Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Sudah Dimulai


__ADS_3

Ara berdiri di dekat jendela. Menatap istana Sherpa yang melayang di atasnya. Wanita itu kini berada di istana pria ular itu. Setelah beberapa waktu lalu, pria itu menjemputnya. Dengan status raja dari dunia atas, Sherpa mampu menembus masuk ke kastil Putih. Mengancam akan menghancurkan tempat itu, Ara terpaksa ikut dengan Sherpa.


"Kau tahu dengan jelas, dirimu dan suamimu berbeda. Dengan keadaan kalian. Mustahil kalian bisa bersama." Sebuah ucapan dari Maggie kembali terngiang di telinga Ara.


"Istirahatlah dulu. Nanti akan kuantar kau turun. Aku mencoba menghubungi Luis tapi tidak ada jawaban dari tadi." Suara Sherpa terdengar di belakang Ara. Wanita itu berbalik dan dilihatnya Sherpa yang berdiri di hadapannya. Di sampingnya, terlihat Nangmi yang menatap Ara penuh selidik.


"Kau bilang dia manusia, tapi kenapa di punya wangi surgawi." Bisik Nangmi, yang akhirnya mengakui kalau Ara benar-benar cantik. Pantas saja, dulu Sherpa sempat tergila-gila pada wanita ini.


"Aku tidak tahu soal itu. Yang jelas dia memang masih manusia sàat ini. Luis belum mengubahnya." Balas Sherpa berbisik.


"Antarkan aku pulang sekarang. Dia pasti cemas dari kemarin aku menghilang." Ara berjalan menuju Sherpa dan Nangmi.


"Kau punya dewi secantik ini, tapi masih nguber yang lain. Kau payah Sherpa!" Maki Ara begitu melihat Nangmi yang dia anggap sangatlah cantik. Sherpa langsung mendelik mendengar makian Ara. Sedang Nangmi langsung melongo melihat keberanian Ara.


"Inilah, yang membuat wanita ini berbeda." Gumam Nangmi yang akhirnya tersipu malu. Mendengar pujian Ara.


"Itu kan kemarin, waktu itu aku masih...."


"Gila!" Potong Ara cepat.


"Kau ini benar-benar ya...tidak pernah berubah. Aku heran, bagaimana Luis bisa tahan dengan mulut menyebalkanmu itu." Sherpa balik memaki.


"Aku menyebalkan hanya pada mereka yang pantas dibuat sebal." Ara menjawab enteng. Dan Sherpa hanya bisa mengatupkan rahangnya. Menahan amarah yang selalu mencuat kala menghadapi Ara.


"Dewi cantik, harap kau bersabar ya menghadapi ular plin plan ini." Ara berkata pada Nangmi yang hanya bisa. mengulas senyum tipisnya. Melihat Sherpa yang tidak berkutik menghadapi keisengan Ara. Hingga kemudian sebuah keributan terdengar dari arah luar.


"Tetaplah di sini." Sherpa berkata pada Nangmi dan Ara. Pria itu melesat keluar dari kamar Ara.


"Apa yang terjadi?" Ara bertanya. Dan Nangmi menggeleng tidak tahu.


"Apa yang kalian lakukan?" Sherpa bertanya marah. Melihat beberapa pengawalnya jatuh bergelimpangan di lantai.


"Hanya sedikit membuat keributan." Seorang anak buah Krum menjawab.


"Kalian tidak boleh membuat onar di sini! Ini bukan dunia kalian!" Marah Sherpa. Tanpa dia tahu, dengan kemarahannya itu, dia membuat kesalahan. Di kamar Ara, dua wanita itu langsung terdiam ketika sebuah ketukan terdengar di pintu. Merasakan sebuah bahaya. Nangmi mencegah Ara membuka pintu. Keduanya baru saja memulai percakapan mereka. Langsung menjadi akrab, sebab Nangmi tahu. Ara wanita baik.


Tubuh Nangmi langsung terlempar begitu pintu ia buka.


"Dewi, kau tidak apa-apa?" Ara panik melihat Nangmi yang kesakitan.


"Larilah, cepat!" Nangmi baru saja akan membuka portal dunia langit ketika tiba-tiba wanita itu merasa tercekik di lehernya.


"Sudah cukup main kucing-kucingannya. Kau tidak akan bisa mengirimnya ke manapun." Sebuah suara yang begitu dingin dan mengerikan terdengar dari arah pintu.

__ADS_1


"Krum! Lepaskan dia!" Ara berteriak. Melihat Nangmi yang terlihat kesulitan bernafas.


"Lari.....A..ra...".Ucapan Nangmi tersengal. Dewi itu mulai kehabisan nafas.


"Krum lepaskan dia!" Ara berteriak. Menatap marah pada kakak iparnya itu.


"Tentu saja....Krum melepaskan cekikannya pada Nangmi....tapi ada syaratnya!" Ara seketika merasakan tarikan pada tubuhnya yang membuat Ara perlahan mendekat pada Krum.


"Lepaskan aku!" Ara berteriak begitu dia berada dalam cekalan Krum. Nangmi yang tersengal berusaha menolong. Tapi dia kembali terjatuh ketika sebuah gelombang kekuatan menghantam tubuhnya.


"Berhenti menyakitinya!" Ara kembali berteriak. Terus meronta.


"Maka menurutlah. Jangan melawan!" Desis Krum di telinga Ara. Seketika tubuh Ara melemas dengan kesadarannya yang mulai menghilang. Nangmi jelas panik melihat Ara.


"Jangan khawatir Dewi, aku hanya menidurkannya. Kau tahu kan dia begitu manis kalau tengah tertidur." Krum menyeringai menatap Nangmi yang meringis karena tubuhnya terasa sakit semua.


Krum berjalan keluar dari istana Sherpa dengan Ara dalam gendongannya. Tidak memperdulikan kegaduhan yang dibuat oleh anak buahnya. Melayang lalu menghilang dalam pekatnya malam.


Bersamaan dengan itu, Luis dan yang lainnya muncul di sana. Amarah langsung membuncah begitu melihat anak buahnya yang membuat onar di istana Sherpa.


Satu gerakan menyapu dari Luis. Seluruh tentara Vampir langsung terjungkal tanpa terkecuali.


"Di mana dia?" Luis bertanya pada Sherpa.


"Ini hanya pengalihan!" Luis dan Sherpa berteriak hampir bersamaan. Perlahan memapah tubuh Nangmi untuk duduk.


"Aku tidak menemukan ke mana dia membawanya." Lucas melapor.


"Sial!" Luis memaki saking marahnya.


"Sudah di mulai" Maggie berucap sendu. Dari jendela di Kastil Putihnya, dia menatap awan yang bergerak di atas bangunan megah itu. Seakan awan itu adalah pembawa berita untuknya.


"Semoga dia paham dengan apa yang harus dilakukannya, Lucas Altemose Verona." Gumam Maggie. Cairo tiba-tiba menyeruak masuk ke tempat itu.


"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya?" Cairo bertanya dan Maggie menggeleng.


"Biarkan semua berjalan seperti apa yang seharusnya terjadi. Meski akan ada korban yang jatuh..."


"Apa akan ada yang mati?" Cairo memotong ucapan nenek Maggie.


"Hidup dan mati semua makhluk sudah ada ketentuannya. Termasuk aku." Maggie berucap sendu. Jika ini berakhir, dia juga tahu waktunya akan datang.


"Maggie,...."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah terlalu lama hidup. Bosan tahu." Canda Maggie membuat Cairo tersenyum kecut.


"Jadilah bijaksana." Satu pesan dari Maggie sebelum wanita itu kembali menatap langit di atas kastilnya.


***


"Aku menemukannya." Kali ini Nangmi yang bersuara. Semua menatap ke arah dewi bunga.


"Dia punya aroma surgawi di tubuhnya. Aku tidak tahu itu dari mana. Tapi kau juga memilikinya." Nangmi menatap pada Luis.


"Aku?" Luis menunjuk dirinya sendiri. Dan Nangmi mengangguk.


"Siapa kau sebenarnya?" Hans bertanya heran.


"Itu tidak penting sekarang. Sekarang beritahu aku. Ke mana si brengsek itu membawanya?" Potong Luis cepat.


"Dia membawanya ke..."


Ara terbangun ketika dia merasakan dingin di tubuhnya. Rupanya dia berbaring di atas batu yang berbentuk menyerupai tempat tidur. Melihat ke sekelilingnya. Di atasnya nampak sebuah patung besar. Sangat besar hingga dia tidak tahu wajah dari patung itu.


"Di mana aku?" Ara bergumam sambil mengusap belakang kepalanya. Sedikit sakit. Mungkin karena dia terlalu berbaring di atas batu besar itu. Melihat pada dirinya. Kenapa dia sekarang memakai gaun. Bukannya sejak kemarin dia memakai celana panjang. Bahkan Cairo pun memberikan ganti celana panjang dan kemeja padanya.


"Kau bangun?" Satu suara terdengar di depan Ara. Krum, melangkah keluar dari kegelapan. Sejenak menatap Ara yang cukup terkejut melihat dirinya.


"Apa yang kau lakukan padaku," tanya Ara. Turun dari kasur batu itu.


"Tidak ada, atau setidaknya belum." Melihat ke atas, di mana atap tempat itu berbentuk kubah. Dengan material kaca. Membuat bulan terlihat jelas di atas mereka.


"Malam bulan purnama." Ara bergumam.


"Kau tahu, tapi malam ini bukan purnama biasa. Ini bulan purnama merah. Hal yang jarang terjadi" Krum menatap pada Ara.


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan membawaku ke sini?"


Krum mendekat ke arah Ara yang langsung memundurkan langkahnya. Tapi pria itu langsung mencekal tangan Ara. Satu tangannya mencengkeram dagu adik iparnya itu.


"Sakit Krum!" Ara berbisik dengan satu tangannya yang bebas. Menahan tangan Krum.


"Kau masih bertanya, apa yang ingin kulakukan? Tentu saja menghisap darah murni yang mengalir dalam tubuhnya. Hingga aku punya kekuatan untuk melenyapkan Luis, suamimu." Jawab Krum penuh penekanan.


"Tidak! Kau tidak boleh melenyapkannya." Ara menggelengkan kepalanya.


"Tapi sayangnya itu akan terjadi malam ini." Kruma menatap mata adik iparnya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2