
"Jangan mendorongku!" Asha berteriak kesal.
"Siapa yang mendorongmu. Aku kesandung. Disini gelap. Banyak kerikilnya" Keluh Lucas. Asha memejamkan matanya, mendengar gerutuan Lucas.
"Namamya juga dunia bawah. Kopiannya neraka. Mana ada hal baik di sini. Gelap, kotor, pengap, panas...
"Sudah-sudah, nanti malah jadi panjang urusannya kalau kamu ngomel" Potong Lucas cepat. Kenapa semua perempuan suka mengomel. Tidak Asha, Ara bahkan Erika. Semua sangat pandai mengomel.
"Kau marah?"
"Tidak" Lucas menjawab cepat.
Asha meneruskan langkahnya sambil mendengus kesal. Mereka berjalan menyusuri bukit berbatu. Dengan ngarai di bawah mereka. Malam hari, tapi hawa panas benar-benar terasa menyiksa di tempat Asha.
Lucas bahkan sudah menghilangkan jubahnya. Meninggalkan kemeja hitam yang membalut tubuhnya.
"Apa masih jauh?"
"Seharusnya tidak. Aku hanya sekali diajak ibuku ke sini"
"Ibumu tahu ada portal ke dunia atas?"
"Tahu, sebab ibuku berasal dari dunia atas"
"Pantas saja, Asha begitu cantik. Dia punya turunan ras dunia atas" Batin Lucas.
"Aku rasa ada di dalam sana" Asha bergumam ketika mereka sampai di depan sebuah gua.
"Kau yakin?" Tanya Lucas. Pria itu lalu mengambil alih jalan. Berjalan di depan Asha. Dengan wanita itu berjalan mengikuti Lucas.
Hawa panas kembali Lucas rasakan. Dia pikir, dia sama sekali tidak cocok berada di dunia bawah.
"Panasnya! Luis kau harus pasang AC kalau besok mau ke sini" Teriak Lucas pada Luis yang langsung tersenyum di ujung sana.
"Kau ini kenapa sih?"
"Panas, tuan Putri. Pengennya buka baju aja" Ucap Lucas asal.
"Itu memang yang selalu ada di kepalamu. Telanjanglah...nakedlah. Mesum!" Maki Asha.
"Kenapa? Naked itu enak lo. Apalagi kalau ada partnernya"
"Sama Hans mau?"
"Idih ogah. Aku masih lempeng ya, Sha. Belum belok"
"Baguslah kalau begitu" Lucas langsung memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Asha.
Semakin masuk ke dalam gua. Hawa panas mulai berkurang. Keadaan mulai terasa nyaman bagi Lucas.
"Aku rasa kita sudah sampai" Asha berucap. Menatap sebuah batu yang berada di atas mereka. Lucas menatap ke depan. Meski di luar sana gelap. Tapi di sini cukup terang. Ini aneh.
"Aku pikir portalnya ada di sini" Asha berucap sambil menaiki sebuah tangga dari batu. Menuju sebuah tempat yang berada satu lantai di atas mereka.
__ADS_1
"Apa itu?" Lucas bertanya sambil menunjuk sebuah benda seperti cermin berbentuk oval.
"Sebentar" Asha menyentuh benda itu. Sesaat kemudian benda itu bersinar. Menampilkan pendar cahaya berwarna. Dengan pusaran awan berada di tengah benda itu.
"Iya ini portalnya" Asha berucap senang.
"Mudah sekali menemukannya" Gumam Lucas.
Sementara itu, Rakuten langsung membuka matanya yang terpejam. Begitu merasakan ada yang membuka portal menuju dunia atas di wilayahnya. Pria itu jadi sering mengurung diri sejak Asha di beritakan meninggal. Kesedihan meliputi hati laki-laki itu.
Siapa yang membuka portal itu. Hanya dirinya dan istrinya yang bisa membuka portal itu. Atau keturunan yang mewarisi darah sang istri. Tapi bukankah Asha sudah...tunggu dulu. Jika istrinya sudah meninggal. Berarti hanya dirinya dan Asha yang bisa membuka pintu dimensi itu. Jika itu bukan dirinya...mungkinkah jika sang putri masih hidup. Mungkinkah Rakasha bisa selamat dari lautan lava pijar di jurang itu.
"Zaga" Rakuten memanggil orang kepercayannya. Dan tak lama, seorang pria tinggi besar dengan wajah seram sudah muncul di hadapannya.
"Cover aku sebentar..Aku akan pergi sejenak" Perintah Rakuten. Dan Zaga langsung mengangguk tanpa bertanya maupun membantah.
"Cliiiinngg"
Rakuten muncul di gua tempat portal ke dunia atas berada. Menyentuh pelan portal itu. Benar saja, benda ini baru saja diaktifkan. Tapi oleh siapa. Tunggu dulu...Rakuten menajamkan indera perasanya.
"Ada aura Iblis yang kuat tapi ada....aura Vampir yang juga cukup kuat" Batin Rakuten.
Siapa dari rasnya yang berhubungan dengan klan penghisap darah itu. Pikir Rakuten sambil menatap batu berbentuk oval yang menjadi pintu ke dunia atas.
"Yunze aku merindukanmu" Batin Rakuten pilu.
****
Ara membuka matanya perlahan. Dia langsung menatap langit-langit kamar berwarna emas.
"Kau bangun?" Sherpa muncul di hadapan Ara. Pria itu sudah mengganti jubahnya. Menjadi warna putih. Senada dengan rambutnya yang diikat sederhana.
"Aku di mana?"
"Rumahku, atau lebih tepatnya kamarku yang sebentar lagi akan jadi kamar kita"
"Apa maksudmu?" Ara mengusap kepalanya pelan.
"Luis...Luis.... arrgghhh" Ara memegangi lehernya.
"Kau tidak boleh memikirkan dia. Jika kau melakukannya. Itu yang akan terjadi padamu" Sherpa mengangkat tangannya. Dan cekikan di leher Ara mulai mengendur.
"Kau membuatku jadi tawananmu" Teriak Ara.
"Karena kau adalah milikku. Kau tidak boleh memikirkan orang lain dalam hati atau kepalamu"
"Aku bukan milik siapa-siapa. Aku adalah milik diriku sendiri"
"Kau berani melawanku" Geram Sherpa. Mencengkeram dagu Ara yang masih duduk di ranjang Sherpa.
Air mata Ara mulai turun. Seiring ringisan lirih yang keluar dari bibir Ara. Kuku Sherpa sedikit menusuk kulit Ara.
"Luis...Luis....arrgghhhhh"
__ADS_1
"Coba saja lakukan itu atau akan aku hapus dia dari pikiranmu"
Ara menggeleng pelan. Bersamaan dengan cekikan di lehernya yang semakin kuat. Mata Sherpa tak bisa lepas dari mata bulat bening milik Ara. Ada sejuta rasa yang menarik perhatian Sherpa untuk terus menatap mata itu.
Pelan pria itu menundukkan wajahnya. Mencium lembut bibir Ara yang tidak melawan karena Sherpa menggunakan hipnotis pada Ara.
"Kau benar-benar membuatku gila, Ara" Sherpa terus menikmati bibir Ara untuk beberapa waktu.
***
"Kau siap?" Tanya Zaga pada Sherpa.
Yang kembali memakai jubah hitamnya. Namun kali ini jubah itu bersulam benang emas. Hingga terlihat mewah. Tak lupa sebuah mahkota berbentuk ular melingkar di kepalanya. Menunjukkan kalau dialah penguasa sesungguhnya di dunia atas. Aura Sherpa naik berlipat-lipat. Dengan wibawa terpancar dari wajahnya. Menatap dingin ke bangunan yang berada satu tingkat di atas kediamannya.
Kredit Pinteret.com
Istana utama. Di mana tahtanya berada. Pusat dari kerajaannya. Sherpa pikir sudah waktunya melengserkan "ayah tiri" dari singgasana miliknya.
"Ayo lakukan" Titah Sherpa setelah menatap ke arah kamarnya.
Aula istana utama. Sebuah tempat luas, di mana di ujung sana terdapat sebuah kursi berwarna emas dengan ukiran ular menghiasi keseluruhan kursi itu. Dan di atas kursi itu duduk seorang pria yang tampak angkuh. Menatap ke arah para pejabat yang duduk satu tingkat di bawahnya. Sepertinya sebuah pertemuan besar sedang digelar. Sebab itulah Sherpa ingin melengserkan pria itu sekarang. Di depan seluruh pejabat yang ada di kerajaannya.
"Yang Mulia Raja Mago, seperti yang Anda ketahui, seseorang sudah menerobos ke wilayah kita melalui portal dari dunia fana. Apakah Anda ingin kami melacak siapa penyusup itu" Tanya seorang pejabat.
"Tentu saja kau harus menyelidikinya. Siapa tahu dia berbahaya untuk keselamatan negeri kita"
Semua orang mengangguk, menyetujui ucapan raja Mago.
"Berbahaya untuk keselamatan negeri ini atau keselamatanmu sendiri"
Suara Sherpa terdengar bersamaan dengan pria itu yang masuk ke aula istana. Dengan langkah tegas dan berani. Seolah tempat itu bukanlah aula istana. Tapi tempat yang menjadi miliknya.
"Sherpa?" Mago jelas terkejut dengan kemunculan Sherpa. Dia melirik ke arah kirinya, di mana sang istri yang tak lain ibu Sherpa langsung berdiri untuk melihat sang putra.
"Sherpa-ku kembali!" Pekik wanita itu.
Semua orang langsung berdiri dan berbisik satu sama lain. Mago langsung panik melihat hal itu.
"Kau takut? Mago!" Sherpa berucap tajam dan dingin pada Mago yang duduk di tahtanya.
"Bagaimana kau bisa kembali?"
"Tentu saja aku bisa kembali. Kau pikir sihir murahanmu itu bisa menahanku selamanya? Kau salah besar, Mago" Satu gerakan dari Sherpa, dan Mago langsung terjungkal dari kursinya. Jatuh berguling-guling di tangga lalu berhenti tepat di bawah kaki Sherpa.
Semua orang dibuat menganga dengan kejadian itu. Tapi mereka bisa apa. Di hadapan mereka adalah Sherpa, raja dunia atas yang memang sudah di tetapkan sejak dulu lagi.
"Sudah saatnya kau mengembalikan apa yang kau curi dariku. Sudah saatnya semua kembali pada tempatnya" Desis Sherpa menatap tajam pada Mago. Yang tidak berkutik di hadapan Sherpa.
Dan hari itu Sherpa mengambil alih kembali kendali negerinya. Dengan mudah. Tanpa perlawanan yang berarti dari Mago.
Hari baru sudah di mulai. Awal dari sebuah perjalanan yang Sherpa sendiri tidak tahu akan membawanya ke mana.
__ADS_1
****