Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Sherpa VS Minze


__ADS_3

"Sihir kepemilikan hanya bisa dipatahkan oleh seseorang yang memiliki kemampuan setara dengan orang yang memberikan sihir kepemilikan itu"


Luis memijat pelan pelipisnya. Begitu dia selesai membaca sebuah buku mengenai sihir kepemilikan. Sherpa adalah raja di dunia atas. Dengan statusnya sekarang, Luis tidak akan bisa mematahkan sihir kepemilikan milik Sherpa.


"Apa aku harus menerimanya? Jika tidak, aku tidak akan bisa melepaskan tanda itu dari Ara. Selamanya Ara akan berada dalam belenggu ular brengsek itu" Batin Luis.


"Kau siap?" Lamunan Luis buyar ketika Aiden bertanya. Mereka akan ke dunia bawah untuk mengecek portal ke dunia atas. Sebelum mereka akan menyusul Ara minggu depan.


"Aku siap" Luis berdiri dari duduknya. Sedikit meringis ketika dia melangkah. Racun Sherpa sudah dibersihkan dengan sempurna oleh penawar dari Sherpa juga sedikit darah dari Ara. Namun tetap saja, jantung Luis perlu pemulihan. Sebab luka yang dibuat Sherpa lumayan dalam.


Sebenarnya begitu pintu portal itu ketemu. Luis bersikeras ingin langsung menyusul Ara ke dunia atas. Tapi Hans dan yang lain mencegahnya. Sebab kondisi Luis jelas tidak akan sanggup menghadapi Sherpa. Apalagi pria ular itu berada di wilayahnya sendiri.


Terlebih lagi, Luis masih sering memuntahkan darah. Akibat luka dalam lain yang diakibatkan oleh racun Sherpa.


"Ini tempatnya?" Luis bertanya dan Asha langsung mengangguk.


"Apa ibumu bernama Yunze?" Luis kembali bertanya sambil berjalan memasuki gua.


"Kau ini kenapa Luis?" Lucas bertanya tidak suka.


"Kau yang kenapa. Aku hanya bertanya. Kenapa juga kau pakai acara cemburu segala" Cebik Luis enteng.


"Kau bilang aku cemburu?" Lucas menyahut cepat.


"Kalau bukan cemburu lalu apa namanya?"


"Berisik!" Asha mendesis melirik tajam pada Lucas yang langsung manyun.


"Kena kau!" Ledek Aiden.


"Hyung menyebalkan. Kalian menyebalkan!" Gerutu Lucas. Semua hanya terdiam mendengar gerutuan Lucas yang terdengar seperti anak kecil.


"Itu tempatnya" Asha menunjuk batu berbentuk oval yang kemarin dia temukan bersama Lucas.


Luis menyentuh batu itu. Sejenak memejamkan mata. Pikirannya langsung menembus portal itu. Masuk ke dunia atas. Seolah jiwanya sudah terbang berada di dunia atas. Luis menajamkan indera perasanya. Mencari keberadaan Ara.


Hingga sebuah panggilan menuntun pikiran Luis. Menembus dinding istana Sherpa. Luis seketika meringis ketika dadanya berdenyut nyeri.


"Luis cukup" Aiden memperingatkan.


"Dia tersiksa" Bisik Luis.


"Tentu saja. Jika dia tidak bisa melupakanmu. Dan terus memikirkanmu. Sihir itu akan terus mencekiknya" Aiden berucap.


"Aku akan menyusulnya sekarang!" Luis hampir melompat masuk ke portal. Jika saja Lucas tidak menahannya.


"Kau tidak bisa masuk. Jika aku tidak membukanya"


"Kalau begitu buka sekarang!" Luis berteriak pada Asha.

__ADS_1


"Kau jangan gegabah Luis. Kondisimu tidak cukup baik untuk menghadapi Sherpa" Lucas memberikan pertimbangannya pada Luis.


"Luis dengarkan aku. Kau ke sana untuk merebut Ara. Membawanya pulang. Bukan untuk mengantarkan nyawa" Aiden menambahkan.


"Kau dengar? Ara sudah bertindak gegabah dan lihat hasilnya. Demi kau dia menderita saat ini. Jika kau ke sana sekarang. Bukannya Ara yang kau dapat. Tapi kematian" Asha yang bicara kali ini.


"Hyung, dia menangis. Dia kesakitan" Luis berucap putus asa.


"Kau bisa masuk ke pikirannya? Cobalah bicara padanya" Lucas memberikan sarannya.


Luis sejenak berpikir. Dia baru saja akan masuk ke pikiran Ara. Ketika indera perasanya merasakan aura Iblis datang mendekat.


"Ada yang datang" Luis berucap. Lantas menghilang. Bersamaan dengan Aiden dan Lucas yang menarik tangan Asha untuk menghilang bersamanya.


"Siapa?" Asha bertanya ketika mereka sudah muncul di ruang tengah rumah utama.


"Ayahmu...apa kau ingin bertemu?" Luis bertanya sambil menatap mata Asha, yang terlihat berkaca-kaca.


"Aku merindukannya" Batin Asha sambil menunduk. Lucas seketika menatap pada Luis.


"Aku pikir sudah waktunya dia pulang. Sedikit memberikan shock terapi pada dua tikus dunia bawah. Juga menyelesaikan masalah intern dunia bawah"


"Tapi Luis...


"Jangan menangis!" Luis berkata tajam mendengar rengekan Lucas.


"Lalu?" Yoon mendesak Lucas.


"Kenapa dia harus pulang sekarang?" Bisik Lucas.


"Lalu kapan? Menunggu Asha habis di ranjangmu"


"Aku tidak seperti itu ya" Elak Lucas.


"Lucas...Lucas..sekarang saja kau mengelak. Tapi coba jika kau sudah berdua dengannya. Apa kau bisa bilang "aku tidak seperti itu ya" Luis kembali memberikan skak mat pada Lucas.


"Memang kau tidak?" Gumam Lucas lirih.


"Aku dan Ara...aku akui kadang aku lepas kendali saat bersamanya. Tapi setidaknya hubungan kami tidak menimbulkan konflik...


"Kecuali masuknya pebinor" Celetuk Hans cepat. Mata elang Luis langsung menukik tajam menatap Hans. Seolah siap mencabik tubuh pria itu.


"Aku benar Luis, jangan protes" Bela Hans.


"Tapi kau dan Asha...please tunggu masalah klan kita selesai, baru kalian..


"Boleh bercinta? Kau gila Luis..itu lama sekali. Keburu karatan senjataku" Yang lain langsung mendelik mendengar jawaban vulgar Lucas.


"Kau bisa dikeplak Asha kalau dengar omonganmu ini" Aiden berkata sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Dia pukul aku. Aku banting dia ke kasur. Selesai masalah" Jawab Lucas enteng.


"Dasar Vampir mesum!" Hans berteriak.


***


"Sudah kubilang, berhenti memikirkannya!" Sherpa hampir berteriak. Melihat Ara yang terus meringis menahan sakit di lehernya.


"Bunuh saja aku!" Sahut Ara setengah tersengal. Dadanya naik turun. Seiring paru-parunya yang hanya terisi sedikit udara.


Sherpa memejamkan matanya. Mencoba menurunkan amarahnya. Hingga perlahan dia mengangkat tangannya. Hingga cekikan di leher Ara memudar. Membuat gadis itu langsung terjatuh bersandar pada ranjang Sherpa. Wajah Ara pucat. Tubuhnya lemas. Sejurus kemudian terkulai lemah dalam pelukan Sherpa.


"Apa aku harus melakukannya padamu?" Tanya Sherpa pada Ara. Pelan menyentuh pipi gadis itu.


Sherpa benar-benar jatuh pada pesona Ara. Terobsesi untuk memiliki Ara. Tanpa peduli pada apa yang Ara rasakan.


"Kau tidak bisa memaksanya, Sherpa" Zhang berucap lirih. Saat pria itu bertemu dengan sahabat sekaligus rajanya.


"Kenapa tidak? Aku raja di dunia atas. Tidak seorangpun bisa melawan titahku. Bahkan jika Luis datang menyusul ke sini. Aku masih bisa menusuk jantungnya. Lalu menghabisinya" Sherpa berucap tajam. Dingin juga kejam. Sifat asli pria itu.


"Kau membunuh Luis. Sama saja kau melenyapkan Ara"


"Tidak. Jika Luis menghilang dari pikiran Ara"


"Jangan bilang kau akan...Sherpa kau tidak bisa melakukan itu pada Ara. Mereka sudah terhubung sejak dulu...


"Aku akan memutuskan hubungan itu!" Tegas Sherpa.


"Sherpa...kau harus memikirkannya kembali sebelum...


"Apa maksudmu akan menikahi gadis manusia itu minggu depan?" Minze, ibu Sherpa tiba-tiba sudah muncul di hadapan keduanya. Bersama seorang wanita yang langsung membuat Sherpa berdecih kesal.


"Bukankah sudah jelas untuk menjadikan dia ratuku" Tegas Sherpa.


"Kau tidak bisa melakukannya. Sebab Ibu sudah memilihkan jodoh untukmu"


"Aku tidak mau dan tidak suka dengan pilihan Ibu. Sudah berapa kali aku bilang. Aku menolak semua wanita yang kau jodohkan padaku. Tidak peduli dia dewi dari dunia langit sekalipun"


"Sherpa...kau berani melawanku!" Bentak Minze.


"Kenapa tidak berani? Aku rajanya, meski kau adalah ibuku tapi itu tidak akan mengubah apapun. Aku sudah cukup baik hati dengan tidak melenyapkannya. Jadi bertingkah baiklah. Jangan membuatku marah. Atau dia akan lenyap dalam satu kedipan mata. Lebih cepat dari mantra perusak energi yang dia lakukan padaku dulu" Sherpa berucap tajam. Dan setiap perkataan diucapkan dengan penuh penekanan. Menggambarkan kalau dia tidak ingin dibantah.


Minze mengepalkan tangan menahan amarah. Dia pikir setelah sekian lama. Sikap Sherpa akan sedikit melunak. Nyatanya tidak. Pria itu justru semakin keras kepala. Tidak bisa dibujuk sama sekali.


"Berhentilah berpikir untuk mengendalikannya. Karena itu tidak akan berhasil" Zhang berucap sambil berlalu dari hadapan Minze. Menyusul Sherpa yang sudah lebih dulu menghilang dari tempat itu.


"Raja dan asisten sama-sama menyebalkan!" Gerutu Minze. Ikut berlalu dari sana. Pertikaian ibu dan anak itu entah kapan akan berakhir.


***

__ADS_1


__ADS_2