
Asha benar-benar belajar cepat dari Paul. Pria itu memuji kepintaran Asha. Dalam beberapa hari, Asha sudah bisa memasak beberapa menu sederhana. Seperti pasta. Beberapa sup. Desert sederhana.
"Temanmu benar-benar hebat. Cantik dan pintar"
"Kau menyukainya?"
"Siapa juga yang tidak akan jatuh cinta pada wanita seperti Asha"
Pria itu melirik Asha yang mulai bekerja. Dengan memakai kaos longgar. Celana jeans, memakai celemek. Wanita itu juga menggulung rambutnya tinggi. Menampilkan leher jenjangnya yang begitu menggoda.
"Lucas, aku punya pemandangan yang bagus untukmu" Bisik Ara pada Lucas.
Ara terkekeh, bisa dia dibayangkan bagaimana geramnya Lucas diujung sana. Dan benar saja, Lucas langsung melempar berkas yang tengah ia kerjakan. Membuat Dave, asisten pribadinya mengerutkan dahinya.
"Jangan tanya" Dave belum sempat bertanya. Sang atasan sudah menyemburkan nafas apinya.
"Dasar wanita iblis! Sekalinya keluar dari sarang langsung capcus godain orang" Gerutu Lucas di kepalanya.
"Ada yang cemburu, euuyy"
Hans berseloroh di kepala mereka. Membuat tiga pria yang lainnya tersenyum. Meski senyum Yoon, pelit sekali.
"Aku pikir harus bersiap untuk berperang dengan ras Iblis jika dua orang itu benar-benar jatuh cinta" Aiden berucap ketika dia berkunjung ke kantor Luis pada siang harinya.
Membuat Ara langsung mengembangkan senyumnya. Sebab pria itu membawa satu kotak stawberry cake untuknya.
"Klienku yang membelikannya" Seloroh Aiden.
"Aku pikir tidak perlu. Aku menangkap ada yang tidak beres dengan dunia bawah" Luis menjawab.
"Maksudmu?" Yoon bertanya.
"Aku sedikit memakai pikiran Asha untuk masuk ke dunia bawah. Asha mengatakan kalau ayahnya tidak pernah menyayanginya. Tapi yang kulihat ayahnya menangis ketika tahu Asha dikabarkan meninggal. Jadi aku curiga pada keadaan dunia bawah"
"Sejak kapan kau jadi peduli pada orang lain?"
"Sejak ada kemungkinan jika hubungan kita dan ras Iblis sengaja dibuat tidak baik"
"Kau mencurigai seseorang di dunia bawah?"
"Asha mengatakan kalau ayahnya hanya peduli pada selirnya. Dan hanya mendengarkan perkataan perdana menterinya"
"Kau mencurigai mereka"
Luis mengangguk.
"Bagi klan kita, aku tidak bisa menjamin kalau kita akan memiliki pasangan dari klan yang sama"
"Contoh, kau sendiri"
"Aku dengan Ara, entahlah. Karena itu aku akan mencoba memperbaiki hubungan kita dengan ras iblis. Siapa tahu kaupun nanti terpana pada satu dari putri Iblis lainnya"
Aiden memutar matanya jengah mendengar perkataan Luis yang dia pikir tidak masuk akal itu.
"Tapi kau sangat mencintai Ara?"
"Sangat. Kau tidak bisa membayangkan besarny cinta yang ku punya untuknya. Akan kulakukan semua untuknya. Akan kuberikan semua yang kupunya untuknya. Asal dia bahagia. Asal dia tersenyum"
"Beri dia makanan. Dia sangat suka makan" Aiden berucap asal.
Tepat saat itu, Yoon tiba-tiba muncul di kantor mereka. Satu lambaian tangan dan terdengar pintu dikunci.
__ADS_1
"Kak Yooonn, buka pintunya!" Teriak Ara dari luar.
"Kenapa kau? Kenapa kau kunci pintuku?"
"Pacarmu memaksaku makan strawberry cake yang kau bawa. Dia pasti gila!"
"Yoooonnn...
"Itu benar kan, Hyung"
Aiden hanya terdiam.
"Luis! Buka pintunya!" Dan sejurus kemudian Ara menerobos masuk begitu pintu bisa di bukanya.
"Jangan memaksaku!" Yoon langsung memberi peringatan keras pada Ara.
"Ayolah, Kak. Ini tidak akan membunuhmu" Bujuk Ara sambil membawa sepiring cake.
"Memang tidak akan membunuhku. Tapi aku jarang makan cake"
"Dia tidak suka cake, Ara" Luis berucap agar Ara berhenti mengejar Yoon.
"Tapi ini enak" Ara berucap sendu.
"Tidak suka ya tidak suka" Sungut Yoon.
"Perasaan sejak kau bangun hari itu. Kau makin berani pada kita" Aiden berseloroh.
"Iya..apa kau tidak takut kami terkam?" Tanya Yoon.
"Karena sekarang aku yakin. Kalau kalian tidak akan menyakitiku" Ara menjawab sambil memakan cake dari piringnya. Lahap sekali. Membuat tiga pria itu melongo.
"Kau bisa memberikan makanan yang dibelikan oleh klien padanya" Aiden berbisik. Sementara Luis hanya terdiam. Melihat bibir Ara yang tampak seksi saat mengunyah cake itu.
***
"Kenapa? Gerah tahu kerja di dapur" Jawab Asha bingung.
"Kalau begitu pindah kerja"
"Enak saja. Aku senang kerja di sana"
"Kenapa? Karena ada Paul? Akan kugigit Paul sampai mati"
"Kau ini kenapa sih? Aaaargghhh...Lucas! Kau jangan gila!" Asha berteriak ketika Lucas kembali menggigit lehernya. Asha ingin melawan tapi tangan Lucas menahan tangannya ke dinding. Dengan tubuh pria itu menghimpit tubuh Asha.
"Itu hukuman untukmu" Lucas berucap sambil menyeringai. Melihat wajah kesal Asha yang langsung merasa lemas.
"Kau Vampir gila!"
"Maki aku sesukamu" Lucas tersenyum. Menatap wajah penuh amarah Asha. Yang justru terlihat cantik di matanya.
Sejurus kemudian Lucas berlalu dari hadapan Asha. Meninggalkan wanita itu yang langsung terduduk di lantai.
"Apa kebebasanku harus ku bayar dengan darahku" Tanya Asha lirih. Dia tidak perlu berteriak karena Lucas sudah pasti bisa mendengar suaranya.
"Tidak juga. Hanya saja, aku kesal ketika para pria itu menatapmu lapar. Aku tidak suka"
"Kau ini sebenarnya menganggap aku apa? Mainanmu? Seperti kau menyebutku pada pria itu?" Asha berdiri. Berjalan ke arah Lucas yang sudah melepas jasnya. Meninggalkan kemeja slim fit yang membalut tubuh kekarnya.
"Krum...pria itu bernama Krum. Aku harus menyembunyikanmu darinya. Kalau Luis masih punya sedikit rasa kasihan. Jangan harap kau bisa mendapatkan itu dari Krum"
__ADS_1
"Apa dia begitu mengerikan?"
"Anggap saja begitu. Besok jangan gulung rambutmu. Ingat...atau aku sendiri yang akan datang langsung menggigitmu. Dan kupastikan kau akan mati besok"
"Bagus kalau aku bisa mati cepat" Guman Asha. Mulai menenggelamkan diri dalam sofa tinggi milik Lucas.
"Jangan berpikir untuk mati cepat" Desis Lucas di telinga Asha. Membuat wanita itu kembali membuka matanya yang hampir terpejam.
"Kenapa....mmpphhhh"
Asha langsung bungkam ketika bibir Lucas mencium bibir Asha lembut.
"Karena mungkin aku mulai menyukaimu" Ucap Lucas dalm pikiran tersembunyinya. Satu tempat di mana tidak seorangpun bisa menembusnya. Sambil bibirnya tidak henti menari di atas bibir Asha yang ternyata begitu lembut dan manis.
****
" Kau mau kemana?" Tanya Luis.
"Mandi"
"Ikut!" Rengek Luis.
"Jangan mimpi. Jangan mengintip!" Ara berucap tegas pada Luis. Dia tahu mata pria itu bisa menembus pandang tembok beton sekalipun. Sementara Luis hanya nyengir mendengar perkataan Ara.
"Kau pikir aku masih tertarik pada tubuh perempuan. Jika ada hal yang lebih penting dari itu" Guman Luis.
"Jika ada kesempatan, kenapa tidak?" Satu bisikan jahat masuk ke kepalanya.
Pria itu hanya tersenyum mendengar bisikan itu. Lantas memejamkan matanya. Menggunakan koneksi pikiran Asha. Pria itu masuk ke dunia bawah. Mencari tahu sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Sesaat menjelajah wilayah ras Iblis. Mulai dari daratan, lembah, bukit, gunung, bahkan jurang. Hingga kemudian ujung bibirnya tertarik. Membentuk lengkung senyum puas.
"Aku mencari kemana-mana. Ternyata masalahnya sangat dekat sekali"
Kali ini Luis menyeringai penuh arti. Membagikan visual yang dia lihat kepada Aiden dan Yoon.
"Kau keterlaluan Luis. Menyuruh kami menonton video oye-oye langsung di kepala kami" Aiden menggerutu.
"Tunggu Hyung, itulah biang kerok dunia bawah. Trouble maker yang memerintahkan Tera untuk jalan-jalan ke dunia fana" Yoon menyahut cepat.
"Kau benar Yoon. Dugaanku benar. Ada troublemaker di dunia bawah. Ayah Asha hanya pion. Penjahat sebenarnya adalah mereka" Luis menimpali.
"Jadi kapan kau akan bertindak?"
"Tunggu sebentar. Sebab aku berencana mengirim Asha pulang. Untuk memberi shock terapi pada mereka"
"Wahhh ada yang bakal nangis kejer nih" Seloroh Aiden.
Luis hanya tersenyum mendengar ucapan hyung-nya itu.
"Siapa troublemaker dunia bawah"
"Kau mengagetkanku, Ra" Sungut Luis.
***
Dan aku membayangkan Asha sedewasa ini,
Kredit Pinterest.com
__ADS_1
Untuk memenuhi fantasi Lucas yang suka cewek seksi dan bisa mengimbangi tingkahnya yang kadang seperti bocil..🤣🤣
***