Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Rahasia Yoon


__ADS_3

"Kenapa aku tidak bisa ingat siapa diriku, Bi?" Ara bertanya pada Maria. Maria terkejut ketika Ara bertanya soal siapa dirinya.


Wanita itu ingat dengan jelas pesan sang kakak, Melia. Untuk tidak memberitahukan siapa Ara. Biarkan Luis yang menceritakan sendiri pada Ara.


"Bibi tidak bisa memberitahu siapa Ara. Lebih jelasnya, Bibi memang tidak tahu siapa Ara. Yang tahu Ara ya Kak Melia dan...Luis"


Ara seketika membulatkan matanya. Luis? Luis tahu siapa dirinya? Tapi kenapa dia diam saja? Tidak mau memberitahu siapa dirinya. Gadis itu melangkah bingung. Hari mulai gelap ketika dia keluar dari panti itu.


"Apa ada yang disembunyikan Luis darinya" Batin Ara.


Dia tidak peduli jika Luis bisa membaca pikirannya. Justru itu bagus. Dengan begitu dia akan memberitahu Ara siapa dirinya di masa lalu. Lalu hubungan apa yang terjalin di antara mereka.


"Dia tidak akan memberitahumu. Dia menyembunyikan sesuatu darimu"


"Siapa kau?! Keluarlah dan tunjukkan dirimu!"


Ara kesal sekali. Karena lagi-lagi suara itu menganggu kepalanya. Benar-benar seperti teror yang membuat hidupnya tidak tenang. Bisikan itu juga membuat tingkat penasarannya semakin tinggi. Siapa dirinya? Siapa Luis untuknya? Hubungan mereka seperti apa.


"Datang dan temui aku. Maka akan kuberitahu siapa kau"


Ara berteriak kesal. Lagi-lagi bukan jawaban yang dia dapat.


"Keadaanya semakin parah, Luis" Hans memberitahu.


"Aku tidak bisa memblokir pikiran makhluk itu untuk tidak mengganggu Ara" Luis berucap frustrasi.


"Dia pernah bertanya padaku, kenapa dia tidak bisa mengingat siapa dirinya?"


"Kau memberitahu siapa dirinya?"


"Tentu saja tidak. Sebab, aku memang tidak tahu siapa dia. Aku hanya tahu dia adalah kekasihmu di masa lalu. Lain tidak" Hans menjawab.


"Yang aku takutkan kalau makhluk itu akan mengatakan kebohongan kepada Ara"


"Itu sudah pasti Luis. Kalau tidak, buat apa dia mengganggu Ara selama ini. Meracuni pikirannyalah. Apalagi"


Luis memijat pelan pelipisnya.


"Aku pikir memang harus memberitahu siapa dirinya"


"Aku pikir juga begitu. Lagi pula tidak ada yang salah dengan hubungan kalian. Baik di masa ini. Maupun di masa ini"


"Tentu saja ada. Aku dan dia saling mencintai di masa lalu. Tapi sekarang, dia sama sekali tidak membalas pernyataan cintaku. Tidak ingat padaku"


"Wooo kau patah hati?"


"Sedih tahu!" Luis mendengus geram mendengar ledekan Hans.


"Memang sulit jika ingatan Ara terkunci. Tapi seharusnya dia bisa merasakan sedikit, kalau kalian memang terhubung di masa lalu. Dia tidak membencimu, itu sudah bagus. Berarti kau punya citra baik di pikirannya. Tapi itu semua harus didukung oleh kebenaran. Aku sarankan kau membuka ingatannya"


Luis terdiam. Memikirkan saran Hans.


****


"Halo, ya Ailee"

__ADS_1


"Bisa Kakak mengunjungi kak Erika. Sejak tadi pagi aku menghubunginya. Tapi dia tidak mengangkatnya"


"Apa dia meninggalkan pesan untukmu?"


"Dia memang bilang akan sibuk hari ini dan besok. Tapi dia selalu mengangkat panggilanku. Meski dia sibuk. Tapi hari ini tidak. Aku jadi khawatir padanya"


"Baik, Kakak akan melihat kak Erikamu. Nanti Kakak kabari lagi. Istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir"


"Baik, Kak. Terima kasih"


"Kau menghubungi Erika?" Hans tiba-tiba muncul di samping Ailee.


"Dokter Hans, kau mengejutkanku" Kesal Ailee. Hans hanya tersenyum mendengar kekesalan Ailee.


"Tidak. Aku menghubungi kak Ara"


"Ara? Untuk apa?"


"Aku tidak bisa mengbubungi kak Erika sejak pagi. Aku khawatir"


"Mungkin saja dia sibuk" Hans berucap santai sambil memeriksa Ailee.


***


Apartement Erika terlihat gelap. Dia sudah bertanya pada satpam dibawah. Erika tidak terlihat keluar dari unitnya sejak pagi.


"Apa dia sakit?" Gumam Ara. Menyusuri lorong menuju unit Erika.


"Kenapa suasananya seram begini" Ara berbisik lirih. Dia teringat beginilah rasanya ketika dia masuk ke kantor Luis untuk pertama kalinya.


"Masak ada Vampir di sini"


Sepi, tidak ada yang menjawab. Tapi perasaan Ara mengatakan kalau Erika ada di dalam. Gadis itu memutar knop pintu unit Erika. Tidak terkunci. Suasana remang langsung menyambut Ara. Begitu kakinya melangkah masuk ke unit Erika.


Gadis itu langsung menuju ke kamar Erika. Membuka pintu. Dan sebuah pemandangan tidak terduga langsung menyambut Ara.


"Lari! Ara lari!" Paul berteriak.


Tapi Ara yang shock malah diam. Tidak bergerak. Menatap ke arah Erika yang perlahan mendekat ke arahnya, begitu mencium aroma darah Ara. Mata merah Erika menatap lapar ke arah Ara.


"Erika....kau adalah... aaaarrgghhhh..."


Ara berteriak begitu Erika menarik tangannya. Sedetik kemudian, tubuh Erika terlempar ke samping ketika Paul mendorong tubuh Erika.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Paul. Dan Ara menggeleng.


"Ayo pergi"


"Tapi kau...tapi Erika...


"Aku jelaskan nanti" Paul menyeret Ara pergi. Tapi Erika menghadang di pintu


"Paul..." Ara berbisik takut di belakang Paul.


"Dia begitu karena mencium bau darah"

__ADS_1


Paul jelas serba salah. Ingin melawan tapi itu Erika. Takut jika gadis itu terluka. Tapi jika tidak dilawan. Mereka yang akan jadi korban.


Dalam kelengahan itu, Erika menyerang. Menggigit lengan Paul. Membuat pria itu meringis. Ara berusaha menarik Erika. Agar gadis itu melepas gigitannya pada Paul. Dan berhasil, Paul langsung terduduk lemas. Luka di lengan dan lehernya lumayan parah.


Paul terbebas, giliran Ara yang ketakutan setengah mati. Jika Vampir lain, mungkin Ara mampu melawan. Tapi ini Erika. Temannya sendiri. Dia jelas tidak berani melukai Erika.


"Erika... ini aku, Ara. Kau ingat kan?" Ara berkata dengan bibir gemetar. Erika menggeram, mencium aroma darah Ara yang benar-benar menggoda.


"Erika..jangan lakukan itu. Ingat Ailee"


Begitu nama Ailee disebut, Erika langsung mengubah mimik wajahnya. Seperti tengah mengingat sesuatu.


"Kau ingat...Ailee, adikmu. Dia sedang menunggumu" Ara berjalan mendekat ke arah Erika.


"Ailee mencarimu dari tadi. Kita temui dia"


"Ara lari!" Teriakan Paul membuat Erika kembali ke mode Vampir. Dan "grab"....."aarrrghhh"....


Ara berteriak ketika Erika menggigit pundak Ara. Bersamaan dengan itu, satu kelebatan bayangan langsung memukul Erika.


"Yooonnnn" Satu suara terdengar. Dan satu sosok lagi langsung muncul. Menahan tubuh Erika. Yang seolah tidak merasa sakit karena pukulan Luis.


"Ara...kau tidak apa-apa?" Luis bertanya sambil memejamkan mata. Menahan diri karena aroma darah Ara yang masuk ke indera penciumannya yang tajam.


Ara menggeleng. Namun matanya tertuju pada Yoon yang tengah berusaha menahan Erika yang terus berontak dalam pelukan Yoon. Erika sendiri, entah mengapa jadi begitu marah begitu melihat Yoon muncul dihadapannya. Sedang Paul sudah tidak sadarkan diri. Terbaring lemaa di lantai kamar Erika.


"Aarrgghhhh"


Yoon berteriak ketika Erika berhasil menggigit lehernya. Seketika satu ingatan masuk ke dalam kepala Yoon.


"Aroma ini kenapa aku begitu familiar?" Batin Yoon sambil meringis menahan sakit meski tidak seberapa.


Beberapa waktu berlalu, akhirnya tubuh Erika melemas dalam pelukan Yoon. Bersamaan dengan Hans yang muncul disana.


"Kenapa kau lama sekali. Dia menggigit Yoon" Kesal Luis.


"Aku ada pasien. Nggak mungkin dong aku ngilang gitu aja. Nanti heboh dunia manusia. Yoon kena gigit. Biarkan saja. Itung-itung terapi. Yang aku mau tahu, yang nggigit siapa?" Jawab Hans santai.


"Kakak pasienmu yang ngigit" Luis menjawab kesal.


"Erika? Kakak Ailee? Dia Vampir?"


"Kau mau apa?" Tanya Luis ketika melihat Hans hendak merobek kemeja Ara. Membuat gadis itu langsung merapatkan tubuhnya pada Luis.


"Periksa dialah. Mau ngapain lagi?"


"Gak. Kau periksa mereka saja" Perintah Luis.


Hans mendengus geram. Lalu mendekat ke arah Paul. Memeriksa luka pria itu.


"Yang ini harus dirawat. Aku akan menghubungi temanku untuk menjemputnya" Hans berkata setelah melihat luka Paul.


"Kau kenapa Yoon?" Hans bertanya pada Yoon. Yang malah bengong menatap tubuh Erika di kasurnya.


"Aku yang menggigitnya" Jawab Yoon singkat.

__ADS_1


Membuat semua orang menatap tidak percaya pada Yoon. Inilah rahasia Yoon yang selama ini dia sembunyikan dari semua sahabatnya. Namun tidak dengan Luis. Pria itu tahu dengan jelas.


***


__ADS_2