Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Bertemu Sherpa


__ADS_3

"Melamun?"


Ara hanya terdiam. Tanpa menjawab pertanyaan Luis.


"Bagaimana Erika?" Pada akhirnya Ara membuka suaranya.


"Dia akan mencoba menjadi bagian dari kami. Jadi untuk sementara kami tidak akan menyembuhkannya"


"Kalian bisa menormalkan Vampir?"


"Itu hanya istilah, Ra. Kami memiliki satu obat yang perlu diuji coba"


"Kalian jadikan Erika kelinci percobaan?"


"Bukan begitu. Kami jamin jika "obat" ini tanpa efek samping sama sekali"


Ara menatap dua manik hitam milik Luis.


"Aku tidak pernah berbohong padamu"


"Lalu Paul? Bagaimana keadaannya?"


"Dia masih harus dirawat dalam dua atau tiga hari. Lukanya lumayan parah. Paul tahu keadaan Erika. Dan dia yang jadi "donor darah" Erika selama ini"


"Pantas saja dia bisa berkata, asal mereka baik kau bisa berteman dengan mereka. Rupanya dia mengalaminya juga" Gumam Ara.


Ara menarik nafasnya dalam. Meletakkan kepalanya di besi pembatas balkon kamar Luis.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Kenapa kau tanya lagi?"


Giliran Luis yang menarik nafasnya.


"Penasaran itu tidak baik"


"Tapi ini kan soal masa laluku sendiri. Bukan soal orang lain" Raut wajah Ara berubah sendu.


"Jika sudah tiba waktunya akan aku beritahu"


"Tapi aku maunya sekarang" Desak Ara.


"Ara....


"Atau kau menyembunyikan sesuatu dariku"


"Maksudmu apa?"


"Mungkin saja kita bukan siapa-siapa di waktu aku sebelum koma"


"Ara...kau tidak percaya padaku?"


"Bukankah kita memang tidak boleh menaruh kepercayaan seratus persen pada orang lain"


"Itu benar. Tapi aku benar-benar tidak bohong padamu"


"Buktikan kalau begitu"


"Tidak sekarang Ara"

__ADS_1


"Setidaknya sampai aku yakin siapa dirimu"


"Kalau begitu aku anggap pemikiranku benar" Ara berucap sambil berlari keluar dari kamar Luis.


"Kau mau ke mana?" Luis tiba-tiba muncul, menghadang Ara di ujung tangga.


"Minggir!"


"Tidak!"


Ara mendorong tubuh besar Luis. Membuka jalan untuk dirinya. Berlari ke arah pintu keluar. Tapi baru saja Ara akan membuka pintu. Tubuh Ara tiba-tiba tidak bisa bergerak.


"Luis...lepaskan aku!" Desis Ara. Dia tahu Luis menggunakan kekuatannya untuk menahan tubuhnya. Lucas dan Aiden yang berada di ruang tengah langsung berdiri. Melihat pertengkaran sejoli yang belum berpakat soal hubungan mereka.


"Tetap di sini"


"Kalau begitu ceritakan soal masa laluku!"


"Tidak sekarang!"


"Kau egois Luis!" Ara terus berontak dari kekangan kekuatan Luis. Yang terasa seperti tali, menģikat seluruh tubuhnya. Bisa Ara rasakan jika Luis semakin mengencangkan ikatan setiap kali dirinya bergerak. Seketika memar kemerahan muncul di kedua lengan Ara yang terbuka.


"Luis kau menyakitinya!" Aiden berteriak. Mematahkan konsentrasi Luis. Membuat ikatan di tubuh Ara terlepas seketika.


"Kau mengecewakanku Luis!" Ara berucap sebelum berlari keluar dari mansion Luis.


"Biarkan dia sendiri dulu" Aiden mencegah Luis yang ingin menyusul Ara.


"Tapi....akan sangat berbahaya baginya berada di luar sana sendirian" Luis cemas.


"Kau kan bisa mengikuti pikirannya" Saran Lucas.


"Dia melarangku mengikutinya"


"Biarkan dia sendiri dulu" Saran Aiden.


"Menyebalkan! Egois! Tampan doang! Nggak peka!" Maki Ara sepanjang jalan.


Tanpa Ara sadari, sesuatu tengah mengawasi dirinya. Seringai licik terbit di sudut bibir makhluk itu.


Ara berjalan gontai tak tentu arah. Hari mulai beranjak petang. Ketika bisikan itu kembali masuk ke kepalanya.


"Datanglah padaku"


"Di mana kau?!" Kali ini Ara benar-benar ingin tahu siapa dirinya meski dari orang lain atau entah apapun itu. Sebab Ara jadi sadar. Sejak berhubungan dengan Luis. Hidupnya sering di pertemukan dengan makhluk selain manusia. Vampir, makhluk maut, iblis dan yang paling baru setengah vampir, Erika. Jadi dia pikir apalagi sekarang.


"Masuklah ke hutan di depanmu dan kita akan segera bertemu"


Tanpa banyak kata, Ara langsung berjalan masuk ke dalam hutan di depannya. Hutan itu cukup lebat, sedikit menyusahkan Ara.


"Kau ini sebenarnya apa sih? Mengajak bertemu di hutan. Yang benar saja" Gerutu Ara.


"Dia benar-benar unik. Berbeda, pantas Luis begitu ketat menjagamu. Begitu tergila-gila padamu"


Ara berusaha melewati semak belukar yang cukup lebat. Membuat betis dan tangannya beberapa kali tergores akar dan dahan runcing. Hingga dia tiba di tengah hutan, dia pikir begitu.


Ketika sesuatu yang benar-benar di luar dugaannya. Tengah menunggu dirinya. Seekor ular besar tengah bergelung manis di depan mata Ara. Membuat Ara langsung memundurkan tubuhnya. Takut dan terkejut.


"Kau datang?" Tanya makhluk itu setelah membuka matanya.

__ADS_1



"Dialah yang sudah aku tunggu selama ini" Batin makhluk itu menatap takjup pada Ara.


Ara jelas ketakutan setengah mati. Ular itu sangat besar. Bisa dipastikan sekali "hap" dirinya akan habis di mangsa ular itu.


"Si...siapa kau?" Tanya Ara ketakutan. Sedikit memberi jarak pada dirinya dan ular itu.


"Akulah Sherpa. Ular purba yang sudah hidup ratusan tahun. Apa kau takut padaku?" Jawab Sherpa. Menegakkan kepalanya. Membuat makhluk itu menjadi sangat tinggi di hadapan Ara. Gadis itu bahkan harus mendongak untuk menatap wajah mengerikan Sherpa. Menurut Ara.


"Kau...kau...memang menakutkan" Cicit Ara lirih. Wajah Ara mulai terlihat pucat dengan tubuh gemetar ketakutan. Apalagi ketika Shera sedikit berdesis dan mengeluarkan lidah bercabang dua miliknya.


"Ha...ha...ha..."


Tawa Sherpa menggema di tengah hutan. Kembali membuat Ara ketakutan.


"Auranya benar-benar luar biasa. Baik kita lakukan percobaan sedikit kalau begitu"


"Baiklah. Karena aku sedang senang hari ini. Aku akan mengubah wujudku. Agar kau tidak takut padaku" Desis Sherpa dan dalam sekelip mata, tubuh ular mengerikan itu menghilang. Berganti dengan sesosok pria tampan dalam balutan pakaian dan jubah berwarna hitam. 


Surai rambut panjangnya berwarna putih. Senada dengan kulit pucatnya. Wajah tirus, hidung mancung dengan manik mata berwarna hitam. Sebuah simbol berbentuk ular terukir di kening pria itu. Wujudnya sangat berbeda dengan rupa aslinya. Sungguh ketampanannya tidak kalah dengan Luis dan yang lainnya.


"Hebat, aku hanya menyerap sedikit auranya dan wujudku bisa berubah sempurna. Luar biasa" Sherpa membatin. Kembali menatap takjub pada Ara. Yang kini melongo melihat wujud manusianya.


"Apa kau masih takut sekarang?"


"Sudah tidak lagi" Jawab Ara gugup.


"Kau memang di luar dugaanku, Ara" Sherpa mendekat ke arah Ara. Kembali membuat Ara memundurkan langkahnya. Meski wujud Sherpa sudah berubah menjadi lebih tampan, Ara harus akui itu. Tapi aura mengerikan juga hitam tetap melekat pada sosok manusia Sherpa. Apalagi tatapan tajam Sherpa seolah mengunci Ara.


Pria itu memutari Ara, menghirup aroma manis dari darah gadis itu.


"Jadi apa yang ingin kau ketahui?" Sherpa mulai memancing Ara.


Awalnya dia memang bertujuan untuk mengambil darah Ara. Tapi melihat bagaimana rupa Ara yang begitu cantik. Juga melihat bagaimana Luis begitu melindungi gadis ini. Sherpa berubah pikiran. Dia punya sebuah rencana untuk menahan Ara di sisinya.


Melihat bagaimana sifat Ara, bisa dipastikan jika Ara akan melakukan apa saja untuk keselamatan orang lain, terlebih Luis. Begitu setidaknya yang ada dalam pikiran Sherpa. Tanpa dia sadari, Sherpa telah jatuh pada pesona seorang Ara. Ratusan tahun berlalu. Baru kali ini Sherpa tertarik pada seorang gadis.


Di sisi lain,


"Kalian menemukannya?" Luis bertanya frustrasi kepada teman-temannya.


Semua menggeleng pelan. Mereka sedang berusaha mencari Ara. Melacak keberadaan gadis itu menggunakan aura masing-masing.


"Dia ada di sekitar hutan pinggiran. Tapi setelah dari sana. Auranya menghilang" Yoon berucap datar.


"Kalian menemukannya?" Erika bertanya panik. Semua menggeleng sebagai jawaban.


"Ke mana dia pergi?"


"Atau di bawa pergi" Lucas menyahut ucapan Luis.


"Maksudmu....


"Asha menemukan aura hitam yang sangat kuat di dalam hutan itu. Dia menduga kalau aura itu yang menyembunyikan Ara"


"Di mana itu?" Luis bertanya cepat. Sejurus kemudian. Pria itu sudah menghilang dalam satu kedipan mata. Begitu Lucas menge-share lokasi hutan yang dia dapat dari Asha.


****

__ADS_1


__ADS_2