
Dunia ilusi, sebuah dunia yang berada di antara empat dunia. Ia bukanlah dunia baru atau dunia yang berdiri sendiri. Sebab keberadaannya berada di bawah kuasa dunia langit. Dengan kaisar langit sebagai penguasanya.
Ara menatap kagum pada apa yang ada di hadapannya. Terlihat begitu cantik. Hingga kemudian dia teringat jika ini dunia ilusi, apakah yang dia lihat adalah nyata? Wanita yang berada di depan Ara tersenyum. Seolah tahu apa yang tengah Ara pikirkan.
"Ini hanyalah ilusi, tipuan pandangan. Tidak nyata," ujar sang dewi. Dengan menyebut kata dewi, bayangan kita akan mengarah pada sosok cantik yang memakai hanfu khas China dengan rambut yang ditata sedemikian rupa. Cantik, lembut namun kuat dalam satu pandangan.
Nyatanya tidak, dewi yang berada di depan Ara memakai setelan kerja yang sangat stylish, dengan make up dan hair do yang sangat serasi. Penampilannya sangan fashionable, up to date dengan gaya fashion terkini.
Habis menghadiri New York Fashion Week kali ya bareng Paula Verhouven š¤£
Cantik dan sempurna, dua kata yang bisa menggambarkan keseluruhan penampilan wanita itu.
"Kalau semua ini ilusi, aslinya tempat ini seperti apa?" Ara menatap sekelilingnya.
"Aslinya tempat ini hanyalah tempat kosong. Seperti kanvas lukisan yang siap dihujani dengan cat air. Menunģgu untuk di warnai dan diberi bentuk." Sang dewi menjawab.
"Apakah kamu pemilik tempat ini?" Ara penasaran akan hal itu. Jika benar, berarti dia hebat, bisa bertemu seorang dewi kekinian.
"Bukan, aku hanya bertugas menjaga tempat ini. Dewiku sudah lama pergi." Suara itu terdengar sendu. Penuh kesedihan juga kerinduan.
"Ke mana dia pergi? Kenapa dia mengabaikan tugasnya?" Ara semakin kepo saja.
"Dia pergi agar bisa bersama kekasih hatinya. Belahan jiwanya."
"Wah, manis sekali. Pasti mereka bahagia sekali sekarang." Oceh Ara.
Namun dewi itu hanya memandang Ara dalam. Dia kemudian teringat pesan dewinya.
"Jika aku pergi nanti, akan ada di mana masanya aku akan masuk dalam tidur panjangku. Tidur panjang yang tidak akan bisa dibangunkan kecuali dengan darah murni yang telah menyatu dengan darahku sendiri. Ditambah dengan tetesan embun surgawi yang ayahku miliki. Karena tiga hal itu menggambarkan diriku. Dan hanya dengan itu aku bisa bangun"
"Darah murni ini akan datang sendiri padamu, gerbang dunia ilusi hanya aku buka untuknya dan putra-putraku kelak"
"Akankah wanita ini adalah darah murni yang dimaksud oleh dewinya?"
__ADS_1
"Oh iya, dewi cantik. Siapa namamu? Kau sangat cantik, aku ingin mengingatmu jika aku sudah keluar dari tempat ini"
"Mi Er, panggil saja aku begitu." Mi Er menjawab sambil menatap lekat wajah Ara. Berusaha meyakinkan diri kalau Aralah wanita yang dimaksud oleh dewinya.
"Oh ya Mi Er bagaimana caranya aku bisa sampai ke mari? Aku tadi ingat, kakak suamiku ingin membawaku menemui suamiku," tanya Ara.
"Aku sendiri juga tidak tahu. Sebab tidak semua orang bisa masuk ke mari. Hanya yang terpilih saja yang bisa menemukan portal dunia ilusi lalu memasukinya."
"Apakah aku termasuk yang terpilih itu?"
"Bisa saja," jawab Mi Er ambigu.
Hening sejenak. Ara masih menatap bunga-bunga yang sedang bermekaran itu. Tempat itu diterangi sebuah cahaya, yang terlihat seperti matahari bagi tempat itu. Sangat dekat, namun tidak terasa panas sama sekali. Rasanya begitu sejuk dan nyaman.
"Dewi Mi Er bisakah aku pergi dari tempat ini. Aku pikir sudah terlalu lama pergi. Aku takut suamiku mengkhawatirkanku." Ara memandang Mi Er penuh harap. Berharap kalau Mi Er tidak menahannya.
"Tentu saja kau boleh pergi. Ini memang bukan tempatmu. Tapi aku tidak tahu, setelah keluar dari sini. Kau akan muncul di mana. Aku tidak bisa menjanjikan kau akan muncul di tempat yang sama. Di mana kau menghilang kemarin." Jelas Mi Er panjang lebar.
"Tidak masalah. Suamiku pasti bisa menemukanku." Ara berucap yakin.
Ara tahu, dewi itu pasti kesepian. Ara tidak tahu kenapa. Tapi meski bertemu sangat singkat. Dia sangat menyukai Mi Er. Seketika ada rasa tidak tega dalam diri Ara, saat akan meninggalkan Mi Er. Hingga kemudian dia teringat perkataan Olivia.
"Asal kau menginginkannya. Kau bisa mewujudkannya."
Perlahan Ara memejamkan matanya. Sebuah cahaya berwarna biru samar terlihat di tangan Ara.
"Aku harus pergi. Tapi aku punya hadiah untukmu. Terima kasih sudah menolongku," ucap Ara. Sebab dia yakin Krum berniat buruk padanya. Mi Er sejenak terdiam. Menatap pada sebuah benda yang berada di telapak tangan Ara.
"Apa ini?" Mi Er mengerutkan dahinya.
"Ini bisa kau jadikan teman." Bisik Ara sambil tersenyum.
"Senyum ini, aku seperti pernah melihatnya," gumam Mi Er. Hingga sebuah bisikan terdengar di telinga Mi Er, "Dia, yang sudah aku tunggu kedatangannya."
__ADS_1
Mi Er seketika ikut tersenyum. Dewinya memberi petunjuk. Pelan Mi Er menerima benda yang Ara berikan. Seperti sebuah batu berwarna biru, tapi sangat ringan.
"Sebut saja namaku jika kau bosan. Aku akan muncul untuk menemanimu bicara." Senyum lagi-lagi terlihat di bibir Mi Er.
"Terima kasih," ucap Mi Er singkat. Detik berikutnya, Mi Er mengeluarkan sebuah botol kristal kecil dari saku bajunya.
"Minumlah ini. Untuk kembali ke dunia fana, dunia manusia. Tapi sekali lagi maaf, aku tidak tahu kau akan muncul di mana." Mi Er memberikan botol kristal itu pada Ara.
"Terima kasih. Aku akan selalu mengingat pertemuan singkat kita. Juga dirimu, Dewi" Ara berucap penuh ketulusan.
Kali ini Mi Er mengangguk. Membiarkan Ara membuka penutup botol kristal itu. Lalu meminum isinya. Sensasi dingin dan menyegarkan langsung terasa di tenggorokan Ara. Menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh istri Luis itu.
Perlahan tubuh Ara mulai memudar, menghilang dari pandangan Mi Er. Ara mengulas senyum terakhirnya. Sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari penglihatan Mi Er.
"Senang bertemu dengan menantumu, Dewi." Gumam Mi Er tersenyum. Menatap batu hologram yang berada di tangannya. "Aku tidak akan kesepian lagi mulai sekarang." Mi Er berucap senang. Menatap langit di atasnya. Seketika jutaan kupu-kupu terlihat muncul dari segala penjuru. Terbang mengelilingi Mi Er dan tempat itu. Seolah menggambarkan hati Mi Er yang tengah bahagia.
"Dewiku akan bangun sebentar lagi." Mi Er hampir berteriak saat mengucapkan kata itu.
***
"Apa yang kalian lakukan di tempatku?" Krum bertanya tajam pada Hans yang tampak santai menghadapinya.
"Aku mencari sesuatu. Hal yang sudah kau curi dari pemiliknya." Kali ini wajah tengil Hans sudah menghilang. Berganti dengan wajah serius dan dingin khas vampir.
Mendengar perkataan Hans, Krum menarik Rin untuk bersembunyi di belakang tubuhnya. Hans menyeringai melihat hal itu.
"Aku sungguh tidak menyangka Krum. Kau bisa memelihara seorang manusia di sini. Apa kau berencana menghisap darahnya saat dia berusia dua puluh tahun. Batas dewasa untuk seorang manusia dalam klan Vampir." Hans berusaha memprovokasi Krum.
"Diam kau! Pergi dari sini. Yang kalian cari tidak ada di sini. Aku tidak mengambilnya. Dia menghilang sebelum aku membawanya!" Krum berkata tegas.
"Tidak masalah. Karena aku memang akan pergi. Berhati-hatilah Nona, dalam beberapa hari kau akan genap berusia dua puluh tahun. Dalam pengetahuan klan kami. Darah gadis yang sudah dewasa, memiliki khasiat yang sangat hebat..."
"Diam kau Hans!" Raung Krum. Hans mengulum senyumnya. Lantas menghilang dari hadapan Krum dan Rin.
__ADS_1
"Berhati-hatilah." Satu pesan Hans menggema di rumah itu. Rin nampak menatap tajam pada Krum. Yang untuk pertama kalinya merasa terpojok dengan tatapan Rin.
****