
Ara langsung meringis, begitu taring Krum terbenam di leher Ara. Tindakan tiba-tiba Krum membuat Ara terkejut. Sontak berusaha melawan. Tapi Krum sudah siap dengan cekalannya. Membuat sekuat apapun Ara melawan. Tetap tidak ada gunanya.
"Darahmu benar-benar berbeda." Krum melepaskan gigitannya dari leher Ara. Sesaat Krum menikmati rasa manis dari darah Ara yang masih terasa di tenggorokannya. Menatap wajah pucat Ara. Yang terbaring lemah di atas batu.
"Kau brengsek!" Maki Ara lirih. Bukannya marah. Krum malah tersenyum.
"Makilah aku sepuasmu. Karena kini aku punya kekuatan yang sepadan dengan Luis." Krum menyeringai puas. Saat itulah, Krum merasakan gelombang kekuatan datang ke arahnya. Dengan sigap, Krum mengangkat tangannya. Dan sebuah sihir pelindung langsung terbentuk. Melindungi dirinya dan Ara.
"Boooom!" Kekuatan yang menyerang Krum, pria itu lemparkan ke dinding. Sejurus kemudian, pria itu melompat mundur. Kala Lucas menerjang Krum dengan pedangnya.
"Ara....!" Luis langsung memeluk tubuh Ara yang lemah. Ada rasa lega dan marah yang menjadi satu dalam pelukan Luis. Ara sendiri malah sudah menangis dalam pelukan Luis.
"Maafkan aku, maafkan aku" Lirih Ara. Luis menggeleng. Mendengar permintaan maaf Ara. Dia tahu maksud dari ucapan Ara.
"Brugh" Lucas terjatuh setelah menghantam dinding di sebelah Ara. Kali ini Aiden dan Yoon yang menyerang Krum secara bersamaan.
"Kalian sukanya main keroyokan!" Cemooh Krum dari ketinggian. Menatap Aiden dan Yoon dengan tatapan mengejeknya. Sementara Hans mulai memberikan pertolongan pada Ara. Wanita itu masih bersandar di dada Luis.
"Minum ini." Hans memberikan sebutir kapsul. Yang langsung ditolak Ara.
"Kapsul lagi, pil lagi. Besok buat yang sirup. Manis." Ara menutup mulutnya. Ada rasa tidak nyaman di perutnya.
"Kau ini sudah lemah masih saja ngeyel. Minum!" Hans merasa gemas dengan Ara. Dengan keadaannya sekarang, masih bisa mengatakan yang tidak-tidak. Sementara Lucas nampak meringis setelah bisa bangun dari jatuhnya.
"Sial!" Umpat pria itu. Melihat ke arah Aiden dan Yoon yang menyerang bergantian ke arah Krum.
"Dia bukan Krum yang dulu lagi." Aiden berkata setelah Krum berhasil memukul dadanya. Bisa mereka lihat kini Yoon yang meronta setelah Krum mencekik leher pria vampir itu. "Gubrak." Tubuh Yoon langsung tidak bergerak. Saat Krum melemparnya lalu menghantam patung di atas Ara.
"Yooon...."Aiden berlari ke arah Yoon. Memeriksa keadaannya.
"Sudah cukup. Pertarungan ini antara kau dan aku. Jangan melukai orang lain." Luis berdiri. Melepaskan cekalan tangan Ara. Tidak peduli pada tatapan penuh permohonan dari sang istri.
Krum menyeringai puas. Melihat Luis sendiri yang akan bertarung dengannya.
"Mari kita lakukan ini cepat." Krum berkata sambil mengambil posisi menyerangnya.
"Tentu, mari selesaikan semua. Aku atau kau yang akan mati malam ini." Balas Luis cepat. Tak berapa lama. Dua cahaya berwarna biru dan hitam sudah saling menyambar satu dengan yang lainnya. Mereka melayang jauh di angkasa malam. Menghancurkan kaca yang menjadi atap kubah bangunan itu.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" Ara bertanya cemas. Yang lain juga sama cemasnya dengan Ara. Sebab Lucas, Aiden dan Yoon sudah merasakan kalau kekuatan Krum telah meningkat pesat. Bisa saja jika saat ini kekuatan Krum sudah diatas Luis.
"Kau harus membalas apa yang sudah ibumu lakukan pada ibuku!" Krum berteriak marah sambil melemparkan sebuah bola api berwarna hitam.
"Black Fire?" Hans bertanya.
"Bukan. Itu bukan Black Fire." Yoon menjawab. Pria itu terlihat kesakitan. Yoon terus saja memegangi dadanya.
"Ibuku tidak pernah melakukan apapun pada ibumu!" Balas Luis cepat. Balik menyerang Krum dengan kekuatannya. Kembali keduanya terlibat duel tangan kosong. Saling memukul dan menendang. Suasana benar-benar sangat menegangkan.
"Lakukan sesuatu!" Ara berteriak. Tapi yang lain hanya diam saja.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Lihatlah ini." Lucas berjalan menjauh dari mereka dan seketika membentur sebuah dinding tidak terlihat.
"Luis membuatnya agar kita tidak ikut bertarung membantunya." Terang Aiden.
"Braakkkk!" Tubuh Luis jatuh berdebum tepat di hadapan mereka. Saking kerasnya benturan. Hingga sebuah cekungan terbentuk di sana.
"Luis!" Hampir semua berteriak bersamaan. Melihat tubuh Luis yang terluka. Namun pria itu hanya tersenyum tipis. Perlahan bangkit lalu menatap penuh kebencian pada Krum yang melayang turun. Lalu berhenti di ketinggian dua meter dari tempat Luis berdiri.
"Luis! Krum! Hentikan! Kalian akan terluka jika terus bertarung!" Ara berteriak. Menatap penuh permohonan pada dua kakak beradik itu.
"Kau pikir aku mau berpisah denganmu.....Aarrgghhhh"
"Luis!" Semuanya jelas terkejut melihat Krum yang kini mencekik leher Luis.
"Kau tahu...kelemahan semua makhluk adalah cinta. Kau lengah saat memikirkan orang yang paling kau cintai" Cemooh Luis.
"Kau salah....karena kau tidak pernah merasakan apa itu cinta. Maka kau tidak tahu jika cinta juga bisa memberikan kekuatan yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya." Luis menjawab setengah tersengal.
"Persetan dengan cinta! Yang aku tahu saat ini kau akan mati di tanganku." Sebuah cahaya hitam perlahan terbentuk di tangan Krum. Cahaya itu memanjang hingga akhirnya membentuk sebuah pedang.
"Tidak! Dia mengeluarkan Black Swordnya." Aiden dan yang lainnya langsung menatap panik. Apalagi Ara. Wajahnya sudah pucat dengan tubuh lemas.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian Krum." Ara berpikir cepat. Hingga kemudian dia melihat pisau di tangan Hans.
"Apa yang kau lakukan?" Hans terkejut juga panik. Melihat Ara langsung melukai nadinya. Darah seketika mengalir dari luka itu. Dan yang paling terpengaruh dengan aroma darah Ara adalah Krum.
__ADS_1
"Ara kau gila!" Lucas berteriak. Menarik Ara mundur ke belakang tubuhnya. Saat Krum mendekat, setelah melemparkan tubuh Luis.
"Setidaknya aku berhasil mengalihkan perhatiannya." Bisik Ara.
"Kau ingin aku menghisap lagi darahmu?" Tanya Krum. Satu sabetan dari Black Sword langsung membuat dinding pelindung yang Luis buat, hancur berkeping-keping.
"Menjauh darinya, Krum!" Aiden dan yang lainnya langsung membuat barikade perlindungan untuk Ara. Namun lagi-lagi, kekuatan Krum yang sudah meningkat drastis. Membuat Aiden, Hans dan Yoon langsung terpental ke samping. Dengan sakit yang luar biasa di dada masing-masing.
Kini ujung pedang Krum sudah berada di pangkal leher Lucas.
"Menyingkir atau akan kubuat istrimu berpisah denganmu!" Ancam Krum.
"Krum hentikan!" Ara berteriak di belakang Lucas.
"Bunuh saja aku!" Desis Lucas tanpa takut. Krum jelas senang mendengar ucapan Lucas. Pedang itu sudah melukai leher Lucas. Hampir memutuskan nadi di leher Lucas. Ketika Ara berteriak. Membuat cahaya biru menguar dari tubuhnya. Menghantam tubuh Krum. Hingga tubuh pria itu terpental jauh. Membentur dinding di seberang ruangan sana.
"Lucas....Lucas..bangunlah. Bertahanlah." Ara berucap panik. Menaikkan kepala Lucas ke atas pangkuannya.
"Aku tidak a..apa-apa."
"Jangan berbicara dulu."
Ketiga pria itu lalu menyalurkan energi dalam mereka untuk membantu Lucas.
"Tidak ada gunanya." Yoon berbisik pelan. Black Sword adalah pedang pembunuh bagi bangsa Vampir. Sekali kau terkena pedang itu. Sulit untuk bisa lolos dari yang namanya kematian.
"Aku cukup senang berada di antara kalian." Lucas berucap lirih. Dia dan Ara sudah sama-sama menangis.
"Lucas..."
"Jangan menangisiku. Asha saja tidak menangis saat aku tinggal. Biarkan aku tidur...sebentar saja."
"Lucas...jangan tutup matamu. Tetaplah sadar." Hans berteriak di telinga Hans.
"Lakukan sesuatu Hans!" Aiden berteriak. Hingga kemudian, bukan Hans yang bergerak, tapi Ara. Luka di nadinya sudah menutup. Wanita itu menggigit ujung jarinya. Lalu meneteskan darah yang keluar dari ujung jarinya ke dalam mulut Luis.
"Ara....hentikan!" Hans mencegah Ara. Namun wanita menolak menghentikannya. Sebuah doa dia minta pada darahnya sendiri.
__ADS_1
"Aku mohon selamatkan Lucas. Berikan dia kehidupan yang bahagia. Juga berģuna untuk yang lainnya."
***