
Erika tertegun ketika melihat Asha di rumah Ara. Erika bermaksud menjemput Ara untuk menjenguk adiknya Ailee. Sementara Asha langsung menatap Erika.
"Ada yang aneh dengan dia. Tapi apa?" Batin Asha.
"Asha kau mau ikut dengan kita? Sekalian jalan-jalan," tawar Ara.
"Ahh tidak. Aku menunggumu di rumah saja" Asha menolak.
"Kenapa kau meninggalkan dia begitu saja di rumahmu?" Erika bertanya begitu mereka keluar dari apartemen Ara.
"Kenapa?"
"Ara...kau ini terlalu polos. Zaman sekarang, bagaimana jika dia berniat buruk padamu?"
"Kalau ada yang berniat jahat. Luis pasti tahu. Betul tidak?" Tanya Ara pada Luis melalui pikirannya.
Dia tahu pria itu pasti mengawasinya. Dan benar saja, di ujung sana Luis langsung mendengus kesal.
"Aku percaya pada Asha," Ara menjawab sambil tersenyum.
"Yoon, ikut denganku," Luis berucap. Dalam sekejap keduanya sudah muncul di hadapan Asha, yang langsung ketakutan.
"Aku mohon jangan pulangkan aku," mohon Asha.
Luis menarik nafasnya. "Kami tidak akan memulangkanmu untuk sementara ini. Tapi jangan menyentuh gadis itu sedikitpun," Yoon memberi peringatan ekstra pada Asha.
"Gadis itu? Ara maksudmu?"
"Oo, jadi aroma itu miliknya."
"Dia adalah milikku. Jadi jangan pernah berpikir untuk menyakitinya." Luis mempertegas ucapan Yòon, juga pikiran Asha.
"Jadi dia kekasihmu. Manusia dan Vampir. Ini menarik."
"Itu bukan urusanmu. Jika kau menyentuhnya kupastikan kau pulang ke dunia bawah saat itu juga." Ancam Luis.
"Tentu saja aku tidak akan menyakitinya. Dia baik sekali padaku. Tapi temannya yang itu. Aku tidak tahu." Asha berucap ambigu.
"Maksudmu Erika?" Yoon bertanya.
"Ya, yang bernama Erika. Aku pikir dia menyembunyikan sesuatu."
"Kaupun sama. Apa bedanya kau dan Erika?" Tanya Luis.
"Yang jelas aku berani menjamin kalau aku tidak akan menyakiti Ara. Kau bisa pegang ucapanku. Kami memang bangsa Iblis. Tapi kami tidak pernah mengingkari janji. Nyawa kami taruhannya." Asha berucap pasti.
"Well, kita akan lihat nanti. Ingat, kami selalu mengawasimu," Sejurus kemudian, kedua orang itu menghilang dari hadapan Asha, membuat wanita itu menarik nafasnya.
"Pasti kau sangat istimewa sehingga seorang putra mahkota dari klan Vampir pun tertarik padamu." Batin Asha, lantas melanjutkan kegiatannya, menikmati pemandangan kota dari jendela apartment Ara.
***
"Hans, Evander Hans!" Teriak Ara.
Hans langsung berbalik begitu mencium aroma Ara.
"Apa? Kemarin kau takut padaku," ketus Hans.
"Sekarang tidak lagi," bisik Ara.
Akhirnya Ara memutuskan untuk mulai menerima pertemanan "aneh" mereka. Berteman dengan Vampir. Mulai membiasakan diri berada di lingkungan Vampir. Seperti kata Paul, kalau mereka baik ya kau bisa berteman dengan mereka.
"Nanti kau muntah melihat darah," goda Hans.
"Yang itu aku tidak bisa berdamai," Ara menjawab sambil berbisik.
"Ara...kita bisa masuk sekarang," Erika berteriak. Namun teriakannya langsung berganti wajah malu saat melihat Hans di samping Ara.
"Dokter Hans, senang bertemu denganmu," sapa Erika.
Ara langsung menatap tajam pada Hans.
__ADS_1
"Kau yang merawat Ailee?" Tanya Ara melalui pikirannya. Dan Hans mengangguk menjawab pertanyaan Ara.
Ara langsung menggeram pelan. Sedang Hans langsung tersenyum samar, membuat Erika terpana seketika.
"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?"
"Sejauh ini masih bisa dikendalikan. Kita akan mulai kemoterapinya minggu depan," jelas Hans singkat.
"Dia menyukaimu," bisik sebuah suara di telinga Hans.
"Tidak mungkin. Seseorang sudah mengklaim gadis itu adalah miliknya," balas Hans santai.
"Bukan dia. Tapi yang satunya."
"Kau cemburu?"
"Hans, sudah lama kau tahu aku menyukaimu."
"Tapi aku tidak, Eve," Hans menyahut tegas. Lalu berlalu dari hadapan wanita yang Hans panggil Eve itu. Sementara Eve hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan amarah.
"Jangan berbuat di luar batasanmu, Evelyn." Hans memperingatkan Eve melalui pikirannya. Sedang pria itu berjalan semakin jauh dari tempat Evelyn berdiri.
"Kau kenal dokter Hans?"
"Dia teman atasanku. Aku pernah bertemu dengannya."
"Awas kau Hans. Tidak memberitahuku kalau kau yang merawat Ailee."
****
"Kenapa kau menerima dia di rumahmu?" Cecar Luis begitu mereka bertemu. Setelah Erika harus kembali ke tempatnya bekerja. Berdiri di atas atap apartement Ara. Gadis itu langsung menggerutu. Kenapa harus di tempat tinggi sih kalau bertemu.
"Kasihan dia Luis."
"Memang apa yang sudah dia ceritakan padamu?"
"Semuanya. Dia lari dari ayahnya. Karena tidak mau dinikahkan dengan pria pilihan ayahnya."
"Baik akan ku lengkapi ceritanya. Dia adalah seorang tuan putri dari ras Iblis yang tinggal di dunia bawah."
"Ha? Benarkah? Dunia bawah? Berarti itu sama dengan tempat tinggal Tera?"
"Tera adalah salah satu kaum dari ras Iblis."
"Dan Asha, tuan putrinya? Wah kenapa bentukannya beda jauh begitu."
"Ra, ini bukan soal bentuknya yang berbeda. Tapi soal dia membohongimu. Soal siapa dirinya."
"Aku pikir jika seseorang berbohong. Dia pasti punya alasan untuk melakukan itu."
"Kenapa kau ini terlalu baik? Bisa saja dia mencelakaimu."
"Alasannya apa dia mau menyakitiku? Kalian saja yang jelas tahu kalau aku mangsa kalian. Masih bisa menahan diri."
"Kasusnya beda Ara."
"Beda di mana? Aku percaya pada kalian tidak akan menerkamku. Aku juga percaya kalau Asha tidak akan menyakitiku."
"Kau ini terlalu naif."
"Ya katakan saja aku bodoh. Aku tidak masalah!" Ara berucap santai.
"Kau tidak ingin tahu masa lalumu?"
Satu bisikan masuk ke kepala Ara.
"Kau mengatakan sesuatu padaku?"
"Tidak," Luis menjawab sambil menatap wajah Ara.
"Masa lalumu? Aku tahu semuanya. Datanglah padaku. Dan kau akan tahu semuanya."
__ADS_1
Bisik suara itu lagi. Tapi kali ini, Ara menggelengkan kepalanya. Tidak ingin memperhatikan bisikan itu lagi.
"Bagaimana Asha bisa sampai kemari kalau dia dari dunia bawah?" Tanya Ara berusaha mengusir bisikan-bisikan aneh itu.
"Si biang kerok yang bawa. Dia mau bunuh diri. Lalu Lucas menyelamatkannya. Dan membawanya ke sini."
"Lucas?"
"Iya. Lucas kau ingat dia?"
"Ingat. Si ramah dari kalangan kalian"
"Ramah karena kau cantik. Dia kan penyuka darah wanita cantik."
"Maksudmu? Dia suka minum darah langsung dari korbannya?"
"Iya."
"Hiiiiii."
"Makanya jangan dekat-dekat dia," Luis memperingatkan.
***
"Maaf, mungkin tidak senyaman rumahmu," Ara berucap ketika menunjukkan kamar Asha.
"Dia boleh tinggal di tempatmu. Tapi tidak boleh satu kamar denganmu. Nanti kalau aku rindu padamu. Aku tidak bisa menemuimu."
"Tidak masalah"
"Ini lebih baik daripada kamar mewah. Tapi aku tidak punya kebebasan."
Batin Asha sambil menatap Ara yang tengah merapikan tempat tidur Asha. Lucas yang menyediakan semua kebutuhan Asha.
"Aku akan mencari pekerjaan. Aku akan membantu membayar sewanya."
"Santai saja. Memangnya kau bisa melakukan apa? Kalau aku bisa makan saja"
"Aku bisa masak," Asha menjawab.
"Akan aku tanyakan pada Paul."
"Siapa Paul?
"Temanku. Dia punya kafe."
"Benarkah? Aku bisa belajar cepat kok," sombong Asha.
"Bagus. Kalau begitu besok pagi ikut denganku. Aku biasa sarapan di kafenya Paul sebelum kerja."
"Kau kerja di mana?"
"Kantor VR Company"
"Jadi dia bekerja dengan putra mahkota itu," batin Asha.
"Mungkin kau membohongiku diriku soal siapa dirimu. Tapi aku akan memberimu kesempatan. Entahlah kenapa aku percaya, kau tidak mungkin berbuat jahat padaku," Ara berkata dalam hatinya.
"Kau benar-benar naif, Ara," Gumam Luis.
"Aku akan mengawasinya."
"Jangan sampai dia melukai Ara. Aku tidak percaya dengan ras Iblis."
"Iya-iya."
"Kau berani mengabaikanku? Kita lihat berapa lama kau bisa menghindari rasa penasaranmu."
Desis makhluk itu. Lalu merayap pergi dari tempatnya, melihat bangunan kota yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Aku akan mencoba lagi nanti. Kita akan segera bertemu."
__ADS_1
***