
Rin, gadis kecil yang usianya belum genap sembilan belas tahun. Berambut hitam panjang. Dengan bola mata bening berwarna coklat. Sesekali terdengar bersenandung, saat menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Kak, sudah siap" Rin berseru. Krum melangkah ke arah meja makan. Aroma makanan itu tercium aneh di hidung Krum. Maklum dia jarang makan makanan manusia. Hanya sesekali saat menjamu klien bisnisnya.
"Mari makan" Seru Rin lagi. Setelah gadis itu sejenak berdoa sebelum memakan makanannya.
Krum berdecih kesal melihat tingkah Rin. Sering dia berpikir, apa Rin juga berdoa ketika malaikat maut tengah bersiap menjemput gadis itu. Saat dia hampir dibakar oleh penduduk desa yang mengira Rin vampir. Dari situlah awal keduanya bertemu.
Krum menyelamatkan Rin, yang hampir mati karena nekat menceburkan diri ke sungai. Menghindari lemparan api dari para penduduk desa. Hampir dua hari tidak sadarkan diri karena demam tinggi. Gadis itu langsung menangis dan memeluk Krum begitu membuka mata.
"Terima kasih Tuhan. Sudah mengirimkan malaikat penolong untukku" Ucap Rin sambil memeluk Krum kala itu.
"Aku bukan malaikat penolong. Aku malaikat pencabut nyawa" Krum berucap dingin sambil menunjukkan taring miliknya. Rin sesaat terkesiap, begitu menyadari siapa sosok di hadapannya. Vampir, makhluk yang membuat dirinya hampir mati. Namun bukannya takut. Rin malah mengembangkan senyumnya.
"Kau tidak takut padaku? Aku bisa saja membunuhmu"
"Kalau begitu Rin rela. Kakak sudah menyelamatkan Rin, jadi anggap saja itu balasan dari Rin. Toh Rin sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi tidak masalah jika Rin mati"
"Dasar manusia bodoh!" Umpat Krum. Lalu keluar dari rumah itu. Selama beberapa hari, Krum membiarkan Rin tinggal di rumah itu. Setelah sembuh, Rin membersihkan rumah itu. Merapikannya.
"Siapa yang memberimu izin menanam sampah itu di rumahku?" Geram Krum. Ketika dia berkunjung. Dilihatnya gadis itu tengah asyik menanam bunga mawar. Juga beberapa sayuran. Hingga halaman rumah Krum yang tadinya gersang. Kini sudah berubah menjadi hijau, segar dipandang mata.
"Maaf Kak, Rin tidak punya kerjaan jadi Rin menanam ini semua" Gumam Rin lirih.
Lagi-lagi Krum menggeram marah. Namun melihat wajah sendu Rin. Rasa marah itu hilang seketika.
"Maaf, nanti akan Rin bersihkan" Lirih Rin lagi.
"Tidak perlu!" Krum berucap sambil berlalu masuk ke rumah. Masuk ke kamarnya.
Sesaat Rin terdiam. Sedetik kemudian, gadis kecil itu melompat saking girangnya.
"Horeeee, kau dengar? Kakak tidak marah pada kalian" Rin berucap pada tanaman mawar yang mulai menyembulkan kuncup bunganya. Sedang Krum hanya menatap Rin dengan tatapan yang susah di artikan. Melihat gadis itu dari jendela kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
"Apa enak?" Rin bertanya setelah melihat Krum memasukkan ikan ke dalam mulutnya. Hambar, itulah rasa yang pertama kali Krum rasakan.
"Aku pikir ini enak. Jangan khawatir aku tidak memakai bawang putih di semua masakanku" Rin berucap riang.
Krum tengah berpikir. Dia seperti seorang vegetarian sekarang. Vampir makan makanan manusia.
"Kak...bolehkah aku jalan-jalan keluar sebentar" Pinta Rin lirih. Krum diam.
"Bosan" Tambah Rin. Rumah itu berada di puncak bukit. Tersembunyi dari pandangan orang. Mungkin orang malah tidak tahu ada rumah di sana.
"Sebentar saja" Pinta Rin lagi. Hening. Rin akhirnya menarik nafasnya. Tahu kalau Krum tidak mengizinkannya keluar. Sebenarnya Krum tidak suka Rin berada di rumah itu. Terlebih dekat dengannya. Tapi entah kenapa untuk mengusir Rin, Krum tidak pernah bisa. Lebih tepatnya tidak tega.
"Kembalilah sebelum tengah hari" Ucap Krum singkat. Lalu berlalu dari sana.
"Terima kasih, Kak" Rin berteriak.
Krum hanya melihat Rin yang mulai berjalan menjauh dari rumahnya. Gadis itu tampak senang bukan kepalang. Hari berlalu cepat. Krum meletakkan buku yang tengah di bacanya. Menyadari hari hampir petang. Juga menyadari kalau Rin belum kembali.
"Dasar manusia merepotkan!" Umpat Krum. Memejamkan mata. Mencoba mencari keberadaan Rin. Sedetik kemudian tubuh pria itu menghilang. Dan muncul di hadapan Rin, yang meringkuk ketakutan. Di depannya, sudah berkumpul penduduk desa yang sepertinya masih mengenali Rin.
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami!"
Krum hanya terdiam. Rin langsung berdiri begitu melihat Krum. Bersembunyi di balik punggung kekar Krum.
"Dialah Vampirnya!" Teriak seorang penduduk. Membuat penduduk yang lain langsung menghujani Krum dan Rin dengan serbuan anak panak. Yang semua berhasil di tahan oleh Krum.
"Kau benar, dia Vampir!" Teriak yang lain.
"Habisi dia!" Sambut yang lain. Rin yang berada di belakang Krum, tiba-tiba berteriak ketika seorang penduduk menggores lengan Rin. Teriakan Rin membuat konsentrasi Krum buyar. Hingga "aaaarrgghhhh". Krum meringis ketika satu anak panah menancap di dadanya.
Lebih terkejut lagi ketika anak panah itu terbuat dari perak. Senjata ampuh untuk membunuh vampir. Menyadari dirinya terluka cukup parah. Krum meraih pinggang Rin. Lantas keduanya menghilang seketika.
Bruukkk, tubuh Krum langsung rubuh di lantai kamarnya. Dengan Rin yang berteriak panik. Melihat darah mengucur deras dari luka di dada Krum. Gadis itu dengan sekuat tenaga menarik anak panah yang tertancap di dada Krum. Melemparnya sembarangan begitu gadis itu berhasil mencabutnya.
__ADS_1
Erangan Krum membuat Rin bertambah cemas.
"Kak, beritahu aku apa yang harus aku lakukan?" Rin berucap putus asa. Menatap pada mata Krum yang hampir terpejam. Dengan wajah mulai memucat.
"Darah....carikan aku darah" Bisik Krum lemah.
"Darah...aku harus cari di mana?" Bingung Rin. Kepanikan semakin melanda dirinya. Hingga kemudian dia teringat. Dirinya adalah manusia. Dia punya darah.
Susah payah Rin menyandarkan tubuh besar Krum di ranjang pria itu.
"Kak...ambil saja darahku" Ceplos Rin. Krum terkejut dengan permintaan Rin. Selama berhubungan dengan Rin. Tidak pernah terbersit dalam benak Krum untuk meminum darah Rin. Meski aromanya sangat menggoda.
"Lakukan saja. Ambil sebanyak yang Kakak mau" Rin berucap panik. Menatap Krum. Meyakinkan pria itu.
"Aarrgghhh" Krum meringis ketika dia merasa lukanya tidak kunjung berhenti mengeluarkan darah. Hingga seolah tidak punya pilihan, pria itu mulai menegakkan tubuhnya. Mendekat ke arah leher Rin, yang terlihat begitu menggoda.
Aroma darah Rin tercium begitu manis. Membuat rasa dahaga di tenggorokan Krum kian menjadi. Mata hitam itu seketika berubah menjadi merah. Bersamaan dengan sepasang taring yang mulai muncul.
Sejurus kemudian, mata Rin membulat. Ketika taring Krum menghunjam lehernya. Seiring rasa sakit saat Krum mulai menghisap darah Rin. Dua tangan Rin, mencengkeram erat lengan Krum.
Ajaib, beberapa saat berlalu. Luka di dada Krum berhenti mengeluarkan darah. Bersamaan dengan luka pria itu menutup perlahan.
Krum menarik nafasnya lega. Begitu dia melepas gigitannya pada leher Rin. Ditatapnya wajah Rin yang terlihat pucat. Bersandar pada dadanya. Tidak sadarkan diri.
"Maaf" Untuk pertama kalinya, kata itu terucap dari bibir seorang Krum Gabriel Verona. Perlahan mulai menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Rin.
"Cantik" Kembali, satu kata yang jarang Krum ucapkan terdengar. Akankah hati seorang Krum mulai luluh pada seorang gadis dari dunia manusia yang polos.
****
Krum,
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
***