bersabarlah, obat yang Hans berikan memang perlu waktu untuk bereaksi. Itu bukan sihir yang bisa bekerja sekarang juga"


Luis menggeram kesal.


***

__ADS_1


"Maaf untuk kejadian hari itu" Erika berucap penuh rasa bersalah pada Paul.


"Tidak apa-apa. Kita kan teman"


"Tapi Paul kau tidak bisa begini terus padaku"


"Perasaanku milikku, Rika"


"Maafkan aku Paul, aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku tidak punya perasaan apapun padamu"


"It's okay. Jangan terus merasa bersalah padaku. Aku tidak apa-apa"


Erika menatap wajah Paul yang selalu menyunggingkan senyum untuknya. Sungguh pria yang baik hati. Tapi Erika sama sekali tidak punya perasaan apa-apa pada Paul. Apalagi sejak dia bertemu Yoon. Pria kulkas berjalan yang mengaku menggigitnya waktu itu.


Yoon berhasil menggetarkan hati Erika. Karena itu dia memutuskan untuk mencoba beradaptasi dengan dunia barunya. Lagipula sekarang Yoon selalu membantunya jika itu berhubungan dengan keadaan dirinya yang sekarang.


"Carilah wanita yang benar-benar tulus padamu"


Paul menarik nafasnya pelan.


"Akan aku coba. Tapi tidak sekarang. Aku perlu waktu untuk menyembuhkan hatiku yang baru kau patahkan"


"Paul...


"Bercanda...iya-iya nanti aku cari. Bagaimana kalau Ara? Boleh tidak?"


"Kau mau digigit juga oleh bosnya Ara" Sahut Erika cepat.


"Bosnya Ara? Dia juga....oh my, pantas saja waktu itu dia bertanya padaku" Gumam Paul.


"Soal apa?"


"Tidak apa-apa. Apa Ara dan bosnya pacaran?"


"Boleh dibilang seperti itu. Tapi sekarang mereka sedang bermasalah" Jawab Erika sendu.


"Masalah apa?"


"Erika....


Satu suara memanggil Erika. Memperingatkan dirinya untuk tidak bercerita lebih banyak.


"Maaf Paul, aku tidak bisa bercerita banyak" Erika lagi-lagi meminta maaf.


"Mereka melarangmu menceritakan padaku?" Paul bertanya dan Erika mengangguk.


"Katakan pada mereka. Kalian adalah temanku. Sampai kapanpun aku tetap menganggap kalian seperti itu. Jadi jangan khawatir aku akan menjaga rahasia kalian. Kalian bisa memegang ucapanku. Hubungi aku jika kalian memerlukan bantuan"


Paul berkata sambil tersenyum. Lagi-lagi membuat Erika merasa bersalah. Mempunyai teman sebaik Paul adalah berkah tersendiri bagi Erika dan Ara.


"Teman terbaik yang pernah kami punya"


****

__ADS_1



***


__ADS_2