
Nangmi langsung membanting semua barang yang ada di kamarnya. Dewi cantik itu masih memakai pakaian pengantinnya. Setelah Tianyi melapor pada Kaisar Langit. Setelah itu Sherpa dan Nangmi dijemput paksa. Dibawa langsung ke aula istana di dunia langit. Setelah diinterogasi. Sherpa mengakui semua perbuatannya. Padahal tidak terjadi apa-apa. Sedang Nangmi jelas menyangkal semua tuduhan Tianyi.
Sherpa langsung mengembangkan senyumnya ketika Kaisar Langit langsung memutuskan kalau mereka berdua harus menikah. Dan dalam waktu kurang dari 24 jam. Pernikahan dua dunia itu terjadi. Nangmi sempat optimis karena Love Stone pasti tidak akan mengesahkan pernikahan mereka.
Namun dewi itu melongo. Ketika Love Stone langsung bercahaya merah. Begitu darah mereka berdua menetes di atas batu sihir itu.
"Ternyata cinta yang kupunya adalah milikmu" Batin Sherpa menatap Nangmi yang jelas marah saat itu.
"Dia memanipulasi batu sihirnya" Nangmi berucap marah. Saat itu Sherpa masuk ke kamar Nangmi. Sama dengan dewi cantik itu, Sherpa masih memakai pakaian pengantin yang di dominasi warna merah.
"Keluar kau!" Nangmi mendorong tubuh besar Sherpa keluar dari kamarnya. Karena memang saat ini mereka berada di istana dewi bunga di dunia langit.
"Hei...aku ini suamimu. Kenapa juga aku harus keluar" Kilah Sherpa. Menahan kedua tangan Nangmi yang masih berusaha mendorong tubuhnya.
"Aku tidak menerima pernikahan ini. Kau pasti memanipulasi batunya. Kau penipu!" Geram Nangmi. Yang hanya disambut senyuman oleh Sherpa.
"Sekarang kau cari, sihir mana yang mampu memanipulasi Love Stone. Kalau ada beritahu aku. Akan kugunakan untuk memanipulasi cintaku pada Ara"
"Ara? Siapa dia?"
"Dia manusia yang membuatku sadar kalau cintaku hanya untukmu. Bagaimanapun aku memaksa, Love Stone tetap tidak mau mengesahkan pernikahanku dengan Ara. Meski aku sudah menghapus ingatannya soal pria yang dia cinta"
"Kau hanya menjadikanku pelarianmu. Kau keterlaluan Sherpa!" Teriak Nangmi. Kesal sekali rasanya. Mendengar ucapan Sherpa soal wanita yang bernama Ara.
"Kau akan jadi yang terakhir bagiku, dewiku. Maafkan aku yang telah melukai hatimu. Aku mencintaimu" Bisik Sherpa lembut. Menatap dalam bola mata Nangmi. Cantik dan anggun. Nangmi seketika terdiam mendengar pernyataan cinta dari Sherpa. Kata-kata yang sudah lama Nangmi nantikan. Menguap sudah rasa marah Nangmi. Hilang sudah rasa kecewa dalam hati dewi bunga itu.
"Kau pintar sekali merayu wanita. Berapa korbanmu" Nangmi berucap sambil melepaskan diri dari cekalan Sherpa. Berjalan menjauh. Namun Sherpa menarik tangan Nangmi. Membuat dewi itu kembali pada ke pelukan Sherpa.
"Apa kau percaya kalau hanya Ara yang pernah mengacaukan hatiku selain dirimu. Tapi yang kau lakukan benar-benar membuatku kacau" Bisik Sherpa lagi.
"Jangan membual. Kau pikir aku percaya? Kau hanya menganggapku mainan" Balas Nangmi tajam.
"Haruskah aku memaksamu sekarang. Agar petir menyambar di empat dunia?"
"Lepas Sherpa!" Nangmi jelas gelagapan mendengar ucapan Sherpa.
__ADS_1
"Tidak! Bukankah kita seharusnya melakukan ini sejak lama. Dan aku dengan bodoh menolaknya" Sesal Sherpa. Detik berikutnya pria itu mulai menautkan bibirnya. Ke bibir Nangmi yang terasa begitu manis. Sesuai dengan namanya. Dewi bunga, seluruh tubuhnya menguarkan wangi dari jutaan bunga yang berada di bawah kendalinya. Bibirnya semanis sari pati bunga yang sangat disukai oleh kupu-kupu.
"Jangan menolakku" Mohon Sherpa ketika lagi-lagi Nangmi berusaha mendorong tubuh suaminya. Nangmi yang memang sejak dulu mencintai Sherpa. Tidak lagi mampu menolak. Ketika sang suami, semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sang dewi. Suasana berubah panas ketika ciuman Sherpa semakin intens dan dalam. Tak kala Nangmi mulai membalas pagutan dari Sherpa.
Satu kibasan dan jubah pengantin keduanya sudah teronggok di lantai. Dengan seluruh tirai di kamar itu yang tertutup bersamaan. Seiring dengan bunga yang bermekaran di seluruh alam. Juga petir yang kembali menggelegar di empat dunia. Penyatuan yang tertunda selama ratusan tahun itu akhirnya terjadi juga.
"Bersabarlah...dia yang sudah ditetapkan menjadi milikmu. Selamanya akan menjadi milikmu. Dia akan kembali padamu"
Satu nasihat dari Mahadewi, pemimpin semua dewi di dunia langit. Terngiang di telinga Nangmi. Bisa dia lihat wajah puas Sherpa. Yang terlelap di hadapannya. Memeluk erat tubuh polosnya. Perlahan tanda di kening pria itu berubah. Ular dengan lilitan bunga lotus. Sama dengannya.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya melakukan ritualnya. Menandai dirimu. Agar tidak lari lagi" Sherpa berucap masih mata terpejam.
"Memangnya aku kau. Lari saja hobinya" Dengus Nangmi kesal. Mendorong dada polos Sherpa agar menjauh.
"Kau masih bisa memakiku. Mau aku buat tidak bisa bicara karena lelah" Kali ini mata Sherpa sudah terbuka. Manik hitam itu menatap tajam sekaligus lembut pada sang istri.
"Jangan sembarangan kalau bicara. Minggir. Kau membuatku tidak bisa bergerak" Nangmi mengangkat tangannya. Dan tirai di ranjangnya terbuka kembali.
"Kenapa diturunkan?"
"Mandi saja kalau gerah" Mendengar ucapan Sherpa. Nangmi langsung melambaikan tangannya. Dan jubah pengantin yang tadi teronggok di lantai. Langsung terbang ke arahnya.
"Mau ke mana?"
"Mandi" Sahut Nangmi. Memakai jubahnya. Hendak bangun. Ketika Sherpa menarik kembali tubuh Nangmi.
"Yang bilang mandi sekarang siapa?" Seringai Sherpa. Sementara Nangmi langsung membulatkan matanya. Ketika tubuhnya kembali berada di bawah kungkungan tubuh Sherpa.
"Aku belum puas, Dewi. Yang tadi hanyalah ritual untuk menandaimu. Dan sekarang adalah permainan yang sesungguhnya" Nangmi jelas berontak. Yang tadi saja dengan durasi yang tidak terlalu lama. Sudah membuat tubuhnya sakit semua. Apalagi miliknya. Sherpa benar-benar buas di ranjang.
"Sherpa hentikan. Sakiit" Sherpa seketika sadar. Detik berikutnya pria itu mencium lembut kening Nangmi. Sebuah sihir kuno dia sebarkan di tubuh Nangmi. Tubuh dewi itu seketika terasa segar kembali.
"Maafkan aku. Kau membuatku hilang kendali" Bisik Sherpa. Berikutnya pria ular itu sudah kembali mencumbu tubuh sang istri.
Mengulang kembali penyatuan mereka setelah ritual penandaan selesai.
__ADS_1
***
Ara menatap langit malam yang sejak tadi bergemuruh tidak ada habisnya. Luis belum kembali dari ruang kerjanya. Pikirannya melayang pada pertanyaan Asha beberapa waktu lalu.
"Apa perasaanmu pada Luis? Apa ingatanmu soal kalian di masa lalu sudah kembali? Itu penting untuk menguatkan ikatan kalian. Pernikahan klan vampir hanya berdasarkan pertukaran darah. Jika perasaan kalian tidak kuat. Akan mudah bagi orang lain untuk merusaknya"
Ara menarik nafasnya pelan. Dia sendiri masih di landa kebingungan. Ara merasa nyaman bersama Luis. Pria itu tidak pernah memaksa Ara soal perasaannya.
"Aku cukup mengenalmu di masa lalu. Tidak masalah jika kata cinta belum terucap dari bibirmu. Asal kau tidak menolak diriku. Itu cukup untukku"
"Apa yang kau pikirkan?" Luis bertanya. Memeluk istrinya sambil meletakkan wajahnya di bahu Ara.
"Berat Luis" Keluh Ara. Pria itu terkekeh. Namun tidak juga mengubah posisinya.
"Bagaimana aku dulu?" Sambung Ara.
"Kenapa memangnya?" Menyentuh pelan kening Ara dengan satu tangannya. Tidak ada yang aneh. Semua memori itu memang ada di sana. Tapi Ara belum juga bisa mengingatnya.
"Kenapa aku belum bisa mengucapkan kata cinta padamu?" Luis kembali terkekeh mendengar pertanyaan Ara.
"Kau tahu itu tidak penting lagi bagiku. Yang penting bagiku. Kau tidak menolak setiap kali aku mengajakmu bercinta"
"Dasar mesum. Isi kepalanya cuma itu saja. Tidak ada yang lain apa"
"Yang lain banyak. Begini Ara sayang...jika kau tidak punya cinta padaku. Kau tidak akan mau aku ajak bergulat panas di ranjang. Bercinta adalah bentuk komunikasi paling dalam antara pria dan wanita" Jelas Luis.
"Teori dari mana?" Heran Ara.
"Teorikulah. Sudahlah akan aku tunggu kata cinta darimu. Aku akan bersabar menunggu" Bisik Luis. Ikut menatap langit malam yang masih bergemuruh.
"Ada yang overtime. Kejar target nih"
"Maksudnya?"
"Ada deh" Sahut Luis. Mencium pipi Ara sekilas. Lalu masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Ara yang masih berdiri di tempatnya. Terpaku menatap langit malam. Tanpa dia tahu gelang di tangan kirinya berkelap kelip dari tadi.
__ADS_1
***