Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Umur Bukan Jaminan


__ADS_3

Luis dan Lucas saling pandang. Mereka tidak berpikir kalau mereka mirip.


"Mirip dari mananya?" Lagi Yoon bertanya.


"Lagian ucapan peri iri saja didengarkan. Sudahlah...sekarang kita harus mencari sihir utamanya" Potong Aiden cepat. Mereka mulai berpikir. Hingga tiba-tiba sebuah kilasan pikiran Olivia masuk ke pikiran Luis.


"Aroma ini...aku sepertinya tahu" Luis berucap sambil menatap pada Hans. Yang langsung tidak paham apa maksud Luis.


"Kau yakin dia ada di sini?" Lucas bertanya. Kalau aroma itu dia, Hans yakin kalau dia yang mereka cari ada di sini.


"Hans yang buat salah. Kenapa Ara yang diserang. Harusnya Ailee" Gerutu Luis. Berjalan masuk ke sebuah gudang tua.


"Dia sengaja mau mati di sini" Celetuk Aiden.


"Kenapa bawa-bawa Ailee?" Kesal Hans.


"Kalau itu memang dia. Berarti dia juga ada dendam denganmu. Kau menolaknya juga kan dulu"


"Memang iya, tapi itu kan sudah lama. Kenapa dendamnya baru nongol sekarang" Sungut Luis. Menghentikan langkahnya ketika mereka sudah memasuki bagian dalam gudang. Mereka yang suka gelap tidak perlu penerangan.


"Keluar atau kuseret paksa!" Ucapan tajam dari Luis membuat siapapun akan merinding saat mendengarnya.


Hening, tidak apapun yang terjadi. Mereka masih terlihat santai. Kecuali Luis. Dia tidak punya stok sabar lebih jika sudah menyangkut nyawa Ara.


"Lucas!" Yang dipanggil langsung memutar matanya malas. Astaga, tidak sabaran banget sih. Lucas berjalan dengan langkah malas. Menuju ke bagian dalam gudang. Di mana tak lama kemudian, pria itu membawa seseorang berhodie. Setengah menyeretnya.


"Kenapa aku diseret? Apa salahku" Teriak orang itu yang tak lain adalah Evelyn.


"Jangan berpura-pura. Kau tahu yang kau lakukan!" Bentak Luis. Membuat Evelyn berjengit kaget. Habis sudah rasa takjub yang dulu Evelyn punya untuk Luis. Wanita itu menatap Luis dan yang lainnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Semua saling pandang melihat Evelyn Hobart yang berada di hadapannya. Jika semua ini benar, mereka tidak menyangka jika pelakunya adalah Evelyn. Sejenak suasana menjadi hening. Hingga kemudian Luis mulai bicara.


"Hentikan sihirnya sekarang" Luis mencoba bicara baik-baik pada Evelyn. Mengingat dia wanita. Pria itu juga tidak ingin bersikap kasar pada wanita.


"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti?" Evelyn mencoba berkilah.


"Jika kau tak mengerti dengan ucapannya. Lalu apa yang kau lakukan di sini?" Aiden mencoba cara lain.


"Aku sedang berburu. Aku lapar" Jawab Evelyn lirih. Namun sebuah kilatan di tangan kiri Evelyn berhasil di tangkap oleh mata Hans. Kilatan dari sihir penghancur jiwa yang hampir sempurna menghancurkan jiwa Ara. Meski pada kenyataannya, kekuatannya berhasil di hambat oleh perlindungan dari Luis


"Sihir utamanya ada di tangan kirinya" Hans berucap pelan. Mendengar perkataan Hans. Evelyn langsung melompat berusaha kabur. Membuat Luis seketika mengejar wanita itu dengan marah.

__ADS_1


Hingga aksi kejar-kejaranpun tidak terelakkan. Mesk begitu tidak perlu waktu lama bagi Luis untuk menangkap Evelyn. Tak berapa lama, Evelyn hanya bisa meringis ketika Yoon memaksanya untuk berlutut di hadapan Luis.


"Berikan tanganmu!" Evelyn langsung berusaha berontak mendengar perkataan Luis. Sebentar lagi dan tujuannya akan tercapai. Dia berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Yoon.


"Tidak akan! Aku tidak melakukan apapun!"


"Jangan mengelak lagi Eve. Semua sudah jelas. Kau tidak bisa menghindar lagi" Hans berkata sambil menatap prihatin pada Evelyn. Bagaimanapun mereka adalah teman sejawat. Pernah memiliki hubungan baik di masa lalu.


Luis meraih tangan Evelyn paksa. Dengan satu gerakan berputar. Pria itu menghancurkan sihir penghancur jiwa yang Evelyn buat. Cahaya berwarna putih itu perlahan memudar. Namun Evelyn justru tersenyum.


"Tapi kau sudah terlambat. Serpihan jiwanya sudah pergi entah ke mana" Evelyn menyeringai puas.


"Sial!" Luis memaki. Hingga detik berikutnya pria itu sudah menghilang. Dan muncul di kamar miliknya. Di luar dugaan, dilihatnya Ara yang sudah duduk di tepi ranjangnya. Terlihat baik-baik saja.


"Apa kau baik-baik saja?" Luis masih terlihat panik meski bisa dilihatnya Ara yang tersenyum padanya.


"Aku baik-baik saja" Jawab Ara. Menyentuh pelan wajah suaminya. Dia tahu Luis tengah mengkhawatirkannya.


"Sihirnya sudah kau patahkan bukan? Jadi semuanya baik-baik saja" Asha menjelaskan.


"Tapi dia bilang, sihirnya sudah bekerja sempurna. Dan serpihan jiwamu sudah pergi ke mana-mana"


"Kau harus melatih kemampuanmu ratu Vampir" Sambung Asha keluar dari kamar Luis.


Begitu Asha keluar kamar. Luis langsung memeluk sang istri erat. Meluapkan segala beban ketakutan di hatinya yang kini seolah sudah lenyap.


"Maafkan aku selalu membuatmu cemas" Bisik Ara dalam pelukan Luis. Pria itu hanya tersenyum. Belum ingin melerai pelukannya. Ara hanya bisa membiarkan Luis memeluknya tanpa ingin melepaskan diri.


***


"Lepaskan aku!" Evelyn berteriak. Sambil meronta. Berusaha melepaskan diri dari kekangan sihir Yoon.


Dirinya dikurung di sebuah ruangan tak kasat mata. Di sebuah penjara melayang milik klan Vampir.


"Diamlah, dan nikmati hukumanmu karena berani mencelakai ratu Vampir" Satu suara dingin dan kejam terdengar memenuhi ruangan gelap dan pengap itu.


"Kalian salah dengan tidak membunuhku! Lihat saja apa yang bisa aku lakukan. Aku akan keluar dari sini dan membunuhmu! Kali ini kau tidak akan selamat" Seringai Evelyn kejam.


***


"Kenapa Kakak menatapku seperti itu?" Erika bertanya sambil mengerutkan dahinya. Di depannya, Yoon duduk sambil melipat tangannya. Menatap tajam ke arah Erika.

__ADS_1


"Kau tidak ingat sudah membuat kesalahan?" Yoon bertanya dingin. Bisa dipastikan dia bukan lagi kulkas berjalan. Tapi kutub utara yang pindah ke hadapan Erika.


"Kesalahan apa?" Erika yang tidak paham maksud perkataan Yoon jelas bingung. Seingatnya, dia tidak berbuat apapun yang menyalahi aturan "pacaran" dengan penasehat Luis itu.


"Kau tidak ingat yang kau katakan pada Paul. Soal kau yang belum menikah"


"Kan memang benar kita belum menikah" Erika menjawab santai. Tanpa dia tahu jawabannya mematik kemarahan Yoon.


"Kau tahu jawabanmu bisa membuat orang berspekulasi kalau kau masih single" Desis Yoon penuh penekanan. Bisa dipastikan jika pria itu sedang menahan amarahnya.


"Begitu ya...jadi aku harus bilang sudah menikah padahal belum"


"Erika....!" Yoon jadi gemas mendengar jawaban Erika yang sangat santai itu.


"Kakak ini kenapa sih? Cemburu? Cemburu bilang saja. Bukannya Paul sudah meminta izin pada Kakak. Kalau tidak suka kenapa diizinkan"


Yah malah Erika yang ngomel. Padahal niat hati Yoon yang ingin marah. Mendengar omelan Erika, Yoon malah melongo. Yang pengen marah siapa. Yang jadi marah siapa. Pada akhirnya pria itu hanya menarik nafasnya. Begini ni resiko pacaran dengan anak kecil.


Wk wk wk, Erika disebut anak kecil oleh Yoon. Ya iyalah, meski Erika sudah 25 tahun, tapi umur Yoon kan...berapa ya. Dia sendiri tidak ingat.


"Bukan begitu Rika, aku tidak suka jika orang berpikir masih ada kesempatan bisa berkencan denganmu" Yoon menjawab manyun.


"Jadi sukanya Kakak bagaimana?"


"Astaga,...kau mengagetkanku" Yoon memundurkan tubuhnya karena Erika, tiba-tiba sudah berada di depan wajahnya.


"Kak Yoon suka yang seperti ini..."


Erika mendekatkan wajahnya pada Yoon. Detik berikutnya dua bibir itu sudah bertaut dengan Erika yang langsung ******* bibir Yoon. Pria itu terkejut tentunya. Namun seiring pagutan Erika yang semakin intens. Pria itu tersenyum. Menarik pinggang Erika untuk duduk di pangkuannya.


"Aku tarik ucapanku soal Erika yang seperti anak kecil. Anak kecil ini pintar sekali membujukku. Ternyata umur bukan jaminan. Anak kecil tingkah dewasa sekali" Kekeh Yoon dalam hati.


***



Kredit Pinterest.com


Min Yoongi 😍😍😍


****

__ADS_1


__ADS_2