Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Putra Mahkota Pilihan


__ADS_3

Luis menghilang secepat yang dia bisa.


"Krum, ada disini."


Satu suara dari Lucas membuat Luis panik. Bisa dipastikan jika kakaknya sudah bisa menemukan aroma Ara. Karena dia bisa membaca pikiran sang kakak.


"Sial! Andai aku punya kecepatanmu, Yoon." Umpat Luis. Yoon langsung terkekeh di seberang.


Dalam hitungan detik, pria itu sudah muncul di hadapan Ara. Yang jelas terkejut melihat Luis yang berada di depannya.


"Tu...tuan Luis..." Ucap Ara kaget. Tanpa kata. Luis meraih tubuh Ara. Dan dalam satu kedipan mata. Keduanya menghilang. Menyusul Aiden yang muncul di tempat Ara tadinya duduk. Sedikit melambaikan tangannya. Hingga aroma Ara berubah menjadi aroma dirinya.


Bersamaan dengan itu, pintu kafe terbuka. Menampilkan Krum yang langsung mengerutkan dahinya.


"Luis..." Batin Aiden.


Dalam sekejap, ingatan di pikiran Aiden berubah. Menjadi dia yang sedang mengerjakan pekerjaannya dengan aroma Erika yang tertinggal.


"Kau?" Krum jelas heran. Dia tidak mungkin salah dalam mengenali aroma seseorang.


"Krum...kau disini?" Tanya Aiden pura-pura terkejut.


Sejenak Krum menatap Aiden. Dia tahu, Krum tengah menerobos pikirannya. Di sisi lain, Luis sedang melawan pikiran Krum dengan mengganti ingatan Aiden. Dalam pelukannya. Ara terlihat lelap dalam tidurnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Krum bertanya dingin. Dia jelas curiga dengan Aiden.


"Aku? Sedang mengerjakan pekerjaanku. Sekaligus menikmati aroma yang lewat."


"Hanya lewat tanpa ingin mencicipi. Tidak seru!" Cibir Krum.


"Aku tidak mau menarik perhatian."


"Kau bisa mengikuti cara Lucas," Krum ikut duduk. Aiden mulai panik. Namun dia cepat menutupinya.


"Aku lebih suka minum dari gelas sekarang."


"Apa enaknya?"


"Tidak ribet dan repot. Tinggal minta pada Hans." Balas Aiden santai.


Krum kembali mencibir. "Kau sedang menunggu seseorang?"


"Itu...."


"Sudah lama menunggu?" Lucas tiba-tiba menyela. Aiden langsung menarik nafasnya lega. Dia jelas akan kewalahan jika harus menghadapi Krum sendirian.


Seketika semua berjalan normal kembali setelah tadi sebuah visual tipuan Luis gunakan untuk mengelabui pengunjung lain. Menyembunyikan kedatangannya dan Aiden yang tiba-tiba. Tanpa Krum menyadarinya.


Di tempat lain, Luis tampak memeluk tubuh Ara erat. Melepaskan semua kerinduannya selama ini. Dia percaya kalau Ara masih hidup. Tapi dia sungguh tidak percaya, jika gadis itu sekarang berada dalam pelukannya.


"Aku masih tidak percaya. Ini adalah kamu, Ara." Bisik Luis lirih. Matanya berkaca-kaca. Pelan diciumnya lembut puncak kepala Ara.


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Lagi Luis berucap.


***


"Gila! Baru kali ini aku ketakutan bertemu Krum." Ucap Aiden menarik nafasnya dalam.


"Hati-hati dengan pikiranmu." Yoon memperingatkan.


"Luis sudah menaikkan level mantra pelindungnya. Dia tidak akan bisa menerobos pikiran kita selama berada di sini." Lucas menerangkan.


"Ada hal genting yang terjadikah?" Hans tiba-tiba muncul.


Menggulung lengan kemejanya. Pria itu terlihat tampan dan manis sekaligus.


"Pak dokter pulang," seloroh Aiden.


"Jangan panggil aku Pak. Wajahku masih seperti anak belasan tahun," protes Hans.


"Belasan tahun angka belakangnya. Didepannya ada angka ratusan," ledek Yoon.


"Sialan kau! Ada kejadian apa?" Tanya Hans mengabaikan wajah datar Yoon.

__ADS_1


"Krum turun gunung," sahut Lucas.


"Whatt??!! Dia ada disini sekarang?"


"Mungkin saja," Jawab Yoon ambigu.


"Lalu apa yang membuat kalian panik? Konflik Krum dengan Luis. Kita hanya bisa jadi penonton."


"Tapi jika suatu hari Krum mengangkat Black Sword-nya pada Luis didepan kami. Kami akan ikut melawannya," Aiden berujar.


"Itu kita pikirkan nanti. Sekarang aku mau tanya. Apa kau tahu soal pasien koma bernama Ara?"


"Yang baru bangun belum lama ini?"


"Ya, Arabella Sofia," Lucas menjawab.


"Yang darahnya begitu menggoda untuk dicicipi?"


"Sudah, jawab saja. Apa yang kau tahu soal dia?" Desak Aiden.


"Dia minum Sleeping Potion," jawab Hans singkat.


"Lalu apakah dia adalah si darah murni?" Lucas bertanya.


"Yang itu aku tidak tahu," Hans menyambar cepat. Semua mengumpat hampir bersamaan.


"Benar kata Luis. Apa dia harus menggigitnya lebih dulu. Untuk tahu apakah dia si darah murni atau bukan."


"Kenapa harus Luis? Aku akan melakukannya dengan senang hati. Luis tidak suka menggigit orang." Lucas berucap menggoda.


"Kau sekarang tidak bisa sembarangan menyentuhnya." Aiden berbicara.


"Dari pertama memang tidak ada yang menyentuhnya," seloroh Yoon.


"Ini dia akan lebih posesif lagi." Tambah Aiden.


"Sebab apa?"


"Are you sure?" Tanya Hans.


"Sangat yakin," Luis memastikan.


"Tapi dia tidak ingat padamu," Yoon memberi pendapat.


"Itu akan terjadi pada orang yang minum Sleeping Potion"


"Yang dia minum Sleeping Potion?" Tanya Luis pada Hans.


"Menurutku iya."


Luis tercekat.


"Berarti yang dimaksud ayah adalah dia. Tapi itu juga belum pasti," Batin Luis.


"Wah ada yang akan buat kita iri." Ledek Lucas.


"Berarti kau tadi habis pacaran?" Kepo Yoon.


"Kepo!"


"Pantas saja aromanya sangat kuat padamu. Apa kalian habis...."


"Jangan sembarangan kalau ngomong!"


"Aku kan cuma menebak. Benar ya bagus. Tidak ya lain kali." Lucas menyela.


"Ini lagi. Kau pengen?" Tanya Luis. Dan Lucas mengangguk antusias.


"Ya cari partner sana." Usir Luis.


"Tapi aku mau dia"


"Jangan mimpi! Dia milikku. Hanya untukku!" Ucap Luis tajam.

__ADS_1


"Calm down, bro." Hans melerai.


Mereka tahu antara Luis dan Lucas ada hubungan aneh yang tidak terjabarkan. Lucas memang biang kerok, troublemaker. Tapi Luis tidak pernah bisa marah sungguhan dengan Lucas. Mereka seperti soulmate. Berpisah saling mencari. Berdekatan akan bertengkar.


"Sedikit saja." Rengek Lucas.


"Jangan mimpi!" Luis berucap tegas.


Lalu menghilang dari pandangan mereka semua. Terdengar pintu yang ditutup keras dari lantai dua.


"Kau menyinggungnya." Yoon berucap, melihat Lucas yang malah terlihat santai.


"Aku kan biasa melakukan itu. Don't call me troublemaker. If I don't create a problem."


(Jangan panggil aku si biang kerok. Jika aku tidak menimbulkan masalah)


Yang lain hanya bisa menepuk pelan jidatnya. Menanggapi tingkah Lucas hanya akan membuat pusing kepala. Tingkahnya seperti anak bungsu di antara mereka. Padahal kalau dhitung, yang bungsu adalah Hans. Tapi sikap Hans jauh lebih dewasa dari Lucas.


Sementara itu dikamarnya, Luis langsung merendam tubuhnya di bath up. Menengadahkan kepalanya. Menikmati aromaterapi yang dia pakai untuk berendam.


"Bagaimana ini? Bagaimana jika Ara adalah darah murni?"


Luis menarik nafasnya dalam. Menjadi darah murni, sudah bisa dipastikan jika Ara akan jadi target perburuan dari bangsanya. Tidak hanya Krum. Seluruh bangsa vampir sangat menginginkan darah Ara.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Lindungi dia. Hanya kau yang bisa dan mampu melindunginya."


Ucapan bibi Melia terngiang di telinganya.


"Hah" Lagi Luis menarik nafasnya dalam. Sementara ini, tidak boleh ada yang tahu kalau ada dugaan kalau Ara adalah pemilik darah murni. Pure Blood yang begitu dinanti. Hanya itu cara yang bisa Luis pikirkan saat ini.


Lain akan dia pikirkan nanti. Belum lagi dia harus menghadapi kantor pusat yang pasti akan terus mendesaknya. Soal darah murni juga soal tahta.


"Aahhh kenapa hidupku jadi ruwet begini," Gerutu Luis. Pria itu menenggelamkan dirinya dalam bath up.


Hingga tiba-tiba saja. Di muncul lagi.


"Brengsek! Beraninya dia mengunjungi Ara!" Maki Luis. Langsung keluar dari bath up-nya. Hanya mengambil handuk untuk menutupi area pribadinya. Meninggalkan tubuh kekar berotot itu terlihat jelas.


"Ada yang cemburu!"


Jika emosi Luis tidak stabil. Orang lain akan mudah membaca pikirannya.


"Kenapa?"


"Ada yang mengunjungi pacarnya."


"Diam kalian!" Raung Luis di kepala mereka. Semua orang di ruang tengah langsung memejamkan matanya.


"Yoon, kau harus lebih bersabar mulai sekarang." Saran Hans.


"Ya, akan kucoba. Jika aku mulai ikutan gila. Aku gigit saja pacarnya." Jawab Yoon.


"Lalu kau akan dibakar hidup-hidup dengan Blue Fire miliknya."


"Ahhh, kalau begitu aku akan memilih lebih bersabar saja." Cengir Yoon. Dia lupa kalau Luis punya Blue Fire yang bisa melenyapkannya dalam hitungan detik.


"Putra mahkota vampir pilihan kau lawan." Hans berucap.


Yang lain hanya mengangguk setuju.


****


Visual Evander Hans,



Kredit Pinterest.com


Jeon Jungkook, yang kemarin habis ultah. Bikin crush server aja...btw happy birtday our golden maknae...love you always...


****

__ADS_1


__ADS_2