Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Olivia, Si Peri Dengki


__ADS_3

"Pure Blood, darah murni. Adalah sebuah keadaan di mana darahmu bisa memurnikan apapun yang masuk ke tubuhmu. Sesuai keinginanmu. Bagi bangsa manusia, itu adalah penyembuh. Tapi bagi bangsa lain. Klan Vampir, ras Iblis dan makhluk penghuni dunia atas serta langit. Pure Blood bisa menambah kekuatan mereka. Jika mereka bisa mendapatkan darah murni ini. Apalagi jika si empunya Pure Blood memberikan darahnya dengan suka rela"


"Lalu apa aku ini adalah Pure Blood?"


Cahaya itu terdiam. Sedang berpikir mungkin.


"Ya...kau adalah Pure Blood yang terlahir dua kali. Kau di kehidupan sebelumnya sudah memiliki anugerah ini. Dan setelah kau meminum Sleeping Potion, kekuatan darah murnimu meningkat dua kali lipat"


"Bagaimana bisa?"


"Sleeping Potion membuatmu tidur begitu lama. Itu membuat tubuhmu memurnikan kembali darahmu"


"Jika banyak yang menginginkan darahku. Kenapa aku tidak pernah mendapat serangan apapun"


"Di masa lalu kau diberikan Batu Penyegel Aura, sehingga hanya seperempat aura dan aroma darahmu yang tercium. Jadi tidak banyak yang tahu kalau kau Pure Blood"


"Sekarang aku tidak memakainya lagi. Tapi tetap saja tidak ada yang memburuku"


"Itu karena kau sekarang memiliki tato Vampire Flower. Dalam artian kau berada di bawah perlindungan raja Vampir saat ini. Aura Pure Blood-mu ditutupi oleh aura raja Vampir. Dengan kata lain, dia adalah perisai untukmu. Semua serangan sihir baik yang terlihat maupun tidak, akan menyerang dirinya"


Deg, Ara tercekat mendengar kalimat terakhir dari si penjaga perpustakaan milik Luis.


"Dia menerima semua serangan yang ditujukan kepadaku"


"Bagi raja Vampir semua serangan itu bukanlah apa-apa. Tapi apa jadinya jika setiap saat dia menerima serangan. Tentu saja hal itu akan melemahkan fisiknya"


Ara semakin merasa bersalah. Dia pikir kenapa Luis melakukan itu semua untuknya. Padahal dia belum mampu mengingat soal perasaannya pada Luis di masa lalu. Air mata tanpa terasa turun di pipi Ara. Gadis itu duduk sambil memeluk lututnya. Di apartemen lamanya.


"Aku tidak mau terus menerus menyakitinya" Pantas saja, beberapa waktu terakhir ini dia melihat Hans hilir mudik bertemu Luis. Juga Aiden dan Lucas yang jelas terlihat cemas.


"Kenapa aku selalu menyusahkan orang" Kesal Ara pada dirinya.


"Datanglah padaku...akan kuberitahu jalan keluarnya"


"Berisik, jangan menggangguku"


"Apa ada cara untuk memutuskan perlindungan Luis? Aku tidak mau dia terluka terus menerus karena aku"


"Ada, hanya jika kau mengingingkan"


Cahaya itu memudar seiring kalimat terakhir yang di dengar Ara. Membuat kebingungan gadis itu.

__ADS_1


"Ara....Ara....di mana kau?" Luis memanggil istrinya ketika dia masuk ke kamarnya. Tidak ada, auranya juga tidak ada di rumah ini. Pria itu memejamkan matanya. Sedetik kemudian, dia menggeram marah. Lalu menghilang dan muncul di perpustakaan miliknya.


"Olivia, keluar kau!" Teriak Luis di ruangan itu. Teriakan Luis membuat yang langsung menyusul ke ruang perpustakaan itu.


"Ada apa?" Aiden bertanya heran melihat Luis yang terlihat marah. Namun bukannya menjawab, Luis malah mengedarkan aura mencekamnya.


"Keluar kau! Atau kuhancurkan jiwamu!" Ancam Luis.


Tak berapa lama, sebuah cahaya terlihat berpendar. Awalnya tidak berbentuk tapi lama-kelamaan berubah bentuk menjadi seorang peri kecil seukuran Thinker Bell (temannya Peter Pan). Luis langsung menggenggam makhluk kecil itu erat. Seolah mencekiknya.



Kredit Pinterest.com


"Ampun...ampun Raja Vampir" Cicit Olivia tepat di depan wajah Luis. Meski bentuknya kecil. Tapi volume suara Olivia sama dengan manusia normal. Meski masih terkesan imut.


"Apa yang sudah kau katakan padanya?" Bentak Luis.


"Apa? Siapa?"


"Jangan berlagak bodoh. Aku tahu kau tidak menyukainya. Kau sama seperti Thinker Bell. Kau cemburu pada semua yang dekat denganku!" Marah Luis. Olivia langsung terdiam. Yang dikatakan Luis memang benar. Dia tidak menyukai Ara. Tapi apa yang dia katakan pada Ara adalah benar. Sebab dia terikat perjanjian, untuk selalu mengatakan kebenaran bagi siapa saja yang bertanya pada padanya.


"Katakan! Apa yang kau beritahu padanya!"


"Aku hanya menjawab apa yang dia tanyakan padaku" Olivia menjawab lirih. Penuh ketakutan.


Olivia adalah peri pemuja Luis sejak lama. Boleh dikatakan Olivia mencintai Luis dalam artian karena dia ingin membalas budi atas bantuan Luis di masa lalu.


"Memang apa yang dia tanyakan?" Hans menatap Olivia heran.


"Soal Pure Blood..."


"Sial! Lalu kau memberitahunya" Potong Luis cepat.


"Oliv hanya menjawab apa yang ratu tanyakan" Oliv menyebut kata Ratu dengan nada mengejek.


"Bakar saja jiwanya Luis" Kompor Lucas.


"Ampun...ampun...." Cicit Oliv lagi.


"Jika dia tahu dirinya Pure Blood bukankah itu lebih baik. Dia bisa menjaga dirinya. Lebih waspada"

__ADS_1


"Tapi tetap saja dia tidak akan bisa menahan semua serangan yang datang padanya"


"Dia masih memiliki tanda darimu"


"Ratu juga bertanya soal Vampire Flower" Seru Olivia tiba-tiba. Semua kembali memandang makhluk imut yang sayap tipisnya mengepak-ngepak. Minta dilepaskan dari genggaman tangan Luis.


"Apa yang dia tanyakan?" Luis bertanya tajam.


"Apa ada cara untuk menghapus tanda darimu" Olivia menjawan sambil menyeringai puas.


"Brengsek!" Luis melempar tubuh mungil Olivia. Hingga makhluk mungil itu mendarat di karpet tebal ruangan itu. Olivia berusaha bangun. Ketika sebuah sangkar seukuran dirinya mengurung peri kecil itu.


"Luis lepaskan aku! Aku hanya memberitahu yang sebenarnya padanya" Teriak Olivia. Mengguncang-ngguncangkan sangkar mini itu.


"Kau akan tetap berada di situ sampai rasa dengki dan irimu hilang. Dan satu hal lagi, dia akan jadi ratuku dengan atau tanpa tanda Vampire Flower. Kau jangan pernah berpikir untuk bisa menggantikannya" Ucap Luis penuh penekanan. Lalu berlalu dari hadapan Olivia yang langsung mengumpat marah. Peri kecil itu menghentak-hentakkan kaki mungilnya di dasar sangkar.


"Aku akan menyusulnya" Luis berucap pada yang lainnya. Lalu menghilang seketika.


"Luis...Luis...lepaskan aku! Aku berjanji tidak akan berkata yang bukan-bukan padanya" Olivia berteriak memohon pada Luis.


"Seharusnya kau sadar diri sejak dulu, Oliv. Kau berutang budi pada Luis. Tapi kau bukannya membalas budi. Malah membuat berantakan hubungan mereka"


"Dia tidak pantas untuk Luis!" Pekik Olivia.


"Lalu siapa yang pantas? Kau? Di muka bumi ini, mana ada kedudukan yang lebih tinggi dari Pure Blood. Meski dia manusia. Bahkan kalangan dunia langit saja masih berharap bisa meminum darah Ara....andai mereka tidak terkekang aturan" Ucapan Yoon benar-benar membuat kebencian Olivia semakin besar pada Ara.


Mungkin yang dikatakan Yoon benar. Tapi Olivia jelas tidak suka jika Luis ada yang memiliki.


"Hentikan pikiran gilamu itu, Olivia" Aiden memperingatkan.


"Atau dia akan benar-benar membakar jiwamu" Hans mengancam Olivia. Membuat peri kecil itu memundurkan tubuhnya. Ngeri membayangkan kalau Blue Fire Luis benar-benar membakar jiwanya.


"Satu lagi, buang rasa iri dan dengki di hatimu pada Ara. Berhenti mempengaruhi pikirannya. Bagaimanapun dia hanyalah manusia biasa. Pikirannya mudah goyah" Aiden menambahkan.


"Itu bukan salah Oliv jika dia terpengaruh" Sungut makhluk imut itu.


"Tapi kau punya andil besar untuk itu!" Bentak Lucas yang merasa kesal dengan sikap keras kepala Olivia.


"Cuma peri saja berharap macam-macam. Masih bagus Luis membiarkannya hidup dan tinggal di sini. Dasar peri tidak tahu diri!" Gerutu Lucas keluar dari ruangan itu diikuti yang lain.


Ucapan Lucas membuat Olivia marah. Semakin benci pada Ara.

__ADS_1


"Hanya peri kecil kau bilang! Kita lihat apa yang bisa peri kecil ini lakukan!" Seru Olivia penuh kebencian.


****


__ADS_2