
Luis keluar dari kamar mandi keesokan harinya. Menatap ke arah Ara yang masih terlelap dalam tidurnya. Seulas senyum tipis terukir di bibir pria itu.
"Beuuuhhh, lihat pengantin lama kita akhirnya bisa unboxing juga" Ledek Hans yang langsung mendapat tatapan mengejek dari Luis. Bercinta salah tidak bercinta salah. Hans memang menyebalkan. Begitulah yang ada di pikiran Luis.
"Sudah menemukannya?" Aiden bertanya. Dan Luis menggeleng. Dia semalam sudah meminta Jenderal Zaga untuk menyelidiki menara Selatan. Tapi jenderal Zaga mengatakan kalau tidak ada apa-apa di sana.
"Kalau begitu, bisa kau pergi menyelidikinya, Yoon" Pinta Luis pada Yoon. Yang langsung mengangguk setuju.
"Aku ada masalah?" Luis berucap ragu. Gara-gara kecerobohannya semalam. Dia terlanjur mengiyakan untuk membawa Ara ke dunia bawah besok saat eksekusi Lucas dilaksanakan.
"Bagaimana bisa kau mengiyakannya. Membawa istrimu sama saja membawa umpan pada mereka" Aiden langsung protes.
"Mau bagaimana lagi? Kalau aku tidak membawanya besok dia menolak aku masuki" Luis nyengir sambil membuat tampang memelasnya.
"Gubrak!" Serasa bunyi itu yang terdengar di kepala tiga vampir itu. Ketiganya langsung memijat pelipis masing-masing. Tidak percaya jika Luis bisa dikalahkan dengan ancaman seperti itu.
"Kau kalah hanya dengan diancam seperti itu" Hans bertanya. Menatap tidak percaya pada Luis, si raja Vampir.
"Kau bilang hanya? Tunggu kau berada di posisiku. Kau akan melakukan apa saja asal bisa masuk" Kesal Luis. Menatap tajam pada Hans.
"Oke-oke stop" Aiden melerai. Jika tidak keduanya akan berdebat sampai besok pagi. Benar-benar ya, apa orang yang sudah pernah melakukan itu rata-rata akan bersikap seperti mereka. Aiden menggelengkan kepalanya. Lalu menatap Yoon. Apa si kulkas berjalan ini juga akan seperti Luis dan Lucas jika sudah menyatu.
"Jangan bertanya sekarang. Aku belum pernah melakukannya" Yoon menjawab cepat pertanyaan Aiden.
__ADS_1
"Sorry. Habisnya aku heran dengan mereka berdua. Oke, kita back to basic. Jika Ara ikut. Otomatis dia akan berada dalam pengawasanmu" Aiden menunjuk Hans. Yang langsung membulatkan matanya. Kenapa juga harus dirinya. Dirinya punya peran untuk mengkondisikan tentara tersembunyi mereka. Jika dia harus membagi konsentrasinya dengan Ara. Bisa-bisa salah satunya bisa kacau.
"Jangan membantah!" Desis Luis. Membuat Hans yang ingin protes langsung tidak jadi. Pria itu seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia paham akan situasinya. Yoon harus ikut menyelidiki menara selatan besok. Jadi tinggal Aiden dan Luis di garis depan. Apa iya besok akan terjadi perang.
Sementara di dunia bawah. Selama seharian ini Lucas terus mencari keberadaan Runyu. Tapi tidak juga berhasil. Jenderal Zaga juga beberapa kali melaporkan kalau tidak menemukan apa-apa di menara selatan. Selain bangunan kosong yang sudah lama ditinggalkan. Pasti ada yang tidak beres di sana. Semacam sihir pelindung atau semacamnya sudah dipasang.
Ketika dia memberitahu Luis. Pria itu mengiyakan. Karena dia memang menemukan jejak sihir di sana. Tapi dia sendiri tidak bisa pergi ke sana. Dia diawasi ketat.
"Aku akan menemukannya, jangan khawatir" Yoon berucap ketika mereka berpisah jalan keesokan harinya. Pria itu langsung melesat menghilang menuju menara selatan. Sedang Luis, Aiden, Hans dan Ara menuju padang terbuka di wilayah utara. Luis membungkus Ara dengan mantel tebal berhodie. Rambut panjangnya digulung rapi. Meski awalnya Ara menolak. Sebab lehernya penuh dengan bekas hicky yang Luis buat.
"Pakai ini" Luis memakaikan lagi kalung batu penyegel aura milik Ara. Aura Ara harus ditekan sampai level minimun yang bisa dia lakukan. Keempatnya melangkah ke padang yang sudah dijaga ketat. Asha tidak tampak di sana. Hanya Jenderal Renra yang terlihat berada di sisi Rakuten. Pun dengan Jia dan Lupin. Keduanya terlihat menunjukkan senyum kemenangan.
Melihat kedatangan Luis. Sontak semua menatap panasaran. Apalagi melihat seorang yang terlihat asing bersama rombongan Luis. Tetap berada diantara kami. Begitulah pesan Luis. Ara harus berada diantara mereka bertiga. Agar aroma manusia dan auranya bisa sedikit dikurangi.
"Sihir selalu meninggalkan jejak" Gumam Yoon. Berusaha mencari sesuatu, meraba ruang kosong yang ada di depan.
"Runyu apa kau mendengarku. Aku Yoon, teman Luis" Yoon berusaha merasakan aura Runyu. Sementara sorak sorai terdengar ketika Lucas diarak keluar dari pintu sebelah kiri. Wajah manyunnya membuat Luis dan yang lainnya mengulum senyumnya. Tampilan Lucas cukup berantakan.
"Apa menyenangkan di bawah sana"
"Menyenangkan kepalamu!" Salak Lucas pada Hans yang terus saja mengejeknya dari semalam. Dia ditempatkan di sebuah podium di tengah padang. Menghadap Rakuten. Keduanya saling tatap. Tanpa tahu apa yang ada dalam pikiran masing-masing.
"Aku tidak akan mengulangi perkataanku soal kesalahanmu. Bukankah kau sudah mengakuinya?" Rakuten bertanya dan Lucas mengiyakan. Hingga Rakuten memberi kode dan seorang pria langsung berdiri di depan Lucas dengan jarak sepuluh meter. Sebuah busur berada di tangannya.
__ADS_1
Tepat saat itulah, Asha masuk setengah berlari menghindari kejaran para pengawal yang mengejarnya. Naik ke atas podium. Berdiri tepat di hadapan Lucas. Yang semua kekuatannya sudah dilemahkan.
"Minggir kau dari sana!" Rakuten berteriak marah.
"Dapat!" Yoon berucap girang. Pria itu memejamkan matanya. Merapal sebuah mantra dan seperti sebuah tirai yang dibuka. Di depannya tampak sebuah pintu. Yoon kembali mengucapkan sebuah mantra. Menyingkirkan semua sihir pelindung tambahan yang mungkin ada di sana. Lantas melangkah masuk.
"Runyu....kau ada di sini?" Yoon bertanya. Pada sebuah ruangan kosong. Tanpa dia tahu, Runyu tampak memanggil Yoon yang tidak melihat dirinya. Yoon pikir dia salah masuk. Berniat hendak keluar. Ketika Runyu memberi kode dengan menendang dinding ruangan itu. Yoon seketika berbalik.
"Menyingkir dari sana, Sha"Bisik Lucas lirih. Dia terlihat cukup lemah.
"Diam aku!" Desis Asha.
Rakuten semakin marah ketika Asha benar-benar keras kepala. Hingga Zaga diperintahkan untuk membawa Asha turun dengan paksa. Wanita itu meraung ketika dia melihat, pria di depan sana mulai mengangkat busurnya. Mengarahkan anak panah yang terbuat dari perak murni pada jantung Lucas.
"Kau menyentuhnya. Lihat saja yang akan terjadi"
Zaga berusaha keras menahan Asha. Begitu anak panah itu melesat dari busurnya. Saat itu juga Asha berhasil melepaskan diri dari cekalan Zaga. Berlari naik kembali ke podium. Menghadang anak panah itu agar tidak mengenai Lucas. Namun Lucas yang masih mampu bergerak. Langsung meraih tubuh Asha. Memeluknya lalu membalikkan tubuh Asha. Anak panah itu meluncur cepat ke arah Lucas. Tanpa bisa ditahan. Hingga tiba-tiba Lucas meringis lirih ketika anak panah itu melukai punggungnya.
Namun dia heran. Sakitnya tidak seberapa. Hingga kemudian Lucas menangkap, Luis yang menatap marah pada Ara. Di mana wanita itu tampak memejamkan mata. Dengan keningnya bercahaya berwarna biru.
"Dia membahayakan dirinya"
***
__ADS_1