Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Dia Bangun


__ADS_3

"Maafkan aku," satu kata yang meluncur dari bibir Hans membuat Luis terdiam. Air mata tidak lagi dia bisa bendung. Pria itu terisak di pundak Yoon yang hanya bisa diam. Tanpa bisa berkata apa-apa. Hanya penyesalan yang kini Luis rasakan dalam hati.


"Luis, ...." Sebuah suara lembut terdengar memanggil. Luis berbalik dan melihat sang ibu, Aira. Tersenyum padanya. Seulas senyum terbit di bibir Luis. Setidaknya diantara kehilangan yang dia rasa, masih ada kebahagiaan tersisa untuknya. Sang ibu yang sangat dia cinta ternyata masih hidup.


"Hans, ambillah darahku. Berikan pada Dewi Aira dan Lucas." Pinta Ara sebelum wanita itu memejamkan matanya.


"Tidak! Kau akan kehilangannya jika melakukan itu."


"Dia akan mengerti kenapa aku melakukannya. Dengarkan aku Hans, aku, kami masih bisa memilikinya lagi. Tapi jika mereka terlepas kali ini. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Lakukan Hans, kembalinya mereka akan membawa kebahagiaan pada semua."


Hans benar-benar harus menahan amarahnya kala itu. Mendengar permintaan Ara, sebab resikonya sangat besar.


"Maafkan Ibu. Karena Ibu, kau kehilangan dia." Aira merasa bersalah. Kebangkitannya harus ditebus dengan sebuah pertukaran yang sangat besar.


"Aku mencoba menerimanya Bu. Kami akan berusaha di lain waktu." Luis menjawab sambil menatap seorang wanita yang terbaring di hadapannya. Aira lalu memeluk tubuh sang putra. Dia tahu betapa rapuhnya sang putra saat ini. Kembali air mata mengalir di pipi Luis. Dia benar-benar merutuki kebodohannya.


***


Luis tampak menghadap langit fajar yang baru akan merekah beberapa saat lagi. Dia berada di lantai teratas istana Black Castle. Atapnya berbentuk kubah dengan kaca sebagai bahan atapnya. Hingga sinar matahari akan langsung terasa. Tapi saat ini kubah itu masih tertutup tirai tebal. Luis terlihat memeluk sebuah guci dalam dekapannya.


Perlahan semburat kemerahan menyeruak di sisi timur. Semakin lama semakin terang. Kubah Black Castle mulai terlihat berkilauan, menerima sinar mentari pagi untuk pertama kalinya.


Luis menoleh ke arah belakang, dimana Aiden, Yoon, Lucas, dan Hans berada di sana. Berada di sisi yang berseberangan dengan Luis. Pria itu mengangguk samar. Dan satu gerakan berputar dari Aiden, membuat tirai di hadapan Luis perlahan terbuka. Memperlihatkan sinar mentari pagi yang hampir sempurna keluar dari peraduannya. Hal yang sangat ditakuti oleh bangsa Vampir.


Luis perlahan mengangkat guci yang ada dalam pelukannya. Mengarahkannya pada sinar mentari yang kini bersinar terang di hadapannya.


"Maafkan aku. Karena kebodohanku kamu menjadi korban. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu. Aku mencintaimu selalu. Sekali lagi, maafkan Papa, Nak."


****

__ADS_1


Lucas menundukkan kepalanya ketika Hellas Verona memakaikan sebuah mahkota berwarna merah. Mahkota bertahta berlian merah, warna yang di anggap mewakili bangsa Vampir. Yang memang identik dengan warna hitam dan merah.


"Dengan ini aku putuskan kalau Lucas Altemose Verona, adalah raja Vampir yang baru. Menggantikanku Hellas Verona."


Ucapan Hellas disambut tepukan tangan yang meriah dari seluruh penjuru aula besar itu. Taburan convetti seketika ada di mana-mana. Menyambut kehadiran raja baru bagi klan itu.


"Selamat, mulai sekarang kau akan pusing tujuh keliling dibuatnya." Hans mulai bertingkah. Meski tangan pria itu memeluk pinggang ramping Ailee.


"Enak saja pusing. Ini hanya formalitas. Kau ingat perjanjian kita?" Lucas melirik penuh arti pada Luis dan Krum secara bergantian.


"Iya-iya. Kau hanya front man saja, visualnya saja. Pekerjaan tetap dibagi tiga." Luis menjawab kesal. Mendengar syarat yang diajukan Lucas, si bungsu. Agar dia mau dinobatkan menjadi raja Vampir.


"Kau...jangan lari dari kewajibanmu." Lucas menatap garang pada Krum.


"Iya-iya. Aku tidak lupa bagianku." Krum menjawab malas.


"Begitu dong. Ah....bahagianya aku." Lucas merangkul Luis dan Krum bersamaan. Sementara dua orang itu menatap jengah pada kelakuan Lucas.


"Ibu..." Lucas berlari menuju Aira. Langsung memeluk wanita itu.


"Hei, minggirlah! Dia wanitaku!" Hellas berucap galak.


"Ck..Ayah ini menyebalkan. Cemburu lihat tempat dong. Lagian Ayah curang. Menyembunyikan Ibu padahal tahu kalau Ibu masih hidup." Hellas langsung terdiam. Dia mengakui kalau dalam hal ini, dia memang bersalah. Karena menyembunyikan fakta kalau Aira sebenarnya masih hidup. Hal yang membuat Luis dan Krum berada dalam situasi yang menegangkan selama bertahun-tahun.


"Husshhh, jangan menyalahkan Ayahmu terus. Apa kau tidak melihat, kalau dia juga tersiksa." Bela Aira.


"Bucin!" Lucas mengumpat. Dan sang ibu hanya tertawa. Memberi kode pada Luis untuk mendekat. Pria itu paham. Lalu mendekat dan ikut memeluk ibunya. Lucas mengembangkan senyumnya. Merasa sangat bahagia.


"Krum kemarilah." Pinta Aira. Namun Krum terlihat ragu. Hingga Lucas mendekati Krum. Lalu menarik tangannya.

__ADS_1


"Tidak ingin memeluk ibu juga." Mata Krum langsung berkaca-kaca. Dia ingat benar bagaimana Aira begitu menyayangi dirinya saat dia masih kecil. Hal yang membuat Krum marah pada Luis adalah pria itu mendapatkan kasih sayang dan cinta dari sang ibu Aira. Sedangkan dia tidak, Nereida meninggal ketika dia masih kecil. Krum iri pada Luis.


"Kemarilah..." Aira mendekat pada Krum. Lalu tanpa ragu memeluk Krum. Pria itu hanya bisa terdiam ketika tangan Aira mengusap lembut punggung Krum.


"Apapun keadaannya, sampai kapanpun, kau tetap putra ibu juga. Kakak dari Luis dan Lucas." Ucapan Aira membuat air mata Krum yang sejak tadi ditahannya. Tidak lagi bisa dibendungnya. Pria itu menangis setelah ratusan tahun tidak menangis.


"Ibu....." Krum memanggil Ibu berkali-kali pada Aira. Pemandangan yang membuat siapa saja langsung berkaca-kaca.


"Aku akan merawatnya seperti putraku sendiri. Seperti janjiku padamu, Nereida."


Lucas nampak memeluk Asha penuh cinta. Yoon dan Erika terlihat saling menautkan jari-jari mereka. Dan satu pemandangan fenomenal terlihat. Aiden, si pria bijaksana akhirnya menerima Maria. Setelah wanita itu mengejarnya tanpa henti.


"Aku bisa memakanmu kalau kau terus mengejarku."


"Tidak masalah. Siapa juga yang akan menolak. Dimakan oleh pria setampan dirimu."


Aiden benar-benar tidak bisa mengelak lagi. Apalagi Maria memang sudah akrab dengan Ara, Erika dan Ailee. Ditambah lagi tiga wanita itu selalu meracuni pikiran Maria untuk tidak berhenti mengejar Aiden.


Dan beginilah akhirnya, si bijaksana itu tidak berkutik ketika Maria melamarnya. Yap, Maria melamar Aiden. Lengkap dengan cincin yang kini melingkar di jari masing-masing. Rencananya, mereka akan menikah secara bersamaan setelah keadaan membaik.


Begitupun dengan Paul. Pria itu akhirnya menemukan tambatan hatinya. Tentu setelah melalui proses seleksi dari Olivia, si peri imut.


Wanita itu bernama Laura. Seorang pastry chef yang awalnya ingin melamar pekerjaan di kafe Paul. Dan berakhir menjadi kekasih pemilik kafe.


Suasana masih terlihat begitu meriah. Dengan canda dan tawa terdengar di sana sini. Meski wajah Luis tetap menunjukkan raut muramnya. Hingga ponsel Hans yang berdering mengalihkan perhatian semua orang.


"Ya katakan." Mengabaikan tatapan tajam dari Hellas Verona. Karena ponsel di larang di Black Castle. Hans langsung menatap Luis.


"Dia bangun." Semua orang saling memandang.

__ADS_1


****


__ADS_2