
Tubuh Luis ambruk di samping Ara ketika dia selesai menggunakan Blue Firenya. Aiden sigap membantu Luis yang benar-benar terlihat lemah. Pun dengan Lucas. Keduanya mulai menyalurkan energi dalam untuk membantu Luis bertahan.
"Aku baik-baik saja" Luis berbisik lirih. Perlahan mulai bangun. Dipeluknya tubuh Ara yang masih saja tidak ingin membuka mata.
"Bangunlah....aku mohon" Bisik Luis di telinga Ara. Dia benar-benar di ambang keputusasaannya. Blue Fire adalah langkah terakhir yang dia ambil untuk menahan jiwa Ara.
Luis benar-benar terlihat lemah. Dia bukan lagi seorang pangeran Vampir yang dingin dan angkuh. Dia terlihat seperti pria yang tengah memohon untuk tidak ditinggalkan oleh kekasihnya.
"Ara...." Satu suara terdengar mendekat. Membuat Lucas langsung membulatkan matanya. Dilihatnya Asha berlari masuk ke aula itu dengan Jenderal Renra mengawal di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Lucas berucap marah. Bagaimana bisa Asha nekad menerobos masuk ke sini.
"Aku membawa ini" Asha menunjukkan sebutir berwarna merah seperti darah.
"Pil Pemulih Jiwa" Hans bergumam takjub. Salah satu obat paling mujarab di seluruh dunia. Baik dunia langit, atas, bawah bahkan dunia fana.
"Kenapa cuma satu. Kami perlu dua" Gerutu Hans.
Sementara Sherpa langsung melongo melihat Asha yang datang. Pun dengan Minze yang saat itu datang untuk membantu sang putra.
"Bibi Yunze...." Lirih Sherpa.
"Bagaimana mungkin dia masih hidup" Minze berucap tidak percaya.
"Dua? Tidak masalah" Jawab Asha lalu memejamkan matanya.
"Berhenti Asha, atau kau yang gantian ambruk" Aiden memperingatkan.
"Berikan saja pada Ara. Aku masih bisa bertahan" Luis meminta pada Asha.
"Justru kau yang lebih membutuhkan" Hans menatap tajam. Memberi kode pada Asha untuk memberikan pil itu pada Luis.
"Berikan pada Ara!" Luis tegas menolak.
"Kau lupa siapa Ara?" Yoon memperingatkan Luis.
"Luis...." Ara berbisik lirih dalam pelukan Luis.
"Kau lihat? Telan pilnya sekarang" Lucas memaksa.
"Tidak mau!" Pria itu hanya fokus pada Ara yang mulai membuka matanya. Pucat dengan bibir hampir membiru. Luis hampir gila melihat keadaan Ara.
"Kau bangun?" Luis semakin mengeratkan pelukannya pada Ara. Benar-benar merasa bersyukur. Gadis yang dicintainya masih bisa bertahan.
"Kau membuatku hampir gila, Ara" Gumam Luis pelan. Ara hanya tersenyum samar. Lalu melihat pada Sherpa yang hanya terdiam. Menatap ke arah dirinya.
"Telan ini dulu!" Hans kembali berteriak.
"Berikan pada Ara!"
"Aku tidak memerlukannya. Minumlah" Ara berucap lemah.
__ADS_1
Jenderal Renra sejak tadi tidak melepaskan pandangannya pada Sherpa.
"Kau mengenalnya?" Yoon bertanya. Renra sejenak menatap ke arah Yoon dan yang lainnya. Bisa dia lihat, jika tuan putrinya begitu bahagia saat bersama para Vampir ini. Namun pria seram itu tidak menjawab.
***
Sherpa kembali memuntahkan darah. Tubuhnya masih lemah. Meski energi dalamnya sudah pulih sepenuhnya. Sehari setelah kejadian pernikahan pria itu. Dia tidak menyangka jika Ara mampu melawan. Membuat mantra penghapus ingatan miliknya, menyerang balik dirinya.
"Merasa lebih baik?" Zhang masuk ke kamar Sherpa.
"Aku benar-benar tidak paham. Darah kami sudah menyatu. Tapi Love Stone tetap tidak meresponnya"
"Kau lupa dia Pure Blood? Dia memurnikan yang tidak dia inginkan. Menerima yang sudah dipilihnya. Aku tidak heran jika dia bisa menyerangmu balik. Sherpa, keduanya sudah terhubung sejak lama. Tidak akan mudah untuk memutuskan hubungan itu. Kau lihat sendiri hasilnya. Dia hanya membalikkan mantra penghapus ingatan dan kau bisa terluka cukup parah. Meski ya, kalian bertiga terluka"
Sherpa terdiam mendengar ocehan Zhang. Pria itu hanya bisa menarik nafasnya dalam. Saat dia memuntahkan darah kemarin. Satu ucapan masuk ke pikirannya.
"Kau sudah menolak jodoh yang sudah dikirim langit untukmu. Kau menyakiti hatiku begitu dalam. Maka dengarkanlah ini wahai Sherpa, raja dari dunia atas. Kau tidak akan pernah mendapatkan cinta yang kau inginkan dalam hidupmu. Sebelum aku bisa memaafkanmu. Dia yang kau inginkan akan melawanmu sampai akhir"
Sherpa memejamkan matanya. Ternyata kutukan itu masih berlaku untuknya. Saat dia begitu menginginkan Ara, dia tidak bisa memilikinya.
"Apa kau tahu kabar soal Nangmi?" Tanya Sherpa tiba-tiba.
"Sekarang baru kau ingat dia?"
"Jawab saja" Desis Sherpa.
"Dia mengasingkan dirinya ke gunung salju di selatan. Kau keterlaluan Sherpa"
"Ara bagaimana?"
"Tenang saja. Mereka akan merawat mantan calon ratumu itu dengan baik" Zhang menjawab enteng. Sherpa mendengus kesal mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Lalu Asha?"
"Dia ikut mereka pulang"
"Tidak mau tinggal di sini?"
"Buat apa? Menungguimu yang jelas-jelas mencelakai teman baiknya. Ogahlah dia" Cibir Zhang.
"Kau tidak ingin menyapa kakak sepupumu?" Luis berucap saat dia mulai merasa lebih baik. Dan ucapan pria itu membuat semua orang tercengang. Terlebih Lucas.
Asha langsung mengeplak Sherpa begitu dia tahu kalau pria itu kakak sepupunya. Diiringi umpatan dan makian yang langsung keluar dari putri raja Iblis itu.
"Beraninya kau mengganggu Ara. Kau tahu, hanya dia yang baik padaku. Membiarkanku tinggal di rumahnya ketika aku lari dari perjodohan gila yang Ayah sodorkan padaku. Tanpa dia bertanya siapa aku. Dari mana aku. Kau keterlaluan, Kak!" Caci Asha tanpa jeda.
Meski detik berikutnya, gadis itu memeluk Sherpa erat. Menumpahkan rasa rindu yang dia punya. Asha memang pernah mendengar, kalau dia punya seorang kakak sepupu yang tinggal di dunia atas. Tapi dia tidak pernah tahu kalau itu Sherpa.
"Dia tumbuh dengan baik. Cantik seperti ibunya"
"Juga berpotensi membawa konflik seperti ibunya"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Dia menjalin hubungan dengan Lucas Altemose. Satu dari teman Luis. Jenderal perang dari klan Vampir"
"Astaga" Sherpa langsung memijat pelan pelipisnya.
"Jika masalah intern antara dua bangsa itu tidak selesai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada keduanya"
Sherpa terdiam. Masalahnya dua bangsa itu terus berseteru tanpa alasan yang jelas sejak dulu lagi.
"Nah, minum ini dulu. Asha meninggalkannya untukmu. Dia bilang cepatlah sembuh, agar dia bisa menghajarmu"
"Sepupu laknat!" Umpat Sherpa. Meski di bibirnya terukir senyum tipis. Ara memang tidak mungkin dia miliki. Tapi setidaknya dia menemukan sepupunya kembali. Memenuhi wasiat bibinya untuk menjaga Asha.
Juga dia ingin menemui Nangmi. Dia pikir harus menyelesaikan semua. Entah dewi itu mau memaafkannya atau tidak.
***
Luis membuka matanya. Dia sudah kembali ke dunia fana. Kembali ambruk ketika mereka bisa menyeberang portal dari dunia atas.
Namun Hans dan yang lainnya sudah siap dengan kemungkinan terburuknya. Hingga persiapan sudah mereka lakukan sebelumnya. Ditambah pil pemulih jiwa dari Asha. Yang pada akhirnya diminumkan paksa pada Luis. Membuat kondisi Luis pulih dengan cepat. Kali ini Hans memastikan racun Sherpa sudah hilang sepenuhnya. Memastikan pria ular itu tidak lagi bisa mengancam jantung Luis.
"Ara..." Luis berucap lirih. Memanggil Ara, yang terakhir kali berada dalam gendongan Yoon. Sebab dirinya harus dipapah oleh Aiden dan Hans untuk berjalan.
"Jangan banyak bergerak" Suara Hans mengalihkan perhatian Luis.
"Di mana dia?"
"Di kamar sebelah. Aku perlu memberikan darah tambahan padanya. Untuk ukuran manusia dia memuntahkan darah cukup banyak"
Hans berjalan mendekati Luis. Mengulurkan sebutir pil kecil berwarna biru cerah. Tanpa bertanya, Luis langsung menelannya.
"Yang lain?" Luis bertanya. Perlahan bangun dari tidurnya.
"Jangan bergerak!"
"Aku sudah tiduran dari semalaman, Hans. Ini pegal semua. Sudah aku mau mandi"
"Dasar Vampir ngeyel. Tidak ingat apa, dia hampir bertemu dewa kematian kemarin. Bertemu Cerberus baru tahu rasa dia" Gerutu Hans.
"Evander Hans"
"Iya-iya, aku berhenti ngoceh. Tapi gak berhenti ngomel ya"
"Sama saja, Vampir jomblo" Ledek Luis dari kamar mandinya.
"Sialan!" Maki Hans keras.
****
Cerberus, anjing berkepala tiga. Penjaga dunia kematian. Menurut mitologi Yunani.
__ADS_1
***