
"Kau apakan dia?" Zhang bertanya pada Sherpa yang masuk ke istananya. Dengan Ara dalam gendongannya.
"Aku melakukan seharusnya yang aku lakukan" Sherpa menjawab dingin.
"Jangan bilang kau menghilangkan ingatan Ara soal Luis"
Zhang menatap tidak percaya pada Sherpa. Cinta sudah membutakan mata Sherpa. Cinta atau lebih tepatnya...obsesi. Tanpa menjawab, Sherpa melangkah masuk ke kamarnya.
Hari pernikahan tiba,
Ara terlihat cantik dalam balutan gaun pengantin. Dengan jubah berwarna putih. Gaun panjang menjuntai dengan ekor menyapu lantai. Di atas kepalanya sebuah tiara berbentuk ular berada di sana dengan manisnya.
Semua pelayan menatap takjub pada calon ratu mereka. Namun wajah Ara terlihat datar tanpa ekspresi. Pandangan matanya kosong. Meski dia sesekali tersenyum tapi senyum itu hanyalah senyum yang dipaksakan.
"Dia benar-benar cantik dan mempesona" Gumam beberapa pelayan lagi. Hal itu membuat Minze mendengus geram. Dia sama sekali tidak bisa mengubah keputusan Sherpa.
"Jika kau mengacaukan pernikahanku. Aku kubakar Mago tepat di hadapanmu"
Ancaman Sherpa benar-benar membuat Minze tidak berkutik sama sekali. Pasalnya Sherpa tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Sementara di dunia atas sibuk dengan pernikahan raja mereka. Di dunia fana, Luis dan yang lainnya sedang bersiap membuka portal ke dunia atas.
"Aku ikut" Asha merengek pada Lucas.
"Kau tinggal di sini" Luis tegas memberi perintah.
Mereka sudah berada di depan portal ke dunia atas yang sudah Asha buka.
"Aku tidak mau sendirian" Jawaban Asha membuat semua orang pandang.
"Kau tidak akan sendirian. Sebentar lagi akan ada yang menjemputmu" Ucap Luis penuh misteri.
Luis baru saja selesai berkata ketika tiba-tiba satu suara bergema di gua itu. Bersamaan dengan munculnya satu rombongan pasukan. Yang detik berikutnya langsung diketahui sebagai pasukan dari ras Iblis.
"Kalian siapa? Berani menerobos wilayah kami?" Jenderal Renra, menatap Luis dan kawan-kawannya dengan tatapan intimidasi.
"Jenderal Renra...." Asha berteriak. Renra langsung membulatkan matanya melihat tuan putrinya masih hidup.
"Putri...kau masih hidup?" Renra jelas terkejut. Dalam sekelip mata mampu memanggil Rakuten ke tempat itu.
Luis dan yang lainnya saling pandang menatap raja Iblis yang berdiri di depan mereka.
" Asha...kau masih hidup?" Tanya Rakuten berkaca-kaca. Menatap ke arah sang putri yang juga berkaca-kaca melihat ke arah sang ayah.
"Ayah...." Asha berlari memeluk sang ayah.
"Putriku sayang, kau masih hidup. Yunze, dia masih hidup" Ucap Rakuten sambil memeluk balik Asha.
"Kau baik-baik saja. Kemana saja kau selama ini. Ayah sangat sedih ketika kau lari dan dikabarkan meninggal"
"Maaf Ayah. Asha lari karena tidak mau menikah dengan Pangeran itu"
"Lalu bagaimana kau bisa selamat? Mereka melihatmu masuk ke jurang itu?"
Luis sedikit berdecak kesal. Waktunya sudah terbuang banyak di sini.
"Sorry mengganggu reunimu, Sha. Tapi kami harus pergi sekarang"
__ADS_1
Asha langsung melepaskan pelukannya pada ayahnya. Melihat ke arah Luis dan yang lainnya.
"Tunggu dulu! Apa yang kalian lakukan di sini. Kalian masuk ke wilayah kami tanpa izin" Rakuten berucap marah.
"Kan kami bawa putrimu. Jadi sah dong kami masuk ke mari. Dia putrimu kan?" Ledek Hans.
"Hans, jaga ucapanmu!" Aiden berdesis begitu mendengar ucapan Hans.
"Tentu saja dia putriku. Apa kalian menangkap putriku? Kalian menyekap Asha selama ini?" Tuduh Rakuten.
"Tidak Ayah. Justru mereka yang menolong Asha. Dia yang menolong Asha waktu aku terjun ke jurang. Dia membawaku pulang ke dunia fana. Sebab dia tahu kalau aku tidak mau pulang"
Asha menjelaskan pada ayahnya.
"Siapa yang sudah menolongmu?"
"Lucas, dia yang menolongku"
Lucas mengangguk hormat pada Rakuten.
"Sha, nanti saja menjelaskannya. Sekarang biarkan kami naik dulu" Luis kembali berucap.
"Aku ikut"
"Tidak!"
"Kalian mau ke mana? Kalian tidak bisa pergi ke mana-mana" Salak Rakuten.
"Ayah kami harus naik ke dunia atas. Temanku sedang ditawan oleh Sherpa"
"Iya, Sherpa. Ayah mengenalnya?" Asha bertanya. Dan Luis menyeringai penuh arti.
"Tidak. Ayah tidak mengenalnya" Rakuten gelagapan. Membuat Luis tersenyum tipis.
"Buka portalnya Asha" Aiden meminta.
"Izinkan aku ikut mereka ya Ayah. Dia temanku. Dia sangat baik padaku selama di dunia fana" Bujuk Asha.
"Tidak! Kau tidak boleh masuk ke dunia atas" Tolak Rakuten tegas.
"Tapi Ayah...
"Lama sekali!" Luis menggerutu. Lalu menyentuh portal itu dengan tangannya. Ajaib, portal itu terbuka setelah Luis memegangnya.
"Kau bisa membuka portalnya?" Tanya Hans tidak percaya.
"Karena aku juga punya darah dari dunia atas"
"Ba..bagaimana kau bisa membukanya?" Rakuten dan Asha melihat tidak percaya pada Luis. Sedang pria itu hanya menyeringai.
"Kami naik dulu"
"Aku ikut!"
"Tidak boleh! Dan kalian...urusan kita belum selesai. Setelah kalian kembali. Kalian harus menjelaskan semuanya" Rakuten berucap penuh ancaman.
__ADS_1
"Tidak masalah. Bukankah kita memang perlu menyelesaikan masalah kita selama ini. Aku pikir kita perlu bertemu untuk membicarakan ini semua" Luis berucap sebelum masuk ke dalam portal. Disusul yang lain. Meninggalkan Lucas terakhir kali masuk ke portal.
Pria itu menatap Asha lama.
"Berhati-hatilah. Aku menunggumu"
Satu ucapan dari pikiran Asha masuk ke pikiran Lucas. Membuat pria itu tersenyum. Interaksi keduanya membuat Rakuten saling pandang dengan Renra. Rakuten bisa membaca pikiran.
***
Luis dan yang lainnya, terbang menggunakan sayàp mereka. Menyusuri pilar-pilar megah berwarna putih. Terus menuju ke kawasan pegunungan.
"Kau menemukan istananya?" Tanya Aiden.
"Di sana"
Semua mengikuti arah Luis terbang.
"Tinggalkan kami" Sherpa berucap pada semua pelayan yang ada di kamarnya untuk keluar dari sananya.
Ditatapnya wajah ayu milik Ara.
"Ada yang salah?" Ara bertanya. Dalam pikirannya sudah ditanamkan kalau Sherpa adalah pria yang Ara cintai.
"Kau cantik sekali" Bisik Sherpa.
Ara tersenyum simpul. Menatap pada Sherpa. Entah kenapa antara pikiran dan hatinya tidak sejalan. Pikirannya mengatakan kalau pria inilah yang dia cintai. Tapi hatinya terasa hampa tiap kali menatap Sherpa. Ada yang hilang dari hatinya.
"Berikan tanganmu" Pinta Sherpa. Ara mengulurkan tangannya pada Sherpa. Dan "crash" satu belati langsung menggores nadi Ara.
"Àarghhh" Ara meringis. Namun detik berikutnya rasa hangat mengalir di nadinya. Saat Sherpa mengalirkan darahnya melalui nadi Ara.
"*Aku ingin pernikahan kita sah hari ini. Akan kupatahkan sihir kuno yang membelengguku selama ini" Batin Sherpa menatap Ara yang hanya di*am.
Melihat Sherpa melakukan yang menurutnya aneh. Namun lagi-lagi, Ara hanya terdiam. Tidak tahu kenapa, dia begitu patuh pada Sherpa.
"Aku ingin kau tahu. Kalau aku benar-benar mencintaimu" Ucap Sherpa kemudian mencium lembut bibir Ara. Yang hanya berdiri seperti patung. Tidak bergerak. Tidak juga membalas ciuman Sherpa.
***
Aula istana terlihat begitu meriah. Semua orang tampak bahagia dengan pernikahan raja mereka. Kecuali Mago yang hanya bisa duduk diam. Tanpa bisa berbuat apa-apa. Sherpa merusak energi dalamnya. Menyisakan seperempat dari energi dalamnya. Membuat pria itu hanya seperti rakyat biasa tanpa kekuatan apa-apa.
Seluruh aula dihias dengan bunga berwarna merah dan putih. Melambangkan cinta yang suci. Suasana yang tadinya riuh. Mendadak tenang ketika dari ujung tangga masuk terlihat Sherpa dan Ara yang sudah bersiap masuk ke aula istana
Zhang sesekali menarik nafasnya. Waspada pada keadaan sekelilingnya. Pria itu tahu, pintu portal sudah dibuka. Tapi dia tidak merasakan sama sekali aura Vampir di mana-mana.
Sementara Sherpa nampak menatap Ara yang berdiri di sampingnya. Satu tangan Ara melingkar di lengan Sherpa. Ada sesuatu yang berontak dalam diri Ara. Membuat wanita itu meringis.
"Ara...Ara...." Satu suara itu terus terngiang di kepalanya.
"Siapa yang memanggilku?"
Sherpa memejamkan matanya. Memasang sihir pelindung di sekitar Ara.
"Tidak akan ada yang bisa menggagalkan pernikahan ini. Tidak juga dirimu, Nangmi"
__ADS_1
***