Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Evelyn VS Erika


__ADS_3

"Dia selalu mengatakan hal yang sama. Selalu mencintaiku dari dulu. Apa aku dan dia pernah bertemu sebelumnya. Apa kami adalah sepasang kekasih dulunya. Tapi kalau dia kekasihku, kenapa dia tidak ada waktu aku bangun. Ke mana dia pergi selama aku koma"


Gumam Ara sambil berjalan. Hari libur. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan.


Dia masih di kafe Paul saat ini. Menikmati sandwich favoritnya.


"Halo, nona kulkas berjalan plus ceroboh" Paul menyapa.


"Aku tidak ceroboh lagi ya sekarang"


"Itu kan karena kau punya alarm hidup" Paul berkata sambil melirik Asha. Ara memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Paul.


"Kau tidak boleh menyukainya" Bisik Ara pada Paul. Dan pria itu langsung menghembuskan nafasnya kasar.


"Apa dia pacaran dengan temanmu yang bernama Lucas?"


"Kenapa memangnya?"


"Sebab kemarin Lucas memberiku SP, dilarang mendekati Asha. Padahal waktu aku tanya Asha. Dia bilang mereka hanya berteman"


"Lucas suka padanya" Celetuk Ara.


"Ooo masih cinta bertepuk sebelah tangan to" Paul ber-ooo ria.


"Sudah, aku pergi dulu. Mau jalan-jalan terus nengokin Aile" Pamit Ara pada Paul. Juga melambaikan tangannya pada Asha.


"Come to me, come with me"


Bisikan itu kembali memenuhi kepalanya. Membuat Ara sedikit pusing.


"Tolong...siapa saja tolong anakku!" Teriak seorang wanita sambil menunjuk-nunjuk ke arah kolam. Di mana seorang balita tampak timbul tenggelam hampir tenggelam ke dasar kolam.


Banyak orang sudah berkumpul di tepi kola itu. Tapi tidak ada seorangpun yang nyemplung untuk menolong balita. Semua hanya berteriak sambil menunjuk ke arah kolam.


"Dasar orang aneh" Gumam Ara. Lantas tanpa ragu melepas sepatunya. Melepas jaket dan sling bagnya. Langsung menceburkan diri ke dalam kolam itu. Mengerakkan tangan dan kakinya. Mendorong tubuhnya untuk mendekati balita itu. Yang terlihat mulai kehabisan nafas.


"Yesss!" Semua orang bersorak setelah Ara berhasil mendapatkan balita itu. Sedikit mengangkat balita itu lebih tinggi dari darinya. Perlahan membawanya menepi. Saat itulah dia baru ingat kalau dirinya tidak bisa berenang. Plus, kakinya mulai kram.


"Astaga! Aku lupa kalau aku tidak bisa berenang" Pekik Ara panik dalam hatinya. Dia berusaha melawan rasa sakit di kakinya.


"Sedikit lagi, sedikit lagi. Ara...ayo kau bisa" Ara menyemangati dirinya sendiri. Sampai akhirnya, dia berhasil menepi. Dan memberikan balita itu pada ibunya. Sementara orang-orang mulai membantunya naik.


Tapi sejurus kemudian, pegangan orang-orang pada tangannya terlepas. Membuat Ara tenggelam ke dalam kolam itu. Bisa Ara rasakan, air mulai masuk ke paru-parunya. Membuatnya sulit bernafas.


"Apa aku akan benar-benar mati" Batin Ara. Perlahan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Arabella Sofia"


"Aku juga mencintaimu, Luis Alexander Verona"


Seketika percakapan itu muncul di benak Ara.


"Luis Alexander Verona" Bisik Ara. Dengan tubuh semakin tenggelam. Dan kesadaran mulai menghilang. Di saat itulah, di kala kegelapan mulai mengambil alih dunia Ara. Dia melihat sesosok tubuh berenang ke arahnya.


Semakin lama semakin mendekat. Hingga sosok itu benar-benar berada di depan mata Ara. Menepuk pelan pipinya. Sesaat Ara membuka mata. Dan dilihatnya sosok Luis yang jelas terlihat panik. Sejurus kemudian, sesuatu yang hangat terasa mengalir di dada Ara. Ketika Luis mencium bibirnya sambil memberikan nafas buatan pada Ara.


"Luis...." Batin Ara lirih.


"Kau ini ceroboh sekali. Sudah tahu tidak bisa berenang. Masih sok mau jadi pahlawan. Menolong bocah tenggelam. Sebenarnya otakmu itu di mana sih...come on Ara bangunlah!" Omelan Luis bercampur rasa frustrasi saat pria itu menekan dada Ara dan juga melakukan nafas buatan.


Luis pikir akan sangat beresiko jika membawa Ara pulang. Atau memanggil Hans. Jadi Luis memutuskan untuk membawa Ara ke tempat paling dekat dan aman. Dan disinilah keduanya. Tepi hutan yang sangat hijau dan asri.


"Ara bangunlah. Kau mau membuatku gila lagi dengan tidak mau bangun!" Kembali Luis berteriak frustrasi. Setelah untuk kesekian kalinya melakukan CPR tapi tidak berhasil.


"Arabella Sofia, aku perintahkan kau untuk bangun! Buka matamu!" Luis menekan dada Ara agak lama. Dan "uhuuuk", Ara terbatuk dengan kedua matanya mulai terbuka.


"Syukurlah...kau sudah sadar" Luis berucap lega. Sambil membantu Ara duduk.


"Terima kasih" Bisik Ara.


"Hangat" Bisik Ara lirih. Semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Luis.


***


"Kenapa lagi dia?" Lucas bertanya ketika melihat Ara tidur di ranjang di kamar Luis.


"Mencoba bunuh diri" Seloroh Luis asal. Sambil mengenakan kaosnya.


"Yang benar?"


"Orang tidak bisa berenang, nyemplung ke kolam. Ngapain kalau nggak bunuh diri"


"Ha? Masak dia sebodoh itu?"


"Tidak terlalu juga sih. Dia menyelamatkan anak kecil yang tenggelam. Dia pasti tidak ingat kalau tidak berenang"


"Itu ceroboh atau bodoh?" Kekeh Lucas.


"Beda tipis" Jawab Luis.


"Istirahatlah dulu" Luis mencium kening Ara cukup lama. Dia benar-benar takut. Untuk kehilangan Ara lagi.

__ADS_1


***


"Dokter Hans" Erika berteriak saat melihat Hans berjalan di lorong rumah sakit.


"Ya...Erika bukan ya?" Tanya Hans.


"Iya, saya Erika. Kakak Ailee"


"Apa ada yang bisa aku bantu" Tanya Hans ramah. Benar-benar mode berbeda saat di rumah dan rumah sakit.


"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Sudah merawat Ailee. Keadaannya jauh lebih baik" Erika berkata sambil menatap terpesona pada Hans.


"Satu lagi sesaeng fans yang bakal merepotkan sekali" Guman Hans.


"Tapi kenapa ada yang aneh dengan aroma tubuh Erika. Ada aroma Vampir tapi begitu samar. Apa dia baru saja bertemu seorang Vampir"


"Dokter Hans, Dokter..."


"Oh ya maaf, aku harus pergi. Ada operasi lima belas menit lagi. Harus segera bersiap" Pamit Hans sambil melirik arlojinya.


"Dokter Hans, tunggu. Bisakah kau menerima ini. Sebagai tanda terima kasihku pada Anda" Erika mengulurkan sebuah paperbag pada Hans.


"Apa ini?" Tanya Hans sambil mengintip ke dalam paperbag itu.


"Hanya hadiah kecil. Aku harap dokter menyukainya" Ucap Erika malu-malu.


"Oke, terima kasih kalau begitu" Balas Hans lalu berbalik dan menjauh dari Erika.


"Kau pikir, dia akan memakai barang sampah darimu" Desis Evelyn di belakang Erika.


"Kau siapa?" Tanya Erika ketus.


"Bukan siapa-siapa. Hanya ingin memperingatkan kalau kau jangan mimpi terlalu tinggi. Evander Hans, tidak akan melirik gadis sepertimu"


"Lalu...apa dia akan memilihmu? Aku rasa juga tidak. Jadi posisi kita masih seri. Sama-sama kompetitor jangan ngegas dong kalau ngomong!" Erika berucap pedas dan tajam.


"Kau....jangan kau pikir aku takut denganmu. Aku tahu siapa kau. Kau yang sebenarnya" Evelyn berbisik di telinga Erika. Membuat gadis itu seketika membulatkan matanya.


"Lalu apa masalahnya jika aku miskin" Erika berusaha tenang.


"Ini bukan soal kau yang miskin. Tapi soal siapa kau,yang kau rahasiakan dari semua orang"


Erika jelas terkejut. Bagaimana wanita yang bernama Evelyn ini tahu kalau dia adalah...atau jangan-jangan wanita ini juga sama.


****

__ADS_1


__ADS_2