
Lucas dan Asha hanya bisa saling pandang ketika wanita itu dijemput Jenderal Renra untuk pulang ke dunia bawah.
"Aku akan merindukanmu" Bisik Lucas melow.
Asha tersenyum mendengar pikiran Lucas yang terkirim ke kepalanya.
"Aku mencintaimu"
Giliran Lucas yang mengembangkan senyumnya. Benar-benar seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta. Penuh keuwu-an. Ara memeluk Asha sejenak. Begitupun Erika.
"Senang bertemu kalian. Aku harap kita bisa bersama-sama lagi suatu hari nanti" Asha berucap dengan mata berkaca-kaca. Terlebih saat menatap Ara. Orang di dunia manusia yang pertama kali menerimanya dengan tangan terbuka.
"Katakan pada ayahmu kalau besok kami akan berkunjung. Bangsa kita harus bicara" Luis berkata sambil menatap Jenderal Renra. Yang langsung mengangguk. Memberi hormat lalu undur diri.
"Sampaikan salamku untuk Paul" Asha berucap sebelum menghilang dari pandangan semua orang.
"Asha!" Lucas menggeram marah.
"Astaga Lucas. Paul bosnya" Seloroh Hans.
"Bodo!..Huwaaaa Hyung" Semua terbahak melihat lebaynya Lucas ditinggal Asha.
"Yang bungsu sebenarnya siapa sih. Kenapa dia yang kelakuan parah gara-gara ditinggal pacar" Gerutu Aiden.
"Yang jadi masalah itu apa?" Erika bertanya.
"Nggak bisa ketemu. Nanti kalau aku kangen gimana?" Adu Lucas.
"Beneran ya. Orang kalau jatuh cinta jadinya bego" Ara berseloroh menatap Luis tajam.
"Ada yang ngaku" Sahut Hans.
"Aku nggak ya" Bantah Ara.
"Dia deh kalau begitu" Hans menjawab sambil menunjuk Lucas. Tahu Ara sedang dalam mode singa marah.
"Susah di mananya? Kau tinggal muncul di hadapan Asha" Saran Ara. Yang langsung membuat Lucas melompat girang.
"Ara..apa yang kau lakukan?" Luis menahan tangan Ara. Ketika Ara hendak melangkah pergi.
"Apanya?" Ketus Ara.
"Idemu akan membuat Lucas nekad menerobos masuk dunia bawah. Sekarang itu akan memperburuk suasana antara klan kita dan ras Iblis"
"Klanmu bukan klanku" Tegas Ara.
"Astaga. Tidak habis lagi marah soal kemarin"
"Kau menganggap itu hal sepele. Bagiku itu hal besar. Batalkan!"
"Kau pikir ini duniamu. Menolak menikah bisa mengajukan pembatalan pernikahan. Sorry ya, ini bukan hukum dunia fana. Tapi hukum klan Vampir yang berlaku. Jadi jangan harap ada perceraian dalam pernikahan"
"Kau benar-benar tukang paksa!" Gerutu Ara.
"Ooo tukang paksa ya. Akan kutunjukkan apa itu tukang paksa" Luis langsung memanggul tubuh Ara di pundaknya. Membawanya masuk ke kamar.
__ADS_1
Yang lain langsung menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah pengantin baru yang tidak ada mesra-mesranya sama sekali.
"Turunkan aku, Luis!" Ara berteriak. Begitu mereka masuk ke kamar Luis. Yang sekarang menjadi kamar mereka.
"Turunkan!" Ara kembali berteriak. Kemudian Luis menurunkan Ara di kasurnya. Langsung mengungkung tubuh Ara.
"Mau apa?" Tanya Ara panik.
"Minta jatah"
"Dugh"...."Oughhh"...Luis meringis ketika Ara menekuk lututnya. Menyebabkan nyeri di perutnya.
"Baru juga ngomong belum in action. Sudah kena lutut saja" Gerutu Luis.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan"
"Katakan padaku...hal mana yang membuatmu marah. Karena aku memaksamu....atau karena aku tidak bisa seromantis dulu. Atau kau menginginkan grand wedding? Katakan"
"Aku tidak suka, kau tidak memberitahuku soal ini" Jawab Ara menatap bola mata Luis.
"Aku punya alasan untuk itu"
"Lihat...kau masih merahasiakan semuanya dariku. Kau bilang kita sudah menikah..."
"Kau mengakuinya?"
"Tidak...aku...mmpphhhhh....."
Suara Ara menghilang kala Luis mencium lembut bibir Ara. Langsung ********** tanpa aba-aba.
"Aku menyukainya" Bisik Luis sambil tersenyum. Lalu bangkit dari atas tubuh Ara. Mulai melepaskan kemejanya. Melemparnya sembarangan. Seketika tubuh sempurna Luis terpampang di depan mata Ara. Membuat gadis itu menelan salivanya susah payah.
"Kau tergoda ha?" Batin Luis penuh kemenangan.
"Aku harus kabur dari sini. Bisa khilaf aku jika satu kamar terus dengan vampir tukang paksa itu"
"Kau tidak akan bisa keluar dari kamar ini"
"Sial!" Ara memaki.
"Di larang memaki suami" Ara menggeram marah. Mendengar teriakan Luis dari kamar mandi. Alhasil dirinya hanya bisa tiduran di ranjang Luis. Berguling ke sana. Berguling ke sini. Hingga akhirnya tertidur tanpa sadar.
Luis hanya tersenyum. Ketika selesai membersihkan diri. Melihat sang istri sudah meringkuk di kasurnya.
"Jangan bertanya banyak hal padaku. Karena aku tidak akan sanggup untuk menjawabnya" Ucap Luis. Mencium lembut kening Ara. Lalu memasukkan tubuh gadis itu dalam pelukannya. Ikut memejamkan mata.
Sementara di dunia bawah. Sherpa menatap tajam pada Rakuten yang juga menatapnya tidak kalah tajamnya. Di antara mereka ada Asha yang terlihat tidak begitu bahagia berada di sana.
Menurut Asha, dunianya penuh dengan drama. Apalagi melihat Lupin dan Jia. Dua nama yang sangat dia benci di dunia bawah. Lupin, perdana menteri ras Iblis. Orang kepercayaan Rakuten, sang ayah. Dan Jia, selir kesayangan Rakuten. Ingin rasanya dia lari dari sana. Dadanya sesak menatap orang-orang yang menurutnya hanya bertopeng kepalsuan itu.
"Kenapa kau pergi begitu lama? Apa kau tidak tahu aku sangat merindukanmu" Jia berucap manis pada Asha. Yang langsung membuat Asha merasa ingin muntah.
Sherpa mengulum senyumnya. Mendengar semua umpatan Asha di kepalanya.
"Tapi aku tidak tu. Aku lebih suka berkeliaran di jalanan. Daripada terkurung di sini. Membosankan" Judes Asha.
__ADS_1
Jia mendelik mendengar jawaban frontal dari Asha. Ingin rasanya dia membalas. Tapi satu kode dari Lupin membuatnya diam.
"Ini pertemuan keluarga. Seharusnya kau tidak berada di sini" Rakuten berucap dingin pada Sherpa. Untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku hanya mengikuti wasiat Bibi. Aku sekarang yang akan menjaga Asha"
"Dia masih punya ayah yang bisa menjaganya. Juga seorang ibu"
"Tiri? Yang benar saja" Asha menjawab sambil memutar bola matanya jengah. Jia mengepalkan dua tangannya. Menahan amarah. Sejak dulu, Ashalah batu sandungannya dalam menggapai tujuannya. Karena itu, saat wanita itu dinyatakan meninggal. Jia senang luar biasa.
"Asha! Jaga ucapanmu!" Desis Rakuten.
"Kenapa? Yang kukatakan benar kan. Lagi pula kalau ayah benar-benar menyayangiku. Ayah tidak akan mengurungku. Atau menjodohkanku dengan pangeran au ah gelap. Entah dari mana itu" Gerutu Asha.
"Asha..."
"Alah sudahlah. Sudah tahu jadi begini. Masih juga aku mau di suruh pulang. Mending juga jadi koki. Lebih menyenangkan. Ayo Kak, temani aku" Asha menarik tangan Sherpa. Memberi hormat setengah meledek. Lalu pergi dari dari sana.
"Kau lihat! Putrimu sama sekali tidak menghargaiku. Dari dulu tidak berubah" Desis Jia. Namun masih bisa Asha dengar.
"Percepat saja pernikahannya dengan pangeran Ulsan" Saran Lupin.
"Kau dengar? Mereka semua hanya menjilat pada ayahku" Bisik Asha pada Sherpa.
"Dan sayangnya ayahmu menurut" Sherpa mengiyakan. Keduanya berjalan menuju istana barat. Di mana kamar Asha berada.
"Itulah kenapa aku tidak suka di sini" Keluh Asha begitu masuk ke kamarnya. Dan seorang pria langsung memeluknya.
"Lepas Runyu! Aku masih marah padamu!" Kesal Asha.
"Maafkan aku" Lirih Runyu.
Asha mengabaikan Runyu. Berjalan menuju ke jendelanya. Memandang pada pekatnya langit di dunianya. Baik siang maupun malam. Akan sama saja di dunianya.
"Pakailah ini" Sherpa memakaikan sebuah gelang di tangannya.
"Apa?"
"Hadiah dariku" Asha melihat gelang yang kini melingkar di pergelangan tangannya. Gelang berwarna biru dengan motif bunga lily.
"Aku benci berada di sini" Gumam Asha pelan. Sherpa menatap Asha bimbang.
"Akan kubuatkan sesuatu agar kau tidak bosan" Sherpa melambaikan tangannya. Dan sebuah ilusi berupa taman bunga muncul di depan jendela kamar Asha. Seolah depan kamar Asha adalah sebuah taman bunga.
"Waahhh, ini cantik sekali"
"Jika kau pandai. Ada sesuatu di dalamnya" Bisik Sherpa.
"Jangan bermain teka teki denganku"
"Tidak. Hanya memberimu sebuah petunjuk"
Ucap Sherpa, lagi-lagi penuh misteri. Dengan senyum tipis terulas di bibir Sherpa.
"Jadilah pandai. Dan kau akan temukan jalan untuk bisa menemuinya"
__ADS_1
***