Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Kedatangan Sherpa


__ADS_3

Makhluk maut yang tak terhitung jumlahnya sudah berdiri di belakang Lupin. Bersiap menunggu perintah dari pria itu. Sejenak Luis bertukar pandang dengan yang lainnya. Terlebih Lucas. Yang paling penting mengeluarkan Rakuten, Asha dan Ara dari sana. Sebab kemungkinan paling buruk adalah perang terbuka antara makhluk maut dan tentara Vampir yang sudah siap di belakang mereka.


"Aku tidak mau pergi. Keluarkan Asha dan ayahnya" Ara berucap di belakang Luis. Yang langsung protes. Keadaan bisa menjadi di luar kendali. Mereka jelas tidak bisa hanya fokus pada Ara.


"Aku bisa melindungi diriku sendiri" Tegas Ara.


"Ara...bisa tidak sekali saja kau menurut padaku" Mohon Luis.


"Haissshhh kenapa jadi drama rumah tangga begini sih" Gerutu Yoon.


"Ara...."


"Tidak mau dengar" Ara menutup telinganya rapat-rapat. Hingga Aiden dan Yoon yang berusaha membujuk langsung angkat tangan.


"Oke kalau begitu. Tapi jangan menangis kalau terluka" Luis memperingatkan istri keras kepalanya itu. Ara langsung cemberut mendengar ucapan pedas Luis.


"Alah yang terluka siapa. Yang nangis siapa" Ledek Hans. Yang langsung mendapat acungan jempol dari yang lain.


Sementara di depan sana, Lupin langsung menyeringai. Dia sudah lama mencari dan menanti. Pure Blood legendaris yang sangat terkenal itu. Tanpa dia sangka. Hari ini dia datang sendiri kepadanya. Sebuah rencana licik sudah dia persiapkan.


"Bagaimana? Sudah selesai berundingnya. Bisa kita mulai permainannya" Lupin berucap. Satu kode darinya. Dan pasukan makhluk mautnya langsung maju menyerang Luis dan kawan-kawan.Tanpa memperdulikan kalau pihak lawan siap atau belum.


"Brengsek!" Luis mengumpat kesal. Yoon dengan cepat membawa Asha dan Rakuten keluar dari sana. Lucas langsung memberi komando pada pasukan Vampir yang sudah sedia di posisi masing-masing.


Makhluk maut tercipta dari api. Sedang Vampir lebih kepada makhluk malam yang sangat suka pada gelap. Nggak nyambung kalau dijadikan satu. Apalagi Vampir takut pada benda panas. Bisa terbakar mereka nanti. Tapi mau bagaimana lagi. Perang terbuka dan kontak fisik sudah tidak bisa dihindari lagi. Akhirnya bertempur cara primitiflah yang terpaksa mereka tempuh. Saling memukul. Menendang atau apapunlah. Yang penting lawan bisa rubuh tidak bangun lagi.


Hanya saja Vampir lebih bisa berpikir menggunakan otaknya. Dibanding Tera and the genk yang hanya mengandalkan kekuatan fisik. Alhasil di lima belas menit pertama. Pasukan Tera and the genk sudah habis separuhnya. Lucas menyeringai puas. Sebab dia melatih pasukannya, bukan hanya keterampilan fisik tapi juga keterampilan memakai otak. Dan ini sangat efektif.


Di pihak lawan, Lupin menggeram marah. Dia kehilangan separuh pasukan yang susah payah dia kumpulkan sejak lama. Hingga dia berdiri. Menantang Luis untuk duel satu lawan satu. Seolah paham. Luis pun menerima. Meski Aiden dan Yoon menawarkan diri untuk menggantikan dirinya.


"Tidak, kali ini biar aku yang menghadapinya" Luis melayang. Menatap ke arah Ara, tersenyum lalu mulai terbang menuju tempat Lupin. Melihat itu Lupin menyeringai penuh arti.

__ADS_1


Di tengah hiruk pikuk pertempuran dua makhluk beda bentuk. Tera yang kata Ara jelek dengan pasukan Vampir yang notabene susah banget matinya. Melayang di tengah pekatnya malam dunia bawah. Luis dan Lupin saling berhadapan.


"Apa kau tidak mau bertanya kenapa aku melakukan ini?" Lupin bertanya pada Luis. Sikap santainya membuat Luis curiga. Sebuah pesan dia kirim kepada Yoon. Yang sudah kembali dari mengantar Asha dan Rakuten keluar dari sana. Sebab pria itu yang paling peka pada aura Ara.


Yoon seketika merapat ke arah Ara. Yang di luar dugaan mampu bertarung dengan baik melawan makhluk maut di hadapannya. Yang lain juga tengah sibuk dengan perlawanan masing-masing.


"Kau benar-benar memenuhi kriteria ratu vampir yang kami cari" Yoon memuji setelah melesatkan sebuah sihir penghancur ke arah Tera yang berada di belakang Ara.


Wanita itu hanya nyengir mendengar pujian kakaknya itu. Mereka berdua beradu punggung untuk saling menyerang makhluk maut yang melawan mereka tanpa lelah.


Sementara di atas mereka. Dua cahaya berwarna biru dan hitam. Saling menyambar. Saling berbenturan satu sama lain. Saking cepatnya Luis dan Lupin saling menyerang.


"Ajari aku mantra penghancur" Pinta Ara. Yoon dengan cepat mengirimkan mantranya ke kepala Ara. Dan "booom" Tera di hadapan Ara meledak dan hancur berkeping-keping.


"Kau hebat, Ra!" Hans berteriak girang sambik duduk di atas pundak seorang makhluk maut. Satu putaran dan "krek". Leher makhluk maut itu patah. Hans melompat turun. Meninggalkan Tera yang ambruk di belakang Hans.


"Itu keren, Hans!" Puji Ara dengan wajah takjubnya.


"Aarrgghhhh" Luis memegang dadanya. Dia tidak terkena serangan Lupin sama sekali. Tapi kenapa dadanya sakit sekali.


Hingga kemudian dia menatap Lupin yang tersenyum penuh kemenangan.


"Kau...ahh salah kalian masuk jebakanku" Lupin melayang turun. Meninggalkan Luis yang menyusul Lupin turun dengan cepat. Ketika dia sampai di bawah. Sesuatu yang kuat langsung mengikat tubuhnya. Hal yang sama juga terjadi pada yang lain. Tanpa mereka sadari, mereka semua masuk ke dalam perangkap diagram pengikat jiwa.



Kredit Pinterest.com


Mereka berlima berdiri tepat di ujung lima sudut dari diagram berbentuk bintang itu. Berusaha melepaskan diri dari ikatan tidak kasat mata yang menjerat tubuh kelimanya. Diagram itu perlahan akan membakar tubuh mereka yang terperangkap di dalamnya.


Ara jelas berteriak panik. Melihat semuanya tampak tersiksa dengan ikatan tidak nampak itu. Dia baru akan menuju Luis. Ketika Lupin tiba-tiba muncul di hadapannya.

__ADS_1


"Halo, Yang Mulia Ratu Klan Vampir..."


Ara memundurkan dirinya. Menjauh dari Lupin.


"Ara...larilah!" Luis berteriak. Tubuhnya semakin lemah. Menahan sihir dari Lupin juga melawan jerat tidak terlihat itu. Sama seperti yang lain.


"Kalian bodoh! Lengah" Cemooh Lupin. Ara Mendekat ke arah Luis. Mencoba melepas ikatan di tubuh suaminya. Tapi tidak bisa. Hingga kemudian satu tarikan menarik Ara. Hingga membawa tubuh Ara berada dalam cekalan Lupin. Saat itu Jia ikut masuk ke diagram itu.


Menatap kagum pada Luis. Jelas wanita itu tertarik pada si raja Vampir.


"Kau menginginkannya?" Tanya Lupin mengejek pada Jia.


"Aku bosan dengan kalian. Bagaimana jika aku mencoba bermain dengan Vampir tampan itu. Meski sebenarnya aku tertarik padamu" Jia melirik Lucas yang langsung meludah di hadapa Jia.


"Kami tidak bermain dengan barang bekas!" Sarkas Luis. Yang langsung memejamkan matanya. Kala jerat tak terlihat itu serasa membakar dirinya.


Ara berteriak. Ingin membantu Luis. Tapi Jia menarik rambut Ara. Membuat gulungan rambut Ara terlepas. Rambut panjang Ara tergerai lepas. Menebarkan aroma tubuhnya yang benar-benar menggoda.


"Kau ambil dia dan aku ambil ini. Setelah puas bermain akan kuhisap darahnya sampai habis" Lupin berkata sambil menatap lapar pada Ara. Mencekal lengan Ara. Membuat wanita itu meringis.


"Berani kau menyentuhnya!" Ancam Luis. Yang lain mulai berkonsentrasi melepaskan diri. Namun belum sempat jerat itu lepas. Lupin yang tidak dapat menahan diri. Langsung menyibak rambut Ara. Bermaksud ingin menghisap darah wanita itu.


Hingga tiba-tiba satu cahaya berwarna putih melesat cepat. Menghantam tubuh Lupin, yang langsung terpental ke belakang.


"Kau ini lemah sekali!" Ejek suara itu.


"Kau....


Ara terdiam menatap Sherpa yang berdiri di depannya. Pun dengan pria ular itu. Sungguh dia tidak memungkiri jika rasa cinta untuk Ara masih ada di hatinya.


****

__ADS_1


__ADS_2