Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Akhirnya, Kebahagiaan Itu Datang


__ADS_3

Ara menangis dalam pelukan Luis. Melihat pusara makam putra mereka. Semua yang terjadi malam itu. Mengorbankan calon anak Luis dan Ara, yang baru berusia empat bulan. Semua merasa kecolongan dengan kehamilan Ara yang sama sekali tidak terdeteksi. Bahkan oleh Hans sekalipun.


"Maafkan Ibu, Nak." Ara tahu jika karena pilihannyalah dia harus kehilangan putranya.


Waktu itu keadaan Lucas diambang kematian. Batu penyegel Aura memang mampu menahan Blue Fire dan Black Fire dari menghancurkan tubuh Lucas. Tapi tetap saja, dua kekuatan itu melukai Lucas secara internal. Menghancurkan seluruh organ vital milik Lucas. Pria itu hampir meregang nyawa. Hingga kemudian Ara teringat ucapan Maggie sebelum dia dijemput Sherpa hari itu.


"Keputusanmu akan menyelamatkan banyak orang. Meskipun kau akan kehilangan salah satu hal yang paling berharga dalam hidupmu. Tapi percayalah, tidak ada pengorbanan yang sia-sia.


Hingga Ara memilih mengorbankan kehamilannya. Sebab Ara terlalu banyak menggunakan darahnya malam itu. Meski hanya satu tetes. Tapi darah Ara yang berbeda membuat keadaan wanita itu juga berbeda.


Begitu Hans mengambil dua tabung kecil berisi darah Ara. Seketika itu juga Ara merasakan kepergian sang putra. Air matanya mengalir tidak terbendung. Dia merasa gagal jadi seorang ibu. Kekecewaan membuat wanita itu terjatuh dalam koma yang lumayan lama. Hingga suara sang putra sendiri yang membangunkan Ara.


"Ibu, tidakkah kau ingin bangun. Ayah dan yang lain sudah lama menunggu Ibu."


Ara menangis dalam komanya. Menatap wajah sang putra dalam mimpinya.


"Maafkan Ibu, Nak."


"Kenapa Ibu minta maaf? Aku begitu bangga bisa menjadi putra Ayah dan Ibu. Aku bangga bisa berguna untuk orang lain. Aku bangga meski tidak bisa bersama kalian. Aku tahu kalian sangat menyayangi diriku. Sampaikan juga pada Uncle Lucas. Jangan terus menangisiku. Aku tidak suka. Lahirkan saja seorang adik yang cantik untukku. Karena aku tidak akan pernah memiliki adik cantik selain darinya. Aku akan menjaganya."


Saat itu juga Ara membuka matanya. Menyadari kalau sang putra sangatlah baik.


****


"Aku heran, secara dunia kalian berbeda. Tapi Ara bisa hamil anakmu." Hans mengungkapkan unek-uneknya.


"Kami memang berbeda. Tapi tidakkah kau sadari, dia punya satu elemen yang sama denganku. Abadi, kami memilikinya meski caranya berbeda."


Sejak awal, Luis dan Lucas sudah memiliki keabadian. Meski mereka tidak menjadi Vampir. Karena Aira adalah dewi pemilik dunia Ilusi. Putri Kaisar Langit. Hanya saja identitas Vampir yang mendominasi Luis dan Lucas.


Sedang Ara mendapat keabadiannya ketika wanita itu meminum tetesan embun surgawi yang istilah lainnya adalah keabadian. Sebagai syarat untuk membangunkan Aira. Hal itu menjadikan Ara memiliki keabadian dalam dirinya. Membuat kehamilan Ara waktu itu bisa diselamatkan.


Beberapa tahun berlalu,


"Lucy, berhentilah mengejar kakakmu!" Suara Asha menggema di Black Castel. Melihat sang putri sejak tadi, tidak berhenti mengejar Lucifer, putra Luis dan Ara.


"Siapa suruh dia punya nama yang sama dengan Lucy." Protes gadis kecil dengan rambut hitam panjangnya. Sementara Lucifer hanya menjulurkan lidahnya pada Lucy. Tanda mengejek.


Dan kembali dua anak itu saling berkejaran di lorong istana Black Castle. Biasanya jika sudah seperti itu. Mereka akan berakhir di kamar sang nenek Aira. Hal yang terkadang membuat Hellas merengut.


"Hayooo perjaka tua...kapan kau akan menyusul. Keponakanmu sudah bisa menghancurkan Black Castle dan kau masih belum bergerak." Ledek Hans.


"Dia masih di bawah umur." Jawab Krum santai.


"Dibawah umur darimananya? Rin sudah kepala tiga. Sudah cukup untuk kau nikahi. Nanti dia keburu tua."


"Satu gigitanku akan membuatnya awet muda. Kau sendiri tidak mengubah istrimu." Krum bertanya pada Hans dan Aiden.


"Kami menunggu waktu yang tepat."


"Sama saja kalau begitu. Aku juga menunggu waktu yang tepat." Jawaban Krum membuat semua orang saling pandang. Yah, semua orang memiliki alasannya masing-masing.


Hans menikahi Ailee. Begitu juga dengan Aiden. Pada akhirnya dia menikahi Maria. Dan keduanya masih mempertahankan status manusia Ailee dan Maria. Mereka bilang masih belum suka darah. Dan akan berubah jika wajah mereka mulai menua. Atau jika mereka merasa sudah tidak cantik lagi. Maklum suami mereka yang tampan paripurna kadang membuat Ailee dan Maria khawatir. Akan banyak yang menggoda mereka. Padahal Hans dan Aiden sama sekali tidak pernah melirik wanita lain.

__ADS_1


Berbeda dengan Yoon yang malah sudah mengubah Erika menjadi vampir sepenuhnya. Keduanya sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Kandungan Erika sudah berumur tujuh bulan.


"Wahhh, sebentar lagi kastil ini akan benar-benar hancur. Jika anak Yoon sudah lahir." Seloroh Hans.


"Tidak, jika dia sekalem Yoon," sahut Aiden.


"Hei..kau tidak lihat Ara dan Luis. Kau lihat Lucifer seperti apa." Potong Krum.


"Tapi Lucifer hanya hangat pada Lucy. Lain tidak. Kau tidak lihat bagaimana dinginnya ia pada anak Sherpa. Bbeeuuhh kaya kutub utara, melebihi Yoon kalau lagi diam." Tambah Aiden.


"Aku pikir akan ada CLBK lagi."


"Ampun deh, kali ini siapa?"


"Mika, putri Sherpa. Kau tidak lihat bagaimana dia menatap Lucifer."


"Oh ya dewa, ya Kaisar langit. Kenapa juga Kakekmu menyiapkan takdir memusingkan ini lagi pada kita. Kemarin Sherpa yang mengejar Ara. Sekarang Mika menyukai Lucifer, begitu?" Hans berseloroh.


"Aku kan hanya menduganya." Krum berucap santai. Lalu berdiri.


"Mau ke mana?" Aiden bertanya.


"Makan malamku sudah siap." Krum langsung menghilang dari hadapan Aiden dan Hans. Di ujung lain dari tempat mereka duduk. Terdengar tawa yang menggema di seluruh Black Castle.


"Aku harap semua akan baik-baik saja mulai sekarang." Aiden berucap. Yang disambut anggukan oleh Hans.


"Aku akan merindukan saat-saat ini." Balas Hans.


Wanita itu langsung berlari dan memeluk Krum. Tindakan Rin sukses membuat Krum tersenyum.


"Mari menikah." Ucap Krum tiba-tiba. Sesaat suasana berubah hening. Hingga kemudian Rin mengangguk antusias. Membuat Krum melebarkan senyumnya. Sesaat kemudian pria itu mencium lembut bibir Rin.


****


"Kau datang cucuku." Maggie mengukir senyumnya. Melihat Ara yang datang bersama Lucas. Juga suami dan anak-anak mereka. Meski sejak tadi, Lucy hanya bergerak ke sana, ke sini tidak bisa diam. Sedang Lucifer hanya menatap penuh selidik pada keadaan sekelilingnya.


"Takdir kalian sudah kalian jalani dengan baik. Kini giliran mereka yang akan menghadapi takdir mereka." Maggie berucap sambil menatap Lucifer dan Lucy.


"Jangan bilang dua anak itu yang akan meneruskan takdir kami." Ara langsung mengeplak lengan Lucas. Tingkah mereka disambut tawa oleh Maggie.


"Aku pikir takdir Lucy tidak terlalu berat. Tapi Lucifer...." Maggie menatap Cairo.


"Jangan lagi Cairo." Potong Ara cepat. Sungguh dia tidak ingin melihat Lucifer menderita seperti dirinya dan Luis.


"Percayalah. Dia akan melaluinya dengan baik. Sangat baik. Tenang saja, tidak akan perang saudara seperti Ayah dan Pamannya. Tapi perang dengan teknologi di masa depan."


"Cairo...kau memberi clue terlalu banyak pada mereka." Maggie memperingatkan.


"Tentu saja, itu semua masih bisa berubah." Cengir Cairo.


"Kau lihat eranya akan berbeda denganku." Maggie tersenyum.


"Yah, mana ada Tetua rasa bocil begitu."

__ADS_1


"Kau meledekku." Lucas tidak terima. Semua tertawa mendengar gerutuan ayah satu putri itu.


Dan hari itu, dua batu penyegel aura kembali ke tempat asalnya. Beberapa hari setelahnya terdengar kabar jika Maggie telah menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan sebuah pesan,


"Dalam kendaliku Pure Blood dan The Chosen One bukanlah pasangan. Tapi di era Cairo mereka adalah pasangan."


Semua menarik nafasnya mengetahui pesan Maggie itu. Seakan takdir baru telah menunggu putra dan putri mereka.


"Aku berharap mereka tidak saling menghunuskan pedangnya satu sama lain." Luis berucap melihat Lucy yang menatap putra Yoon. Yang baru lahir. Sedang Lucifer menatap dingin pada bayi yang berada dalam gendongan Erika.


"Aku berharap kau tidak keberatan menjalani takdir berat ini bersamaku." Lucas berucap sambil memeluk Asha. Pria itu tahu. Takdirnya sangat berat dengan Asha. Karena keduanya memimpin dua bangsa, dua klan yang berbeda.


Asha tersenyum mendengar ucapan sang suami.


"Aku tidak keberatan, asal itu bersamamu. Katakan saja jika kau sudah memutuskan untuk berhenti. Aku akan mengikutimu." Balas Asha. Senyum Lucas langsung mengembang mendengar jawaban Asha. Dan sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Asha.


Luis baru saja mengantarkan Lucifer masuk ke kamarnya. Setelah sang putra menyelesaikan belajarnya. Saat dia masuk ke kekamarnya. Dilihatnya Ara yang tengah menatap langir malam.


"Memikirkan apa?" Luis bertanya. Memeluk tubuh Ara dari belakang. Lalu meletakkan dagunya di pundak Ara.


"Memikirkan takdir Lucifer dan yang lainnya."


"Takdir apapun itu. Lucifer dan adiknya juga yang lainnya akan bisa melewatinya. Seperti kita. Jangan khawatir. Kita akan selalu bersama mereka. Mengawasi dan membantu jika perlu." Balas Luis. Mengusap lembut perut Ara. Wanita itu tengah mengandung adik Lucifer.


"Kau benar. Aku punya keuntungan menjadi abadi. Hanya saja Paul sudah mulai pikun. Dan tidak ingat padaku."


"Itu sudah bagiannya Ara."


"Iya juga sih." Selanjutnya wanita itu berbalik lalu menatap Luis. Pria tampan yang sudah menemaninya selama ini. Tidak pernah berhenti mencintainya. Bahkan ketika Ara sama sekali tidak mengingatnya.


"Terima kasih sudah mencintaiku sedemikian rupa. Aku sangat mencintaimu Luis Alexander Verona."


Senyum Luis terukir sempurna di bibir pria itu.


"Kau tahu, kau mengubah seluruh hidupku. Kau mewarnai gelapnya duniaku. Dan dengarkanlah janjiku padamu. Aku akan selalu mencintaimu tidak peduli keadaanmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


Keduanya tersenyum. Lalu saling memeluk. Dan terakhir, sebuah ciuman menjadi tanda betapa besar cinta yang keduanya miliki.


Hidup keduanya dan yang lainnya mengalami masa bahagia selama bertahun-tahun selanjutnya. Dengan putra dan putri masing-masing.


****END****


Untuk Ara dan Luis aku akhiri di sini. Next akan ada sequel untuk Lucifer...tapi entah kapan.


Terima kasih untuk dukungan kalian.



Kredit Pinterest.com


Salam dari mereka semua. Semoga kalian selalu bahagia di luar sana....Always love yourself..🤗🤗


****

__ADS_1


__ADS_2