
"Jangan melamun" Perkataan Lucas hampir membuat Ara berteriak. Saking terkejutnya.
"Bikin kaget saja" Gerutu Ara. Lucas terkekeh mendengar gerutuan Ara.
"Sudah gelutnya. Tidak baik suami istri bertengkar lama-lama"
"Aku marah padanya. Bukan ngajakin gelut" Kilah Ara.
"Itu sama saja, Yang Mulia"
"Jangan memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu. Aku tidak pantas"
"Lalu siapa yang pantas. Dia memilihmu sejak dulu lagi. Tidak tahu jika kalian akan jadi raja dan ratu klan Vampir"
Ara terdiam. Dia sungguh tidak ingin menjadi ratu atau apapun itu. Dia hanya ingin hidup biasa-biasa saja. Damai tanpa acara perang atau perselisihan atau pertengkaran dan sebagainya.
"Kau tahu dia sangat mencintaimu. Sejak dulu. Aku ingat ketika Paman membawanya pulang ke Black Castel untuk pertama kalinya. Tidak bicara. Tidak makan, tidak minum. Kehilanganmu membuat separuh jiwanya hilang" Kenang Lucas menatap indahnya langit malam di atas mereka.
Ara kembali terdiam.
"Jangan bertengkar lagi. Kalian sudah tahu rasanya berpisah. Tidak enak sama sekali. Demi kau dia menerima tawaran Paman untuk naik menjadi pemimpin klan"
"Aku tidak meminta dia melakukan itu, Lucas" Ara hampir menangis saat mengatakan hal itu.
Sungguh dia tidak ingin Luis melakukan hal yang tidak sukai hanya demi dirinya. Dia merasa dirinya tidak cukup berharga untuk mendapat semua pengorbanan Luis.
"Tapi dia ingin melakukannya untukmu. Apapun..."
Ara berjalan gontai saat naik ke kamarnya. Dia sama sekali tidak bisa membantah saat Luis mengharuskannya tinggal di rumah utama sejak mereka menikah.
"Dengan keadaannya sebagai Pure Blood kau seharusnya tahu akan banyak yang menyerangnya dan menginginkannya. Kau harus menerima perlindungan ekstra. Kau tahu dengan jelas kalau menikahinya berarti kau menjadi tameng untuknya" Terdengar suara Hans bersamaan dengan suara ringisan Luis.
Ara langsung menutup mulutnya. Melihat luka membiru di dada Luis. Yang kini tengah diobati Hans. Ara memundurkan langkahnya.
"Pure Blood? Tameng untukku? Apa artinya itu?" Batin Ara penuh tanya.
***
"Kau menemukan sesuatu?" Hans bertanya pada Yoon. Keduanya sudah berada di wilayah dunia bawah. Tempat para tentara ras Iblis terbunuh.
"Lihatlah?" Yoon menyentuh tangan Hans. Dan sebuah visual langsung berputar di kepala Hans.
"Dasar biang kerok" Gumam Hans setelah melihat visual dari Yoon.
"Dia bukan hanya biang kerok. Tapi monster mengerikan" Maki Yoon.
"Hei, kita juga monster penghisap darah" Kekeh Hans.
__ADS_1
"Setidaknya kita tampan" Narsis Yoon.
"Waahh sejak kapan kulkas ini mendadak narsis. Apa karena Erika" Goda Hans.
"Diam kau!" Hans malah tertawa ngakakk melihat Yoon kesal.
***
"Ada apa kau memintaku bertemu secara pribadi?" Rakuten bertanya. Dia terlihat tidak suka. Sebab Asha jelas menipunya. Berpura-pura mengajaknya jalan-jalan. Namun ternyata dia diajak bertemu Luis. Terlebih ada Lucas di sana.
"Ini soal kesalah pahaman di antara bangsa kita. Dengarkan aku. Masalah ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan bangsa kami. Mereka sengaja menciptakan rumor untuk membuat seolah kami bermasalah dengan bangsamu" Luis berucap tenang.
"Maksudmu ada orang dalam bangsa kami yang berkhianat atau tidak suka jika bangsa kita berhubungan baik?"
"Lebih kurang seperti itu?"
"Apa kau tahu orangnya?" Rakuten balik bertanya.
"Hans dan Yoon sudah menyelidiki tempat terbunuhnya para tentaramu. Dan ini hasilnya"
Sebuah visual langsung terkirim ke pikiran Rakuten. Sejenak pria itu terdiam. Detik berikutnya wajah Rakuten langsung berubah mengerikan.
"Iblis Peniru!" Geramnya marah.
"Seperti yang kau lihat. Dia mempunyai keahlian bisa meniru siapapun. Dan waktu itu dia meniru bangsa kami untuk membunuh seluruh tentaramu. Karena dia sedang membutuhkan darah untuk meningkatkan kekuatannya" Jelas Luis.
Rakuten jelas marah. Merasa ditipu. Dia seperti sedang memelihara binatang buas di istananya.
"Karena itulah Ayah mengurungmu di istana Barat. Untuk menjaga keselamatanmu"
"Tapi nyatanya Ashapun tidak luput dari ulah mereka" Tambah Luis.
"Maksudmu?"
"Minum ini" Pinta Lucas. Menyerahkan sebutir pil berwarna hitam. Yang langsung ditelan oleh Asha. Tak perlu waktu lama. Asha langsung memuntahkan darah hitam.
"Asha kau tidak apa-apa?" Panik Rakuten. Asha menggelengkan kepala. Sambil memberikan kode pada sang ayah. Sesaat terbatuk. Lalu merasa dadanya panas terbakar.
"Racun Black Raven dari Timur. Dalam dua bulan ke depan, organ dalammu akan mengalami kerusakan secara perlahan. Racun ini bereaksi sangat lambat namun mematikan. Hingga tidak ada orang yang curiga kalau Asha terkena racun. Tahu-tahu ...."
"Aku mati" Dengus Asha geram.
"Siapa pelakunya?"
"Itu tugasmu. Kami hanya memberikan hasil penyelidikan kami. Berhati-hatilah pada orang yang kau percayai. Bahkan pada kami" Luis berucap ambigu.
"Apa aku perlu mencurigaimu juga"
__ADS_1
"Jika perlu kenapa tidak?" Luis mengulurkan sebuah pil berwarna hijau.
"Minum, untuk berjaga-jaga" Pinta Lucas. Membuat Asha langsung menelannya tanpa pikir dua kali. Dan interaksi itu tertangkap oleh ekor mata Rakuten.
Di sisi lain, Ara tengah mengubek-ngubek perpustakaan Luis.
"Pure Blood, Vampire Flower" Gumam Ara sambil jari lentiknya terus menyusuri deretan buku di ruangan besar itu. Beberapa waktu berlalu. Cukup kesal karena dia dikejar waktu. Jangan sampai Luis atau yang lainnya, menangkap basah dirinya tengah mencuri baca di perpustakaan milik suaminya.
"Dapat...!" Ara menarik sebuah buku dari sebuah rak.
"Busyet dah...ini tulisan apa?" Kesal Ara melihat tulisan yang sama sekali tidak dia tahu.
"Bagaimana membacanya?" Gumamnya lagi. Hingga tiba-tiba saja sebuah cahaya terang berwarna putih muncul di hadapannya. Saat Ara benar-benar merasakan keinginan yang sangat kuat untuk membaca buku itu.
"Siapa kau?" Heran Ara.
"Aku penjaga tempat ini" Jawab cahaya itu.
"Lalu kenapa kau muncul di hadapanku?"
"Karena kau adalah tuanku. Pemilik tato Vampire Flower adalah ratuku"
"Lalu apa yang bisa kau lakukan untukku?" Tanya Ara sedikit antusias. Dia yang tadinya takut. Kini berubah penasaran.
"Apa saja yang kau perintahkan padaku"
Senyum Ara mengembang sempurna. Menutup buku yang bertuliskan aksara Rune Kuno yang sama sekali tidak bisa dia baca.
"Ceritakan padaku soal isi buku ini. Juga beritahu aku soal Vampire Flower"
Hening sejenak. Tak lama cahaya itu mulai bercerita panjang lebar soal Pure Blood juga soal tato bunga yang kini terukir di belakang telinganya. Semakin lama semakin membuat Ara mengerutkan dahinya.
***
"Aku masih tidak yakin jika rencana kita akan berhasil. Kau tahu mereka cukup licik dan pandai bersilat lidah" Aiden mengutarakan unek-unek di kelalanya.
"Aku juga sama. Apalagi Rakuten, calon ayah mertuamu, yang aku tahu orangnya plin plan dan mudah dipengaruhi" Tambah Yoon menatap mengejek ke arah Lucas.
"Plin plan iya. Tapi mudah dipengaruhi....tunggu dulu. Jika kali ini kita gagal bagaimana?" Hans menyahut.
"Berarti ada yang gagal nikah" Seloroh Luis sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"Sudah kau minum pilnya" Tanya Hans di tengah gelak tawa menertawakan wajah memelas Lucas. Luis mengangguk pelan.
Tanpa mereka tahu, Ara tengah menatap sendu pada Luis. Dia tahu suaminya terluka karena dirinya.
"Aku sungguh tidak pantas menerima semua pengorbananmu Luis. Apa aku harus memutus perlindungan yang kau berikan untukku. Aku tidak sanggup melihatmu terluka terus menerus karena diriku"
__ADS_1
Batin Ara frustrasi. Dilema melanda diri gadis itu. Melihat Luis yang tampak ikut tertawa bersama yang lain.
***