Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Dia Berbeda


__ADS_3

Luis memperhatikan gelang kecil yang melingkar di tangan Ara. Sedikit curiga karena ada aura aneh yang terpancar dari gelang tersebut. Terlebih ketika Ara bercerita kalau mendapatkan gelang itu dari Olivia. Si peri penjaga perpustakaan. Saat Luis meminta Ara untuk melepaskan gelang itu. Sang istri menolak. Dengan alasan itu adalah tanda perdamaian dari Olivia padanya. Mulai sekarang Olivia tidak akan mengganggu dirinya. Dia akan jadi peri yang baik hati. Tidak membantah dan selalu menuruti perintah Ara.


"Ada apa denganmu?" Erika bertanya ketika mereka bertemu untuk menjenguk Ailee. Melihat wajah Ara. Hans mengatakan kalau keadaan Ailee sudah hampir sembuh.


"Tidak tahu. Aku merasa agak lemas akhir-akhir ini" Balas Ara. Erika menatap penuh selidik pada sahabatanya itu. Tidak mungkin kan Ara hamil. Sebab setahu dia, sulit untuk seorang manusia bisa mengandung benih dari Vampir. Meski itu bukan hal yang mustahil. Nyatanya Luis lahir dari ibu manusia dan ayah Vampir. Apalagi keadaan Ara istimewa.


"Kau tidak sedang hamil kan?" Kali ini wajah Erika berubah serius. Mengingat jika bayi Vampir akan meminum darah ibunya sebagai pengganti makanannya. Itu akan berbahaya bagi Ara.


"Tidak tahu" Ara cukup terkejut dengan pertanyaan Erika. Kehidupan ranjangnya dengan Luis memang berkembang baik akhir-akhir ini. Sangat baik malah. Di mana Vampir itu bisa setiap malam menidurinya. Membuat dirinya merasa remuk di sekujur tubuhnya setiap bangun pagi. Namun itu tidak akan berlangsung. Begitu Luis memberikan sedikit energi dalamnya. Rasa lelah itu akan segera menghilang.


"Mungkin aku hanya terlalu lelah" Ara menjawab ambigu pada akhirnya. Hingga memancing Erika untuk menggoda sahabatnya itu.


"Apa dia begitu panas di kasur?" Wajah Ara memerah mendengar pertanyaan Erika.


"Melihat siapa dia. Tidak heran jika dia sangat buas di ranjang" Tambah Erika. Semakin membuat wajah Ara tidak karuan menahan malu.


"Aiisshh, sudah jangan membahas itu" Ara menghindari topik panas itu. Memilih masuk lebih dulu ke kamar Ailee. Yang wajahnya langsung berbinar bahagia. Melihat Erika dan Ara menjenguknya.


Hans kebetulan ada di sana. Dokter itu langsung memgembangkan senyumnya melihat dua wanita yang kini sama-sama menjadi belahan jiwa sahabatnya. Sedikit menjelaskan kalau keadaan Ailee benar-benar mengalami kemajuan pesat. Setelah melakukan terapi dengan serum spesial itu. Dan dia kini sedang mengembangkan penelitian untuk bisa meniru komposisi darah Ara yang bisa dijadikan penyembuh paling mujarab di masa depan.


"Sebentar lagi dan kau bisa melihat dunia luar. Langsung. Tidak melalui Ipadmu lagi" Ucapan Hans membuat Ailee mengukir senyum terbaiknya. Menatap wajah tampan Hans yang beberapa waktu ini setia merawatnya.


"Adikku menyukaimu" Celetuk Erika. Seketika membuat Hans terlonjak.


"Jangan menakutiku, Erika" Reaksi Hans justru di luar dugaan kekasih Yoon itu.


"Kenapa memangnya?" Ara malah kepo dengan jawaban Hans.


"Ya jelas aku takut dong. Jika aku dengan Ailee. Lalu kakak iparku, si kulkas berjalan. Ooo, tidak bisa kubayangkan apa jadinya hidupku" Jawaban tengil Hans membuat Ara dan Erika saling pandang. Hans malah takut jika Yoon menjadi iparnya...wk...wk..wk.

__ADS_1


"Ya paling pol kau akan dijadikan Olaf sama si Yoon" Hans memanyunkan bibirnya mendengar guyonan receh dari Ara. Tapi dia sendiri juga memiliki sedikit rasa pada Ailee. Selama menjalani pengobatan, sesakit apapun prosedur yang Ailee jalani. Gadis itu tidak penah mengeluh sama sekali. Benar-benar tipe tahan banting yang Hans cari. Sebab semua wanita yang mendekati Hans, tipe menyek-menyek. Manja yang Hans tidak suka. Tapi Ailee berbeda.


Ailee mengembangkan senyumnya. Ketika Ara dan Erika pamit untuk pulang. Setelah meninggalkan satu buket bunga berisi coklat dari Yoon. Calon kakak iparnya. Yoon mulai mengurangi mode kulkasnya sesuai saran Aiden.


Di lorong rumah sakit. Tanpa sengaja mereka bertemu Evelyn. Yang langsung menyeringai penuh arti melihat Ara.


"Ada manusia setengah vampir di sini rupanya" Bisik Evelyn setengah mencibir Erika. Namun Ara dan Erika tidak menanggapinya. Terus berjalan mengabaikan ucapan Evelyn.


"Lihat saja. Sebentar lagi kau tidak akan bisa menunjukkan wajah angkuhmu itu di depanku" Desis Evelyn kesal. Berlalu juga dari sana.


***


"Aaw ...aw...sakit. Bisa pelan sedikit tidak?" Sherpa hampir berteriak ketika Nangmi menekan lukanya dengan kuat.


"Kau jangan berpura-pura ya. Kau itu tidak apa-apa. Cepat pakai bajumu dan pergi dari sini. Kau membuatku kesal!" Maki Nangmi. Tapi bukannya menuruti perkataan Nangmi. Pria itu malah merebahkan dirinya lagi di kasur di kamar tamu pondok milik Nangmi.


Sebuah pondok yang berada dalam lindungan sebuah kubah sihir pelindung. Yang menjaga pondok itu tetap hangat. Terhindar dari dinginnya salju yang mampu membekukan kulit. Sekeliling pondok itu dikelilingi oleh taman bunga yang cantik. Maklum dewi bunga ya hidupnya tidak jauh-jauh dari yang namanya kembang.


"Kau masih mencintaiku kan?" Tanya Sherpa percaya diri.


"Siapa bilang. Aku tidak pernah mencintaimu. Kita hanya dijodohkan" Sangkal dewi cantik itu. Mendengar penolakan Nangmi. Sherpa tersenyum.


"Kalau begitu kenapa kau begitu marah saat aku menciummu? Bukankah kau juga menikmati ciuman kita" Goda Sherpa. Nangmi langsung berdiri dengan segera. Bermaksud meninggalkan Sherpa yang omongannya semakin tidak karuan.


"Sekalinya brengsek selamanya ya tetap brengsek!" Lagi Nangmi memaki. Dia benar-benar sakit hati dengan yang dilakukan Sherpa di masa lalu.


"Dewi, aku minta maaf. Aku terlalu gengsi waktu itu" Lirih Sherpa saat melihat Nangmi yang berlalu dari hadapannya.


Mendengar ucapan Sherpa. Nangmi berhenti di depan pintu.

__ADS_1


"Setelah ini pergilah. Aku tidak ingin melihatmu lagi" Nangmi berlalu dari sana. Membuat Sherpa menarik nafasnya dalam.


Malam menjelang. Tapi Sherpa benar-benar tidak mau pergi. Masih bersikeras untuk tinggal di sana. Pria itu sudah mulai membaik keadaannya.


"Sudah kubilang. Aku tidak mau menikah denganmu!" Terdengar suara Nangmi yang terdengar marah. Sherpa segera menajamkan pendengarannya.


"Apalagi yang kau tunggu Dewi. Dia sudah menolakmu. Meski jodoh kalian sudah diatur oleh langit. Tapi dia tidak mau menerimamu. Mau sampai kapan kau meratapinya"


Sherpa langsung mengepalkan tangannya. Sekarang dia tidak terima jika ada yang ingin mengambil Nangmi darinya. Aku tidak mau kehilangan lagi kali ini. Begitulah tekad Sherpa. Hingga kemudian pria itu melepas jubahnya. Meninggalkan lapisan kain putih sebagai dalaman. Berjalan keluar kamar. Dan mendapati dewa Matahari berada di depan pintu pondok Nangmi. Dewi itu enggan membiarkan Tianyi, sang dewa matahari masuk.


"Kenapa berisik sekali?" Pertanyaan Sherpa membuat dua makhluk dewa itu mengalihkan pandangan mereka ke arah Sherpa. Yang membuat mata Nangmi langsung membulat. Bagaimana Sherpa bisa keluar kamar dengan pakaian seperti itu. Orang akan mengira jika mereka baru saja melakukan hal-hal yang tidak senonoh.


Dan memang itu tujuan Sherpa. Dengan begitu dia akan dinikahkan dengan dewi bunga ini. Tianyi langsung mengerutkan dahinya. Ada peraturan di dunia langit. Jika dewa atau dewi tidak diperkenankan tinggal bersama. Tanpa sebuah ikatan. Jika begini keadaannya, bisa dipastikan jika dewi bunga, Nangmi telah melanggar aturan dunia langit.


"Sherpa! Kau membuatku dalam masalah!" Pekik Nangmi.


"Memangnya kenapa?" Sherpa berpura-pura bodoh.


"Kau akan membuat kita dinikahkan" Panik Nangmi. Bukannya ikut panik. Sherpa malah tertawa puas.


"Kau merencanakan ini? Dasar menyebalkan!" Nangmi maju. Memukul dada Sherpa. Yang tidak melawan sama sekali.


"Bukankah ini yang kau inginkan sejak dulu. Menikah denganku. Aku hanya mewujudkan keinginanmu" Jawaban Sherpa membuat Nangmi malu setengah mati.


"Siapa bilang aku mau menikah denganmu. Aku tidak mau menikah denganmu!" Teriak Nangmi. Lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah membanting pintu keras.


"Perempuan, lain di hati, lain di mulut" Sherpa berucap lirih.


"Eh tapi Ara tidak. Dia bilang A ya A. B ya B" Ralat Sherpa. Karena itulah dia berbeda.

__ADS_1


***


__ADS_2