Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Ancaman Untuk Ara


__ADS_3

"Sherpa cukup!" Nangmi berteriak ketika pria itu tak juga menghentikan aksinya. Mereka sudah hampir satu jam berendam di jacuzzi ala dunia langit. Dan pria itu tidak juga berhenti dari kegilaannya menyentuh dirinya.


"Siapa suruh kau menolakku tadi pagi" Jawab Sherpa sambil tersenyum jahil.


Pria itu melepas penyatuan mereka di dalam air. Lalu menyandarkan tubuh polosnya di sisi jacuzzi itu. Menatap wajah Nangmi yang masih bersemu merah. Menikmati sisa rasa penyatuan yang masih berdenyut di tubuh masing-masing.


"Kau maniak!" Lagi Nangmi memaki.


"Biarkan saja. Aku jadi maniak hanya padamu" Sherpa menjawab kalem. Dia mulai paham dengan sifat Nangmi yang meledak-ledak. Hampir sama dengan Ara yang tipe pemberontak.


Nangmi berdecih mengejek mendengar perkataan receh dari Sherpa. Satu jam lebih sudah mereka berendam. Meski begitu keduanya tidak merasa kedinginan sama sekali. Sherpa menggunakan energi dalamnya untuk membuat air di tempat itu senantiasa hangat.


"Kita akan turun hari ini. Urusan dunia atas menungguku" Sherpa berucap sambil menatap Nangmi yang tengah memakaikan jubahnya. Melilitkan sebuah kain di pinggang suami ularnya.


"Siapa suruh pergi terlalu lama" Gerutu Nangmi yang terlihat cantik dengan tanda baru di keningnya.


"Urusanmu benar-benar menyita waktuku. Berapa lama aku membiarkan Zhang mengurus semua sendirian" Sherpa mengekor sang istri keluar dari kamar ganti mereka. Setiap langkah Nangmi menguarkan aroma bunga yang jadi ciri khasnya.


"Aku harus mengurus sesuatu dulu" Nangmi berucap sambil mengibaskan lengan bajunya. Sebuah tirai seketika terbuka. Menampilkan pemandangan negeri bunga yang berada di bawah kendalinya.


"Kau masih bisa bekerja dari duniaku" Bisik Sherpa memeluk Nangmi dari belakang.


"Sherpa jangan menggangguku. Ada anak Pegasus yang harus aku bantu kelahirannya" Desis Nangmi. Sambil memejamkan mata. Berusaha fokus.


"Hai sejak kapan kau jadi dokter hewan juga" Sherpa tidak peduli pada keluhan Nangmi.


"Dia tinggal di wilayahku. Dan dia salah satu yang dilindungi. Diamlah!" Desis Nangmi.


Detik berikutnya Sherpa melepaskan pelukannya pada sang istri. Pria itu memundurkan langkahnya. Ketika sebuah penglihatan masuk ke pikirannya.


"Luis....kau mendengarku?" Satu panggilan dia buat. Namun tidak ada jawaban.


"Ada apa?" Nangmi bertanya dengan wajah heran.


"Sudah lahir?" Sherpa bertanya. Masih terus berusaha menghubungi Luis atau yang lainnya.


"Sudah...peri penyembuh yang akan membantu kemudian. Ada apa?" Nangmi kembali bertanya. Namun Sherpa terdiam. Pikirannya tengah mencari Ara. Dia pikir penglihatannya berhubungan dengan Ara. Sebab ikatannya dengan Ara masih terlalu kuat untuk dia putuskan. Karena hati wanita itu belum bisa memutuskan perasaan apa yang dia miliki untuk Luis. Dan ini membuat hubungan keduanya menjadi rapuh. Seperti kata Asha. Akan mudah bagi orang lain untuk menerobos masuk di antara hubungan keduanya. Bukan untuk merusak hubungan mereka. Tapi lebih kepada mencelakai Ara. Perlindungan Luis belum bekerja sempurna jika Ara belum mampu mengingat rasa yang dia miliki pada Luis.

__ADS_1


"Ara...aku pikir sesuatu tengah mengincarnya. Tapi aku belum menemukan apa itu. Dan aku belum bisa menghubungi Luis" Jawab Sherpa cemas. Wajah Nangmi seketika berubah mendung. Dia jelas tidak suka ketika Sherpa menyebut nama Ara.


"Luis? Raja klan Vampir? Apa Ara ratu klan Vampir" Tanya Nangmi. Bagaimanapun dia juga kepo soal Ara.


Sherpa mengangguk pelan.


Sementara itu, Ara, Erika dan Asha serta Paul sedang berkumpul untuk merayakan kelulusan Paul. Meski hanya ejekan yang Paul dari teman wanitanya itu.


"Kau ini bodoh atau apa? Umur berapa kau dan kau baru lulus S1 sekarang" Satu ledekan Paul terima dari Erika. Paul langsung mendengus kesal.


"Dan herannya lagi. Kenapa hanya kita, para wanita yang kau undang ke pesta kelulusanmu. Kau sengaja ya mau membuat perang antar suami istri" Asha berucap tajam.


"Eitsss, aku belum menikah lo" Kilah Erika.


"Tapi kau diklaim kak Yoon" Balas Ara.


"Hai sudah deh....aku ngundang kalian. Aku sudah izin sama you punya pawang. Dan alasan kenapa hanya kalian yang ku undang...karena memang cuma kalian teman yang kupunya" Paul berucap sendu.


"Makanya cepatlah cari yang namanya pacar" Kesal Asha bercampur sedih. Mengingat nasib mantan bosnya itu.


"Ya begitulah" Jawab Paul sendu.


"Kau kurang cepatlah Paul" Ara memprotes sikap Paul yang memang terkesan santai. Hingga mereka pun terus berbincang hingga malam menjelang. Maklum mereka sudah lama tidak berkumpul. Mengingat kesibukan masing-masing.


Tempat mereka makanpun sengaja Paul pesan. Private, hanya untuk keempatnya.


"Wooii kalian para pemilik wanita ini. Bolehkan aku berdansa dengan mereka. Anggap sebagai hadiah kelulusanku" Paul berucap pada langit malam. Seolah Luis, Lucas dan Yoon ada di sana.


Hening, tidak ada jawaban. Ketiga wanita itu tersenyum. Melihat tingkah konyol Paul.


"Diam berarti iya kan?" Paul menjawab sendiri izin yang dia minta. Kembali membuat para wanita terbahak. Paul memang pembawa keceriaan bagi mereka bertiga. Pria itu sangat humoris. Pandai membuat lawak. Berada di sekitar Paul akan membuatmu selalu tersenyum.


"So, Mr Yoon bride to be, would you like to dance with me?"


(Jadi calon istri Tuan Yoon, maukah kau berdansa denganku)


Erika tersenyum. Lalu menyambut uluran tangan Paul. Dan mulailah keduanya berdansa di bawah lampu remang dan cahaya bulan yang mulai nampak.

__ADS_1


"Paul sialan!" Satu umpatan terdengar di kepala Erika. Membuat wanita itu tersenyum. Yoon dan yang lainnya sedang berada di Black Castel. Bertemu Hellas Verona. Untuk melaporkan kejadian di dunia bawah beberapa waktu lalu.


"Kenapa?" Tanya Paul heran. Melihat senyum manis di wajah Erika. Paul belum sepenuhnya bisa melupakan gadis yang tengah menari dengannya itu.


"Kak Yoon mengumpatmu" Erika kembali tersenyum sambil menjawab pertanyaan Paul.


"Apa dia akan mendatangiku. Lalu menggigitku?" Paul bertanya. Pura-pura cemas.


"Mungkin saja" Erika sengaja menakuti Paul.


"Kau membohongiku. Kalian tidak minum darah orang secara langsung"


"Kalau tahu kenapa masih bertanya"


"Memastikan saja. Apa dia baik padamu?"


"Aku pikir Paul belum bisa move on dari Erika" Bisik Asha.


Ara mengangguk mengiyakan ucapan Asha. Dia pikir juga begitu. Tapi meski demikian, Paul tidak pernah melewati batasannya. Meski Yoon, si kulkas berjalan tidak pernah menunjukkan sikap romantis seperti umumnya orang yang sedang jatuh cinta. Tapi Paul percaya kalau pria itu akan menjaga Erika dengan baik.


"Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Paul saat berdansa dengan Ara.


"Memangnya wajahku kenapa?"


Ara memang sedikit merasa. Ada yang tidak beres dengan dirinya. Tapi dia tidak tahu apa. Dia bahkan sudah bertanya pada Hans. Tapi dokter tengil itu mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Kecuali kelelahan. Dan semua berakhir dengan Ara digoda Hans habis-habisan.


"Apa jadi ratu Vampir sangat melelahkan?"


"Luis belum diangkat secara resmi. Jadi sebenarnya tidak banyak yang kukerjakan. Hanya saja perusahaan Luis sangat sibuk akhir-akhir ini" Ara memang sering ikut lembur dengan Luis dan yang lainnya. Belum aktivitas ranjang yan tetap berjalan. Tidak peduli betapa lelahnya dirinya. Luis memang parah jika sudah berada di kamar. Pria itu seolah tidak punya rasa lelah sedikitpun.


"Aku pikir kau perlu mengambil cuti" Paul memberi saran.


Tanpa mereka sadari di seberang tempat itu. Tampak sesorang berhodie sedang berdiri mengamati keempat orang itu. Bibirnya berkomat-kamit merapalkan sebuah mantra. Membuat gelang di tangan Ara semakin bersinar terang.


"Hari kematianmu sudah datang, Arabella Sofia" Gumam suara itu. Lagi sebuah ancaman datang untuk Ara.


****

__ADS_1


__ADS_2