Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Deathly Sherpa's Poison


__ADS_3

Evelyn mendengus kesal. Dia yang datang bersama Krum ke tempat Sherpa. Mendengar bagaimana Sherpa, si ular purba itu sudah bisa berubah menjadi manusia yang sangat tampan.


Tapi bukan hal itu yang membuat dia marah. Tapi mendengar pujian Sherpa untuk Ara. Sebuah nama yang terdengar tidak asing untuknya. Dia seperti pernah mendengarnya. Tapi di mana.


Hingga kemudian dia teringat. Ara pernah disebut oleh Hans ketika dia tidak sengaja mendengar obrolan Hans dengan Erika.


"Siapa gadis ini? Kenapa semua pria senang membicarakannya? Secantik apa dia sebenarnya" Evelyn penasaran sekali dengan Ara. Juga ada rasa cemburu serta tidak suka yang Evelyn rasakan pada wanita yang bernama Ara itu.


***


Ara menggerakkan tubuhnya perlahan. Lantas membuka matanya.


"Kamar pria egois itu" Gumam Ara sedikit kesal. Lalu berusaha bangun ketika dirasakannya ada rasa nyeri di sekujur tubuhnya.


"Kenapa tubuhku sakit semua" Ara bertanya pada dirinya sendiri. Gadis itu perlahan menoleh ke kirinya. Astaga...kenapa dia bisa tidur di sini.


"Dughhh"


"Aduuhh"


"Kenapa menendangku lagi?" Luis langsung protes. Belum juga tubuhnya pulih dari racun Sherpa. Sudah dapat serangan fisik lagi.


"Kenapa kau tidur di sini?" Salak Ara.


"Suka-suka akulah. Ini kan kamarku" Luis menjawab. Lantas merebahkan tubuhnya lagi di kasur.


"Ayo lanjut tidur lagi. Biar Yoon yang bekerja" Ajak Luis dengan tatapan menggodanya.


"Idih..ogah" Ara turun dari kasur besar Luis. Membiarkan pria itu melanjutkan tidurnya.


"Jangan dibuka!" Luis berucap ketika Ara membuka tirai tebal kamarnya.


"Sedikit saja" Ara menyibak sedikit tirai di kamar pria itu. Lalu menidurkan diri di sofa dekat pintu balkon.


"Kalau masih mau tidur. Kenapa tidur di situ. Kemarilah" Luis melambaikan tangannya.


"Tidak mau. Nanti kau menciumku"


"Masih bagus aku hanya menciummu. Tidak menggigitmu atau menidurimu" Jawab Luis asal.


Sambil memejamkan matanya. Entah kenapa dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Seharusnya racun Sherpa sudah bisa dia tawarkan. Tapi kenapa ini masih ada yang tertinggal. Padahal tadi dia juga sadar jika sudah meminum darah Ara meski hanya beberapa tetes.


"Kenapa sih hanya itu yang ada di otak kalian. Para pria. Eh salah para Vampir"


"Hei, meski kami Vampir. Kami juga normal. Punya hasrat, gairah juga keinginan untuk bercinta. Apalagi saat bersamamu. Bawaannya pengen ngelonin kamu...aduuuhhh" Ara melempar bantal sofa ke kasur Luis. Tepat mengenai wajah pria itu.


"Vampir mesum! Omesh!"


"Itu normal Ara. Memang kamu tidak kepengen apa?"


"Mampus kau Ra. Mau jawab apa kau?"

__ADS_1


Kalau bohong jelas tidak masuk akal. Jika dia tidak menginginkan hal itu. Apalagi Luis begitu tampan. Siapa juga yang bisa tahan jika mata tajam Luis sudah mengunci tatapannya pada dirimu. Auto seperti dihipnotis.


Kalau bilang mau. Kok ya murahan sekali. Mudah disentuh oleh pria, kesannya seperti itu.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Mau bilang saja mau. Tidak usah gengsi" Ucap Luis yang tiba-tiba saja sudah muncul di depan Ara. Berjongkok di sisi sofa Ara.


"Kau..


"Lupakan pertengkaran kita gara-gara ular jadi-jadian tadi ya. Aku minta maaf"


"Ceritakan soal kita di masa lalu" Pinta Ara.


"Iya akan aku ceritakan tapi sebentar lagi. Tubuhku sakit semua"


"Alasan lagi" Ara memanyunkan bibirnya. Membuat Luis langsung melahapnya. Sedikit menahan tangan Ara yang hendak mendorong tubuhnya. Pria itu ******* bibir Ara tanpa jeda.


"Balas, Ra" Ucap Luis dengan bibir masih menempel di bibir Ara. Pria itu memperdalam ciumannya ketika Ara mulai terhanyut dalam ciuman mereka. Dan membalas pagutan Luis.


"Astaga...kalian membuatku pengen saja" Lucas berteriak kencang melihat Luis dan Ara yang tengah berciuman panas di sofa.


"Kau mengganggu saja Lucas" Bentak Luis kesal. Sedang Ara langsung menyembunyikan wajah malunya di belakang punggung Luis.


"Kau yang salah. Tidak mengunci kamarmu" Lucas memaki balik Luis.


"Kalau pengen ya kau cari saja Asha. Sambil bilang kalau Ara menginap di sini"


"Aku juga mau ke tempatnya ini. Hans menyuruhku mengantarkan ini" Lucas menunjukkan satu nampan melayang berisi satu gelas berisi cairan berwarna merah. Apalagi jika bukan darah isinya.


Membuat Ara kembali masuk ke kamar mandi. Muntah lagi.


"Darah sialan!" Maki gadis itu. Sementara Luis dan Lucas hanya tersenyum mendengar makian Ara.


***


"Aarrgghh" Luis meringis memegang dadanya. Ada apa ini? Pikir Luis.


"Mana janjimu?" Ara menagih janji Luis yang akan menceritakan soal masa lalu mereka. Keduanya sedang berada di balkon kamar Luis.


"Kau menggoda sekali" Bisik Luis sambil mencium cepat bibir Ara. Aroma mawar lembut menguar dari tubuh Ara.


"Jauh-jauh sana. Kang nyosor"


"Tapi kamu suka kan?" Goda Luis.


"Nggak tuh"


"Nggak salah...


"Luis...."


"Oke-oke aku berhenti. Sekarang aku akan membuka ingatanmu. Ingatanmu disegel alias dikunci. Jadi kau tidak bisa mengingat masa lalumu. Setelah aku buka...kau akan pelan-pelan ingat soal masa lalumu. Ingat, sedikit demi sedikit. Tidak bisa sekaligus"

__ADS_1


Pria itu menyentuh pelan kening Ara dengan telunjuknya. Bersamaan dengan Luis yang memejamkan matanya. Rasa hangat terasa di kepala Ara. Seolah mencairkan sesuatu yang beku di kepala gadis itu. Sejurus kemudian seperti sebuah film. Kilasan-kilasan gambar berkelebatan di benak Ara. Membuat Ara seketika pusing dibuatnya. Ia tahu gambar-gambar itu adalah masa lalunya.


"Selamat datang kembali, Nona Arabella Sofia Reyes" Luis berkata ketika Ara membuka matanya.


"Ayah...ibu...kakak....aaargghhh"


"Pelan Ara. Aku sudah mengatakannya. Atau kepalamu bisa meledak"


"Bagaimana bisa mereka meninggalkanku sendiri? Bibi Melia...dia juga sudah meninggal" Ara mengingat dia menghadiri pemakaman bibi Melia beberapa waktu lalu.


"Jangan bersedih. Ada aku. Aku tidak akan meninggalkanmu"


Ara langsung memeluk tubuh Luis. Menangis dalam pelukan pria itu. Dia sendiri. Benar-benar sendiri sekarang.


"Berapa lama aku tidur?" Ara menatap wajah Luis. Pria itu sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali dia melihatnya. Dua hari sebelum kejadian mengerikan itu menimpa keluarganya. Membuat Ara harus melalui tidur panjang.


"Aku tidak ingat berapa lama aku menunggumu. Tapi satu hal yang harus kau tahu. Cintaku tidak pernah berubah padamu"


"Karena itukah kau mengubah dirimu?" Tanya Ara berkaca-kaca.


"Setelah kau menghilang. Ibu juga menghilang. Aku tidak tahu di mana kalian. Untuk Ibu aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Tapi untukmu, aku yakin jika dirimu masih hidup. Karena itu aku menemui ayahku...


"Kau meminta dirinya mengubah dirimu?"


"Aku sebenarnya tidak menginginkannya. Tapi aku tidak mau kehilanganmu. Karena itu aku seperti tidak punya pilihan ketika dia menyempurnakanku. Menjadikanku bagian dari klan miliknya. Juga membuatku memiliki gelar pangeran. Karena ayahku adalah raja Vampir"


"Aku memang ingin hidup terus. Untuk mencarimu atau menunggu kelahiranmu kembali. Tapi bukan menjadi makhluk penghisap darah seperti ini, aku benci diriku yang sekarang" Luis menatap Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf...maafkan aku. Aku membuatmu jadi begini"


"Tidak...jangan pernah menyalahkan dirimu. Kau tahu bertemu denganmu adalah anugerah untukku. Kau mencintaiku. Kau menerima diriku baik dulu maupun sekarang...


"Aku pikir soal mencintaimu...aku belum ingat" Potong Ara cepat.


"Kau jangan menipuku!" Desis Luis.


"Aku tidak bohong. Aku hanya merasa kau sangat dekat dan berarti bagiku. Mungkin kau kakakku"


"Aku bukan kakakmu. Aku tidak mau jadi kakakmu. Kau sendiri ingat kalau kakakmu meninggal. Aku kekasihmu. Satu-satunya pria yang kau cintai.....uhuukkk....


Luis memuntahkan darah kental berwarna hitam. Ara jelas panik melihatnya. Pria itu memegangi dadanya yang serasa panas terbakar.


"Hans!" Ara reflek berteriak.


"Racunnya mulai bekerja...Deathly Sherpa's Poison"


***



****

__ADS_1


__ADS_2