
"Kau menemukannya?"
"Hampir"
"Kau hanya membuang-buang waktuku, Sherpa" Gerutu Krum. Kesal pada makhluk yang berdiri angkuh di depannya.
"Tapi aku satu punya informasi penting untukmu"
"Apa? Akan kutebas kepalamu jika informasimu tidak membuatku senang"
"Dia punya hubungan dengan adikmu"
"Maksudmu Luis?"
Makhluk itu mengangguk.
"Kau tidak bohong?"
"Ketika aku masuk ke pikirannya. Aku bisa melihat jelas kalau dia dan adikmu punya hubungan. Atau bisa aku katakan jika mereka bersama"
Krum menatap kesal pada langit malam. Kenapa semua hal selalu berpihak pada Luis. Tidak kasih sayang ayahnya. Tidak cintanya. Tidak kekuatannya. Bahkan Luis punya kehidupan yang jelas lebih baik darinya. Termasuk kini, hal yang sangat dia inginkan. Juga berada bersama Luis.
"Jadi bagaimana? Kau tertarik untuk bekerjasama denganku. Kita berdua sama-sama menginginkan darahnya. Kau perlu untuk menaikkan kekuatanmu. Dan aku perlu untuk melepas kutukan sialan ini dariku"
Krum menatap tajam pada makhluk yang dia panggil Sherpa itu. Detik berikutnya Sherpa sudah merayap pergi dari hadapan Krum. Dengan seringai puas di wajahnya.
***
Jika Sherpa, si makhluk purba berwujud ular merasa puas. Setelah bisa mengajak Krum bekerjasama. Lain halnya dengan Erika. Gadis itu tengah menggigil. Dia menggigil padahal tubuhnya serasa panas terbakar.
"Jangan datang. Jangan datang. Aku mohon" Doanya kali ini.
Namun sepertinya doanya lagi-lagi tidak terkabul. Karena sejurus kemudian, terdengar suara pintu diketuk.
"Jangan lagi...jangan lagi!" Teriaknya dalam hati.
Perlahan pintu kamarnya terbuka. Dan masuklah seseorang. Sosok itu jelas seorang pria.
"Kenapa kau tidak menghubungiku?"
"Pergi! Pergi! Jangan mendekat!"
"Tidak apa-apa, Erika. Lakukan saja"
Ketika pria itu mendekat. Erika memundurkan diri. Berusaha menghindar. Tapi sesuatu dalam dirinya. Menyuruhnya untuk mendekati pria.
"Tidak! Aku tidak mau melakukannya lagi!"
Teriak Erika. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Erika merangsek maju. Menyerang pria itu.
"Aaaarggghhh!" Pria itu meringis sambil memejamkan matanya. Menahan sakit di lehernya.
"Maafkan aku, maafkan aku"
***
"Paul kemana?" Tanya Ara begitu masuk ke kafe Paul.
"Hari ini dia masuk siang. Dia kan begitu, selalu mengambil cuti setengah hari setiap bulannya" Beritahu Sakia. Asisten Paul sambil menyerahkan sarapan Ara. Sakia dan Ara cukup akrab.
"Kata Paul, temanmu ada yang mau bekerja di sini. Siapa dia? Lalu mana dia?" Sakia terus mengoceh sambil menemani Ara sarapan.
"Temanku, baru datang kemarin. Dia bilang pandai memasak. Tapi dia tidak jadi datang sekarang. Dia ada urusan hari ini"
__ADS_1
"Ooo, baguslah biar Paul sendiri yang mengurusnya besok"
Ara tersenyum samar. Tadinya dia merasa tidak enak karena tidak jadi membawa Asha hari ini. Tapi ternyata Paulnya cuti. Kebetulan sekali.
"Kau mau membawaku ke mana sih?" Gerutu Asha.
"Kenapa kau tinggal dengan Ara?" Cecar Lucas.
Padahal kemarin dia senang ketika Asha bertemu Ara. Tapi setelah dipikir-pikir. Akan sangat merepotkan jika Asha dan Ara satu rumah
"Dia baik padaku"
"Lalu aku? Kurang baik apalagi coba. Aku menyelamatkanmu. Aku membelamu di depan Luis...
"Apa? Membelaku? Kau jelas-jelas takut pada putra mahkota itu"
"Bagaimana kau tahu kalau Luis putra mahkota. Itu baru pihak internal yang tahu"
"Ooo berita itu benar. Aku hanya asal menebak"
"****! Kau menjebakku!"
"Tapi benar kan? Kau takut pada Luis?"
"Tentu saja aku takut padanya. Dia marah. Aku langsung bisa dibakar pakai Blue Fire-nya. Mati aku!"
"Dasar penakut. Maka dari itu aku lari. Bersamamu tidak ada gunanya bagiku"
"Kau...bisa-bisanya kau berkata seperti itu padaku" Maki Lucas.
"Lalu? Bersama Ara lebih berguna untukku"
"Jangan berpikir macam-macam kau" Desis Lucas.
"Aku tidak akan melukainya jangan khawatir. Hanya saja, jika tebakanku benar. Aralah yang bisa mengontrol Luis. Benar tidak?"
"Kau diam? Berarti tebakanku benar. Tenang saja. Aku sendiri tidak tahu akan bertemu gadis seperti Ara. Dia pasti sangat istimewa, hingga Luis bisa begitu mencintainya"
"Kau tidak bohong soal pertemuanmu dengan Ara kan?"
"Kau kan bisa membaca pikiran orang. Kau bisa tahu aku berbohong atau tidak"
Lucas terdiam seketika. Kenapa dia jadi begitu bodoh. Tidak menggunakan kemampuan yang dimilikinya.
"Pakai ini" Lucas menyerahkan sebuah ponsel pada Asha setelah terdiam cukup lama.
"Wahh, ponsel" Wajah Asha langsung berubah senang.
"Kau tahu cara menggunakannya?"
"Tahu. Jangan kau bilang karena kami hidup di dunia bawah. Kami tidak update dengan dunia fana" Asha langsung mengulik ponselnya.
"Apa kalian juga menggunakan peralatan modern di dunia bawah?" Kepo Lucas.
"Sedikit" Jawab Asha masih asyik dengan ponselnya.
"Kalian para wanita menyebalkan jika sudah menyentuh ponsel" Kesal Lucas yang merasa diabaikan Asha.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Asha.
"Kerjalah. Kalau tidak kerja, nanti aku tidak bisa beli darah favoritku"
"Bukankah kau suka mengambil langsung dari sumbernya?"
__ADS_1
"Itu tidak cukup. Aku hanya mengambil beberapa mili saja. Seperti yang kulakukan padamu" Goda Lucas.
"Itu menjijikkan" Balas Asha cepat.
"Bukankah itu nikmat?"
"Haishh, kau ini bicara apa?" Elak Asha.
"Ternyata kau menikmatinya. Lain kali aku bisa melakukannya lagi" Teriak Lucas. Melihat Asha berjalan menjauhinya.
"Jangan harap!"
"Aaargghhh" Asha berteriak kecil ketika dia menabrak seorang pria yang memakai kacamata hitam.
"Maaf, aku tidak sengaja" Asha berucap sambil menundukkan kepalanya.
"Asha kau tidak apa-apa? Astaga..Krum" Lucas jelas terkejut, melihat Krum ada didepannya. Seketika Lucas langsung menarik Asha untuk bersembunyi di belakang punggungnya. Menyamarkan aura dan aroma Iblis Asha.
"Aroma dari ras Iblis" Krum menyeringai.
"Kau berkencan, Lucas?" Tanya Krum dingin.
"Aahh...iya" Jawab Lucas gelagapan. Sebisa mungkin pria itu menutup pikirannya. Agar Krum tidak bisa membacanya.
"Boleh aku berkenalan dengannya?"
"Tidak boleh! Nanti dia terpikat padamu"
Lucas langsung mengganti mode-nya menjadi mode bocil. Asha seketika membulatkan matanya. Melihat tingkah Lucas. Asha jelas bisa merasakan aura dominasi juga aura hitam yang begitu kuat. Menguar dari tubuh pria yang berdiri di depan Lucas.
"Kau cemburu padaku?"
"Siapa juga yang tidak cemburu pada kalian. Kau begitu mudah mendapatkan mainan. Sedang aku, baru kali ini mendapatkannya. Jadi jangan rebut dia ya...please"
Lagi-lagi Asha membulatkan matanya. Mendengar suara manja Lucas. Bisa Asha rasakan, jika pria yang Lucas panggil Krum itu, tengah menatapnya tajam dari balik punggung kemar Lucas.
Lucas menggenggam erat jemari Asha. Membuat jantung Asha berdebar tidak karuan. Padahal dia tahu, tujuan Lucas adalah untuk menyamarkan aura Iblisnya.
"Baik...aku tidak akan mengganggu kencan kalian. Aku pikir, seleramu kali ini boleh juga" Bisik Krum sambil berlalu dari hadapan Lucas. Membuat pria itu langsung menarik nafasnya lega. Namun juga curiga.
"Apa Krum tahu kalau Asha adalah ras Iblis"
"Kau bilang aku mainan?" Geram Asha. Menatap tajam pada Lucas.
"Sudahlah, aku ceritakan nanti. Ayo pergi" Lucas menarik tangan Asha menjauh dari tempat itu. Lalu menghilang tanpa disadari orang banyak yang berlalu lalang di sekitar mereka.
"Krum turun gunung lagi. Aku bertemu dengannya"
Lucas menge-share kejadian yang baru saja dia alami kepada empat channel yang selalu on di servernya.
"Habis kau! Ketahuan kencan dengan putri dari ras Iblis"
Satu komen tengil masuk ke kepala Lucas. Siapa lagi kalau bukan Hans, pria yang sama rusuh dengannya.
"Kau dalam masalah besar!"
Tiga yang lain memberi komen yang sama ke kepalanya. Siapa lagi jika bukan Luis, Aiden dan si kulkas berjalan volume satu, Yoon.
"Bantuin napa? Malah ngeledekin aja"
"Kita bantu doa saja"
Kali ini empat komen sama, kompak terkirim ke kepalanya.
__ADS_1
"Sialan! Punya saudara Vampir kok durjana semua!" Umpat Lucas di pikirannya.
***