Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Aku Akan Menunggumu


__ADS_3

"Mana Ara?" Erika bertanya pada Asha yang kembali seorang sendiri.


Gadis itu menggeleng. Semua langsung menarik nafas bersamaan.


"Ara hilang. Keadaannya memburuk. Dan kita gagal mendapat penawarnya" Lucas mendengus kesal.


"Dia pergi ke mana.." Yoon bertanya...namun detik berikutnya dia meralat ucapannya.


"Dia pulang" Semua langsung menatap ke arah pintu di mana Ara masuk dengan langkah gontai.


"Kau dari mana?" Aiden bertanya. Yoon langsung menatap tajam pada Ara.


"Ara kau dari mana?" Yoon bertanya.


Namun Ara tidak menjawab. Berjalan mendekat ke arah ranjang Luis. Dimana pria itu masih terbaring lemah. Pelan Ara mengeluarkan penawar racun dari Sherpa.


"Darimana kau mendapatkannya?" Lucas menarik tubuh Ara. Mencengkeram lengan gadis itu.


"Lucas lepaskan dia!" Aiden dan Hans melerai dua orang itu.


"Katakan Ara...bagaimana kau bisa mendapatkannya?" Aiden bertanya.


"Ara...jangan bilang kau melakukan pertukaran dengannya" Yoon bertanya. Membuat yang lain langsung menatap wajah Ara. Gadis itu tidak menjawab. Menepis tangan Hans yang memegangi lengannya. Membuka botol penawarnya. Lalu meminumnya.


"Ara..." Sejurus kemudian. Ara meraih tengkuk Luis. Menyatukan bibir mereka. Mengalirkan penawar itu masuk ke mulut Luis. Memastikan Luis menelannya.


Ara melepas ciumannya pada Luis. Ketika dia yakin, pria itu sudah menelan penawarnya.


"Sekarang jelaskan pada kami? Kau mengadakan pertukaran dengan ular brengsek itu?" Kembali Lucas mencecar Ara.


"Aku tidak punya pilihan. Ketika dia meremas jantung Luis dihadapanku" Ara menjawab pilu.


Yoon dengan cepat menarik tubuh Ara. Menyibak rambut panjang. Satu sentuhan dan Ara kembali meringis ketika Yoon memunculkan kembali tanda Sherpa di lehernya.


"Ara....apa yang kau lakukan?" Hans bertanya tidak percaya.


"Luis akan membunuh kami jika tahu kau mengorbankan dirimu untuknya" Aiden hampir berteriak.


"Kalau begitu jangan katakan padanya!" Ara berteriak tidak kalah frustrasinya. Yoon dengan cepat memegang kedua lengan Ara. Membuat gadis itu menghadap dirinya.


"Kau tahu yang kau lakukan? Kau tahu tanda itu?"


Ara hanya diam. Menangis tertahan.


"Dia menandai dirimu sebagai miliknya. Mate-nya. Pengantinnya juga ratunya" Lucas yang menjawab. Asha dan Erika langsung menutup mulutnya.


Ara langsung mengangkat wajahnya. Menatap mata Yoon. Pria yang begitu dingin. Tapi Ara tahu, Yoon sangat perhatian padanya. Satu-satunya orang yang Ara panggil Kakak.


"Kak...." Lirih Ara seolah meminta pembenaran.


"Yang Lucas katakan benar. Sherpa menandaimu sebagai miliknya. Kenapa kau gegabah melakukannya?" Yoon bertanya lirih. Mata pria itu berkaca-kaca.

__ADS_1


"Katakan padaku...apa yang akan kau lakukan jika jantung Erika bisa saja berhenti kalau kau tidak menerima tawarannya"


"Aku bisa mencari cara untuk menghidupkannya. Ara...ada ribuan sihir dan mantra kuno yang bisa kami usahakan untuk mengobati Luis. Tapi mematahkan sihir kepemilikan Sherpa...itu sulit. Dia makhluk dari dunia atas. Dia berbeda"


"Kalau begitu biarkan saja aku seperti ini"


"Dan kau mau melihat Luis jadi Vampir gila lagi?" Lucas bertanya kejam.


"Lucas..."


"Kenapa kau begitu bodoh? Aku heran kenapa semua orang yang jatuh cinta jadi gila. Tidak waras. Tidak bisa berpikir jernih" Maki Lucas.


"Lucas hentikan!" Aiden berteriak. Sementara Ara sudah menangis pilu. Putus asa.


"Heehh" Ara memejamkan matanya. Ketika satu cekikan terasa di lehernya.


"Dia menjemputmu?" Tanya Hans. Erika berlari ke balkon. Di mana dilihatnya seorang pria berjubah hitam. Bersurai putih tampak berdiri di depan gerbang.


Sedetik kemudian, Ara seperti tertarik. Tubuhnya melayang keluar melalui jendela yang tiba-tiba terbuka.


"Aku menjemput apa yang sudah menjadi milikku" Sherpa berucap setelah Ara berada dalam pelukannya. Menahan pinggang ramping gadis itu.


"Kau tidak bisa membawanya pergi!" Aiden berteriak.


Keempatnya membentuk formasi segi empat untuk menahan Sherpa. Bersamaan dengan Luis yang membuka matanya di kamarnya.


"Ara..."


"Ara...di mana Ara...


"Ara....dia...


Bersamaan dengan itu. Terdengar suara ledakan yang sangat keras dari halaman depan.


"Apa yang terjadi?" Luis bertanya.


"Asha....Asha....gawat dia mau membuka portal menuju dunia atas. Dan membawa Ara bersamanya...uuuppsss...." Erika langsung menutup mulutnya. Begitu melihat Luis yang sudah bangun dan menatap tajam ke arahnya.


Sedetik kemudian. Pria itu sudah menghilang. Dan muncul di hadapan Sherpa. Pria itu sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian resmi dari klan miliknya.


"Luis....." Ara berteriak. Begitu melihat Luis berdiri di hadapannya. Sherpa langsung menarik sudut bibirnya.


"Kau terlambat" Sherpa berucap mengejek. Satu gerakan dari Luis. Membuat Sherpa melompat mundur. Dengan Ara berada dalam pelukannya. Bunyi ledakan terdengar meninggalkan lubang di tempat Sherpa tadi berpijak.


"Luis...." Ara berucap pilu.


"Kau merindukannya? Kalau begitu lihatlah dia untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah ini, kalian tidak akan pernah bertemu"


"Berani kau membawanya?" Teriak Luis. Aiden dan yang lainnya sudah berdiri kembali di belakang Luis.


"Ingin sekali aku melayani amarahmu. Tapi aku sedang terburu-buru. Aku harus segera membawanya pulang" Sherpa mengangkat tangan kanannya. Seketika sebuah portal berbentuk lingkaran, berwarna biru terbentuk di belakang Sherpa. Portal itu berpusar seolah menghisap Sherpa dan Ara ke dalamnya.

__ADS_1



Kredit Pinterest.com


Satu serangan dari Luis menimbulkan sebuah getaran hebat pada portal itu.


"Sudah kubilang kau terlambat" Sherpa berucap penuh penekanan. Luis melesat ke arah Sherpa. Namun terlambat. Portal itu sudah menelan Sherpa bersama Ara.


"Tidaaaakkkk!" Luis berteriak frustrasi. Untuk kedua kalinya dia merasa kehilangan Ara.


"Maaf...kami tidak bisa melindunginya" Aiden berucap penuh rasa bersalah.


Satu kilatan kemarahan ditunjukkan oleh Luis. Dan sebuah ledakan terdengar jauh di ujung sana. Di mana Aiden dan yang lainnya tahu. Luis meledakkan sebuah gunung untuk melampiaskan kemarahannya.


"Bisa kau lacak ke mana dia membawanya?" Luis bertanya pada Yoon. Yoon, paling peka dengan aura Ara.


"Dunia atas. Istana lamanya" Jawab Yoon setelah membuka matanya.


"Kita akan sulit menembus portalnya" Lucas memberi pertimbangan.


"Tapi tidak berarti aku akan diam saja. Tidak! Meski dia sudah menandainya. Aku akan merebutnya. Mematahkan sihir kepemilikannya" Tekad Luis.


Aiden dan yang lainnya saling pandang. Mereka tahu ini sulit. Tapi mereka juga tidak bisa membiarkan Ara bersama Sherpa. Sherpa sudah tahu Ara, Pure Blood. Akan sangat berbahaya membiarkan Ara bersama ular itu.


"Aku pikir, aku punya cara untuk pergi ke dunia atas" Asha tiba-tiba bersuara.


Semua langsung menatap penuh harap pada Asha.


***


Krum menggeram kesal. Sudah dia duga, jika rencananya akan berantakan. Gara-gara Sherpa tertarik pada Ara.


"Aku benci orang jatuh cinta" Dengus Krum.


Dia baru saja merasa senang. Mendengar kabar kalau Luis sekarat setelah terkena racun Sherpa. Yang terkenal mematikan. Tidak peduli kau raja Vampir atau raja Iblis. Semua akan mati jika tidak mendapat penawar dari Sherpa.


Tapi Ara dengan bodohnya membuat pertukaran dengan Sherpa. Alhasil Ara kini berada di tangan pria ular itu. Akan lebih sulit mengambil Ara dari Sherpa karena pria ular itu pasti membawa Ara pulang ke dunia atas.


"Sial!" Krum mengumpat marah.


***


"Bersabarlah...aku akan datang menjemputmu"


Satu pesan masuk ke pikiran Ara.


"Aku akan menunggu. Seperti kau menungguku"


Balas Ara. Sesaat sebelum tubuhnya terhisap ke portal yang dibuka oleh Sherpa.


****

__ADS_1


__ADS_2