
Lucas tampak melayang di antara pekatnya langit malam. Sesekali mengepakkan sayap hitamnya. Dia sedang bosan. Jadi memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sebentar.
Memakai hoodie penutup kepala dengan pakaian panjangnya, membuat pria itu terlihat seperti burung malam yang tengah menjelajah angkasa. Sesekali menarik nafasnya. Lucas hanya sekedar terbang. Tidak punya tujuan pasti.
Ia hanya mengikuti kemana sayapnya membawa. Melihat ke bawah. Mata tajamnya sedikit menyipit. Menatap dataran berwarna hitam dengan beberapa titik berwarna hitam.
"Lah...kenapa aku jadi terbang ke sini?" Gumamnya pelan. Sedikit terkejut ketika dia terbang di wilayah kekuasaan ras iblis. Ras yang sudah lama berseteru dengan klan Vampirnya.
Dia ingin memutar balik. Dia pikir tidak akan ada hal menarik di sini. Sampai kemudian dia tiba-tiba memutuskan untuk menjelajah sejenak. Apa ada yang menarik di tanah gersang dan tandus, dengan hawa panas itu.
Lucas mendarat sempurna di sebuah tebing tinggi. Menyamarkan aura kehadirannya dan keberadaannya. Hingga tak ada yang sadar akan kehadiran salah satu petinggi klan Vampir ini.
"Ini kalau Luis tahu, aku akan habis dihajarnya," Lucas menertawakan tingkah konyolnya. Dia tahu kedatangannya ke tempat ini akan menimbulkan masalah besar jika diketahui pihak iblis.
"Tapi aku kan memang tukang cari masalah. Si biang kerok. Troblemaker. Nggak seru dong kalau tidak membuat masalah," tambah Lucas. Seolah bicara pada dirinya sendiri.
Lucas hendak melangkah pergi ketika dia mendengar sayup-sayup derap langkah kuda yang tengah mendekat. Diiringi suara teriakan yang menggema.
"Berhenti! Jangan lari!" Teriak seorang pria dengan pakaian hitam dari atas kudanya.
Sementara Lucas melihat seorang penunggang kuda yang tengah dikejar itu, sama sekali tidak menghiraukan teriakan dari pengejarnya.
"Wah, ini menarik. Dia wanita," Lucas menyeringai. Mencium aroma wangi dari penunggang kuda yang tengah dikejar itu. Lucas lalu membungkukkan tubuhnya sedikit, lalu memicingkan matanya. Menerobos pikiran orang-orang yang saling berkejaran itu.
"Aku tidak boleh tertangkap. Aku tidak mau dikurung lagi!"
"Dia sedang melarikan diri rupanya. Ada ya Rapunzel jaman sekarang. Kira-kira rambutnya panjang tidak ya. Uuppss salah....pertanyaanya apakah dia itu cantik?" Monolog Lucas yang kini sudah berjongkok santai. Menyaksikan lima ekor kuda mengejar seekor kuda.
Lucas mengira tidak akan makhluk cantik dalam ras Iblis. Dia pikir semua iblis ya begitu. Mengerikan semua.
"Berhenti, Tuan Putri!" Teriak seorang dari pengejar itu.
"Ini kejutan. Mereka memanggilnya tuan putri. Aku jadi penasaran. Seperti apa tampang tuan putri dari ras iblis," Lucas mulai kepo. Dan kekepoan Lucas, biasanya akan mendatangkan masalah besar.
Kuda yang dikejar itu tiba-tiba berhenti diujung jalan. Lucas tersenyum. Dia tahu, ada jurang yang dalam dengan lava pijar di dasarnya. Pengendara kuda itu menengok.
"Tuan Putri mari kembali," bujuk satu dari pengejar itu.
"Kembali dan ayahku akan menikahkanku dengan pangeran dari wilayah timur. Jangan mimpi! Aku lebih baik mati daripada harus menikah demi kepentingan politik!"
Lucas hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tapi Putri...."
"Aku benar-benar kecewa padamu Runyu. Aku pikir kau temanku tapi ternyata kau sama jahatnya dengan mereka!"
"Maafkan aku Putri. Aku terpaksa melakukan ini."
"Jika tidak...ayahmu akan menghabisi keluargaku." Bisik Runyu dalam hati.
__ADS_1
Lucas jelas terkejut mendengar hal itu.
"Baik, kalau kalian tetap ingin membawaku pulang. Maka bawalah jasadku pada ayahku. Itupun kalau kalian berhasil menemukanku!" Teriak wanita itu. Detik berikutnya, dia melompat dari kudanya. Langsung terjun ke dalam jurang itu.
"Apa dia sudah gila!" Lucas berteriak. Lalu menyusul wanita itu. Ikut terjun ke dalam jurang.
Di belakang Lucas. Para pengawal itu berteriak histeris. Begitu melihat tuan putri mereka lebih memilih masuk jurang. Daripada ikut pulang bersama mereka.
****
Luis langsung membuat dirinya jadi transparan, tidak terlihat. Begitu Erika masuk ke kamar Ara. Pria itu baru saja akan menyusul Ara. Karena belum berada di kantor.
"Bagaimana kamu bisa deman sih, Ra," Ucap Erika cemas.
"Deman? Ara demam?" Luis perlahan mendekat. Dilihatnya Ara yang tengah menggigil dengan wajah pucat. Pelan Luis menyentuh kening Ara.
"Aarrghhh....panas," tangannya yang dingin, serasa terbakar ketika menyentuh kening Ara.
"Paul, buburnya sudah belum. Dia harus minum obat. Panasnya tinggi sekali," teriak Erika.
"Otewe..otewe!" Sahut Paul dari arah dapur.
"Kenapa dia ada di sini?" Tanya Luis sebal pada Paul. Yang masuk ke kamar Ara sambil membawa semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap.
"Anak ini benar-benar keterlaluan. Beras saja dia tidak punya. Aku harus minta satu cup ke sebelah untuk membuat bubur," oceh Paul. Meniup-niup bubur Ara.
"Ara...."
"Dia mulai meracau. Bagaimana ini?"
"Panasnya berapa?"
"38 belum 39 sih tapi kenapa dia sampai begitu ya."
"Mungkin campur stres...belakangan kan kerjaaannya banyak banget."
"Ra....minum obatnya."
****
"Yoon, kau memberinya terlalu banyak kerjaannya. Sekarang dia sakit!" Marah Luis.
Yoon langsung melongo mendengar kemarahan Luis. "Kerjaan apa? Siapa yang sakit?"
"Ara...dia deman sekarang. Paul bilang dia mungkin kecapekan kerja."
"Paul? Enak saja main fitnah orang. Tak gigit baru tahu rasa dia." Maki Yoon.
"Sudah-sudah. Benar apa tidak kau memberinya banyak kerjaan?"
__ADS_1
"Tidak. Aku memberinya pekerjaan sesuai kemampuannya."
"Lalu bagaimana dia bisa sakit kalau dia tidak kelelahan?"
"Mungkin dia shock dengan kejadian kemarin." Yoon berucap santai.
Luis langsung terdiam mendengar ucapan Yoon. Benar, kemarin banyak hal terjadi pada Ara. Kematian Melia. Masuk ke labirin sihir. Dan yang membuat Ara terlihat shock adalah setelah mengetahui kalau dirinya dan yang lainnya adalah Vampir.
***
Lucas nampak terpaku. Menatap seorang wanita yang tengah tidur di ranjangnya. Di apartementnya. Dia jelas tidak berani membawanya ke rumah utama. Lucas belum tahu siapa wanita cantik yang sejak tadi malam belum sudi membuka matanya itu.
Cantik...baru kali ini Lucas mengakui kecantikan seorang wanita. Selain Ara tentunya. Sebab Ara adalah milik Luis maka dia tidak akan berani menyentuhnya.
Lucas jelas terpana sejak pertama kali melihat rupa wanita yang ia selamatkan tadi malam. Sebelum wanita itu terbakar lava pijar. Lucas sempat menyambar tubuhnya dan membawanya menghilang.
"Aku pikir rupa iblis mengerikan semua. Tak kusangka putri iblis sangat cantik." Bisik Lucas. Mata tajamnya tidak lepas dari wajah rupawan di hadapannya.
Apalagi pakaian yang wanita itu kenakan. Sedikit terbuka di punggungnya. Namun anehnya, aroma darah wanita ini tidak begitu mengusik Lucas. Jadi dia masih aman sejak semalam.
"Uughh" Satu suara terdengar dari bibir wanita itu. Lucas yang akan keluar kamar, berbalik lagi. Saat itulah dilihatnya, wanita itu membuka mata.
"Kau sudah bangun?" Tanya Lucas dengan suara baritone-nya. Yang mana, langsung membuat wanita itu bangun dengan tiba-tiba. Disertai rasa terkejut yang jelas terlihat di matanya.
"Siapa kau?" Tanya wanita itu pada Lucas, yang hanya terdiam. Memindai setiap hal yang ada dalam diri wanita itu.
"Siapa kau?!" Teriak wanita itu. Sambil menaikkan selimutnya untuk menutupi dadanya. Begitu sadar kemana mata Lucas memandang.
"Hai...begitu ya sikapmu pada orang yang sudah menyelamatkanmu," sindir Lucas.
"Kau menyelamatkanku? Kenapa tidak membiarkanku mati saja?!" Teriak wanita itu.
"Kenapa kau ingin mati?"
"Bukan urusanmu!"
"Kau benar-benar tidak tahu terima kasih!" Maki Lucas.
Lalu keluar dari sana. Setengah mengumpat. Merasa menyesal telah menyelamatkan wanita itu. Tapi Lucas juga penasaran. Siapa juga yang akan menolak dinikahkan dengan wanita secantik dia.
"Dia memang cantik. Aku baru tahu. Ada makhluk cantik dalam ras iblis." Batin Lucas, sambil meminum darah dari gelasnya. Tanpa Lucas tahu. Tindakannya dapat memicu peperangan antara ras Iblis dan klan Vampir.
***
Lucas Altemose,
Kredit Pinterest.com
__ADS_1
****