Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Luis Dan Ara


__ADS_3

"Kenapa kau kesini?" Tanya Ara bingung melihat Paul ada didepannya. Pria itu sudah berada di apartemen Ara.


"Aku yang harusnya tanya, kenapa kau tiba-tiba menghilang. Dan meninggalkan semua barang-barangmu." Jawab Paul sambil menunjukkan paperbag yang berisi laptop dan juga ponsel Ara. Komplit dengan sling bag-nya.


"Aku meninggalkan semua itu?" Tanya Ara sambil menggaruk kepalanya. Berusaha mengingat-ingat apa yang sudah dia lakukan.


"Masih tidak percaya? Nyatanya ini semua kan milikmu," Kata Paul menyerahkan paperbag.


"Iya, ini punyaku," gumam Ara.


"Memangnya tadi kau pergi ke mana?"


"Aku tidak kemana-mana. Aku baru saja bangun tidur," balas Ara.


"What?!! Kamu serius? Bangun tidur? Jelas-jelas kamu tadi sedang belajar memakai laptop denganku juga Erika."


"Ha?" Ara melongo. Bingung, itu yang Ara rasakan.


"Kau tidak ingat kau pergi ke mana?"


Ara menggeleng.


"Aneh sekali," gumam Paul.


Di belakang Ara, bayangan Luis mendengus geram.


"Memangnya apa pedulimu. Dia pergi denganku. Ada masalahmu?" Ujar Luis.


Pria itu lalu tersenyum, terlintas ide jahil di kepalanya. Luis berjalan mendekat ke arah Paul. Lalu meniup leher belakang Paul, membuat pria itu langsung berjingkat kaget.


"Huwaaaaa!" Paul berteriak.


"Ada apa?" Ara bertanya heran. Menatap Paul, sambil mengulik ponselnya.


"Kau rasa tidak?"


"Apa?"


"Ada yang meniup leherku. Merinding ini, Ra." Paul bergidik ngeri.


"Ya iyalah, ada angin yang masuk, kan jendelanya aku buka." Ara menjawab santai.


Luis terkikik. Lalu mengulanginya lagi. Kali ini Paul langsung melompat dari duduknya.


"Ara! Rumahmu angker ya?"


"Otak situ yang angker. Ya nggaklah." Sahut Ara lagi.


"Ni hantunya pasti cewek. Makanya gangguin gue!" Maki Paul.


"Enak saja ngatain gue cewek. Cowok tulen ini. Mau bukti? Ya gak depan situ juga kali gue nunjukin kelelakian gue." Maki Luis.


(Pangeran vampir kumat somplaknya 🤣🤣)


"Aku pulang saja deh kalau begitu. Nanti aku dilecehkan lagi sama hantunya...aduuuhhh." Paul memegang kepalanya yang ditabok Luis.


"Kagak napsuu ya gue sama elu!"


"Gak ada yang namanya hantu di sini, Paul. Elu tu yang kebayakan nonton film hantu," kesal Ara.


"Kamu kenapa jadi banyak omong begini sih. Kamu sehat. Atau kamu lupa dicolokin ke stop kontak?"


"Kamu pikir aku TV apa?"


"Kamu bukan TV tapi kulkas berjalan. Kalau gak ditanya gak pernah nyahut."


Ara bengong.


"Nah kumat dah tu mode kulkas berjalannya. Sudah ah, aku pulang dulu. Mumpung hantunya ngantor....huwaaaa!"


Paul ngibrit setelah Luis kembali meniup lehernya.


"Rumahmu berhantu Ra, gue berani sumpah!" Teriakan Paul masih bisa Ara dengar ketika Ara sudah menutup pintu.

__ADS_1


"Orang aneh.....huwaaaaa.....tu tuan Luis? Apa yang Anda lakukan di sini?" Ara jelas kaget melihat Luis yang tiba-tiba saja sudah ada di depannya.


"Menurutmu?"


Ara bengong. Melongo, melihat wajah Luis yang tampan. Mengenakan setelan kemeja putih dan celana hitam. Tampan luar biasa. Pantas saja para karyawan di lantai bawah selalu antusias saat membicarakan bosnya itu.


Luis jelas tersenyum mendengar pikiran Ara.


"Apa dulu kau juga berpikir seperti itu. Memujiku tampan."


"Apa yang Tuan lakukan disini? Ah salah darimana Tuan datang?"


"Aku bisa menghilang, apa kau percaya?"


"Tentu saja....tidak!"


Luis tersenyum. Bahkan sifat saja tidak berubah. Dingin dan galak pada orang yang tidak Ara kenal.


"Kalau begitu jangan bertanya."


Ara terus menatap Luis curiga.


"Aku masuk ketika dia keluar." Jelas Luis.


"Bohong!"


"Tidak percaya ya sudah." Luis berucap santai sambil mendudukkan diri di sofa Ara.


"Kok malah duduk sih?" Gerutu Ara.


"Apa ini kehidupan yang sekarang kau jalani, Ara?"


Menatap iba pada tempat tinggal Ara. Dulu sebagai nona muda keluarga Reyes. Ara mendapatkan kemewahan nomor satu di masanya. Tapi sekarang lihatlah betapa sederhananya tempat tinggal Ara.


Berbanding terbalik dengan kehidupannya. Dulu dia hanya tinggal di rumah sederhana. Jauh lebih sederhana dari yang Ara tempati sekarang.


Sekarang Luis hidup berkecukupan. Karena dia terus bekerja sejak pertama dia mendapat keabadiannya. Menumpuk harta hingga bisa merasakan kenyamanan hidup. Hal yang dulu sangat diimpikannya. Dia memilikinya di tangannya kini.


Sekarang dia begitu dihormati. Disegani. Semua orang memandang tinggi padanya. Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Kembali, semua berbanding dengan kehidupannya dulu. Karena statusnya yang setengah vampir. Luis harus menahan cacian dan makian dari orang di sekelilingnya. Walaupun Luis hanya akan berbahaya jika bulan purnama tiba. Tapi sang ibu akan mengungsikannya tiap bulan purnama tiba. Menjadikan dirinya sendiri mangsa bagi Luis.


Saat itu sang ibu berpesan untuk mencari sang ayah di wilayah selatan. Awalnya Luis tidak mau. Bersikeras untuk tinggal. Tapi kata-kata sang ibu membuat Luis menuruti perintahnya.


"Maafkan Ibu, Nak. Cinta Ibu jatuh pada pria yang salah. Hingga kamu yang menanggung akibatnya. Apapun yang terjadi, tetaplah hidup. Dia sangat menyayangimu. Rela memberikan segalanya untukmu. Pergilah, dan tuntaskan perjalanan yang belum usai ini."


"Tuan...tuan Luis...."


"Bisa tidak, jangan memanggilku Tuan?"


"Tapi kan situ bosnya saya. Atau mau dipanggil Pak?"


"Apa aku setua itu?"


"Tidak." Lirih Ara.


"Panggil namaku saja."


"Tentu saja tidak boleh. Nanti orang mengira saya tidak menghormati Anda."


"Aku tidak gila hormat. Lagipula semua orang di lantai kita memanggil nama padaku."


"Itu kan karena tuan Yoon, tuan Aiden, tuan yang itu...adalah sahabat Tuan. La saya cuma pembantunya tuan Yoon."


"Lucas namanya. Kau sekretarisku, sama seperti Yoon."


"Tapi kita tidak sedekat itu."


"Kalau begitu mari kita buat semuanya menjadi dekat." Ucap Luis sambil menyeringai.


"Maksudnya?"


"Jadilah pacarku."


"Ini malah semakin gila aja. Kalau kita pacaran. Yang ada saya ditimpukin sama karyawan cewek, Tuan."

__ADS_1


"Luis...


"Tidak biasa buat lidah saya menyebut nama Tuan."


"Kalau begitu panggilan lain juga boleh."


Ara memicingkan matanya.


"Misalnya?"


"Baby, sayang...."


"Huwekkkk!" Ara menirukan gerakan orang muntah. Luis langsung manyun dibuatnya. Dia yang biasa dingin pada orang lain. Sekarang jadi seperti es krim. Dingin tapi manis dan memikat.


"Kita tidak dalam konteks hubungan apapun, Tuan. Selain hubungan karyawan dan bos. Kita baru kenal dua minggu. Dan akan sangat aneh jika kita tiba-tiba pacaran."


"Kalau begitu kita PDKT dulu."


"Padahal kita sudah saling mengenal lama. Dua tahun dulu kita backstreet dari warga dan keluargamu. Hubungan kita sangat dekat. Berapa kali dulu kita berciuman. Aku bahkan tidak bisa menghitungnya."


Batin Luis menatap Ara yang juga tengah menatapnya.


"Apa yang sedang Anda rencanakan tuan?"


"Luis, Ara...Luis. Telingaku gatal mendengarmu memanggil tuan padaku."


"Tapi...."


"Luis atau gajimu kupotong!" Ancam Luis.


"Jangan potong gaji saya tu...eh Luis."


"Itu untuk biaya pengobatan Ailee."


Batin Ara sendu. Ailee, adik Erika. Mereka sama-sama tinggal di panti asuhan Bibi Maria. Dan sejak Ara bangun, hanya Erika yang selalu dekat dengannya. Mengajarinya semua hal baru di kota ini.


Jadi ketika Ailee sakit dan perlu biaya perawatan yang banyak. Ara bermaksud untuk membantu.


Luis terdiam mendengar suara hati Ara. Tersenyum.


"Kamu masih tidak berubah. Tetap baik hati meski kamu sekarang kekurangan, Araku."


"Jadi panggil namaku saja atau potong gaji." Ulang Luis.


"Kau tidak memberiku pilihan. Kau menggunakan kemiskinanku untuk mengancamku!"


"Maka jadilah pacarku dan akan kujadikan kau ratu dalam semalam," bujuk Luis.


"Tidak mau jadi ratu!"


"Kenapa?"


"Ratu, tua...jahat"


Ha? Luis melongo mendengar alasan tidak masuk akal Ara. Tapi kemudian dia teringat. Ratu pada masanya dulu memang tua dan jahat. Jadi Ara sedikit mengingat masa lalunya.


"Kalau begitu putri. Biasanya putri itu muda dan cantik."


"Tidak mau juga. Banyak putri bernasib malang. Aku tidak mau seperti mereka."


"Astaga Ara! Terserah padamu sajalah kau mau jadi apa. Yang penting jadi pacarku!"


"Tidak mau!"


Luis langsung memijat pelipisnya pelan. Tidak dia sangka, Ara yang sekarang juga sama pintarnya dengan Ara-nya yang dulu.


***


Visual Paul,



Kredit Pinterest.com

__ADS_1


J Hope aka Jung Hoseok, Mr Sunshine 🤣🤣


***


__ADS_2